MasukGatra Santara. Delapan belas tahun. Putra sulung dari Ki Santara, pemilik Toko Obat 'Santara' di wilayah pinggiran kota Rojan, ibukota Kerajaan Galuh. Ibunya, istri pertama Ki Santara, meninggal saat Gatra masih kecil. Ayah kandungnya kemudian menikahi Nyi Lastri, seorang wanita licik yang membawa anaknya sendiri, Awang.
Sebelum Awang melanjutkan sumpah serapahnya, Gatra menghardiknya balik, "Kau yang gila! Aku kali ini yang tidak akan memberimu muka di depan Ayah!" Awang mengernyitkan dahi, menatap Gatra dengan pandangan ngeri. "Kau benar-benar sudah gila ya, sejak kapan kau berani menimpaliku?" Dia terbiasa di atas angin. Sekali dulu awalnya dia dan ibunya mendas Gatra kecil waktu itu dan Ki Santara seolah membiarkannya, lalu seterusnya dia pun berani menindas pewaris asli. Sejak saat itu, Gatra disingkirkan, dijadikan pelayan di rumahnya sendiri, sementara Awang diagung-agungkan sebagai calon penerus tunggal. Gatra bangkit berdiri. Tubuhnya terasa ringan namun lemah. Ia menatap telapak tangannya sendiri. Kulitnya lebih kasar, dengan bekas luka kecil di punggung tangan. Ini bukan tubuhnya. "Aku tidak akan meracik apa pun untuk siapa pun hari ini," sahut Gatra datar. Suaranya terasa asing di telinganya sendiri, lebih dalam dan berwibawa. Awang tertawa sumbang. Dia melangkah maju hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Gatra. "Kau pikir kau siapa? Setelah ibumu mati, kau hanyalah beban di toko herbal Santara ini. Jika bukan karena rasa kasihan Ayah, kau sudah lama dibuang ke pasar budak." Gatra merasakan denyut di pelipisnya. Bukan sakit fisik, melainkan resonansi aneh. Saat ia menatap Awang, sebuah layar transparan yang melayang di udara, bertuliskan deretan aksara kuno, muncul di sudut pandangannya. Target: Awang. Niat: Memanipulasi kebencian. Kadar racun dalam pikiran: Tinggi. Gatra tertegun. Kemampuannya sebagai poliglot... apakah kini dia baru saja membaca pikiran Awang? "Kau dengar tidak, hah?!" Awang mendorong bahu Gatra dengan kasar. Gatra tidak goyah. Dia justru menangkap pergelangan tangan Awang dengan refleks yang tidak dia sangka-sangka. Cengkeramannya kuat, membuat Awang terbelalak kaget. "Kau terlalu berisik, Awang!" bisik Gatra, matanya berkilat tajam, "Dan napasmu... kau baru saja memakan akar kecubung yang tidak dimurnikan, bukan? Itu sebabnya emosimu tidak stabil pagi ini." Wajah Awang memucat seketika. "Ba-bagaimana kau tahu?", pemuda yang terpaut usia beberapa tahun di atas Gatra itu berusaha menutupi keheranannya. Kenapa Gatra kali ini berani melawannya? "Aaah, Sudahlah, dasar sampah tidak berguna!" Dengan dengusan kasar, Awang berbalik. Setelah Awang pergi, Gatra menghela napas, mencerna semua yang terjadi padanya. Bukankah dia adalah seorang pemuda di era modern? Kenapa sekarang bisa berada di masa abad 14? Apa pula yang dia hadapi saat ini? Bagaimana dia bisa berada di tempat ini? Pemuda yang bernama Awang tadi, kenapa berani menindasnya? Semua ini membuat Gatra kebingungan. Sekelebat cahaya keemasan muncul di sudut matanya. Di atas tumpukan daun kering di dekatnya, sesosok bayangan transparan duduk dengan santai sambil mengunyah... ubi jalar kering? Itu adalah kakek berambut putih yang ia lihat terakhir, sebelum hilang kesadarannya! "Yo! Sudah bangun rupanya," sapa si kakek dengan nada sangat santai, bahkan cenderung tengil. "Bagaimana tubuh barumu? Agak kurus ya? Kurang gizi tampaknya." Gatra membelalakkan mata. Ia menunjuk kakek itu, lalu menatap Awang. Namun, Awang sama sekali tidak bereaksi pada keberadaan si kakek. "Kau... kau kakek yang di gang waktu itu!" bisik Gatra setengah berteriak. Si Kakek melompat turun dari tumpukan keranjang, melayang beberapa senti di atas lantai tanah. "Dia tidak bisa melihatku, Bocah," ujar si kakek sambil terkekeh, membersihkan sisa ubi imajiner dari jubahnya. "Perkenalkan, namaku Ki Yaksa. Aku adalah penjaga garis takdirmu." "Garis takdir? Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku ada di sini?!" tuntut Gatra, mencoba berdiri meski kakinya masih lemas. "Kau sudah mati di duniamu. Tapi jiwamu ditarik ke sini karena pemilik tubuh ini, yang kebetulan bernama sama dan memiliki garis darah yang sama denganmu, baru saja meninggal akibat diracun secara perlahan oleh ibu tirinya," jawab Ki Yaksa, wajah humorisnya sesaat berubah serius. "Dunia ini butuh penyeimbang. Dan bakat bahasamu... adalah kunci yang dicari oleh alam semesta." "Bakat bahasaku? Bagaimana bisa bahasa menolongku di zaman purba seperti ini?" tanya Gatra frustrasi. Ki Yaksa tersenyum misterius. "Bahasa bukan hanya tentang apa yang diucapkan manusia, Gatra. Di dunia ini, setiap helai daun, setiap tetes embun, dan setiap urat akar memiliki bahasa mereka sendiri. Dan mulai hari ini... kau adalah penerjemah mereka." Tiba-tiba, sebuah suara berbisik lembut, terdengar seperti melodi kecapi yang sayup-sayup, berasal dari keranjang di sudut ruangan. “Tolong... aku terlalu kering... kepalaku sakit... pindahkan aku dari dekat akar jahe itu, dia terlalu panas...” Gatra tertegun. Ia menatap keranjang itu. Suara itu berasal dari seonggok tanaman layu berakar serabut yang ada di sana. "Itu... tanaman itu bicara?!" Gatra terbelalak. Ki Yaksa tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perutnya. "Selamat datang di Kerajaan Galuh, Gatra Santara! Sekarang, mari kita mulai pelajaran pertamamu sebelum saudaramu yang menyebalkan itu membuatmu mati untuk kedua kalinya!"Pagi itu, jantung Gatra berdetak dengan irama yang jauh lebih cepat. Ini adalah pertama kalinya dia menemui Nararya di istana Mahapatih. Pangeran muda itu telah menunggunya di bangku batu, tampak lebih dewasa dari usia sebenarnya. Wajahnya yang tampan tampak berkilat terkena sinar matahari. Negeri ini kaya akan sinar matahari, sumber daya alam sekaligus zat penyembuh yang perkasa. "Salam, Gusti muda." Gatra menunduk dan mengatupkan dua telapak tangannya di depan dada. "Gusti tampak lebih segar, apakah masih ada rasa sakit sekarang?" tanyanya “Gatra,” Nararya menghela napas. Dia memberi isyarat kepada pengawal untuk meninggalkan mereka berdua di sana. "Sekarang hanya kita berdua, tak perlu bicara formal. Aku dalam perawatan tabib terbaik, tentu saja kembali pulih, hanyalah masalah waktu." Suaranya pelan namun tegas. “Ada hal yang harus kuberitahukan padamu.”Dia mengulurkan tangannya, dan dari balik lipatan jubahnya yang mewah, ia mengeluarkan sebuah belati. Belati itu memancarkan
Baru beberapa hari berlalu sejak insiden racun di kediaman Ki Santara. Kehidupan Gatra berputar 180 derajat. Toko herbal Santara, yang sempat porak-poranda akibat serangan pasukan hitam, kini mulai direkonstruksi dengan dana yang diberikan langsung oleh Mahapatih. Kabar keberhasilannya dalam menggagalkan upaya pembunuhan putra Mahapatih menyebar begitu cepat, melampaui batas-batas dinding istana. IDia bukan lagi anak muda yang disembunyikan di bilik kecil sunyi di rumahnya, melainkan sosok yang mulai diperhitungkan. Api obor di ruangan bailarung utama istana masih menyala terang, jejak aroma gaharu menguar di udara, menandakan kemegahan istana. Namun, bagi Gatra, semua kemilau itu terasa asing, bahkan sedikit menegangkan. Dia kini berada di salah satu ruangan privat istana, tempat ia dipanggil menghadap Mahapatih Narahante. “Gatra Santara,” suara Mahapatih Narahante memecah keheningan. Suaranya terdengar berat, namun tegas. Mahapatih tampak duduk tegak di singgasananya, sorot matany
Gatra merasakan hawa dingin yang luar biasa menyentuh tengkuknya, disusul dengan sensasi hangat yang menjalar dari dada Ki Yaksa ke punggungnya. Itu adalah aliran energi yang murni, seperti embun pagi yang menembus teriknya padang pasir. "Buka matamu, dan lihat, pelajaran apa yang bisa Kau ambil!" bisik Ki Yaksa di samping telinga Gatra. Gatra membuka matanya perlahan. Di depannya, makhluk bertopeng itu terjepit di antara dua aliran cahaya, emas milik Ki Yaksa dan kelabu yang keluar dari belatinya sendiri. Ruangan itu seakan membeku. Debu-debu yang melayang di udara berhenti bergerak, seolah-olah waktu memang benar-benar dipaksa berhenti oleh keduanya. "Kau terlalu banyak ikut campur, Yaksa," desis sang dukun. Topeng kayu yang menutupi wajahnya perlahan retak, menampakkan sepasang mata yang tidak memiliki kelopak, hanya lubang hitam yang menatap Ki Yaksa dengan kebencian yang mendalam. "Gatra, ambil belati itu!" teriak Ki Yaksa, napasnya mulai tersengal. Gatra tidak membuang
Bab 6. Jarum Hitam Pembuka Tabir Gatra bangkit berdiri dengan gerakan mekanis yang kaku, seolah tubuhnya digerakkan oleh tali tak terlihat. Dia tidak merasakan sakit lagi; yang ada hanyalah dorongan dingin untuk membunuh setiap ancaman yang berani menyentuh apa yang menjadi tanggung jawabnya. Pemuda itu berjalan keluar dari bilik, matanya menatap tajam ke arah para prajurit pembunuh di ruang depan. Gatra melangkah melewati ambang pintu dengan ritme yang janggal. Langkahnya tidak memiliki suara, seolah ia melayang di atas lantai kayu yang berderit. "Siapapun kalian, kalian salah memilih waktu untuk mengganggu tidurku," teriak Gatra lantang. Dia berdiri siaga dan di tangannya, sebuah jarum perak yang dia ambil dari meja ramuan tiba-tiba berubah warna menjadi hitam pekat. Sedikit hentikan dengan tenaga dalam akan menancap tepat di leher pemimpin prajurit di depannya. "Ingin tahu rasanya jarum beracun tanpa penawar menancap di lehermu?" Tanyanya pada pemimpin prajurit. "Siapa
Nararya menarik kerah baju Gatra dan membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Gatra sendiri. "Jangan biarkan... mereka melihat belati di pinggangku, Gatra... belati itu... adalah kunci..." bisik Nararya dengan sisa kekuatannya, sebelum kembali memejamkan mata untuk beristirahat. Gatra tersentak, matanya langsung turun ke arah pinggang Nararya yang tertutup jubah prajuritnya. Di sana, samar-samar terlihat gagang belati emas dengan ukiran naga yang meliuk, namun yang membuat jantung Gatra berhenti berdetak adalah aksara yang terukir di gagang tersebut. Itu bukan aksara Jawa Kuno, bukan pula Sansekerta. Itu adalah karakter Mandarin modern yang bertuliskan: "Penyelamat Waktu". Bagaimana mungkin sebuah belati dari abad ke-14 memiliki ukiran bahasa modern dari masa depan yang sangat ia kenal? Laksita, yang memperhatikan setiap gerak-gerik Gatra sejak tadi, langsung melangkah maju dengan rasa curiga yang semakin memuncak. "Apa yang dibisikkannya padamu?" tanya Laksita, m
Cengkeraman di lengan baju Gatra terasa begitu panas, seolah jemari Nararya dialiri api tak kasat mata yang membakar kulitnya. Gatra menahan napas, matanya terkunci pada manik mata sang putra mahapatih yang berkilat tajam, namun dilingkari selaput hitam sisa racun. "Tolong lepaskan... Kenapa Gusti Nararya ingin bertemu denganku?" bisik Gatra, suaranya ditekan serendah mungkin agar tidak terdengar oleh prajurit di belakangnya. Bukannya menjawab, tubuh Nararya tiba-tiba menegang hebat. Napasnya tercekat di tenggorokan, dan sedetik kemudian, matanya berputar ke atas sebelum akhirnya kelopak mata itu terpejam rapat kembali. Pegangan erat di lengan baju Gatra terlepas, menyisakan bekas kerutan yang kusut di kain kasarnya. "Gusti Nararya!" teriak sang prajurit pengawal, langsung merangsek maju dan mendorong bahu Gatra hingga pemuda itu terhuyung ke belakang. Gatra hampir menabrak rak obat kayu yang sudah lapuk di sudut ruangan. "Dia hanya pingsan karena kelelahan setelah racunnya k







