ログインIa mati karena pengkhianatan— dan terbangun sebagai villainess paling dibenci di dunia kultivasi, wanita yang ditakdirkan mati di tangan pahlawan. Untuk bertahan hidup, ia diberi satu pilihan gila: Seduction Survival System. Gagal menggoda? Mati. Terlalu berhasil? Dibunuh karena dianggap berbahaya. Dan targetnya… adalah pria yang paling membencinya. Namun semakin ia berpura-pura mendekat, semakin sang pahlawan kehilangan kendali— melindunginya diam-diam, cemburu tanpa alasan… dan tak bisa melepaskannya. Di antara kebencian, obsesi, dan permainan berbahaya ini— ia mulai menyadari satu hal: Ia bukan villainess sebenarnya. Ia hanyalah pion… dalam konspirasi sekte yang jauh lebih gelap. Sekarang, ia harus memilih— tetap bermain untuk bertahan hidup… atau menghancurkan semua yang pernah menjadikannya musuh.
もっと見るDingin.
Itulah hal pertama yang merasuki kesadaran Liora. Rasa dingin yang bukan sekadar menusuk kulit, melainkan seolah ingin membekukan sumsum tulangnya. Saat ia mencoba membuka mata, kelopak matanya terasa berat, seakan direkatkan oleh salju yang mencair dan darah yang mengering. Pandangannya kabur, hanya menangkap hamparan warna putih perak di bawahnya. Salju. Ia berlutut di atas salju. "Bangun, pengkhianat! Jangan pura-pura mati sekarang!" sebuah tendangan mendarat di bahu kirinya. Liora terjerembap ke samping. Wajahnya mencium permukaan salju yang kasar dan perih. Otaknya berdenyut kencang, memutar ingatan yang terasa asing tapi nyata. Nama-nama, tempat, dan sejarah ribuan tahun mengalir masuk ke kepalanya dalam hitungan detik. Sekte Awan Langit. Liora, sang tunangan pahlawan yang tidak berguna. Dan hukuman mati karena pengkhianatan yang bahkan tidak ia pahami. "Heh, lihat dia. Di mana aura angkuh yang biasanya dia pakai saat menghina murid-murid luar?" suara cemoohan terdengar dari kerumunan manusia yang melingkarinya. "Pantas saja Kakak Kaizen tidak pernah sudi menatapnya. Wanita ini adalah aib bagi sekte kita. Berurusan dengan sekte iblis hanya karena cemburu? Murahan sekali," timpal suara lain, penuh kebencian. Liora berusaha menegakkan tubuhnya. Lehernya terasa sangat kaku, ada rasa perih melingkar di sana, bekas rantai atau mungkin tali. Ia adalah seorang penulis di Bumi. Ia tahu setiap kiasan dan pola cerita semacam ini. Transmigrasi ke dalam tubuh seorang villainess yang sedang berada di ujung tanduk. Masalahnya, ini bukan awal bab satu yang romantis. Ini adalah adegan klimaks dari sebuah eksekusi. Gila, batin Liora sambil meludah keluar gumpalan salju bercampur darah. Belum ada lima menit gue di sini, skenarionya sudah mau tamat saja. Suara langkah kaki yang berat dan berirama mulai mendekat. Setiap langkah itu menciptakan getaran kecil di atas salju yang membuat kerumunan mendadak hening. Hawa di sekitar Liora mendadak turun beberapa derajat lagi. Tekanan energi yang begitu kuat, begitu otoriter, seolah menekan punggungnya sampai ia terpaksa menunduk kembali. "Liora." Hanya satu kata, namun cukup untuk membuat bulu kuduknya berdiri. Itu suara yang berat, dingin, dan benar-benar datar. Tanpa kasih sayang, tanpa keraguan. Liora mendongak sedikit. Di depannya berdiri seorang pria dengan jubah putih biru yang berkibar tertiup angin gunung yang ganas. Rambut hitamnya yang panjang diikat rapi, wajahnya tampak seperti pahatan batu giok yang paling sempurna sekaligus paling tidak tersentuh di dunia ini. Mata birunya menatap Liora seolah-olah ia hanyalah serangga pengganggu yang kebetulan mengotori salju suci milik sekte tersebut. Itu adalah Kaizen Rhuan. Sang Pahlawan Utama. Sang 'wadah' energi realitas yang ditakdirkan untuk menghancurkan kegelapan. Dan saat ini, dialah orang yang memegang otoritas atas nyawanya. "Kau punya kata-kata terakhir sebelum Pedang Pemurnian ini memisahkan kepalamu dari dosa-dosamu?" tanya Kaizen sambil menarik pedang perak dari sarungnya. Suara logam yang bergesekan itu terdengar sangat jernih di telinga Liora, seolah-olah kematian sendiri sedang membisikkan lagu nina bobo di telinganya. "Tunggu dulu..." suara Liora serak, tenggorokannya seperti baru saja menelan silet. "Ada salah paham di sini. Gue... maksudku, saya... aku tidak melakukannya." "Bukti-bukti tidak bisa berbohong, Liora. Segel pengkhianat ada di tanganmu. Kau membocorkan formasi perlindungan sekte kepada iblis Matahari Hitam," Kaizen mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Cahaya matahari musim dingin memantul di permukaan pedang perak itu, menyilaukan mata Liora. "Kaizen, dengar—" "Cukup. Kediamanmu selama ini adalah bukti kemurahhatianku. Namun pengkhianatan ini tidak memiliki ruang untuk pengampunan," Kaizen melangkah maju. Ujung pedangnya kini berada tepat di depan jakun Liora. Ia bisa merasakan hawa dingin yang mematikan dari senjata itu. Murid-murid sekte di sekeliling mereka mulai bersorak. "Penggal saja! Bersihkan nama sekte kita dari sampah seperti dia!" "Ayo, Kakak Kaizen! Jangan beri dia kesempatan untuk menipu lagi dengan wajah cantiknya yang licik!" Liora memejamkan mata. Otaknya bekerja sepuluh kali lipat lebih cepat. Sebagai penulis, dia tahu pahlawan kaku seperti Kaizen tidak bisa didekati dengan logika dalam situasi seperti ini. Kaizen adalah orang yang bergerak atas dasar 'Aturan' dan 'Tugas'. Tapi tubuh Liora gemetar hebat; insting bertahan hidup manusianya melumpuhkan kecerdasannya. Mati. Gue beneran mati di sini. Baru juga bangun! Sialan, siapa pun pelakunya, gue benci penulis asli cerita ini! Tepat saat Kaizen mengayunkan pedangnya ke belakang untuk melakukan tebasan tunggal yang menentukan, sebuah suara yang sangat aneh terdengar. Itu bukan suara teriakan massa, bukan suara angin, melainkan suara mekanis yang kuat dan bergaung tepat di dalam batok kepala Liora. [DENG—! Seduction Survival System Diaktifkan!] [Misi Darurat Terdeteksi: Eksekusi Takdir yang Dipercepat.] [Status Target: Kaizen Rhuan - 100% Kebencian.] [Opsi Bertahan Hidup: A. Lawan dengan sisa energi (Kemungkinan berhasil: 0.001%) B. Mengutuk sistem dan mati dengan martabat (Kemungkinan berhasil: 0%) C. Peluk lutut target dan memohon dengan wajah paling hancur saat ini (Kemungkinan berhasil: 50% Penundaan Kematian)] Hah? Apa ini?! Liora terbelalak melihat sebuah layar hologram biru transparan muncul di depannya, tepat di antara dia dan pedang Kaizen yang siap menebas. [Peringatan: Kepala Anda akan terpisah dari leher dalam waktu 3 detik. Pilihlah sekarang!] [3...] "Kaizen, jangan!" jerit Liora spontan. [2...] Pedang perak itu mulai menebas ke bawah, membelah udara dengan suara siulan yang tajam. Kaizen tidak ragu-ragu. Matanya tetap dingin, mantap pada tujuannya. [1...] "Sialan!" Insting bertahan hidup Liora menang. Peduli setan dengan martabat. Peduli setan dengan fakta bahwa ia baru saja merasuki tubuh ini. Ia tidak mau merasakan lehernya putus. Liora meluncur maju di atas salju, mengabaikan luka di kakinya dan dingin yang menggigit. Alih-alih lari menjauh, ia justru menerjang ke arah pria yang sedang mengayunkan pedang itu. Kaizen yang terbiasa dengan target yang mencoba kabur atau memohon dengan tangan terkatup, benar-benar tidak menduga reaksi Liora. Grap! Dunia seolah berhenti berputar. Sorakan murid-murid sekte tersangkut di tenggorokan mereka. Pedang Kaizen berhenti hanya beberapa inci di atas kepala Liora, memotong beberapa helai rambut wanita itu yang beterbangan tertiup angin. Liora berada di bawah sana, bersujud dan memeluk erat kedua kaki Kaizen Rhuan. Ia membenamkan wajahnya di lutut pria itu, tidak peduli dengan rasa dingin dari kain sutra atau sepatu bot tempur Kaizen. "Kaizen! Jangan bunuh aku! Aku tidak bersalah! Kalau aku mati sekarang, siapa yang akan mengingatkanmu untuk minum teh setiap pagi di Paviliun Dingin?!" jerit Liora dengan suara yang dibuat sedramatis mungkin, lengkap dengan isak tangis yang mulai ia paksa keluar. Kaizen membeku. Tangannya yang memegang pedang bergetar, bukan karena lemah, tapi karena kaget yang luar biasa. Sepanjang hidupnya, ia telah berhadapan dengan ribuan musuh, namun tidak ada satu pun pengkhianat atau iblis yang pernah menggunakan taktik 'peluk lutut' di tengah upacara eksekusi resmi. "Lepaskan," desis Kaizen. Suaranya terdengar goyah, seolah ada retakan kecil di topeng autoritasnya. "Berani sekali kau menyentuhku setelah apa yang kau lakukan." Liora justru mempererat pelukannya. Ia merasakan sensasi hangat yang aneh dari kaki Kaizen—mungkin itu energi kultivasinya—tapi ia tidak peduli. "Tidak mau! Bunuh saja kalau kamu tega membunuh wanita yang sudah menemanimu sejak kita masih memakai baju latihan ukuran kecil!" Liora sengaja mengungkit memori masa kecil (yang ia tangkap dari potongan ingatan pemilik tubuh asli). "Silakan! Potong saja leherku! Tapi aku akan menghantuimu di setiap latihan meditasimu sampai kau gila karena merasa bersalah!" Hening. Keheningan yang mencekam itu berlangsung cukup lama. Ribuan murid sekte yang menonton ternganga. Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu cara bereaksi. Seorang pengkhianat tingkat tinggi baru saja melakukan tindakan yang sangat tidak bermartabat, sangat memalukan, namun entah kenapa... efektif. Kaizen Rhuan menatap ke bawah. Ia bisa melihat bahu Liora yang kecil gemetar. Ia bisa melihat noda darahnya di sepatunya. Kemarahannya masih ada, tapi ia tidak lagi merasa bahwa tebasan pedang ini adalah langkah yang tepat saat ini. Rasanya... sangat kaku dan tidak nyaman. "Seduction Survival System?" bisik Liora pelan agar tidak terdengar yang lain, wajahnya masih terkubur di lutut Kaizen. "Lo beruntung gue dapet sistem yang kayak ginian. Malunya minta ampun, tauk!" [Notifikasi: Penekanan emosi target berhasil dideteksi. Level kemarahan menurun 2%.] [Misi berhasil sementara: Hukuman ditunda selama status kebingungan target aktif.] Kaizen menurunkan pedangnya perlahan. Ujung perak itu menyentuh salju, tidak lagi menunjuk leher Liora. "Bawa dia ke penjara bawah tanah," kata Kaizen, suaranya kembali datar namun ada nada frustrasi yang tersirat di sana. "Tahan dia sampai besok. Aku akan melakukan interogasi ulang... sendiri." Liora bernapas lega, meskipun ia tahu ini baru permulaan. Ia tidak langsung dilepaskan, ia justru dilemparkan ke lubang yang lebih dalam. Tapi satu hal yang pasti: kepalanya masih menempel di badannya. Saat dua penjaga mendekat untuk menyeretnya, Liora sempat menatap mata Kaizen sekali lagi. Kali ini bukan dengan tatapan penuh rencana jahat villainess, melainkan tatapan orang yang baru saja lolos dari maut. Tunggu saja, Pahlawan Utama, batin Liora sambil diseret melewati salju. Lo boleh jadi punya pedang paling tajam di dunia ini, tapi gue punya semua kiasan novel roman picisan di kepala gue. Kita lihat siapa yang akan menyerah lebih dulu. Kaizen berdiri diam di tengah lapangan yang dingin, matanya tertuju pada bekas pelukan Liora di lututnya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, sang Pahlawan Suci merasa jantungnya berdetak tidak selaras dengan mantra meditasi batinnya. Suara mekanis dingin itu kemudian berdering lagi di telinga Liora yang sedang diseret. [Notifikasi: Perhatian target diperoleh. Selamat, Host Liora, Anda telah selamat dari bab pembuka. Selamat datang di neraka yang paling menggoda.]Sistem keamanan Sekte Awan Langit tidak diciptakan untuk orang yang memiliki user manual-nya di dalam otak. Liora tahu itu. Saat jarum jam spiritual di pusat menara lonceng berdenting tiga kali, Liora sudah memanjat keluar dari celah kecil jendela penjara bawah tanah—lubang pembuangan kotoran yang menurut ingatan villainess asli, adalah rahasia yang ia gunakan untuk melarikan diri saat remaja. Tubuhnya yang mungil, meskipun lemah karena kehilangan darah tadi sore, bergerak seperti bayangan yang luput dari pantauan patroli murid malam. [DENG—! Notifikasi Sistem: Buff 'Shadow Step' diaktifkan! Menguras 50 poin energi spiritual tersisa. Sisa energi: 5%. Peringatan: Jika energi habis di area terbuka, nyawa Anda adalah taruhannya!] "Cukup diamlah, Sistem," bisik Liora sambil menempelkan punggungnya pada dinding paviliun utama. Napasnya memburu, uap tipis keluar dari bibirnya yang pucat. Jantungnya berdegup lebih kencang dari ketukan gendang perang. Kenapa dia ada di sini? Malam ini? S
Suara gemerincing logam beradu dengan lantai marmer yang sunyi, namun bagi Kaizen Rhuan, suara pecahan keramik vas di belakangnya itu terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangannya sendiri. Ia tidak berbalik. Matanya masih terpaku pada kabut di balik jendela paviliun, sementara tangannya mencengkeram ambang jendela hingga kayu kokoh itu mengeluarkan bunyi decit tertekan. Di luar pintu, langkah kaki Liora yang tertatih-tatih terdengar menjauh, menyisakan jejak yang tidak seharusnya ada di sana. Kaizen berbalik dengan satu sentakan cepat. Wajahnya yang biasanya tenang kini didera oleh gurat kebingungan yang tertahan. Ia melihat tetesan darah yang mulai mengering di atas lantai putih suci paviliunnya—tetesan yang menolak untuk ia abaikan. Ini bukan lagi soal pengkhianatan atau doktrin sekte. Ini adalah gangguan fisik yang merusak ritme pikirannya. "Cih, tipu daya rendah," desis Kaizen pada diri sendiri. Ia melangkah mendekati serpihan keramik itu dengan perasaan mendidih. Ia ta
Kabut pagi di Sekte Awan Langit tidak pernah terasa bersahabat. Bagi Liora, udara itu lebih mirip cengkeraman tangan es yang siap meremas tenggorokannya. Ia berjalan melintasi lorong batu dengan pakaian tahanan yang masih berbau jerami busuk. Namun, aura yang ia bawa kali ini berbeda. Ia tidak lagi menunduk seperti anjing yang menanti cambuk; kepalanya tegak, punggungnya lurus. Ia memanfaatkan satu celah hukum sekte: sebagai tunangan formal yang belum dicabut statusnya secara resmi oleh Dewan Tetua, ia memiliki hak untuk meminta 'Pertemuan Pembersihan Jiwa' di Paviliun Dingin sebelum eksekusi berlangsung.Sistem, dalam wujud statis yang menyebalkan, terus memberi instruksi di sudut matanya.[DENG—! Misi Baru: Seduction Level 1: Vulnerability. Tampilkan sisi rapuh Anda untuk memicu konflik internal pada Target.]Liora tidak menanggapi. Ia sedang fokus menata napas. Di hadapannya, gerbang kayu ek yang dipahat rumit itu terbuka perlahan, menampakkan sosok Kaizen Rhuan yang sedang duduk b
Dinding penjara bawah tanah Sekte Awan Langit terasa seolah memakan sisa-sisa kehangatan tubuh Liora. Udara di sini lembap, berbau amis tanah basah dan besi berkarat. Tidak ada kemewahan paviliun sutra yang biasa ditinggali Liora, sang villainess yang angkuh. Yang ada hanyalah tumpukan jerami busuk dan rantai besi yang melilit pergelangan tangannya ke dinding batu. Liora meringkuk di sudut, menatap tangannya yang kini penuh memar dan goresan akibat diseret oleh para penjaga. Rasa sakit itu nyata. Kedinginan itu nyata. Dan suara bising yang tak berhenti berdering di kepalanya—Sistem—juga terlalu nyata untuk diabaikan. [DENG—! Notifikasi Sistem!] [Selamat, Host! Kamu berhasil menunda hukuman mati pertama dengan tindakan "Pelukan Penuh Derita". Nilai Seduction untuk sementara stagnan di angka 0.01%. Waktu tersisa hingga eksekusi ulang: 23 jam 45 menit.] "Pelukan penuh derita?" Liora mendesis ke arah ruang kosong, suaranya parau. "Lo gila ya? Itu bukan teknik rayuan, itu tindakan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.