Masuk“Cerita apa?” tanya Chandani dengan wajah penasaran.“Tiga tahun yang lalu. Aku tidak pernah tidur dengan Duna.”“Apa?”“Boleh aku masuk ke apartemen kamu?” Viola memegang lengan Chandani, sedikit erat. “Aku akan ceritakan semuanya ke kamu.”“Ayo masuk.”Chandani membukakan pintu untuk Viola. Viola melihat ke sekeliling unit apartemen Chandani. Rapi, seperti di Australia dulu.Dahulu, Viola sering sekali menginap di apartemen Chandani. Atau Chandani akan menginap di rumah Viola. Rumah Viola berbentuk Victorian Era Homes, satu lantai dengan halaman yang luas. Pagi hari, terkadang ada kanguru di halaman rumahnya.Chandani memberikan air mineral untuk Viola.“Kamu selalu minum air dingin ya? Dulu, waktu musim dingin, kamu juga minum air dingin dari kulkas.”Chandani hanya menanggapinya dengan tersenyum yang sedikit dipaksakan. Viola adalah teman baiknya di Australia. Saat dia bertengkar dengan Duna, dia akan bercerita kepada Viola. Saat Duna menurunkanya di jalan saat mereka bertengkar.
Sejak pagi, Chandani tidak bisa fokus bekerja. Pikirannya melayang jauh memikirkan Duna. Ada rasa penasaran, Duna sakit apa? Kenapa Viola sampai ke Jogja demi memastikan Duna periksa ke dokter?Di saat seperti ini, Chandani membenci dirinya sendiri. Membenci dirinya yang selalu memikirkan Duna. Membenci dirinya yang masih memiliki rasa peduli kepada Duna. Meskipun Duna sudah menyakiti hatinya.“Mau makan apa?” tanya Cahya sambil mengeluarkan handphonenya. Mencari kontak pemilik warung makan.“Nasi Padang mau nggak?” Cahya menawarkan nasi Padang. Tapi Chandani masih terdiam dan tampak melamun.Cahya mendekati telinga Chandani. Berbisik pelan. “Mau nasi Padang nggak?”Bisikan Cahya membuat Chandani terkejut. Dia segera menjauhkan kepalanya. “Bikin kaget aja.”“Siapa suruh ngelamun.” Cahya duduk di samping Chandani.“Mau makan apa? Nasi Padang mau nggak?” Cahya mengulangi pertanyaannya.“Iya, boleh.” jawab Chandani sambil memainkan bolpoin yang ada di tangannya. “Ya, kamu kadang-kadang m
“Kalau kamu sayang aku, harusnya, waktu itu, kamu tidak berselingkuh.”Suara Chandani terdengar pelan. Tapi sangat menusuk hati Duna. Dulu, Duna memang bersalah. Dia tidak seharusnya membuat alasan seperti itu.Tiga tahun ini terasa begitu berat untuk Duna. Hidup Duna tiga tahun ini sangat berantakan. Duna memiliki alasan sendiri kenapa dia memilih berbohong, tiga tahun lalu.Yang Duna pikirkan waktu itu adalah, bagaimana caranya membuat Chandani melepaskannya. Lalu meminta maaf kepada Chandani dan memperbaiki lagi hubungan mereka.“Chan, aku punya alasan sendiri.”“Alasan kamu tidur dengan Viola?”Duna tampak frustasi. Tidak tahu harus menjelaskan dari mana.“Aku bisa jelasin semuanya, Chan.”“Tidak perlu Duna. Tidak ada yang berubah. Kita sudah putus.”“Chan …”“Sudah malam, aku tidur dulu.”Chandani lalu menutup pintu apartemennya. Merebahkan tubuhnya di kasur. Chandani lalu menutup matanya pelan-pelan. Tidak ingin memikirkan Duna. Duna adalah mantan pacarnya. Orang yang membuatnya
Hati Chandani terasa berbunga-bunga saat ini. Wanita mana yang tidak bahagia setelah mendengar, sebuah bait yang terdengar indah?Noval selalu bisa membuat Chandani merasa dicintai. Membuat Chandani merasa dihargai dan layak untuk dicintai.“Oh, iya, kamu kapan jadwalnya periksa?”“Periksa?”“Periksa ke dokter penyakit dalam.”“Minggu depan mas. Tanggal tiga.”Noval melihat kalender di handphonenya. Membuat catatan di sana. “Hari kamis kan? Siang, sore, atau malam?”“Malam mas.”“Aku antar ya?”Chandani sedikit merasa heran. Chandani kira, tidak ada laki-laki di dunia ini yang bersedia menemani duduk berjam-jam demi antrian periksa. Apalagi, status hubungannya saat ini dengan Noval, hanya sebatas teman.Dulu, setiap kali jadwal periksa. Duna akan terlihat sibuk di kantor. Kalau tidak, dia akan beralasan sedang lembut atau di luar kota. Duna selalu merasa jenuh menemani Chandani periksa. “Mas Noval serius?”“Iya, ini sudah aku tulis catatan di kalender handphone ku, biar nggak lupa.”
Pelukan Noval terasa hangat. Laki-laki itu masih enggan melepaskan pelukannya. Aroma parfum memasuki hidung Chandani. Menimbulkan rasa nyaman dan tenang.“Iya mas.” jawab Chandani, dia mempererat pelukannya.“Kayaknya, aku udah nggak bisa mengontrol diriku lagi.” Noval melepaskan pelukannya, menatap Chandani dengan mata sedikit sayu.“Rasa cemburuku ke Duna sudah semakin besar. Duna cinta pertama dan mantan kamu. Dia sudah lama mengenal kamu. Sedangkan aku? Aku hanya orang baru yang mencoba masuk ke hati kamu.”“Chan….”“Iya …”“Maaf ..”“Eh, maaf kenapa?” Chandani sedikit bingung.“Maaf karena, kamu melihat sisi lain dariku. Aku seperti anak remaja yang sedang cemburu.”“Karena manyun tadi?”Noval mengangguk.Chandani tertawa pelan. “Padahal tadi, mas Noval gemesin banget ““Gemesin?” “Coba manyun lagi?”Noval memajukan bibirnya. Ekspresinya terlihat seperti anak kecil yang sedang merajuk. Membuat Chandani menjadi semakin gemas dengan Noval.Chandani tertawa pelan. Dengan tiba-tiba
“Mas, nggak pulang?” tanya Chandani yang sibuk melipat bajunya di kasur. “Nanti aja lah dik.”Sudah jam setengah delapan malam, dan Auriga tak kunjung pulang. Chandani berharap Auriga segera pulang, dan Noval bisa segera ke apartemennya.Jari Chandani tengah sibuk berkirim pesan dengan Noval. Memberitahu jika Auriga masih belum pulang.Chandani : [Mas Auriga masih di sini. Mas Noval sudah tidur belum?]Mas Noval : [Belum, ini masih nidurin Nadel.]“Mas kamu pulang jam berapa? Ini sudah malam loh.”Sudah tiga jam tiga puluh menit, Auriga di apartemennya. Sejak tadi Auriga terus merebahkan tubuh tingginya itu di sofa. Mengunyah jajan. Lalu membaca komik.Sesekali, Auriga menanyakan tentang kaki Chandani. Sejak tadi Auriga terus menanyakan tentang - ayah pasien, yang menolong Chandani.Tentu saja Chandani berbohong. Dia tidak ingin Auriga mengetahui tentang hubungannya dan Noval, untuk saat ini. Karena Chandani masih belum siap menerima penolakan dari keluarganya. “Kirana juga masih di







