LOGIN“Ya.” Chandani memanggil Cahya dengan suara pelan. “Apa ini sudah waktunya aku membuka hati ya?”Ada keraguan besar dari dalam hati Chandani. Karena kegagalan hubungannya dengan Duna. Dia mulai meragukan banyak hal. Salah satunya adalah tentang perasaan Noval kepadanya.Kemarin, Noval sudah berhasil menyakinkan dirinya. Tapi entah kenapa, rasa ragu itu muncul kembali. Chandani saat ini merasa kebingungan dengan perasaannya sendiri.“Aku ragu. Aku takut gagal lagi. Tapi disisi lain, aku juga takut kehilangan mas Noval. Aku egois banget ya, Ya? Aku ragu untuk maju, tapi aku juga takut kehilangan.” Chandani mendudukkan kepalanya. Jari kanannya memainkan kuku jari kirinya.Cahya duduk mendekati Chandani. Mereka berdua sudah tidak fokus dengan drama Korea yang sedang tayang di televisi. Suara berat aktor Korea, menemani percakapan mendalam mereka malam ini.“Pelan-pelan saja Chan. Tidak harus terburu-buru. Memangnya pak Noval minta kamu kasih kepastian sekarang?”Chandani menggelengkan ke
Makanan di meja makan, terlihat sangat menggoda untuk Cahya. Cahya beberapa kali melirik ke arah Chandani yang sedang berusaha jalan ke arah meja makan. Chandani terlihat menahan rasa sakit di kakinya. Akhirnya, Cahya membantu Chandani berjalan, lalu menarik kursi dari bawah meja untuk di duduki Chandani. “Ini, pak Noval yang masak?” Cahya terlihat takjub. Sosok Noval semakin terlihat mempesona di mata Cahya.“Iya, tadi pulang kantor mas Noval ke sini. Masak terus bersih-bersih apartemenku.”Cahya kembali melongo. Apapun cerita Chandani tentang Noval, mampu membuatnya merasa takjub. “Bener-bener ya pak Noval itu. Semua aja dia borong.”“Di borong apanya?” Chandani sedikit bingung.“Ganteng, tinggi, pintar, kaya, nggak patriarki. Laki-laki langka.” Cahya mengacungkan kedua jempolnya ke udara. Chandani menganggukkan kepalanya - setuju. “Iya sih dia pasti pinter banget. Kalau nggak pinter nggak mungkin lulus beasiswa di UCL.”“U-C-L?” Cahya memastikan jika tidak sedang salah dengar. “
“Aku beneran pulang sekarang nih?” Noval memperlihatkan raut wajah memelas. Berat sekali rasanya untuk pulang sekarang. Dia masih ingin di sini, bersama Chandani.Sore ini, Noval sudah memasak makan malam untuk Chandani. Membersihkan apartemen Chandani. Merapikan buku-buku Chandani yang sedikit berantakan. Bahkan mengupas banyak buah untuk gadis itu. Meskipun tujuan utamanya sudah tercapai - memasak makan malam. Tapi, Noval berat sekali untuk meninggalkan Chandani yang sedang sakit. Chandani tersenyum. “Sudah magrib. Mas Noval kan harus ngurusin Nadel juga.”“Nanti malam aku ke sini lagi ya? Oh iya es krim. Kamu mau es krim apa? Nanti fotonya kirim ke aku ya?”Chandani mengangguk. “Iya mas Noval. Sana, cepat pulang.” Chandani tidak bermaksud mengusir Noval. Tapi sudah tiga puluh menit laki-laki itu berpamitan, tapi tak kunjung pulang.Noval lalu memeluk Chandani. Ini adalah pelukan kelima, sejak dirinya berpamitan akan pulang. Dengan berat hati, Noval akhirnya meninggalkan Chandani.
“Saya kira, sebaiknya kamu pulang saja. Saya bisa menjaga Chandani di sini. Kehadiran kamu di sini, juga tidak membantu apa-apa.”Samar-samar dari kamar mandi, terdengar suara Noval yang secara tidak langsung mengusir Duna. Meskipun suara Noval terdengar lembut, tapi kata-katanya sedikit menusuk hati. “Saya juga bisa menjaga Chandani. Bagaimanapun juga, kita pernah berpacaran selama sembilan tahun. Saya sangat mengenal Chandani, dan saya bisa menjaganya.” ucap Duna tidak mau kalah.Chandani membuka pintu kamar mandi, dia melihat dua orang laki-laki yang saling beradu tatap. Seperti serigala yang siap saling menyerang. Chandani memperhatikan ekspresi Noval. Ini pertama kalinya Chandani melihat Noval dengan ekspresi yang tidak bisa didefinisikan. Alis Noval bertaut rapat ke bawah, membentuk garis kerut di tengah dahi. Matanya menyipit sinis.Sedangkan Duna, Chandani paham sekali ekspresi Duna seperti orang yang sedang menahan marah. Rahang Duna tampak mengatup keras, hingga membuat oto
Bau lezat masakan, membuat Chandani terbangun. Matanya yang setengah terbuka melirik ke arah jam dinding. Sudah jam empat sore. Sepertinya dia sudah tidur selama tiga jam. Dia tertidur lelap karena efek obat pereda nyeri. Chandani mencoba terbangun dari kasurnya dengan susah payah. Tubuhnya terasa sangat sakit saat ini. Tapi untungnya, kepalanya sudah tidak pusing seperti tadi. Dengan tubuh yang terasa sakit, Chandani mencoba berjalan pelan menuju Noval yang tengah sibuk di depan kompor. Chandani tiba-tiba berdiri di samping Noval. “Astaga.” Noval tampak terkejut. “Kamu kok jalan ke sini. Nanti kalau kaki kamu sakit gimana?” “Nggak sakit kok mas.” jawab Chandani sambil melihat apa yang sedang Noval lakukan. Tanpa aba-aba, Noval lalu menggendong Chandani dan mendudukkannya di sofa. Padahal dia hanya butuh beberapa langkah saja ke sofa, tapi laki-laki itu tidak mengizinkan dia berjalan. “Mas, aku bisa jalan.” “Selama ada aku di sini, dan kaki kamu masih sakit. Aku akan gend
Dengan wajah murah, Noval memasuki kantor. Tubuhnya memang berada di kantor, tapi pikirannya terus tertuju pada Chandani. Satu jam lalu, saat Chandani mandi, Noval menghubungi Zaidan. Noval ingin libur kerja hari ini. Tapi pak Arwan - klien barunya, hanya mau bertemu dengan Noval.Wajah Noval tampak bersungut-sungut saat memasuki ruang kerjanya. Noval melihat handphonenya, pesannya belum Chandani balas. “Kenapa bro?” Zaidan memasuki ruangan Noval sambil membawa satu tumpuk desain mall baru. Noval tidak menjawab, dia masih sibuk dengan tabletnya. “Pak Arwan maunya ketemu kamu soalnya. Aku sudah bilang, hari ini kamu mau libur kerja. Tapi pak Arwan maksa, kalau nggak sama kamu mending proyeknya batal.”Ini adalah proyek besar untuk N and N architect. Pak Arwan adalah salah satu pemilik usaha di bidang properti. Tahun ini, pak Arwan ingin membangun kompleks perumahan elite di Jakarta. Tiga tahun yang lalu, Noval juga yang mendesain villa pak Arwan di Banda Neira. “Ada berapa yang nge







