Share

Bab 23

Penulis: Lalacolla
last update Tanggal publikasi: 2026-07-17 19:31:24

Pasien hari ini sudah selesai. Satu jam lima belas menit lagi klinik tutup. Chandani sedang mengunyah donat madu di dapur sambil membaca novel di platform online. Matanya terus tertuju pada layar handphone tapi mulutnya fokus mengunyah.

“Selamat siang.”

Suara seorang laki-laki memecahkan konsentrasi Chandani. Rika segera berjalan menuju pendaftaran depan. Seorang laki-laki yang tidak asing bagi Rika tengah berdiri sambil tersenyum.

“Saya mau fisioterapi. Bisa?” tanya laki-laki itu.

“Sebentar
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Naira Rara
Duna, salah nama
goodnovel comment avatar
Naira Rara
Chandani jauh2 dari Noval
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 87

    Setelah berbicara tentang perasaan satu sama lain, Chandani mengantarkan Noval pulang sampai parkiran basement. Malam ini, Chandani masih belum bisa menerima perasaan Noval. Tapi, jawaban Noval sudah cukup membuatnya bahagia. Noval akan menunggunya, hingga hatinya siap.Pintu lift terbuka di lantai empat. Seorang laki-laki tengah tersenyum dan berdiri di depan pintu unit apartemen. Duna, sedang menunggunya.“Hai.” sapa Duna sambil tersenyum.“Aku belikan martabak buat kamu.” Duna memberikan kantong plastik putih berisi martabak telur.“Aku tadi ketemu teman-teman kuliah dulu. Kamu ingat Arjuna? Dia sekarang kelihatan berbeda banget setelah pengobatan kanker nasofaring.”Arjuna adalah teman baik Duna waktu kuliah. Mereka sangat akrab. Dahulu, Chandani sering kumpul bersama teman-teman Duna.“Tadi, kamu dapat salam dari Arumi. Katanya, dia pengen ketemu kamu. Arumi sudah punya anak satu sekarang.”Ketika Chandani pergi ke fakultas ekonomi bisnis, Arumi menyambutnya dengan sangat baik. A

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 86

    “Kenapa minta maaf?” Noval melepaskan pelukan Chandani. “Duduk dulu, yuk?”Chandani duduk di sebelah Noval. Tidak ada jarak di antara mereka. Tubuh mereka saling berdekatan. Noval merangkul pundak Chandani. Membuat Gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Noval.“Tadi, aku dengar Rayhan bicara kalau senyumku mirip mendiang Sheena.” Chandani berbicara dengan suara sangat pelan.Untung saja, kedua telinga Noval masih berfungsi dengan sangat baik. Jadi dia masih bisa mendengarnya.“Kamu dengar?”“Iya.” “Kamu dengar juga tidak jawabanku?”Chandani menggelengkan kepalanya. Setelah mendengar ucapan Rayhan, Chandani langsung kembali berjalan ke ruang perawatan.Noval mengeluarkan handphone dari saku celana panjangnya. Kedua ibu jarinya sibuk mencari-cari sebuah foto.Noval menunjukkan foto itu kepada Chandani.“Senyum kamu tidak mirip dengan Sheena.”Chandani mengamati foto seorang wanita cantik yang tengah tersenyum di pantai. Wanita terlihat sangat cantik menggunakan setelan crop top berw

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 85

    “Ini bagus lukanya. Nggak ada nekrosis. Sepuluh hari lagi boleh lepas jahitan.” ucap Rayhan sambil menutup luka Chandani dengan perban anti air.“Jangan kena air dulu ya mbak?”Chandani tersenyum tipis. Ucapan Rayhan tadi mengganggu pikirannya. Apa senyumnya benar-benar mirip dengan mendiang istri Noval? Apa Noval mendekatinya karena hal itu?Noval menyadari jika Chandani tiba-tiba terdiam sejak tadi. Chandani juga mengalihkan pandangan darinya? Chandani tidak melihatnya, seperti biasanya. Ekspresi wajah Chandani terlihat seperti - sedih?Jemari panjang Noval menggenggam pergelangan tangan Chandani. “Beneran bagus kan lukanya? Soalnya tadi dia masuk kerja dan kayaknya agak banyak jalan.”“Aman kok Val. Tenang saja.” jawab Rayhan yang sedang menjauhkan peralatan rawat luka dari bed. “Obat pereda nyeri dari rumah sakit masih ada?” tanya Rayhan ke Chandani.“Masih.” jawab Chandani singkat.“Masih banyak nggak?” tanya Noval ke Chandani. Tapi Chandani tidak menjawab. Hanya menatap wajah N

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 84

    Jemari Noval terlihat sangat lihai saat mengatur rambut Chandani. Dengan telaten, dia mengeringkan rambut Chandani dengan hair dryer. Lalu mengikat rambut Chandani agar tidak berantakan.Aroma shampo, dan rambut yang lembut. Membuat Noval seperti terbius oleh keindahan Chandani. Noval mencoba menyadarkan dirinya. Bukan saatnya dia terbawa oleh pesona Chandani. Sebentar lagi mereka harus ke klinik.“Berangkat sekarang?” ajak Chandani.Noval melihat jam tangannya. “Ayo.”Sudah jam tujuh malam, tiga puluh menit lagi, mereka harus sampai di klinik.Seperti biasa, Noval menyamakan langkah kakinya dengan langkah kaki Chandani yang pendek. Jika biasanya langkah kaki Noval cenderung lebar dan cepat. Kini, dia memperpendek langkahnya. Untuk mengimbangi Chandani. Agar gadis itu tidak terburu-buru.Saat di lift, Chandani dan Noval bertemu Duna yang sedang menelpon seseorang. Noval memalingkan wajahnya. Tadi, Duna sudah membuat suasana hatinya menjadi buruk. Dia tidak ingin suasana hatinya menjad

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 83

    Chandani meregangkan tubuhnya. Dia melirik jam kecil di nakas. Sudah jam setengah tujuh malam. Dan dia baru terbangun.Sore tadi, setelah pulang dari klinik, badannya terasa sangat lelah. Kakinya juga terasa sedikit sakit. Jadi dia meminum obat pereda nyeri dan akhirnya tertidur pulas.Saat membuka matanya, Chandani terkejut melihat Noval tengah duduk di sofa. Meskipun terlihat dari belakang, Chandani tahu sekali jika itu Noval.Chandani berjalan pelan ke arah sofa. Dia berjalan berjinjit agar langkahnya tak terdengar. Setelah jarak mereka semakin dekat, Chandani menyentuh pipi kanan Noval dengan ujung jarinya. Membuka laki-laki terkejut. Kaos polo berkerah warna cream dan celana jeans membuat Noval terlihat tampan. Tubuh atletisnya terlihat menawan dengan kaos polo. Wanita mana yang tidak akan mengagumi wajah dan tubuh yang bagus itu?Noval berbalik ke belakang. Melihat Chandani yang tengah senyum. “Kamu sudah bangun?” tanya Noval dengan suara lembutnya.“Sudah, aku tidur dari jam e

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 82

    Senyum Duna terlihat puas setelah melihat ekspresi kesal dari wajah Noval. Hari ini, Duna ingin menunjukkan bahwa masih ada dirinya di hati Chandani. Dia akan terus mencari cara untuk mendapatkan kembali hati Chandani.Kedua jari jempol Duna tengah mencari nama kontak seseorang di handphonenya. Lalu menghubungi nomor tersebut.“Halo pak Duna.” terdengar suara laki-laki di ujung telepon.“Sudah dapat tanahnya?”“Belum pak Duna.”Duna memukul roda kemudi dengan emosi. “Kan, saya sudah bilang. Harus segera dapat tanahnya!”“Cari tanah di Jogja susah pak. Saya sudah berusaha cari.”“Cari rumah kosong yang di jual. Saya akan renovasi.” nada bicara Duna meninggi.Sudah satu minggu dia menunggu kabar dari pak Januar. Tentang pencarian tanah atau rumah kosong yang akan dia renovasi.Duna berpikir, dengan membuatkan rumah yang Chandani impikan. Mungkin dia bisa dengan mudah mendapatkan hati Chandani lagi.“Maaf pak Duna. Ini bukan hanya sekedar membeli tanah. Tapi perlu mengetahui hak waris ya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status