LOGINKecupan Noval di puncak kepala membuat Chandani terdiam mematung. Chandani menahan senyum di bibirnya. Jika tidak ada Noval, mungkin sekarang, dia sedang berteriak kencang. Noval kembali duduk di kursi setelah mencuci piring. Noval menatap Chandani, ekspresi gadis itu sedikit susah Noval tebak.“Kenapa?” tanya Noval penasaran. Chandani menggelengkan kepalanya. Dia lalu berdehem beberapa kali, mencoba membuat ekspresi wajahnya se-biasa mungkin.Tapi perubahan ekspresi Chandani membuat Noval bertanya-tanya. Apa tindakannya barusah sedikit kelewatan?“Kamu….. marah?” tanya Noval sedikit ragu-ragu.“Eh.” Chandani terkejut. “Marah kenapa?”Jari Noval menunjuk kepala Chandani. Lalu Chandani balas dengan isyarat tangan - tidak.“Aku tidak marah kok.” Chandani membulatkan kedua matanya. “Aku cuma…” Chandani sedikit ragu. “Bahagia.” ucapnya dengan suara lirih. Tapi Noval sepertinya mendengarnya.Dada Noval mengembang seiring rasa bahagia yang memenuhi hatinya. Noval tersenyum bahagia. Asalka
“Aku boleh menginap di sini?” tanya Noval dengan ekspresi sedikit memohon.“Boleh.” jawab Chandani sambil tersenyum.“Asik.” Noval terlihat bahagia. Tapi sedetik kemudian dia teringat Nadel. “Kayaknya aku pulang aja deh. Aku agak khawatir sama Nadel.”“Nadel kenapa mas?” Chandani menjadi khawatir. Takut jika kondisi Nadel mungkin memburuk.“Akhir-akhir ini saturasi oksigennya sering turun. Jadi harus sering di pantau. Aku takut kalau kejang lagi.”“Nadel sering kejang?”“Iya, hasil EEG. Gelombang kejangnya masih ada.”“Memang, merawat anak spesial itu butuh banyak kesabaran.” Chandani mencondongkan tubuhnya, menepuk pelan bahu Noval - memberikan semangat. Meskipun dia sedikit kesusahan karena perbedaan tinggi badan mereka. “Asal aku masih bisa melihat Nadel. Aku akan melakukan apapun.”Di dunia ini ada hal yang lebih besar dibandingkan gunung, yaitu kasih sayang orang tua. Chandani tahu betapa besarnya cinta Noval untuk Nadel.Kondisi Nadel memang cukup kompleks. Jadi perlu pengawasa
Sore ini, Noval dan Zaidan menjelaskan kepada pemilik rumah. Bahwa desain dan bahan-bahan yang mereka pilih tidak ada masalah sama sekali. Tekanan air di lantai tiga, sudah diperkirakan dengan tepat. Seharusnya air di lantai tiga tetap mengalir dan tanpa kebocoran.Permasalahannya terdapat pada, mandor yang ternyata mengganti ukuran pipa. Ukuran pipa dia gantikan dengan yang kecil. Sehingga air di lantai tiga tidak mengalir.Kebocoran di lantai tiga, juga karena adanya pipa yang pecah. Noval menjelaskan dengan baik dan lugas. Sehingga Bu Dewi dapat memahaminya dengan cepat.“Jadi, ini permasalahannya di pipa ya pak Noval?’“Iya bu Dewi. Ini desain yang saya buat.” Noval menunjukkan desain yang dia buat. “Dan ini perihal ukuran pipa, dan bahan-bahan yang lain.” Noval lalu menunjukkan catatan yang dia foto. “Saya sudah menyerahkan catatan ini ke penanggung jawab pembangunannya.” ucap Noval.“Saya akan panggil mandornya.”Malam itu terjadi debat sengit antara Noval, Zaidan, dan mandor b
Mengingat bagaimana ekspresi Noval saat cemburu tadi, membuat Chandani ingin tertawa. Laki-laki itu berubah menjadi pendiam, tidak peduli kepadanya, dan tentu saja sedikit cemberut. Gerakan kakinya yang cepat ke sana ke sini, mata yang enggan menatapnya. Membuat Chandani, merasa sedikit gemas, dengan Noval.Ternyata laki-laki itu kalau cemburu, lucu ya? Batin Chandani.Chadani segera memeluk Noval dengan erat. “Tidak apa-apa kok mas Noval. Kalau mas Noval tadi cemburu. Berarti mas Noval memang suka sama aku.” Chandani lalu melepaskan pelukannya.Sepuluh jemari Noval mencengkram kedua bahu Chandani, dengan pelan. “Tentu saja aku suka sama kamu. Kalau nggak suka, ya aku nggak akan kayak gini.”“Kayak gini gimana?” Chandani penasaran.“Ya, kayak begini. Setiap hari mikirin kamu. Pengen selalu ketemu kamu. Rasanya aku selalu ingin di dekat kamu. Baru beberapa menit nggak ketemu kamu, rasanya rindu sekali.”“Contohnya kayak sekarang. Aku baru saja ketemu kamu, tapi kalau sampai rumah. Aku
Siang ini, niat awal Noval adalah pergi ke apartemen Chandani. Karena jamur dan usus krispi di Laguna tadi sangat lezat. Noval ingin mengantarkan jamur dan usus krispi untuk camilan Chandani. Lalu kembali ke kantor. Tapi, dia malah melihat adegan yang membuat hatinya mendidih. Duna - laki-laki menyebalkan itu memeluk Chandani. Dan yang lebih membuatnya cemburu adalah, Chandani diam tidak memberontak. Padahal beberapa hari yang lalu, saat Duna memegang tangannya, Chandani langsung berontak . Kenapa kali ini tidak? Noval seperti merasa satu langkah kehilangan Chandani.Noval meninggalkan apartemen Chandani dengan perasaan campur aduk. Noval berpikir, lebih baik dia kembali ke kantor sekarang. Saat dia mulai berjalan menjauh, suara seorang wanita membuatnya berhenti.“Mas Noval.” Chandani memanggil namanya, lalu berlari.Dahulu, Noval merasa sedikit geli. Saat melihat sebuah adegan di drama, saat seorang pemeran utama wanita berlari ke arah pemeran utama laki-laki. Tapi kali ini, saat m
Dengan penuh tenaga, Chandani akhirnya mendorong tubuh Duna. Sedikit hentakan, membuat kakinya terasa sakit. Napas Chandani memburu karena menahan rasa sakit di kakinya dan juga menahan emosinya.“Udah gila kamu ya!” Chandani menahan diri untuk tidak mengumpat Duna. laki-laki, sialan! Umpat Chandani dari dalam hati.Saat akan memasuki apartemen. Duna menghalangi Chandani. Dia kembali mencoba memeluk Chandani dengan paksa.“Iya, aku sudah gila. Aku gila karena kamu Chan!”“Duna!” Chandani mencoba melepaskan pelukan Duna, tapi gagal. Laki-laki itu memeluknya dengan sekuat tenaga. Chandani seperti kehabisan tenaga karena memberontak.“Aku nggak akan lepasin kamu lagi Chan. Aku akan berusaha dapatkan hati kamu lagi!”Chandani akhirnya menyerah. Semakin dia memberontak. Semakin kuat Duna memeluknya. Dia membiarkan Duna memeluknya. Setelah dua menit Duna melepaskan pelukannya.Plak…Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Duna.“Dasar orang gila!” rahang Chandani mengeras, matanya ter







