LOGIN“Sen, kamu harus cerita, gimana rasanya? Enak, kan? Pasti panjangnya lebih dari 25 cm, kan?” Mata Senja mendelik saat membaca isi pesan absurd dari temannya itu. Senja tidak percaya, desakan ekonomi yang begitu keras, sampai membuatnya terjerumus masuk ke lingkaran berbahaya. Menjadi seorang streamer dewasa. Namun, rahasianya justru diketahui oleh Arsen. sosok yang ia hormati. Nasi sudah menjadi bubur,Senja tidak bisa lepas dari kungkungan seorang dokter muda misterius itu. Bagaimana kelanjutannya, yuk baca!
View More"Senja, kamu gak sabar banget, ya? Baru juga Om selesai mandi."
Suara berat itu terdengar tepat di atas kepala gadis yang dipanggil Senja itu. Saat ia mendongak, pria itu sudah menunduk menatapnya dengan sebelah alis terangkat. Rambutnya yang masih basah menjuntai ke depan, dengan setetes air jatuh tepat di pipi Senja.
Senja meneguk liurnya sebelum menyambut uluran tangan pria itu.
“Maaf Om Arsen… tadi aku dengar om bilang masuk aja.”
Sementara pria yang dipanggil Arsen itu hanya menggeleng pelan. Tatapannya lalu beralih pada secarik kertas yang terlihat sedikit kusut di genggaman Senja.
“Apa itu?”
Senja langsung teringat dengan niat awalnya. Ia menyerahkan secarik kertas dari kampusnya pada Arsen dengan tangan sedikit gemetar.
Sebenarnya, ia ragu apakah harus memberitahukan urusan kampusnya pada Arsen atau tidak. Mengingat, Arsen bukan wali kandungnya. Arsen hanyalah sahabat dari sang ayah yang saat ini sedang bekerja di luar negeri.
Sebelum pergi, sang ayah—Trian—menitipkan Senja pada Arsen agar ayahnya bisa pergi dengan tenang. Meski sempat menolak karena tidak mau merepotkan sahabat baik ayahnya, Trian tetap memaksa putrinya itu untuk tetap tinggal di rumah Arsen untuk alasan keselamatan.
Selama ini, Senja sebisa mungkin untuk tidak terlalu merepotkan Arsen. Namun kali ini, ia benar-benar membutuhkan bantuan pria dewasa itu.
“Surat pemberitahuan praktikum dari kampus… aku cuman butuh tanda tangan Om aja kok.”
Arsen menerima kertas itu lalu dengan santai membacanya. Sementara Senja yang masih berdiri di hadapannya hanya bisa menggigit bibir bawahnya.
Kali ini tak hanya khawatir Arsen akan memaksa untuk membayar keperluan kuliahnya seperti biasa, tapi ia juga takut akal sehatnya menghilang jika berdiri di sana terlalu lama!
Bagaimana tidak… pria berumur 37 tahun itu malah berdiri santai di depan pintu kamarnya. Setidaknya Arsen masuk ke kamarnya untuk berpakaian dulu, bukannya malah berdiri dengan percaya diri seperti ini.
“Oke, aku izinkan kamu ikut praktikum. Terus, aku harus transfer ke nomer rekening mana?”
“Ah, anu…” Senja mendongak cepat ke arah Arsen. Sialnya, yang pertama kali tertangkap matanya justru jakun pria itu.
Seketika wajahnya memanas. Buru-buru ia mengalihkan pandangannya dan memilih menatap wajah Arsen dengan tatapan bergetar.
“Gak perlu bayar, Om. Kan dari awal aku sudah dapat beasiswa.”
Arsen mengerutkan keningnya samar. “Yakin ditanggung beasiswa? Kok di surat ada nominal pembayarannya?”
Seketika tenggorokan Senja tercekat. Ia lupa bahwa di surat itu tertera nominal beserta pemberitahuan untuk segera melakukan pembayaran. Pandangannya pun berkelebat menghindari sorot mata Arsen yang seolah menguliti kebohongannya.
Namun tanpa sengaja pandangannya justru bertabrakan dengan dada bidang Arsen yang terbuka. Beberapa bulir air tampak masih menetes dari ujung rambut dan turun ke sepanjang lehernya dan juga jakun yang menonjol itu.
Wajah Senja kembali memanas. Ia buru-buru memalingkan wajah sambil menghela napas pelan.
“Um… suratnya gak dibedain sama yang non-beasiswa, Om. Tapi mahasiswa beasiswa gak perlu bayar kok,” ucap Senja terbata. Meski kalimat itu berhasil diucapkan, dadanya berdegup semakin kencang.
Senja memilih berbohong mengenai beasiswa karena tidak ingin terlalu banyak merepotkan Arsen yang sudah begitu banyak membantu perekonomian keluarganya yang berantakan. Ting!
Bunyi notifikasi memecah keheningan.
Hal yang ditunggu-tunggu oleh Senja sejak beberapa hari lalu. Ia merasa lega. Kali ini terselamatkan oleh pesan mengambang dari pekerjaannya sebagai kreator secara diam-diam.
Selamat! Gaji Streaming bulan ini sebesar Rp. 8.750.000 telah ditransfer ke rekening Anda.
Jantung Senja nyaris meloncat. Ia tak menyangka sama sekali, gaji bulan ini lebih banyak dari bulan sebelumnya. Mengenai tagihan biaya praktikum, ia sudah tidak pusing lagi.
Arsen sempat melirik dan Senja justru mematikan layar.
“Maaf, Om. Ini … notifikasi kampus,” ujarnya cepat.
“Tapi, Senja. Om kok enggak–”
“Om, serius aku ada tugas yang belum dikerjakan.” Senja langsung pergi begitu saja, meninggalkan Arsen dengan penuh tanda tanya.
Usai menutup pintu kamar rapat-rapat, Senja mengembuskan napas. Ia benar-benar takut, kalau Arsen sampai mengetahui pekerjaannya sebagai streamer dan sampai mengetahui penghasilannya selama ini untuk membayar uang kuliah. Kebohongan mengenai beasiswa itu akan terbongkar.
Tidak hanya mengecewakan Arsen, bahkan sang ayah yang kini masih berjuang demi masa depan keluarganya.
Setelah berhasil menenangkan diri, Senja memilih untuk melanjutkan aktivitasnya, menyapa penonton setia. Ia meraih wig merah muda dan pakaian cosplay favorit penontonnya.
“Halo semuanya. Makasih ya udah menunggu.”
Kolom komentar langsung bergerak cepat.
winny : “Rose akhirnya live!”
Falah: “Kangen cosplay hari ini!”
Sagitarius : “Cantik banget, Rose!”
Senja tertawa kecil, ia mengobrol santai, sesekali menjawab pertanyaan penonton. Tak lupa mengucapkan terima kasih terhadap hadiah virtual yang terus berdatangan.
Namun, senyum di wajahnya perlahan memudar saat sebuah komentar muncul dan langsung memenuhi layar karena dikirim dengan hadiah premium.
tirex : “Rose, kalau saja kamu seperti kreator sebelah yang berani tampil hot, pasti akan seru! Aku bisa membayangkan wah … seperti apa dirimu ya?”
Jari senja membeku di atas meja. Belum sempat menghapus pesan itu, puluhan komentar lain ikut menimpali.
Kebanyakan, mereka setuju karena itu akan membangkitkan fantasi gila, streamer dewasa , tetapi tak banyak pula yang menimpali, @tirex sebagai akun anomali.
tirex : “Rose, di sana kamu akan dapat puluhan juta dalam waktu sehari.”
Mochi: “Jangan didengerin, Rose!”
Rose tersenyum canggung. Lalu, menenangkan para pengikutnya untuk fokus padanya, meski dalam hati terus terbayang dengan kalimat ‘Puluhan juta’
Pagi itu, Arsen benar-benar dibuat kewalahan.Bukan karena pekerjaannya di rumah sakit. Bukan pula karena keadaan Trian yang masih harus dipantau. Melainkan karena sejak membuka mata, Senja tiba-tiba memiliki satu keinginan yang menurutnya tidak bisa ditunda.Kebab.Bukan kebab yang bisa dibeli di restoran Turki terdekat, bukan pula kebab yang dipesan melalui aplikasi pengantaran. Senja menginginkan kebab yang dibuat di Turki.Entah bagaimana ceritanya, keinginan itu muncul begitu saja setelah sarapan. Senja yang awalnya hanya duduk sambil memainkan sendok, mendadak mengangkat wajah dan mengatakan bahwa ia ingin kebab. Ketika Arsen bertanya dari mana, gadis itu dengan polos menjawab bahwa ia ingin kebab langsung dari Turki.Nadia yang sedang minum hampir tersedak.Arsen justru diam beberapa detik.“Kamu serius?” Senja mengangguk. “Dari Turki?”Lagi, Senja mengangguk. Kali ini dengan mata berbinar.Arsen mengusap wajahnya, lalu menatap Senja yang sekarang sudah cengar-cengir seolah per
Senja tidak bisa mengatakan apapun lagi. Tenggorokannya seperti tercekat.“Senja, kamu sama Om Arsen–”“Memangnya kenapa?” Arsen baru saja selesai menangani pasiennya, pria itu masih mengenakan baju serba hijaunya. Kenzo yang berdiri di ambang pintu sampai tercekat.“Ada yang salah? Kami saling mencintai.”“Arsen ….” Suara Trian membuat Arsen berhenti mendebat keponakannya sendiri, ia masuk dan menghampiri sahabatnya. “Trian … kamu tidak apa-apa? apanya yang sakit?”Trian menggelengkan kepala. “Tidak ada. Aku hanya ingin bicara sama kamu.”Mata Arsen langsung menoleh pada Kenzo yang berdsiri di ambang pintu. “Kamu dengar, kan?”Kenzo menarik napas panjang, lalu pergi dari sana dengan perasaan dongkol.Senja lega, setidaknya papanya menyetujui hubungannya dengan Arsen. Hanya, Trian meminta Arsen lekas menikahi Senja, karena tidak ingin menanggung malu, perut Senja akan kian membesar.“Kita bahas nanti setelah kamu sembuh, Trian,” ujar Arsen dengan mata berkaca-kaca.“Tapi, bagaimana
Begitu melihat papanya terbaring di ruang rawat, Senja mengurut dadanya, lega. Ia tak bisa membayangkan, kalau sang papa harus menjalani operasi bedah jantung.Ia sama sekali tidak berani masuk ke dalam. Takut sang papa marah, meraung dan kondisinya kembali memburuk.“Mbak Senja.” Seorang suster yang baru saja memeriksa Trian tersenyum, begitu mendapati Senja berdiri di depan pintu. “Kok enggak masuk?”Senja menggelengkan kepala. Sungguh, ia takut Ttrian akan seperti tadi.”“Bagaimana keadaan papa saya, Sus?’ tanya Senja, harap-harap cemas.“Membaik, Mbak,” jawab Suster dengan nama Ana itu. “Pak Trian terus mencari Dokter Arsen. Tapi, Dokter sedang ada operasi darurat.”Senja hanya bisa mengangguk. “tapi, tadi juga nanyain Mbak Senja. Katanya kalau Mbak Senja datang, suruh masuk.”Masuk? bagaimana ini? Senja bingung, bagaimana menjelaskan situasinya kepada Suster. “Tapi ….”“Dokter Arsen tadi juga bilang mengenai keadaan Pak Trian, yang kalau bisa, Mbak Senja jangan masuk dulu. teta
“Om, bagaimana kalau Papa enggak bangun?”“Senja, bisa gak kalau kamu enggak bicara begitu?! Dokter Rusli yang menangani, dia akan baik-baik saja.”Senja bisa lihat kekhawatiran Arsen. Air matanya menetes, pria itu mendekat, lalu memeluknya. Tangis Senja pecah dalam pelukan pria itu.“Maafkan aku, Senja. Harusnya sejak awal aku jujur sama kamu, jadi semua tidak akan seperti ini. Sungguh, aku hanya tidak mau kalau kamu dan papa kamu akan kewalahan. Aku berniat melamar kamu setelah kamu selesai kuliah, tapi semuanya gagal karena aku tidak bisa menahan hasratku sendiri.”Senja mengangkat wajah, nyaris tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.“Kamu masih meragukan aku? Aku sama Winny tidak ada apa-apa. Papanya adalah bawahanku. Hubungan kami … bahkan berakhir sudah sangat lama, dia yang mencampakkan aku, aku tidak akan memintanya kembali. Burhan profesional. Dia tidak mungkin berani padaku.”Senja tidak tahu harus berucap apa. Ia masih syok bukan main. Tetapi yang jauh membuatnya ta
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore