LOGIN“Mas, nggak pulang?” tanya Chandani yang sibuk melipat bajunya di kasur. “Nanti aja lah dik.”Sudah jam setengah delapan malam, dan Auriga tak kunjung pulang. Chandani berharap Auriga segera pulang, dan Noval bisa segera ke apartemennya.Jari Chandani tengah sibuk berkirim pesan dengan Noval. Memberitahu jika Auriga masih belum pulang.Chandani : [Mas Auriga masih di sini. Mas Noval sudah tidur belum?]Mas Noval : [Belum, ini masih nidurin Nadel.]“Mas kamu pulang jam berapa? Ini sudah malam loh.”Sudah tiga jam tiga puluh menit, Auriga di apartemennya. Sejak tadi Auriga terus merebahkan tubuh tingginya itu di sofa. Mengunyah jajan. Lalu membaca komik.Sesekali, Auriga menanyakan tentang kaki Chandani. Sejak tadi Auriga terus menanyakan tentang - ayah pasien, yang menolong Chandani.Tentu saja Chandani berbohong. Dia tidak ingin Auriga mengetahui tentang hubungannya dan Noval, untuk saat ini. Karena Chandani masih belum siap menerima penolakan dari keluarganya. “Kirana juga masih di
“Ah …” Chandani tampak kebingungan.Cahya dan Rika saling bertatapan. Mereka memilih pelan-pelan pergi meninggalkan Chandani dan Auriga. Mereka terlalu tidak tega jika harus bekerja sama membohongi Auriga. “Mas Noval itu….” Chandani tampak berpikir. “Tukang galon langganan klinik.” lagi-lagi Chandani berbohong kepada Auriga.Sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat untuk bercerita tentang Noval kepada Auriga. Auriga sudah cukup marah dengan orang yang menyerempetnya.“Kok kamu nggak cerita ke mas kalau kamu luka?” wajah Auriga tampak sedih. Membayangkan betapa adiknya itu kesakitan. Auriga selalu khawatir dengan kondisi Chandani. Chandani memiliki penyakit, dan jauh dari keluarga. Dahulu, saat Chandani di Australia, hampir setiap jam Auriga menghubunginya. Dan akhirnya membuat Chandani kesal. Hal itu Auriga lakukan karena dia khawatir dengan adik kesayangannya itu.Auriga selalu mengirim uang saku untuk Chandani. Membelikan tiket pulang dan pergi, agar Chandani lebih sering pulang
Mas Noval : [Chan, mau makan apa?]Chandani : [Ini Cahya sudah online makanan kok mas.]Mas Noval : [Dawet mau? Ini anak kantor minta dawet Prambanan. Biar pak Rahmat antar ke klinik kamu sekalian.]Chandani : [Boleh mas, terima kasih banyak ya.]Mas Noval : [Sama-sama, cantik.]Chandani tersenyum. Noval selalu memberikan perhatian-perhatian kecil untuk Chandani. Memastikan Chandani sudah makan, adalah hal yang selalu Noval lakukan.Siang ini Chandani berbohong. Cahya belum membeli makanan karena sibuk dengan pasien. Rasanya, Chandani sungkan dengan Noval, jika Noval setiap hari memberinya makanan.Chandani tengah sibuk memilih menu makanan di aplikasi ojek online. Hingga seorang laki-laki muda mengetuk pintu kliniknya.“Selamat siang, dengan mbak Chandani?”“Iya pak.” Chandani berdiri dari kursi.“Dawet empat, nasi ayam penyet tiga ya mbak?”“Dawet aja pak. Tidak pakai nasi.”“Tadi pak Noval pesannya sama nasi ayam penyet mbak. Ini benar kok alamatnya.” Laki-laki muda itu menaruh pe
Chandani tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Sekarang, semua pertanyaan-pertanyaan di otaknya sudah terjawab dengan jelas. Bertanya memang lebih baik, daripada hanya mengira-ngira bukan?Merek sudah sampai di parkiran klinik Chandani. Noval membukakan pintu mobil untuk Chandani. Dia juga menemani Chandani membuka klinik.Noval masih punya waktu tiga puluh menit sebelum memulai meeting dengan klien barunya.“Cahya sama Rika belum datang?” tanya Noval sambil membantu Chandani menyalakan lampu klinik.“Sebentar lagi biasanya Rika datang. Kalau Cahya memang agak lama, soalnya rumah dia agak jauh.”Noval melihat sekitarnya. Ini pertama kalinya dia memasuki klinik milik Chandani. “Kamu nyewa ruko ini?”Chandani menggelengkan kepalanya. “Bapak yang belikan. Katanya buat kado.”Noval tampak terkejut. Memberikan kado berupa ruko, bisa Noval tebak jika orang tua Chandani sangat mampu.Noval duduk di sebelah Chandani. “Boleh kamu ceritakan tentang keluargamu? Jika kamu tidak keberatan.”“Bapak
Pagi hari, saat terbangun dari tidurnya, Chandani melihat satu bungkus kertas nasi di meja makan. Chandani membaca tulisan yang ada di sana.Tadi, habis jogging. Aku beli nasi uduk buat kamu. Tapi kamu lagi tidur. Aku nggak mau ganggu kamu tidur.“Tulisan tangannya bagus.” Chandani memuji tulisan tangan Noval yang tampak rapi.Chandani segera mengambil handphonenya. Jarinya sibuk mengetik pesan untuk Noval.Chandani : [Terima kasih sarapannya mas Noval.]Mas Noval : [Sama-sama. Kamu berangkat kerja sama siapa?]Chandani : [Naik ojek online mas.]Mas Noval : [Bareng aku aja ya? Nanti kabarin kalau sudah siap berangkat kerja.]Chandani : [Iya mas.]Nasi uduk yang Noval belikan terasa sangat nikmat. Chandani tersenyum, Noval dan perhatiannya mampu perlahan-lahan meluluhkan hati Chandani yang mengeras.Setelah berbicara banyak hal dengan Duna semalam, tidur Chandani terasa sangat nyenyak. Rasanya ada beban yang terangkat dari hatinya. Apalagi, ucapan selamat tidur cantik, dari Noval. Memb
“Ternyata, sembilan tahun pacaran sama kamu. Aku tidak banyak tahu tentang kamu ya Chan?” Duna membelai rambut Chandani. Tapi gadis itu malah memundurkan badannya.“Aku minta maaf karena bukan pacar yang baik.”“Mantan pacar.” Chandani membenarkan kata-kata Duna.Mereka memang sudah putus tiga tahun, jadi yang benar adalah mantan pacar.Duna tertawa kecil. “Iya, mantan pacar.” Tangan Duna mencubit pelan pipi Chandani. “Kamu, kurusan ya?”“Semenjak putus sama kamu aku kurusan.” “Kamu mau masuk dulu? Kita ngobrol di dalam?”Belum sempat Chandani menjawab, Duna sudah menarik lengan Chandani. Gadis itu akhirnya memasuki unit apartemen Duna.Unit apartemen berukuran tiga puluh satu meter itu tampak kosong. Tidak ada hiasan dinding apapun. Dahulu, saat di Australia, Chandani lah yang menata unit apartemen Duna.Menghiasi dinding dengan makrame rajut benang, rak ambalan minimalis yang Chandani isi dengan pajangan lucu. Kini, apartemen Duna tampak kosong. Hanya ada televisi, satu set meja m







