MasukSore ini, Noval dan Zaidan menjelaskan kepada pemilik rumah. Bahwa desain dan bahan-bahan yang mereka pilih tidak ada masalah sama sekali. Tekanan air di lantai tiga, sudah diperkirakan dengan tepat. Seharusnya air di lantai tiga tetap mengalir dan tanpa kebocoran.Permasalahannya terdapat pada, mandor yang ternyata mengganti ukuran pipa. Ukuran pipa dia gantikan dengan yang kecil. Sehingga air di lantai tiga tidak mengalir.Kebocoran di lantai tiga, juga karena adanya pipa yang pecah. Noval menjelaskan dengan baik dan lugas. Sehingga Bu Dewi dapat memahaminya dengan cepat.“Jadi, ini permasalahannya di pipa ya pak Noval?’“Iya bu Dewi. Ini desain yang saya buat.” Noval menunjukkan desain yang dia buat. “Dan ini perihal ukuran pipa, dan bahan-bahan yang lain.” Noval lalu menunjukkan catatan yang dia foto. “Saya sudah menyerahkan catatan ini ke penanggung jawab pembangunannya.” ucap Noval.“Saya akan panggil mandornya.”Malam itu terjadi debat sengit antara Noval, Zaidan, dan mandor b
Mengingat bagaimana ekspresi Noval saat cemburu tadi, membuat Chandani ingin tertawa. Laki-laki itu berubah menjadi pendiam, tidak peduli kepadanya, dan tentu saja sedikit cemberut. Gerakan kakinya yang cepat ke sana ke sini, mata yang enggan menatapnya. Membuat Chandani, merasa sedikit gemas, dengan Noval.Ternyata laki-laki itu kalau cemburu, lucu ya? Batin Chandani.Chadani segera memeluk Noval dengan erat. “Tidak apa-apa kok mas Noval. Kalau mas Noval tadi cemburu. Berarti mas Noval memang suka sama aku.” Chandani lalu melepaskan pelukannya.Sepuluh jemari Noval mencengkram kedua bahu Chandani, dengan pelan. “Tentu saja aku suka sama kamu. Kalau nggak suka, ya aku nggak akan kayak gini.”“Kayak gini gimana?” Chandani penasaran.“Ya, kayak begini. Setiap hari mikirin kamu. Pengen selalu ketemu kamu. Rasanya aku selalu ingin di dekat kamu. Baru beberapa menit nggak ketemu kamu, rasanya rindu sekali.”“Contohnya kayak sekarang. Aku baru saja ketemu kamu, tapi kalau sampai rumah. Aku
Siang ini, niat awal Noval adalah pergi ke apartemen Chandani. Karena jamur dan usus krispi di Laguna tadi sangat lezat. Noval ingin mengantarkan jamur dan usus krispi untuk camilan Chandani. Lalu kembali ke kantor. Tapi, dia malah melihat adegan yang membuat hatinya mendidih. Duna - laki-laki menyebalkan itu memeluk Chandani. Dan yang lebih membuatnya cemburu adalah, Chandani diam tidak memberontak. Padahal beberapa hari yang lalu, saat Duna memegang tangannya, Chandani langsung berontak . Kenapa kali ini tidak? Noval seperti merasa satu langkah kehilangan Chandani.Noval meninggalkan apartemen Chandani dengan perasaan campur aduk. Noval berpikir, lebih baik dia kembali ke kantor sekarang. Saat dia mulai berjalan menjauh, suara seorang wanita membuatnya berhenti.“Mas Noval.” Chandani memanggil namanya, lalu berlari.Dahulu, Noval merasa sedikit geli. Saat melihat sebuah adegan di drama, saat seorang pemeran utama wanita berlari ke arah pemeran utama laki-laki. Tapi kali ini, saat m
Dengan penuh tenaga, Chandani akhirnya mendorong tubuh Duna. Sedikit hentakan, membuat kakinya terasa sakit. Napas Chandani memburu karena menahan rasa sakit di kakinya dan juga menahan emosinya.“Udah gila kamu ya!” Chandani menahan diri untuk tidak mengumpat Duna. laki-laki, sialan! Umpat Chandani dari dalam hati.Saat akan memasuki apartemen. Duna menghalangi Chandani. Dia kembali mencoba memeluk Chandani dengan paksa.“Iya, aku sudah gila. Aku gila karena kamu Chan!”“Duna!” Chandani mencoba melepaskan pelukan Duna, tapi gagal. Laki-laki itu memeluknya dengan sekuat tenaga. Chandani seperti kehabisan tenaga karena memberontak.“Aku nggak akan lepasin kamu lagi Chan. Aku akan berusaha dapatkan hati kamu lagi!”Chandani akhirnya menyerah. Semakin dia memberontak. Semakin kuat Duna memeluknya. Dia membiarkan Duna memeluknya. Setelah dua menit Duna melepaskan pelukannya.Plak…Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Duna.“Dasar orang gila!” rahang Chandani mengeras, matanya ter
“Selamat pagi cantiknya papa.”Noval menyapa, lalu mencium Nadel yang baru bangun tidur. Noval menggelitik perut Nadel hingga membuat gadis kecilnya itu tertawa. Nadel menyapa kehadiran Noval dengan senyum ceria, khasnya.“Maaf ya. Papa tinggal-tinggal terus.” Noval mencium kedua pipi Nadel. “Nadel mau mandi? Mandi sama bude Ita ya?”Wanita paruh baya memasuki kamar bercat pink itu sambil membawa handuk. Bude Ita lalu menyiapkan baju ganti untuk Nadel. Lalu minyak telon dan skincare yang biasa Nadel gunakan.“Bude, nanti mbak Rahma ke sini agak sore katanya. Sekitar jam setengah lima. Kalau saya belum pulang, tolong temani Nadel terapi wicara ya?”“Siap pak Noval.”“Nanti, saya kasih banyak bonus, bude.”“Haduh, pak Noval sudah banyak kasih bonus. Tenang saja, ini kan sudah tugas saya.” jawab bude Ita sambil menggendong Nadel. “Sudah waktunya mandi, anak cantik.”Bude Ita adalah sosok yang telaten mengurus Nadel. Karena kondisi Nadel spesial, Noval sangat selektif mencari pengasuh unt
Pagi ini, saat Chandani terbangun. Noval tengah sibuk berada di depan kompor. Laki-laki itu sepertinya sedang membuat sarapan. Tadi malam, saat Chandani terbangun ke kamar mandi. Noval tengah tidur meringkuk di sofa. Sofa itu tidak cukup panjang untuk tinggi badan Noval.Chandani ingin menawari Noval untuk tidur di kasur, tapi dia merasa ragu. Apakah terkesan tidak sopan? Karena mereka baru saja berkenalan.Selama satu minggu mereka saling berkenalan, Noval memperlakukan Chandani dengan sangat baik. Noval juga bisa menghilangkan sedikit demi sedikit keraguan di hati Chandani. Cekrek…Dari jauh Chandani mengambil foto Noval dari belakang. Bahkan, di lihat dari belakang. Punggung bidang laki-laki itu tampak tampan. Dengan tertatih, Chandani menghampiri Noval. Memeluk laki-laki itu dari belakang.“Selamat pagi.” sapa Chandani.Sebuah sapaan dan pelukan yang membuat jantung Noval seakan-akan berhenti saat itu juga.“Selamat pagi.” jawab Noval dengan suara sedikit bergetar karena gugup.C







