登入Chandani mengikuti Noval dari belakang. Dapur kantor Noval penuh dengan makanan ringan. Ada berbagai macam rasa mie instan. Mata Chandani tertuju pada rak susun tiga yang berada di pojok ruangan. Ada obat-obatan dan pembalut wanita.
"Karyawan saya ada yang perempuan juga." Noval seperti tahu isi pikiran Chandani. "Jaga-jaga kalau mereka tiba-tiba menstruasi saat kerja. Jadi saya sediakan pembalut." “Ah..” Chandani menganggukkan kepala - paham. Tidak banyak owner yang akan berpikiran seperti Noval. Dan itu membuat Chandani merasa takjub. Bahkan dirinya yang perempuan pun tidak pernah berpikir menyediakan pembalut untuk karyawannya di klinik. "Menstruasi seharusnya bukan hal yang tabu untuk dibicarakan. Saya selalu bilang ke mereka jangan sungkan untuk minta cuti karena nyeri menstruasi atau ambil pembalut di sini." "Wah, pak Noval keren sekali." Chandani mengacungkan kedua jempolnya. “Kamu mau mie kuah atau mie goreng?” “Mie kuah saja pak.” Noval menuang air panas ke dalam cup mie. Chandani berjalan menjauh. Dia melihat ada bantal penghangat di rak. Ada empat bantal penghangat yang bermotif lucu. Chandani mengambil satu bantal penghangat yang bergambar beruang. "Kamu mau pakai? Saya caskan ya?" Chandani melambaikan tangan ke arah kiri dan kanan - sebagai isyarat tidak. Dia merasa tidak membutuhkan bantal penghangat saat ini. “Tidak usah pak Noval.” Chandani lalu berdiri di belakang Noval. Laki-laki di depannya ini sepertinya memang orang yang baik dan perhatian. Tuhan seperti membuat paket lengkap. Tampan, mapan, baik hati dan perhatian. Saat Chandani mau membawa mie cupnya. Noval segera melarang. “Panas, saya saja yang bawa.” Noval membawakan mie cup milik Chandani ke ruang tamu. “Makan dulu ya.” “Pak Noval tidak makan?” “Saya tadi sudah makan. Eh, sebentar.” Noval mengambilkan air mineral dan keripik pisang dari meja kerjanya. Dia juga mengambil cake di kulkas milik Zaidan. Walaupun besok, dia harus menerima omelan dari Zaidan. Dia tidak peduli. "Saya di sana ya?" Noval menunjukan ruang kerjanya. "Kalau butuh apa-apa, bilang saja." "Baik pak Noval." “Mbak Chandani.” “Iya pak Noval.” “Nggak papa, selamat makan.” Ingin rasanya Noval mengatakan kepada Chandani bahwa tidak apa-apa kalau menangis, dirinya ada di sini. Tapi lidahnya mendadak kaku. Otaknya mengatakan jika kata-kata itu masih belum pantas dia ucapkan. Mereka baru berkenalan. Sudah satu jam dan hujan masih cukup deras. Mie kuah milik Chandani sudah habis. Berdiam diri seperti ini membuat pikirannya berkecamuk. Memori indah sekaligus menyakitkan seperti menari-nari dalam pikirannya. Tidak terasa tiba-tiba air matanya kembali menetes. Chandani mengutuki dirinya sendiri. Kenapa dia harus selemah ini. Noval berhenti berjalan. “Dia nangis lagi.” Melihat Chandani menangis dengan wajah muram, entah kenapa membuat Noval ikut sedih. Padahal dia baru dua hari mengenal gadis itu. Setelah kematian istrinya, ini adalah pertama kalinya Noval tertarik kepada lawan jenis. Sejujurnya, Noval sudah dua kali dijodohkan. Tapi tidak ada satupun yang menarik perhatiannya. Noval mengambil tisu dan memberikannya kepada Chandani. “Ini.” "Terima kasih pak Noval." Noval duduk di sebelah Chandani. Noval tahu, Chandani berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan tangis. Entah apa yang terjadi kepada gadis itu hari ini. Noval tidak ingin bertanya, dia memilih untuk diam. Noval berbalik arah - membelakangi Chandani. "Kamu boleh bersandar di punggung saya. Kamu boleh menangis sepuasnya." Mendengar ucapan Noval barusan, air mata Chandani jadi semakin deras. Tapi entah kenapa hatinya terasa lebih hangat. Chandani meletakkan puncak kepalanya di punggung Noval. Dia menangis kencang sekali. Semua rasa sakitnya seperti tumpah dalam isak tangisnya. Sepuluh menit Chandani menangis. Hatinya terasa lebih lega. Noval tidak beranjak pergi. Laki-laki itu masih duduk di posisinya. Noval juga tidak mengajak Chandani berbicara. Noval sedang memberikan ruang untuk Chandani bersedih. Tanpa kata, hanya tindakan sederhana. Tapi mampu membuat semua menjadi lebih bermakna. "Saya boleh berbalik sekarang?" "Iya." jawab Chandani di sela isak tangisnya. "Maaf pak Noval." “Kenapa minta maaf?” Noval mengambilkan tisu untuk Chandani. “Maaf karena merepotkan.” “Tidak kok, tidak merepotkan sama sekali. Tolong jangan minta maaf lagi ya?” Dengan tiba-tiba Noval merapikan rambut Chandani yang sedikit berantakan. Dia menyelipkan rambut Chandani ke belakang telinga. Gerakan Noval yang mendadak, membuat Chandani diam mematung. Jantungnya berdebar sangat kencang. “Hujannya masih deras.” Chandani mencoba mengalihkan perhatiannya. Tidak aman rasanya jika jantungnya berdebar sekencang ini. “Sebentar lagi reda kayaknya.” Noval ikut melihat hujan dari jendela kantor. Noval beranjak pergi. Setelah beberapa menit sosoknya muncul sambil membawa selimut. “Ini selimut Zaidan, bersih kok. Baru di laundry.” Noval menyerahkan bantal penghangat, dan juga menyelimuti tubuh mungil Chandani dengan selimut bulu. Chandani hanya bisa terdiam sambil menatap lekat-lekat wajah Noval. “Apa arti nama Chandani?” Noval bertanya sambil membenarkan selimut Chandani. “Cahaya bulan.” “Cocok sekali.” “Cocok?” Chandani sedikit binggung. “Iya cocok, soalnya kamu juga bersinar. Kamu sangat bersinar saat memegang pasien. Kamu sepertinya mencintai pekerjaanmu.” Apa yang dikatakan Noval benar. Chandani sangat menyukai pekerjaannya. Bahkan jika dia terlahir kembali, dia akan memilih profesi ini. “Tunggu di sini sampai hujan reda, baru kita pulang ya?”“Makanan dari siapa?” tanya Cahya setelah menyelesaikan satu pasien post operasi ACL.“Dari Duna.”“Apa? Ngapain si sialan itu ke sini?” nada bicara Cahya meninggi karena emosi.Chandani mencubit paha Cahya. “Di dengerin pasien kamu itu.” ucapnya sambil setengah berbisik.“Sudah biasa mbak. Kalau Cahya nggak mengumpat malah aneh rasanya.” jawab pasien laki-laki itu sambil tertawa.Pasien itu bernama Raymond, teman SMA Cahya. Mereka berdua cukup akrab satu sama lain. Raymon adalah pemain sepak bola, yang saat ini harus menghentikan aktivitasnya karena cedera ACL. Tapi, menurut Cahya, bulan depan Raymond sudah bisa kembali latihan.Cahya menyeringai. Lalu memukul pelan lengan Raymond. “Dah, cepetan pulang sana.”“Iya ini mau pulang.” Raymon lalu melihat ke arah Chandani. “Mari, mbak Chandani.”“Mari, mas Raymond.”Akhirnya, mereka bisa beristirahat. Sebelum datang pasien yang sudah reservasi jam dua siang. Hari ini, klinik cukup ramai. Chandani yang niat awalnya hanya duduk, berakhir de
“Mbak Chandaniii……..” Rika berlari dan memeluk Chandani erat. “Gimana kakinya?”“Udah sembuh kok.” jawab Chandani.“Belum sembuh.” Noval membantah ucapan Chandani. “Karena belum sembuh, tolong hari ini jangan boleh pegang pasien ya?”“Siap, pak Noval.” Rika memberikan hormat. Noval mengusap pelan kepada Chandani. “Chan, aku ke kantor dulu ya? Ingat kalau ada apa-apa, hubungi aku.”“Iya mas Noval.”“Rika, titip Chandani, ya?”“Tenang saja.” Rika lalu menggandeng lengan Chandani. “Nanti aku marahin kalau mbak Chandani bandel pegang pasien.”Noval mengacungkan jempol tangan kanannya. Sepertinya, dia bisa mempercayai ucapan Rika. Noval lalu melambaikan tangan kepada Chandani dan Rika. Dia harus ke kantor, sekarang. Zaidan sudah menunggunya di kantor.“Hati-hati, mas Noval.” Chandani berteriak sekuat tenaga. Suara hujan yang deras, membuat suaranya tak begitu terdengar.Tapi untungnya, Noval mendengarnya. Laki-laki itu berhenti berjalan. Membalikkan badannya. Tersenyum, lalu melambaikan t
Di dalam lift, tiga orang itu saling terdiam. Hanya beberapa kali saling beradu pandang. Mereka semua terlihat canggung. Noval tidak membiarkan Chandani berada di dekat Duna. Dan Duna tidak memaksa mendekati Chandani, seperti biasanya. Membuat Noval merasa - sedikit aneh.Pintu lift terbuka, Duna langsung pergi meninggalkan Noval dan Chandani tanpa berkata apapun.“Dia aneh, nggak sih?” Noval membicarakan tentang kejanggalan sifat Duna. “Kok tumben, nggak maksa-maksa deket kamu?”Chandani hanya mengangguk sekali lalu tersenyum canggung. Tidak mungkin dia menceritakan kepada Noval kalau, kemarin Duna menemuinya. Dan berjanji akan berubah. Noval membukakan pintu mobil untuk Chandani. Lalu meletakkan tangannya di atas kepala Chandani agar tidak terbentur door seal.Mobil Land Cruiser melaju pelan di jalanan Jogja. Pagi ini, Jogja kembali mendung. Rintikan air hujan mulai turun. Noval menaikkan suhu AC agar Chandani tidak kedinginan.Perubahan sikap Duna membuat Chandani sedikit kepikira
Seseorang mengetuk pintu apartemen Chandani. Chandani yang sedang duduk di depan meja rias, segera berdiri. Kakinya masih terasa sedikit sakit, jadi dia berjalan dengan pelan.“Loh, mas Noval. Kan sudah tahu passwordnya. Kok nggak masuk?”Noval tengah berdiri sambil menatap Chandani, alisnya sedikit berkerut. “Kamu mau kerja?"Work jacket berwarna coklat tua yang tidak di kancingkan, kaos polo berwarna coklat muda, dan celana chino warna cream membuat Noval terlihat sangat tampan. Rambut laki-laki itu terlihat sangat rapi dengan pomade.Chandani menganggukkan kepalanya. Hari ini dia berniat bekerja. Berada di rumah, membuatnya sedikit bosan.“Memangnya kaki kamu sudah sembuh?” Ekspresi wajah Noval terlihat sedikit kesal. Noval bukannya marah, dia hanya khawatir dengan kaki Chandani.“Nanti aku cuma duduk di pendaftaran kok mas. Nggak pegang pasien.”Chandani menarik tangan Noval memasuki apartemennya. “Masuk dulu, yuk.”Noval mengikuti Chandani dari belakang. “Kamu yakin masuk kerja?”
Saat sampai rumah, Noval langsung menuju kamar mandi. Membasuh tubuhnya yang terasa lelah dengan air hangat. Setiap tetesan air hangat di tubuhnya, membuat terasa lebih rileks. Setelah selesai mandi, dia berdiri di depan cermin. Memperlihatkan raut wajahnya yang sedikit menua, tapi tetap tampan. Rambutnya mulai memanjang, entah kapan terakhir kali dia potong rambut.Tiga helai rambut putih yang muncul di samping telinganya, membuat Noval menyadari jika dirinya sudah semakin menua. Tapi dia harus tetap sehat untuk menjaga Nadel, dan juga Chandani. Dua wanita yang membuat hidup Noval terasa lebih berwarna.Satu tablet magnesium Noval keluarkan dari wadah berwarna hijau. Dengan segera dia menelannya bersama air putih.Noval berjalan pelan menuju kamar Nadel. Dia sedikit mengguncang tubuh bude Ita, agar terbangun. “Bude…” kata Noval lirih. Takut menganggu tidur Nadel.Mata bude Ita perlahan terbuka.“Tidur di kamar bude saja.”“Iya pak Noval.” dengan perlahan bude Ita terbangun dan berja
Kecupan Noval di puncak kepala membuat Chandani terdiam mematung. Chandani menahan senyum di bibirnya. Jika tidak ada Noval, mungkin sekarang, dia sedang berteriak kencang. Noval kembali duduk di kursi setelah mencuci piring. Noval menatap Chandani, ekspresi gadis itu sedikit susah Noval tebak.“Kenapa?” tanya Noval penasaran. Chandani menggelengkan kepalanya. Dia lalu berdehem beberapa kali, mencoba membuat ekspresi wajahnya se-biasa mungkin.Tapi perubahan ekspresi Chandani membuat Noval bertanya-tanya. Apa tindakannya barusah sedikit kelewatan?“Kamu….. marah?” tanya Noval sedikit ragu-ragu.“Eh.” Chandani terkejut. “Marah kenapa?”Jari Noval menunjuk kepala Chandani. Lalu Chandani balas dengan isyarat tangan - tidak.“Aku tidak marah kok.” Chandani membulatkan kedua matanya. “Aku cuma…” Chandani sedikit ragu. “Bahagia.” ucapnya dengan suara lirih. Tapi Noval sepertinya mendengarnya.Dada Noval mengembang seiring rasa bahagia yang memenuhi hatinya. Noval tersenyum bahagia. Asalka







