Share

Bab 7

Author: Lalacolla
last update publish date: 2026-07-10 06:10:39

Chandani mengikuti Noval dari belakang. Dapur kantor Noval penuh dengan makanan ringan. Ada berbagai macam rasa mie instan. Mata Chandani tertuju pada rak susun tiga yang berada di pojok ruangan. Ada obat-obatan dan pembalut wanita. 

"Karyawan saya ada yang perempuan juga." Noval seperti tahu isi pikiran Chandani. "Jaga-jaga kalau mereka tiba-tiba menstruasi saat kerja. Jadi saya sediakan pembalut."

“Ah..” Chandani menganggukkan kepala - paham.

Tidak  banyak owner yang akan berpikiran seperti Noval. Dan itu membuat Chandani merasa takjub. Bahkan dirinya yang perempuan pun tidak pernah berpikir menyediakan pembalut untuk karyawannya di klinik. 

"Menstruasi seharusnya bukan hal yang tabu untuk dibicarakan. Saya selalu bilang ke mereka jangan sungkan untuk minta cuti karena nyeri menstruasi atau ambil pembalut di sini."

"Wah, pak Noval keren sekali." Chandani mengacungkan kedua jempolnya. 

“Kamu mau mie kuah atau mie goreng?”

“Mie kuah saja pak.”

Noval menuang air panas ke dalam cup mie. Chandani berjalan menjauh. Dia melihat ada bantal penghangat di rak. Ada empat bantal penghangat yang bermotif lucu. Chandani mengambil satu bantal penghangat yang bergambar beruang. 

"Kamu mau pakai? Saya caskan ya?" 

Chandani melambaikan tangan ke arah kiri dan kanan - sebagai isyarat tidak. Dia merasa tidak membutuhkan bantal penghangat saat ini. 

“Tidak usah pak Noval.”

Chandani lalu berdiri di belakang Noval. Laki-laki di depannya ini sepertinya memang orang yang baik dan perhatian. Tuhan seperti membuat paket lengkap. Tampan, mapan, baik hati dan perhatian.

Saat Chandani mau membawa mie cupnya. Noval segera melarang. “Panas, saya saja yang bawa.”

Noval membawakan mie cup milik Chandani ke ruang tamu. “Makan dulu ya.”

“Pak Noval tidak makan?”

“Saya tadi sudah makan. Eh, sebentar.”

Noval mengambilkan air mineral dan keripik pisang dari meja kerjanya. Dia juga mengambil cake di kulkas milik Zaidan. Walaupun besok, dia harus menerima omelan dari Zaidan. Dia tidak peduli. 

"Saya di sana ya?" Noval menunjukan ruang kerjanya. "Kalau butuh apa-apa, bilang saja."

"Baik pak Noval."

“Mbak Chandani.”

“Iya pak Noval.”

“Nggak papa, selamat makan.”

Ingin rasanya Noval mengatakan kepada Chandani bahwa tidak apa-apa kalau menangis, dirinya ada di sini. Tapi lidahnya mendadak kaku. Otaknya mengatakan jika kata-kata itu masih belum pantas dia ucapkan. Mereka baru berkenalan. 

Sudah satu jam dan hujan masih cukup deras. Mie kuah milik Chandani sudah habis. Berdiam diri seperti ini membuat pikirannya berkecamuk. Memori indah sekaligus menyakitkan seperti menari-nari dalam pikirannya. Tidak terasa tiba-tiba air matanya kembali menetes. Chandani mengutuki dirinya sendiri. Kenapa dia harus selemah ini.

Noval berhenti berjalan. “Dia nangis lagi.”

Melihat Chandani menangis dengan wajah muram, entah kenapa membuat Noval ikut sedih. Padahal dia baru dua hari mengenal gadis itu. Setelah kematian istrinya, ini adalah pertama kalinya Noval tertarik kepada lawan jenis. Sejujurnya, Noval sudah dua kali dijodohkan. Tapi tidak ada satupun yang menarik perhatiannya. 

Noval mengambil tisu dan memberikannya kepada Chandani. “Ini.”

"Terima kasih pak Noval."

Noval duduk di sebelah Chandani. Noval tahu, Chandani berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan tangis. Entah apa yang terjadi kepada gadis itu hari ini. Noval tidak ingin bertanya, dia memilih untuk diam. 

Noval berbalik arah - membelakangi Chandani. "Kamu boleh bersandar di punggung saya. Kamu boleh menangis sepuasnya."

Mendengar ucapan Noval barusan, air mata Chandani jadi semakin deras. Tapi entah kenapa hatinya terasa lebih hangat. Chandani meletakkan puncak kepalanya di punggung Noval. Dia menangis kencang sekali. Semua rasa sakitnya seperti tumpah dalam isak tangisnya. 

Sepuluh menit Chandani menangis. Hatinya terasa lebih lega. Noval tidak beranjak pergi. Laki-laki itu masih duduk di posisinya. Noval juga tidak mengajak Chandani berbicara. Noval sedang memberikan ruang untuk Chandani bersedih. Tanpa kata, hanya tindakan sederhana. Tapi mampu membuat semua menjadi lebih bermakna. 

"Saya boleh berbalik sekarang?" 

"Iya." jawab Chandani di sela isak tangisnya. "Maaf pak Noval."

“Kenapa minta maaf?” Noval mengambilkan tisu untuk Chandani. 

“Maaf karena merepotkan.”

“Tidak kok, tidak merepotkan sama sekali. Tolong jangan minta maaf lagi ya?”

Dengan tiba-tiba Noval merapikan rambut Chandani yang sedikit berantakan. Dia menyelipkan rambut Chandani ke belakang telinga. Gerakan Noval yang mendadak, membuat Chandani diam mematung. Jantungnya berdebar sangat kencang. 

“Hujannya masih deras.” Chandani mencoba mengalihkan perhatiannya. Tidak aman rasanya jika jantungnya berdebar sekencang ini. 

“Sebentar lagi reda kayaknya.” Noval ikut melihat hujan dari jendela kantor.

Noval beranjak pergi. Setelah beberapa menit sosoknya muncul sambil membawa selimut. 

“Ini selimut Zaidan, bersih kok. Baru di laundry.”

Noval menyerahkan bantal penghangat, dan juga menyelimuti tubuh mungil Chandani dengan selimut bulu. Chandani hanya bisa terdiam sambil menatap lekat-lekat wajah Noval. 

“Apa arti nama Chandani?” Noval bertanya sambil membenarkan selimut Chandani. 

“Cahaya bulan.”

“Cocok sekali.”

“Cocok?” Chandani sedikit binggung.

“Iya cocok, soalnya kamu juga bersinar. Kamu sangat bersinar saat memegang pasien. Kamu sepertinya mencintai pekerjaanmu.”

Apa yang dikatakan Noval benar. Chandani sangat menyukai pekerjaannya. Bahkan jika dia terlahir kembali, dia akan memilih profesi ini. 

“Tunggu di sini sampai hujan reda, baru kita pulang ya?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sukabaca
Noval oh noval
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 146

    Hari Sabtu akhirnya datang. Sudah sepuluh hari Chandani tidak bertemu Noval. Rasanya, hari-hari berlalu sangat lambat saat dia tidak bisa bertemu Noval. Bagi Chandani, sepuluh hari terasa jauh lebih panjang daripada yang seharusnya.Pria itu sedang berada di Bali untuk mengerjakan sebuah proyek besar yang menyita hampir seluruh waktunya. Dalam sehari, Noval bahkan hanya bisa menghubunginya ketika pekerjaannya sedang memberikan sedikit ruang untuk bernapas.Kadang hanya sebuah pesan singkat.Mas Noval ❤ [Sudah makan?]Atau sebuah panggilan selama beberapa menit menjelang tengah malam. Dan setiap kali layar ponselnya menyala dengan nama Noval, tanpa sadar senyum Chandani akan muncul. Meskipun hanya sebentar. Meskipun setelah panggilan berakhir, rasa rindu itu justru semakin terasa.Siang ini, Chandani berada di rumah Noval. Bukan untuk bertemu pria itu. Melainkan untuk melakukan Home Care kepada Nadel.Anak kecil itu sedang berada di ruang khusus yang Noval buat untuk terapi, Nadel ber

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 145

    Basement apartemen malam itu cukup ramai. Beberapa mobil baru saja masuk dan suara mesin terdengar bergema di antara deretan kendaraan yang terparkir.Noval berjalan di samping Chandani menuju lift. Di tangan kanannya ada dua kantong plastik besar berisi bahan makanan yang baru saja mereka beli. Tangan kirinya menggenggam tangan Chandani.Langkah mereka tidak terlalu cepat.Noval bahkan beberapa kali memperlambat langkah ketika menyadari Chandani berjalan sedikit di belakangnya."Berat?" tanya Chandani sambil melirik kantong belanjaan."Enggak kok sayang.”"Aku bantu bawain ya?”"Enggak usah sayang.""Serius?""Iya, sayang." Noval tersenyum.Mereka telah sampai di depan lift. Noval menekan tombol berbentuk bulat, kemudian berdiri sambil tetap menggenggam tangan Chandani.Beberapa detik kemudian, suara mobil terdengar dari belakang. Chandani menoleh ke belakang. Wajahnya sedikit berubah ketika melihat mobil berwarna putih yang baru saja berhenti tidak jauh dari mereka. Noval mengikut

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 143

    Sore itu, suasana di ruang kerja Noval terasa jauh lebih tenang dibandingkan beberapa hari terakhir. Chandani duduk di sofa panjang di sudut ruangan, dengan kedua tangan menggenggam gelas air putih yang sejak tadi belum banyak disentuh. Tubuhnya memang sudah jauh lebih baik dibandingkan ketika berada di rumah sakit, tetapi Noval masih memperlakukannya seolah-olah, Chandani masih sakit. Di atas meja, di hadapan Chandani terdapat beberapa berkas milik Noval, laptop yang sedang terbuka, serta satu kotak kecil berisi biskuit.Noval yang duduk dibalik meja sedang berbicara dengan Zaidan mengenai pekerjaan.“Kalau struktur bagian belakang tetap seperti gambar terakhir, kita harus mengubah posisi kolomnya.” ujar Zaidan sambil menunjuk layar laptop.Noval mengangguk. “Geser dua puluh sentimeter. Jangan mengorbankan luas ruang keluarga hanya karena kita mempertahankan posisi kolom.”“Anggarannya?”“Aku hitung ulang malam ini.”Chandani hanya memperhatikan mereka dari kejauhan. Sesekali matany

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 142

    Sudah dua hari. Dua hari tanpa pesan dari Noval. Dua hari pula Chandani tidak berani menghubungi laki-laki itu.Awalnya Chandani mencoba meyakinkan dirinya bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Noval mungkin sedang sibuk dengan pekerjaan. N and N Architect sedang menangani beberapa proyek sekaligus, dan Chandani tahu betul betapa padatnya jadwal laki-laki itu.Namun, semakin lama, rasa tenang itu justru berubah menjadi kegelisahan. Pagi itu Chandani duduk di dapur klinik sambil menatap layar ponselnya. Percakapan terakhir mereka masih berada di sana. Tidak ada pesan baru.Jarinya sempat bergerak membuka ruang percakapan Noval. Mengetik sesuatu. Lalu menghapusnya dengan cepat. Chandani menghela napas panjang.“Kenapa cuma mau mengirim pesan saja susah sekali?” gumamnya.Chandani takut. Bukan takut Noval marah, melainkan takut dirinya mengganggu.Bagaimana kalau Noval sedang rapat? Bagaimana kalau pekerjaannya sedang berantakan? Bagaimana kalau pesan darinya justru membuat Noval mer

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 141

    Pagi itu, Chandani terbangun dengan tubuh yang terasa sedikit lelah. Cahaya matahari menyusup melalui celah tirai apartemen, jatuh membentuk garis-garis keemasan di lantai kamar. Untuk beberapa detik, Chandani hanya memandangi langit-langit sambil berusaha mengingat apa yang terjadi semalam.Percakapannya dengan Noval. Wajah laki-laki itu. Dan kalimat yang sampai sekarang masih terasa berat di kepalanya."Chandani, can we take a break from this relationship?"Chandani menghela napas panjang. Dia tidak bisa membayangkan hari-harinya tanpa kehadiran Noval. Ia bangkit dari tempat tidur, kemudian berjalan keluar kamar. Saat melewati ruang tengah, langkahnya berhenti.Di atas meja makan, terdapat sebuah kantong plastik putih. Chandani mengernyitkan kening. Tidak mungkin Cahya bangun pagi dan membeli sarapan. Ia mendekat dan membuka sedikit bagian atasnya.Aroma bubur ayam yang masih hangat langsung menyeruak. Ada dua dua bungkus di sana. Chandani terdiam. Di atas kantong itu terdapat seca

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 140

    Cahya berdiri cukup lama di depan pintu apartemen Chandani, lalu memasukkan kode sandi. Cahya sedang menyiapkan diri agar tidak mengumpat kepada Chandani. Kemarin, saat Duna datang ke rumah sakit. Atau bahkan saat Duna mengantar Chandani ke rumah sakit, Noval masih terlihat tenang. Tapi malam ini, Noval menghubungi Cahya dengan nada yang tenang tapi juga sedikit — kesal. Temani Chandani. Hanya dua kata itu yang terus terngiang di kepalanya. Noval tidak menjelaskan banyak. Suaranya terdengar tenang, tetapi Cahya bisa menangkap sesuatu yang berat di baliknya. Seolah laki-laki itu sedang berusaha menahan perasaannya sendiri. "Chan?" Tidak ada jawaban. Apartemen itu begitu sunyi. "Chandani?" Chandani sedang meringkuk di atas kasur. Wajahnya menghadap bantal, sementara kedua tangannya menutupi wajah. Bahunya naik turun menahan tangis. Cahya terdiam. Dia tidak langsung bertanya. Dia hanya berjalan mendekat, duduk di tepi kasur, lalu menepuk pelan bahu Chandani. "Chan..."

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status