LOGINChandani meregangkan tubuhnya. Dia melirik jam kecil di nakas. Sudah jam setengah tujuh malam. Dan dia baru terbangun.Sore tadi, setelah pulang dari klinik, badannya terasa sangat lelah. Kakinya juga terasa sedikit sakit. Jadi dia meminum obat pereda nyeri dan akhirnya tertidur pulas.Saat membuka matanya, Chandani terkejut melihat Noval tengah duduk di sofa. Meskipun terlihat dari belakang, Chandani tahu sekali jika itu Noval.Chandani berjalan pelan ke arah sofa. Dia berjalan berjinjit agar langkahnya tak terdengar. Setelah jarak mereka semakin dekat, Chandani menyentuh pipi kanan Noval dengan ujung jarinya. Membuka laki-laki terkejut. Kaos polo berkerah warna cream dan celana jeans membuat Noval terlihat tampan. Tubuh atletisnya terlihat menawan dengan kaos polo. Wanita mana yang tidak akan mengagumi wajah dan tubuh yang bagus itu?Noval berbalik ke belakang. Melihat Chandani yang tengah senyum. “Kamu sudah bangun?” tanya Noval dengan suara lembutnya.“Sudah, aku tidur dari jam e
Senyum Duna terlihat puas setelah melihat ekspresi kesal dari wajah Noval. Hari ini, Duna ingin menunjukkan bahwa masih ada dirinya di hati Chandani. Dia akan terus mencari cara untuk mendapatkan kembali hati Chandani.Kedua jari jempol Duna tengah mencari nama kontak seseorang di handphonenya. Lalu menghubungi nomor tersebut.“Halo pak Duna.” terdengar suara laki-laki di ujung telepon.“Sudah dapat tanahnya?”“Belum pak Duna.”Duna memukul roda kemudi dengan emosi. “Kan, saya sudah bilang. Harus segera dapat tanahnya!”“Cari tanah di Jogja susah pak. Saya sudah berusaha cari.”“Cari rumah kosong yang di jual. Saya akan renovasi.” nada bicara Duna meninggi.Sudah satu minggu dia menunggu kabar dari pak Januar. Tentang pencarian tanah atau rumah kosong yang akan dia renovasi.Duna berpikir, dengan membuatkan rumah yang Chandani impikan. Mungkin dia bisa dengan mudah mendapatkan hati Chandani lagi.“Maaf pak Duna. Ini bukan hanya sekedar membeli tanah. Tapi perlu mengetahui hak waris ya
Jam sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Proses interview sudah selesai. Noval sudah mendapatkan tiga nama, calon pegawai baru, sesuai dengan kriteria yang dia cari.“Minum dulu, bro.” Zaidan membawakan Noval satu gelas es kopi yang dia buat.Noval menyodorkan map hitam berisi nilai akhir dan nama-nama calon pegawai baru, N and N Architect, jurusan teknik sipil.“Tolong, nanti hubungi mereka yang keterima ya? Buat yang belum lolos, jangan lupa bilang, mohon maaf yang sebesar-besarnya.”Zaidan membaca nama-nama calon pegawai baru. “Aku juga suka banget sama jawaban Eyden.”“Dia pernah kerja di Canada dua tahun. Kembali ke Jogja karena ibunya sakit. Kalau Nadine, dia fresh graduated tapi tingkat kepercayaan dirinya bagus banget. Dan Nazrua, dia perempuan tangguh dan sangat handal menjelaskan proyek-proyek apa saja yang dia pegang selama bekerja di PT Bumi Indah.”“Aku kenal Nazrua.” Zaidan mengamati foto perempuan berusia 30 tahun itu.“Nazrua adik tingkat kita, dulu dia aktif di BEM. Dia
“Makanan dari siapa?” tanya Cahya setelah menyelesaikan satu pasien post operasi ACL.“Dari Duna.”“Apa? Ngapain si sialan itu ke sini?” nada bicara Cahya meninggi karena emosi.Chandani mencubit paha Cahya. “Di dengerin pasien kamu itu.” ucapnya sambil setengah berbisik.“Sudah biasa mbak. Kalau Cahya nggak mengumpat malah aneh rasanya.” jawab pasien laki-laki itu sambil tertawa.Pasien itu bernama Raymond, teman SMA Cahya. Mereka berdua cukup akrab satu sama lain. Raymon adalah pemain sepak bola, yang saat ini harus menghentikan aktivitasnya karena cedera ACL. Tapi, menurut Cahya, bulan depan Raymond sudah bisa kembali latihan.Cahya menyeringai. Lalu memukul pelan lengan Raymond. “Dah, cepetan pulang sana.”“Iya ini mau pulang.” Raymon lalu melihat ke arah Chandani. “Mari, mbak Chandani.”“Mari, mas Raymond.”Akhirnya, mereka bisa beristirahat. Sebelum datang pasien yang sudah reservasi jam dua siang. Hari ini, klinik cukup ramai. Chandani yang niat awalnya hanya duduk, berakhir de
“Mbak Chandaniii……..” Rika berlari dan memeluk Chandani erat. “Gimana kakinya?”“Udah sembuh kok.” jawab Chandani.“Belum sembuh.” Noval membantah ucapan Chandani. “Karena belum sembuh, tolong hari ini jangan boleh pegang pasien ya?”“Siap, pak Noval.” Rika memberikan hormat. Noval mengusap pelan kepada Chandani. “Chan, aku ke kantor dulu ya? Ingat kalau ada apa-apa, hubungi aku.”“Iya mas Noval.”“Rika, titip Chandani, ya?”“Tenang saja.” Rika lalu menggandeng lengan Chandani. “Nanti aku marahin kalau mbak Chandani bandel pegang pasien.”Noval mengacungkan jempol tangan kanannya. Sepertinya, dia bisa mempercayai ucapan Rika. Noval lalu melambaikan tangan kepada Chandani dan Rika. Dia harus ke kantor, sekarang. Zaidan sudah menunggunya di kantor.“Hati-hati, mas Noval.” Chandani berteriak sekuat tenaga. Suara hujan yang deras, membuat suaranya tak begitu terdengar.Tapi untungnya, Noval mendengarnya. Laki-laki itu berhenti berjalan. Membalikkan badannya. Tersenyum, lalu melambaikan t
Di dalam lift, tiga orang itu saling terdiam. Hanya beberapa kali saling beradu pandang. Mereka semua terlihat canggung. Noval tidak membiarkan Chandani berada di dekat Duna. Dan Duna tidak memaksa mendekati Chandani, seperti biasanya. Membuat Noval merasa - sedikit aneh.Pintu lift terbuka, Duna langsung pergi meninggalkan Noval dan Chandani tanpa berkata apapun.“Dia aneh, nggak sih?” Noval membicarakan tentang kejanggalan sifat Duna. “Kok tumben, nggak maksa-maksa deket kamu?”Chandani hanya mengangguk sekali lalu tersenyum canggung. Tidak mungkin dia menceritakan kepada Noval kalau, kemarin Duna menemuinya. Dan berjanji akan berubah. Noval membukakan pintu mobil untuk Chandani. Lalu meletakkan tangannya di atas kepala Chandani agar tidak terbentur door seal.Mobil Land Cruiser melaju pelan di jalanan Jogja. Pagi ini, Jogja kembali mendung. Rintikan air hujan mulai turun. Noval menaikkan suhu AC agar Chandani tidak kedinginan.Perubahan sikap Duna membuat Chandani sedikit kepikira







