แชร์

Bab 6

ผู้เขียน: Lalacolla
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-10 06:08:05

Chandani menepikan mobilnya di pinggir jalan. Air matanya terus menetes. Sore ini tangisnya meledak dan tidak bisa dikendalikan. Bahkan cuaca Jogja hari ini seperti mendukung suasana hatinya yang muram. 

Diantara takdir Tuhan, kenapa Tuhan harus mempertemukan dirinya lagi dengan Duna. Setelah tiga tahun Chandani berusaha untuk melupakan laki-laki itu. Setelah perjuangan terbebas dari rasa sakit selama tiga tahun. Setelah hatinya mulai tertata kembali. Tapi semuanya runtuh hanya karena sekali pertemuan. 

Hari itu, hubungan yang terbangun selama sembilan tahun akhirnya selesai begitu saja.  Chandani memilih untuk pulang ke Indonesia. Tidak ada harapan lagi untuk bertahan lebih lama di sana. Dia telah mengubur impian-impian besarnya di Australia.

“Sialan! ” 

Chandani mengutuki dirinya sendiri yang masih menangis. “Stop, stop, stop berhenti menangis, Chandani.”

Semakin dia menahan tangisnya agar tidak keluar, semakin deras air matanya keluar. Chandani memukuli dadanya yang terasa sesak. Bahkan setelah tiga tahun, rasa sakitnya tidak berkurang sedikitpun. 

Tangan Chandani bergetar. Tangisnya semakin kencang. Dia menutupi wajahnya dengan tangan. Tapi tetap saja air matanya tidak berhenti keluar. Hujan diluar bahkan tidak mampu meredam suara tangisnya. Kali ini, Chandani benar-benar membenci takdir Tuhan yang mempertemukan lagi dirinya dengan Duna. 

“Dasar lemah. Dasar Chandani lemah.”

Jam sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB, langit terlihat semakin gelap. Noval sedang menikmati teh hangat dan keripik pisang. Hanya ada dirinya di kantor malam ini. Noval ingin menyelesaikan desain rumah joglo modern sebelum pulang. 

Orangtua Noval mengajak Nadel menginap di rumah mereka. Jadi hari ini Noval tidak harus pulang cepat seperti biasanya. 

Mobil putih yang berada di depan kantor menarik perhatiannya. Lampu dan wiper mobil itu menyala. Pertanda masih ada orang di dalamnya. Tapi mobil itu sudah berada di sana sejak tiga puluh menit yang lalu. 

Noval mengambil payung dan berjalan mendekati mobil tersebut. Diketuknya dengan keras jendela mobil itu beberapa kali. Noval khawatir jika pengendaranya tiba-tiba pingsan atau terjadi hal yang tidak diinginkan.

Jendela mobil perlahan terbuka. "Mbak Chandani." Noval terkejut melihat Chandani berada di dalam mobil dengan mata yang membengkak. 

"Pak Noval."

"Mbak Chandani ngapain di sini?" Noval mengeraskan suaranya karena hujan turun cukup lebat. 

Chandani masih terdiam. Memang sejak tiga puluh menit yang lalu dia menangis di dalam mobil. 

"Hujannya makin deras mbak. Ayo ke kantor saya saja." Noval semakin mengeraskan suaranya. 

"Kantor pak Noval?" Chandani tampak binggung. 

"Iya, itu kantor saya." Noval menunjuk kantor dua lantai. 

Noval membantu Chandani turun dari mobil. Dia juga memayungi gadis itu, memastikan jika hujan tidak akan membuatnya basah. Chandani memasuki kantor arsitek milik Noval. Kantor itu terlihat rapi. Ada banyak model maket di sana. Mulai dari rumah, mall hingga perkantoran. 

Noval mengambilkan handuk dan membantu Chandani mengeringkan rambutnya yang sedikit basah. Gerakan Noval yang tiba-tiba membuat Chandani membeku. Anehnya dia tidak menolak. 

Setelah mengeringkan rambut Chandani, Noval segera berlari ke dapur lalu membawa satu cangkir teh hangat. 

"Di minum mbak teh hangatnya."

"Terima kasih pak Noval." Chandani menerima teh yang dibawa Noval.

Kini mereka berdua duduk bersebelahan sambil menikmati teh hangat. Keduanya masih terdiam sambil melihat hujan yang tak kunjung reda. 

Noval memberikan jaket berwarna hitam miliknya untuk Chandani. "Pakai, biar nggak kedinginan."

"Terima kasih." 

"Duduk di sini dulu, jangan duduk di mobil sendirian. Tunggu di sini sampai hujan reda."

"Maaf jadi mengganggu pak Noval."

"Tidak mengganggu sama sekali. Kamu sudah makan?" 

Chandani jadi teringat pentol bakar yang dia beli tadi belum tersentuh sama sekali. 

"Kalau belum makan, di sini ada kue. Ada mie cup juga. Makan saja, jangan sungkan."

"Pak Noval sendirian?" 

"Iya, karyawan saya sudah pulang. Nadel di rumah mama sama papa. Jadi saya bisa pulang agak malam.”

Chandani mengangguk paham. Tangannya memegang erat cangkir teh hangat yang mulai dingin. Matanya menerawang jauh ke depan. Tatapannya menjadi kosong. Ternyata dirinya tak sekuat itu. Bertemu Duna sekali saja mampu merobohkan benteng pertahanannya. 

“Mbak Chandani sudah makan?” Noval mengulangi pertanyaannya.

“Belum pak Noval.”

“Lapar kan?”

Chandani menggelengkan kepala. 

"Ayo." Noval berdiri di depan Chandani.

"Ke mana pak?" 

"Ke pantry. Ada mie cup di sana. Kamu boleh nangis, tapi isi dulu perutnya.”

“Pak Noval tahu saya nangis?” 

Noval menunjuk kedua mata Chandani. “Mata kamu bengkak.”

Noval memberikan botol air dingin.” Buat kompres mata kamu.”

“Terima kasih.”

“Saya tidak tahu kamu kenapa, tapi tolong makan dulu ya. Kamu boleh menangis, kamu boleh sedih. Tapi jangan lupa makan.”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 84

    Jemari Noval terlihat sangat lihai saat mengatur rambut Chandani. Dengan telaten, dia mengeringkan rambut Chandani dengan hair dryer. Lalu mengikat rambut Chandani agar tidak berantakan.Aroma shampo, dan rambut yang lembut. Membuat Noval seperti terbius oleh keindahan Chandani. Noval mencoba menyadarkan dirinya. Bukan saatnya dia terbawa oleh pesona Chandani. Sebentar lagi mereka harus ke klinik.“Berangkat sekarang?” ajak Chandani.Noval melihat jam tangannya. “Ayo.”Sudah jam tujuh malam, tiga puluh menit lagi, mereka harus sampai di klinik.Seperti biasa, Noval menyamakan langkah kakinya dengan langkah kaki Chandani yang pendek. Jika biasanya langkah kaki Noval cenderung lebar dan cepat. Kini, dia memperpendek langkahnya. Untuk mengimbangi Chandani. Agar gadis itu tidak terburu-buru.Saat di lift, Chandani dan Noval bertemu Duna yang sedang menelpon seseorang. Noval memalingkan wajahnya. Tadi, Duna sudah membuat suasana hatinya menjadi buruk. Dia tidak ingin suasana hatinya menjad

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 83

    Chandani meregangkan tubuhnya. Dia melirik jam kecil di nakas. Sudah jam setengah tujuh malam. Dan dia baru terbangun.Sore tadi, setelah pulang dari klinik, badannya terasa sangat lelah. Kakinya juga terasa sedikit sakit. Jadi dia meminum obat pereda nyeri dan akhirnya tertidur pulas.Saat membuka matanya, Chandani terkejut melihat Noval tengah duduk di sofa. Meskipun terlihat dari belakang, Chandani tahu sekali jika itu Noval.Chandani berjalan pelan ke arah sofa. Dia berjalan berjinjit agar langkahnya tak terdengar. Setelah jarak mereka semakin dekat, Chandani menyentuh pipi kanan Noval dengan ujung jarinya. Membuka laki-laki terkejut. Kaos polo berkerah warna cream dan celana jeans membuat Noval terlihat tampan. Tubuh atletisnya terlihat menawan dengan kaos polo. Wanita mana yang tidak akan mengagumi wajah dan tubuh yang bagus itu?Noval berbalik ke belakang. Melihat Chandani yang tengah senyum. “Kamu sudah bangun?” tanya Noval dengan suara lembutnya.“Sudah, aku tidur dari jam e

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 82

    Senyum Duna terlihat puas setelah melihat ekspresi kesal dari wajah Noval. Hari ini, Duna ingin menunjukkan bahwa masih ada dirinya di hati Chandani. Dia akan terus mencari cara untuk mendapatkan kembali hati Chandani.Kedua jari jempol Duna tengah mencari nama kontak seseorang di handphonenya. Lalu menghubungi nomor tersebut.“Halo pak Duna.” terdengar suara laki-laki di ujung telepon.“Sudah dapat tanahnya?”“Belum pak Duna.”Duna memukul roda kemudi dengan emosi. “Kan, saya sudah bilang. Harus segera dapat tanahnya!”“Cari tanah di Jogja susah pak. Saya sudah berusaha cari.”“Cari rumah kosong yang di jual. Saya akan renovasi.” nada bicara Duna meninggi.Sudah satu minggu dia menunggu kabar dari pak Januar. Tentang pencarian tanah atau rumah kosong yang akan dia renovasi.Duna berpikir, dengan membuatkan rumah yang Chandani impikan. Mungkin dia bisa dengan mudah mendapatkan hati Chandani lagi.“Maaf pak Duna. Ini bukan hanya sekedar membeli tanah. Tapi perlu mengetahui hak waris ya

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 81

    Jam sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Proses interview sudah selesai. Noval sudah mendapatkan tiga nama, calon pegawai baru, sesuai dengan kriteria yang dia cari.“Minum dulu, bro.” Zaidan membawakan Noval satu gelas es kopi yang dia buat.Noval menyodorkan map hitam berisi nilai akhir dan nama-nama calon pegawai baru, N and N Architect, jurusan teknik sipil.“Tolong, nanti hubungi mereka yang keterima ya? Buat yang belum lolos, jangan lupa bilang, mohon maaf yang sebesar-besarnya.”Zaidan membaca nama-nama calon pegawai baru. “Aku juga suka banget sama jawaban Eyden.”“Dia pernah kerja di Canada dua tahun. Kembali ke Jogja karena ibunya sakit. Kalau Nadine, dia fresh graduated tapi tingkat kepercayaan dirinya bagus banget. Dan Nazrua, dia perempuan tangguh dan sangat handal menjelaskan proyek-proyek apa saja yang dia pegang selama bekerja di PT Bumi Indah.”“Aku kenal Nazrua.” Zaidan mengamati foto perempuan berusia 30 tahun itu.“Nazrua adik tingkat kita, dulu dia aktif di BEM. Dia

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 80

    “Makanan dari siapa?” tanya Cahya setelah menyelesaikan satu pasien post operasi ACL.“Dari Duna.”“Apa? Ngapain si sialan itu ke sini?” nada bicara Cahya meninggi karena emosi.Chandani mencubit paha Cahya. “Di dengerin pasien kamu itu.” ucapnya sambil setengah berbisik.“Sudah biasa mbak. Kalau Cahya nggak mengumpat malah aneh rasanya.” jawab pasien laki-laki itu sambil tertawa.Pasien itu bernama Raymond, teman SMA Cahya. Mereka berdua cukup akrab satu sama lain. Raymon adalah pemain sepak bola, yang saat ini harus menghentikan aktivitasnya karena cedera ACL. Tapi, menurut Cahya, bulan depan Raymond sudah bisa kembali latihan.Cahya menyeringai. Lalu memukul pelan lengan Raymond. “Dah, cepetan pulang sana.”“Iya ini mau pulang.” Raymon lalu melihat ke arah Chandani. “Mari, mbak Chandani.”“Mari, mas Raymond.”Akhirnya, mereka bisa beristirahat. Sebelum datang pasien yang sudah reservasi jam dua siang. Hari ini, klinik cukup ramai. Chandani yang niat awalnya hanya duduk, berakhir de

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 79

    “Mbak Chandaniii……..” Rika berlari dan memeluk Chandani erat. “Gimana kakinya?”“Udah sembuh kok.” jawab Chandani.“Belum sembuh.” Noval membantah ucapan Chandani. “Karena belum sembuh, tolong hari ini jangan boleh pegang pasien ya?”“Siap, pak Noval.” Rika memberikan hormat. Noval mengusap pelan kepada Chandani. “Chan, aku ke kantor dulu ya? Ingat kalau ada apa-apa, hubungi aku.”“Iya mas Noval.”“Rika, titip Chandani, ya?”“Tenang saja.” Rika lalu menggandeng lengan Chandani. “Nanti aku marahin kalau mbak Chandani bandel pegang pasien.”Noval mengacungkan jempol tangan kanannya. Sepertinya, dia bisa mempercayai ucapan Rika. Noval lalu melambaikan tangan kepada Chandani dan Rika. Dia harus ke kantor, sekarang. Zaidan sudah menunggunya di kantor.“Hati-hati, mas Noval.” Chandani berteriak sekuat tenaga. Suara hujan yang deras, membuat suaranya tak begitu terdengar.Tapi untungnya, Noval mendengarnya. Laki-laki itu berhenti berjalan. Membalikkan badannya. Tersenyum, lalu melambaikan t

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status