LOGIN"Let's just say I'm tired of playing games and want to quit this? I want to be close to you because I like you. I want to know if we both like each other or I just misinterpreted your actions?" "No, you're right," she admitted. "But just this afternoon you said I was a complication you didn't need." "Over-analyzing is second nature to me. It helps me more often than I care to count. But not this time." "It doesn't seem like that," she said deliberately. "Maybe you just realized that there is no good chance of success in a relationship with me." "I don't care about the future. The only thing that matters is what's here and what's now." He stepped towards her, then another, until he could almost inhale the scent of her skin. "What can you say, Lara?" He asked hoarsely. "Are you ready to take a risk with me?"
View More“Mempelai pria tidak akan datang. Dia sedang sibuk dengan... wanita lain.”
Suasana ballroom yang sejak tadi sunyi kini terdengar suara bisik-bisik. Vina berdehem untuk mendapatkan perhatian kembali.
“Pesta tetap berlanjut. Silahkan nikmati makanan yang telah tersedia.”
Vina dengan gaun pengantin cantik turun dari panggung dengan senyum di wajah. Bahkan menyapa ramah para tamu undangan yang memberikan ucapan penuh keprihatinan.
“Aku nggak papa. Lebih baik tau sebelum pernikahan, bukan?” Kalimat itu yang selalu meluncur dari bibir Vina tiap kali keluarga atau kerabat menanyai keadaannya.
Tapi akhirnya, Vina lelah juga. Betul kata orang bijak, pura-pura baik-baik saja itu butuh banyak tenaga.
Sahabatnya, Ayla menyeretnya ke meja VIP. Ayla lah yang pertama kali tau bahwa Andreas – mantan tunangannya, selingkuh. Vina tidak percaya begitu saja.
Hingga dua hari sebelum pernikahan, ditemani sahabatnya, Vina memergoki sang tunangan di kamar hotel dengan wanita lain. Detik itu juga Vina memutuskan Andreas.
“Sudah kubilang untuk membatalkan saja pesta ini. Aku risih mendengar banyak orang bertanya tentangmu dan Andreas.” Ayla berbisik sambil menyiapkan piring makanan untuk Vina, lalu pergi untuk menemani para tamu.
Vina menatap sekeliling. Pesta pernikahan tanpa pengantin lelaki ini tetap berjalan meriah dengan dekorasi elegan dan band kenamaan. Hingga akhirnya matanya berair.
Tak mau keluarga dan kerabatnya melihat ia menangis, diam-diam Vina keluar dari ballroom. Perlahan berjalan menuju ruang ganti pakaian untuk sekedar menenangkan diri.
Langkahnya terhenti melihat pemandangan di depan pintu. Andreas dan Ayla sedang bercumbu di sofa. Dua orang terdekatnya ternyata berkhianat. Entah sejak kapan.
Kedua mata Vina hanya menatap kosong pada dua mahluk yang tak sadar ia perhatikan. Tidak ada air mata. Ia hanya mengutuk diri sendiri bagaimana selama ini begitu polos hingga tak tau apa yang terjadi di belakangnya.
Vina segera membalik tubuh dan setengah berlari menjauhi ruang ganti pakaian. Kakinya melangkah tak tentu arah. Hingga akhirnya ia melihat sebuah restoran yang sepi.
Setelah memesan minuman, Vina memangku wajahnya dan merenung. Jantungnya masih berdebar kencang mengingat apa yang barusan ia lihat. Sebenarnya Andreas bersama wanita di hotel atau dengan Ayla?
Tiba-tiba ada sesuatu yang menyelinap ke bawah gaun pengantinnya yang lebar. Tak lama kemudian tiga lelaki kekar masuk dan berkeliling ruangan.
“Ssstttt.” Seorang lelaki bermasker melongokkan kepalanya dari balik gaun. “Tolong sembunyikan aku sebentar, ya.”
Vina mengerutkan kening tak suka. “Pasti lelaki yang di bawah gaunku yang mereka cari.” Vina membatin.
Berpikir cepat apa yang harus ia lakukan, Vina akhirnya memutuskan untuk pura-pura tidak tau. Hingga tiga lelaki kekar itu pergi.
“Mereka sudah pergi, kan?” Lelaki itu keluar dari gaun lebar Vina.
“Plak.” Tangan Vina spontan menampar pipi lelaki tersebut. “Dasar lelaki mesum!”
“Eh, aku nggak lihat apa-apa, kok.” Lelaki itu bersumpah pada Vina sambil memegangi pipinya.
“Lagian, apa nggak ada tempat lain untuk sembunyi dari para penagih hutang itu?”
“Hah? Penagih hutang?” Lelaki itu tampak terkejut.
Dengan wajah menahan marah, Vina melengos lalu pergi. Tetapi, lelaki itu malah membuntuti Vina.
“Aku ikut kamu, siapa tau mereka masih mengejarku.”
“Bukan urusanku!"
“Oh. Mereka juga akan mengejarmu, bahkan menangkapmu juga karena barusan kamu yang menyembunyikanku.” Lelaki itu mengancam sambil berkacak pinggang.
Ini pasti orang gila! Dengan wajah merengut kesal, Vina melewati lelaki itu dan masuk ke dalam lift yang kosong.
Hingga tiba di depan pintu kamar hotel, lelaki itu tetap membuntuti Vina.
“Cukup sampai di sini ngikutin aku.” Vina berkata tegas.
Vina membuka pintu. Saat ia akan masuk, lelaki itu segera mendahuluinya. Spontan, Vina berteriak kesal.
“Heii! Kamu tidak boleh masuk!”
Lelaki itu tidak menjawab. Ia terpaku di tempatnya berdiri sambil menatap sekeliling. “Kamu... ini, kamar pengantin?”
“Keluar!” ulang Vina dengan jari telunjuk mengarah ke pintu. Nada suaranya bergetar saat memerintah.
Lelaki itu mengabaikan ucapan tegas Vina, lalu mengambil secarik kartu pada kue cantik di meja.
“Nona Vina... kami prihatin atas gagalnya pernikahan anda. Terimalah kue ini sebagai rasa kepedulian kami.” Lelaki itu membaca keras-keras. “Aku pikir kamu sedang syuting, pemotretan, cosplay atau apa lah. Ternyata pengantin betulan,” imbuhnya lagi sambil terkekeh.
“Tolong, keluar lah. Aku sedang ingin sendiri.” Vina seperti kehabisan daya untuk emosi, lalu menjatuhkan bokongnya ke sofa dan bersandar lemah.
“Nangis aja kalau mau nangis.” Lelaki itu memberi saran dengan santai. “Lagipula dia yang rugi karena tidak jadi menikahi wanita cantik sepertimu.”
Kalimat itu sudah berkali-kali ia dengar, namun saat ini terasa berbeda. Rasanya kata-kata itu menguatkan sekaligus melemahkannya. Vina jadi terisak sedih.
“Cup, cup, cup.” Lelaki itu menghampiri Vina lalu memeluknya. “Apa ini kali pertama kamu menangis semenjak membatalkan pernikahan?”
Vina tidak menjawab. Untuk sesaat ia larut dalam pelukan lelaki tak dikenal itu. Hingga akhirnya sadar dan mendorong dada lelaki di sampingnya.
“Kamu siapa, sih? Jangan sok menenangkanku.”
“Mmm kamu... tidak kenal aku?” Lelaki itu membuka masker wajahnya.
Kening Vina berkerut menatap si lelaki. Tampan, kulit bersih dengan mata berkilau, struktur wajahnya proporsional. Di mata Vina, lelaki ini seperti sosok playboy internasional.
“Tidak. Kita belum pernah bertemu, kan?”
Lelaki itu mengangkat kedua alisnya, lalu tergelak kencang sambil bertepuk tangan. Vina terpana melihat ketampanan lelaki itu justru bertambah saat tertawa.
“Akhirnya... ada juga wanita yang tidak mengenaliku.” Lelaki itu bergumam sambil menatap Vina dengan senyum misterius.
“Apa maksudmu?” Vina menggeleng bingung.
“Tidak, tidak.” Lelaki itu menggeleng dan menjulurkan tangan. “Kenalkan. Aku Dylan.”
Vina menatap uluran tangan itu tanpa membalasnya. Si lelaki akhirnya menurunkan tangan dan menatap prihatin pada Vina.
“Apa yang lelaki itu perbuat padamu? Selama dia tidak tiba-tiba mati, kamu wajib balas dendam!”
Spontan, Vina menoleh dan menatap Dylan. Saat ini, ia bahkan sulit bernapas, apalagi balas dendam yang butuh ekstra effort?
“Malas!” Vina menjawab dan menghela napas beratnya.
“Hem. Karena tadi kamu membantuku, aku akan balas budi.”
Vina menggeleng lemah. “Tidak perlu. Keluar saja dari kamar ini. Aku butuh ketenangan.”
“Tidak mau. Aku takut kamu bunuh diri.”
Pernyataan itu membuat bibir Vina mencebik. “Sebelum mati, aku ingin tau bagaimana mantan tunangan dan sahabatku bisa selingkuh.”
“What?” Mata Dylan terbelalak lalu memberi saran. “Daripada sedih-sedih, lebih baik menyalurkan energi negatifmu pada hal yang bisa membuat mereka terkejut.”
Vina menghela napas berat. “Aku belum tau harus melakukan apa.”
Dylan menatap sekeliling kamar yang bernuansa cream dan putih serta dekorasi bunga berwarna burgundy. “Aku punya solusi untuk masalahmu.” Dylan menatap Vina dengan wajah serius.
“Apa?”
“Menikah lah denganku!”
He wrapped his arms around Lara as she stood at the kitchen sink and pressed his lips against her bare shoulder.“Good morning.” She smiled as she turned around in his arms.“Good morning. I don’t like waking up and you’re not in bed.” He brushed his lips against hers.“I wanted to get the muffins in the oven before you woke up.”“Banana nut?”“Of course.” She grinned.“Then you’re forgiven. Listen, do you hear that?”“Hear what? I don’t hear anything.”“Exactly. Blissful silence. We need to enjoy it before the kids come up. What time will they be here?”“Soon, I think.”“Is Helen bringing Lance?”“I think so. I’m not sure though.”“I feel like I need to have a talk with that boy.”“Leave him alone, Chris. He’s
Raising highly intelligent children was rewarding as well as exhausting. Harry demanded a lot of their attention and needed to be mentally stimulated at all times. At a year old, he was already saying more words than the average child. Chris was sitting behind his desk when his office door opened, and Lara walked in holding Harry. “What a nice surprise.” He grinned as he got up. “Hi, princess.” He hugged and kissed her before he kissed Lara and took his son from her arms. “Hi, handsome.” He tickled him. “Daddy,” He smiled. “What are you doing here, sweetheart?” “I need you to watch him. The babysitter called and has the flu. Harold is with Aida. I have my doctor’s appointment. I will bring Helen with me.” “I have a meeting in fifteen minutes.” “And? Do you want me to cancel my doctor’s appointment?” “You know what, I’ll just bring him to my meeting.” “Good idea.” She smiled. “I love you. Just bring him h
As she lay there, she thought about how there was no way she could be pregnant again. No possible way. There was only one way to find out. She ran to the store and picked up a test. It was so silly that she was even doing this. She had a virus. Or maybe something else was going on. Pregnant? No. Impossible.She went into the bathroom, peed on the stick and waited. She laughed at herself for even thinking it. Once the test showed she wasn’t pregnant, she’d call her general doctor and get in for a checkup and some tests. The timer on her phone went off so she picked up the stick and stared at the two pink lines staring back at her. Her heart started racing, and she felt like she was going to pass out. Splashing some cold water on her face, she leaned over the counter and stared at herself in the mirror. How the hell she was going to tell her husband who had a vasectomy that she was pregnant again?“We need to talk,” she said as she grabbed his han
“Are you sure you’re going to be okay?” she asked Chris as she put her shoes on. “We’re going to be just fine. Go enjoy your day and don’t worry about us. Aida is here, I can ask help from her. Today is all about you relaxing.” He kissed her forehead. “I don’t know what time I’ll be home.” “You take as long as you want. We’re going to have so much fun today, aren’t we, baby?” Chris spoke to Harry as he held him in his arms. After giving him a kiss on the lips, she gave Helen and Harry a kiss and stepped into the elevator. The moment she stepped outside the building, she threw her hands up in the air. Freedom was hers for a day, and she was going to enjoy every minute of it. But as she was on her way to the spa, she felt this tremendous feeling of guilt wash over her. She shouldn’t be doing this. She need to be home with her kids. She was gone ten minutes and she already missed them terribly. This wasn’t a good idea and she needed to go back home.
Very early the following morning Lara brought Helen downstairs to give her a drink of milk. She’d always woken up at the crack of dawn, and nothing seemed to be changing about that since they’d arrived in Baguio.As she walked outside onto the terrace she saw that Chris was swim
As she felt his hands sliding upwards over her ribs, she instinctively looked down at herself. The sight of her own naked breasts, jiggling slightly with the trembling of her body and the rapid rate of her breathing, startled her. Her nipples were jutting forward, taut and throbbing with the need
Chris strode across the hallway, carrying Lara towards the staircase. She was as light as a feather in his arms and felt as sexy as hell curled against his body, with one arm wrapped sensuously around his shoulder and her other hand stroking his chest.His heart was pounding powerfully bene
He turned to look at Lara, but she was still sitting in the pool on the steps, hugging her knees up to her chest. Why wasn’t she helping him? Was she trying to prove something by letting him struggle alone?“Pass me that towel,” he said.Lara bit her lip and stared u






The novel is about a humorous Romance in a Billionaire's world written by Red Lines. Lara is abound for a fixed marriage to Christian, a son of a wealthy man. She is excited - or interested about the life she can have until she saw what Christian looks like - tall, dark, and handsome. His features attracted her more than the glitz and glamour waiting ahead. But her not being a virgin anymore is a problem for Christian. Christian is sarcastic- sometimes shows interest in Lara. but sometimes he is cold which draws Lara crazy about him...