MasukKau Tetaplah HewanAku berjongkok di samping tubuh Raja Herek. Makhluk itu sudah tidak mampu berdiri, tetapi kedua matanya masih bergerak mengikuti setiap gerakanku. Ia tampak memahami apa yang akan kulakukan, sehingga ketika tanganku mendekati bagian dadanya, ia langsung berusaha menggerakkan tubuh untuk menghindar."Jangan sentuh batuku!" geramnya.Aku menatapnya sekilas. "Kau sudah tidak punya hak untuk memilikinya."Aku meletakkan tangan di sekitar Batu Lumpur yang tertanam di tubuhnya. Batu itu memancarkan cahaya kecokelatan, sementara energi di sekitarnya masih berdenyut meskipun pemiliknya sudah hampir tidak berdaya. Aku menariknya perlahan, berusaha melepaskan ikatan energi yang membuatnya menyatu dengan tubuh Raja Herek.Makhluk itu langsung menjerit."AAARGH!"Tubuhnya menggeliat, tetapi aku menahan bahunya agar tidak bergerak terlalu banyak. Beberapa detik kemudian, Batu Lumpur akhirnya terlepas dari dada
KEMENANGAN SANG PEMILIK WAKTUTUMBANGNYA SANG RAJARaja Herek masih berdiri di tengah reruntuhan istananya, meskipun tubuhnya sudah dipenuhi luka akibat serangan kami. Napasnya terdengar berat, kedua lututnya sesekali bergetar, dan darah mengalir dari beberapa bagian tubuhnya. Namun, makhluk itu masih berusaha mempertahankan kesombongannya seolah-olah kekalahan merupakan sesuatu yang tidak mungkin terjadi padanya.Aku berdiri beberapa meter di hadapannya sambil mengepalkan tangan. Batu Kekuatan yang kugenggam memancarkan cahaya redup, tetapi aku masih bisa merasakan energi di dalamnya. Sejak menemukan kemampuan Tinju Waktu, aku mulai memahami bahwa kekuatan ini memiliki potensi yang jauh lebih besar daripada yang pernah kubayangkan."Kau sudah kehilangan Batu Asap," kataku. "Sekarang tinggal dua batu lagi. Apa kau masih yakin bisa mengalahkan kami?"Raja Herek mengangkat kepalanya. Gigi-giginya terlihat ketika ia menyeringai, memperlihatkan kemarahan yang bercampur dengan rasa putus a
Pemuda di Balik BayanganKetika aku kembali menoleh ke arah lorong, Raga sudah menghilang. "Siapa yang kau panggil?" tanya Damar. "Raga. Pemuda dari penginapan itu." Damar mengerutkan kening. "Apa yang dia lakukan di sini?" Aku menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi dia mengambil Batu Asap." Wajah Damar berubah serius. Ia sempat melihat ke arah lorong sebelum kembali memasang kuda-kuda menghadapi Raja Herek. "Kalau begitu, kita harus menyelesaikan pertarungan ini secepat mungkin." Aku mengangguk, meskipun pikiranku masih tertuju pada pemuda yang baru saja menghilang. Raga seharusnya berada di tempat aman, jauh dari pertarungan ini. Namun, ia justru muncul di tengah istana dan mengambil batu yang menjadi rebutan kami. Aku berusaha menyingkirkan kecurigaan itu. Mungkin ia hanya ingin membantu kami menyimpan bat
Batu yang TerlepasAku berjalan mendekatinya dengan tangan terkepal."Kau sudah kalah, Herek."Ia mengangkat kepala perlahan. Tatapannya tidak lagi dipenuhi keyakinan seperti sebelumnya, tetapi kebencian yang terpancar dari matanya justru semakin pekat."Aku ... tidak mungkin kalah dari manusia sepertimu.""Kau sudah mengatakan itu berkali-kali."Aku mengangkat tinju, bersiap memberikan serangan terakhir. Namun, Raja Herek tiba-tiba menyentakkan tangannya ke tanah. Lumpur hitam menyembur ke arahku, memaksaku melompat mundur untuk menghindari jebakan yang muncul di bawah kaki.Kesempatan itu digunakannya untuk bangkit dengan susah payah.Ia tidak lagi berusaha menyerangku. Sebaliknya, tangannya bergerak cepat ke arah dadanya, tepat pada tempat Batu Asap tertanam. Wajahnya berubah ketika ia merasakan sesuatu yang tidak beres pada tubuhnya sendiri.Akibat rentetan Tinju Waktu yang kuterimakan sebelum
Kekuatan dalam Sepersekian DetikKedua kakiku masih terperangkap di dalam lumpur yang mengeras seperti batu. Raja Herek berdiri di hadapanku dengan napas berat, tetapi seringai di wajahnya menunjukkan bahwa ia belum menganggap pertarungan ini selesai. Tiga batu kekuatan yang tertanam di tubuhnya membuatnya menjadi lawan yang jauh lebih berbahaya daripada makhluk mana pun yang pernah kuhadapi.Sementara itu, Batu Lumpur terus bergerak mengikuti kehendaknya, membuat permukaan tanah di sekeliling kami bergelombang seperti lautan yang sedang mengamuk."Bagaimana, manusia?" ejeknya sambil mengangkat dagu. "Kau masih ingin melawanku dengan satu batu saja? Lihat dirimu! Bahkan untuk membebaskan kaki sendiri pun kau tidak mampu!"Aku menunduk, memperhatikan lumpur yang membungkus kedua kakiku, lalu mengangkat pandangan ke arahnya."Kau terlalu banyak bicara untuk seseorang yang sudah mulai kehabisan napas."Senyumnya menghilang.Raja Herek menggeram dan mengayunkan tangannya. Tanah di belakan
Tinju yang Melipatgandakan WaktuRasa sakit yang menjalar dari tangan hingga ke bahuku membuatku hampir kehilangan konsentrasi. Raja Herek mencengkeram tanganku begitu kuat hingga aku bisa mendengar bunyi tulang yang tertekan, sementara batu yang seharusnya sudah berhasil kuambil masih melayang tepat di antara kami.Aku benar-benar tidak menyangka ia bisa bergerak setelah waktu hidupnya kuambil."Tertangkap juga kau, manusia!" geram Raja Herek sambil menyeringai lebar. "Kau pikir bisa mengalahkanku hanya dengan menghentikan waktu?"Aku berusaha menarik tanganku sekuat tenaga, tetapi cengkeramannya sama sekali tidak mengendur. Bahkan ketika aku mengerahkan energi Batu Kekuatan milikku, tubuhku tetap kesulitan melawan kekuatan fisik yang diperoleh Raja Herek dari Batu Hewan.Sekarang aku mengerti mengapa ia begitu berbahaya.Kemampuan menghentikan waktu memang memberiku keunggulan, tetapi selama Raja Herek masih memiliki kekuatan y







