
REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR
Arjon mengira semuanya telah berakhir saat ia meninggal di ranjang rumah sakit pada usia lima puluh lima tahun.
Namun ketika membuka mata, ia justru terbangun di Bonua Toru, dunia misterius yang dulu hanya ia kenal dari dongeng sang kakek.
Di dunia asing itu, Arjon mewarisi Batu Waktu, artefak legendaris yang memberinya kekuatan untuk mengendalikan waktu. Tetapi kekuatan tersebut ternyata adalah kutukan.
Sejak hari pertama, para Penguasa Waktu mulai memburunya. Mereka percaya tidak boleh ada Pengendali Waktu yang hidup.
Untuk bertahan hidup, Arjon harus menjadi lebih kuat, mengumpulkan kekuatan yang tersebar di seluruh Bonua Toru, dan mengungkap rahasia di balik Batu Waktu.
Namun di balik semua itu, ia hanya memiliki satu tujuan.
Pulang.
Kembali kepada anak-anaknya yang ia tinggalkan saat kematian menjemput.
Tapi ketika semakin dekat dengan kebenaran, Arjon menemukan fakta yang jauh lebih mengerikan.
Bagaimana jika alasan dirinya bereinkarnasi bukanlah kebetulan?
Dan bagaimana jika nasib keluarganya ternyata terhubung dengan kehancuran Bonua Toru?
Read
Chapter: BAB 7#Jejak Menuju Naga Api Aku menatap lembaran buronan yang kini berada di tanganku cukup lama. Kertas itu terlihat biasa saja, bahkan gambar wajahku hanya berupa sketsa kasar yang jelas dibuat oleh seseorang yang belum pernah melihatku secara langsung. Namun, kalimat yang tertulis di bagian bawahnya membuatku memahami sesuatu yang jauh lebih penting daripada kualitas gambar tersebut. Aku tidak lagi menjadi pendatang yang tidak dikenal. Namaku mulai beredar di Bonua Toru. Dan semakin banyak orang mengetahui keberadaanku, semakin banyak pula orang yang akan datang untuk memburu Batu Waktu yang bersemayam di dalam tubuhku. Di sampingku, Sera ikut memperhatikan lembaran yang sama. Wanita itu tidak mengatakan apa-apa selama beberapa saat, tetapi dari raut wajahnya aku bisa melihat pergulatan yang sedang terjadi di dalam pikirannya. "Aku tidak akan ikut." Suara Sera memecahkan keheningan yang sejak tadi menyelimuti kami. Aku langsung menoleh. "Apa maksudmu?" Wanita itu menarik napas
Last Updated: 2026-07-01
Chapter: BAB 6#Pengorbanan Dua Puluh TahunKepergian Revan meninggalkan keheningan yang aneh di seluruh desa.Penduduk yang sebelumnya bersembunyi perlahan mulai keluar dari rumah masing-masing. Namun tidak ada sorak sorai kemenangan. Tidak ada ucapan terima kasih. Tidak ada pula wajah bahagia karena terbebas dari seseorang yang selama bertahun-tahun menebar ketakutan.Mereka hanya berdiri diam.Menatap Sera dan Menatapku.Lalu kembali masuk ke rumah mereka masing-masing.Seolah tidak ada apa pun yang terjadi.Aku mengernyit.Perasaan tidak nyaman mulai muncul di dadaku.Sera masih duduk di dekat tiang tempat ia dirantai selama bertahun-tahun. Bekas rantai masih membekas pada pergelangan tangan dan kakinya meskipun luka-lukanya sudah sembuh karena Batu Penyembuhan.Aku berjalan mendekatinya."Kau bebas sekarang."Sera tersenyum tipis.Namun senyum itu terasa sangat sedih."Aku belum tentu bebas."Aku mengernyit."Maksudmu?"Namun sebelum ia melanjutkan, seorang pria dari kerumunan tiba-tiba melangk
Last Updated: 2026-06-17
Chapter: BAB 5#Nama yang Mulai TerdengarKalimat terakhir yang bayangan jacob ucapkan bahkan belum sempat kupahami sepenuhnya.Jangan percaya para Penguasa Waktu.Masalahnya, aku bahkan belum pernah bertemu satu pun dari mereka.Setelah berjalan hampir satu jam melewati jalanan retak dan padang tandus yang membentang sejauh mata memandang, sebuah desa mulai terlihat di kejauhan.Untuk pertama kalinya sejak tiba di Bonua Toru, aku melihat tempat yang benar-benar tampak hidup.Namun sebelum kami sempat memasuki gerbang desa, suara cambuk tiba-tiba menggema dari arah tengah pemukiman.Suara itu segera disusul jeritan tertahan seorang wanita.Aku dan Lira saling berpandangan sesaat sebelum mempercepat langkah menuju pusat desa.Di tengah lapangan berdiri sebuah dinding batu raksasa setinggi hampir sepuluh meter. Permukaannya dipenuhi simbol dan aksara aneh yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tepat di depan dinding itu, seorang wanita dirantai pada sebuah tiang besi besar. Kedua tangannya terikat di a
Last Updated: 2026-06-14
Chapter: BAB 4#Zona WaktuEkspresi ketakutan yang terpancar di wajah Lira saat mendengar nama Jacob masih terus menggangguku, bahkan setelah kami meninggalkan jalan utama dan menuju sebuah bukit kecil di tepi desa. Sikapnya yang biasanya tenang sekarang menjadi ketakutan justru membuatku semakin yakin bahwa nama itu menyimpan sesuatu yang penting.Menjelang sore, kami berhenti di sebuah area berbatu yang cukup jauh dari permukiman."Apa kita tidak masuk desa?" tanyaku.Lira menggeleng pelan."Kau terlalu lemah."Aku mendecakkan lidah sambil menahan keinginan untuk membalas. Namun setelah mengingat bagaimana monster kemarin hampir menginjak kepalaku hingga mati, rasanya aku memang tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk membantah perkataannya."Itu bukan hinaan," lanjutnya tenang sambil duduk di atas sebuah batu besar. "Itu fakta."Tatapannya kemudian beralih ke arah saku celanaku."Batu inti hitam."Aku langsung memahami maksudnya. Batu inti monster yang kuambil setelah pertarungan kemarin mem
Last Updated: 2026-06-14
Chapter: BAB 3#Jejak Pemilik SebelumnyaDadaku terasa berat.Aku baru tiba di dunia ini, tetapi rasanya seperti seluruh Bonua Toru sudah mengetahui keberadaanku. aku hanya berdiri diam menatap retakan langit yang membentang di atas kepala. Retakan itu terlihat semakin besar dibanding saat pertama kali aku terbangun. Kadang aku merasa ada sesuatu yang mengintip dari balik sana, sesuatu yang terlalu besar untuk dipahami oleh akal manusia.Sulit dipercaya bahwa beberapa jam lalu aku masih berada di ranjang rumah sakit, menunggu ajal datang sambil mendengarkan tangisan anak bungsuku.Sekarang aku berada di dunia asing, memiliki tubuh pemuda yang bukan milikku, dan menjadi target para Penguasa Waktu yang bahkan belum pernah kulihat wajahnya.Aku mengusap wajah sambil menghela napas panjang."Apa semua pemilik Batu Waktu berakhir seperti ini?"Lira yang berjalan beberapa langkah di depanku tidak langsung menjawab. Entah kenapa, melihat punggungnya membuatku merasa tenang sekaligus waspada.Dia memang t
Last Updated: 2026-06-14
Chapter: BAB 2#MASA DEPAN YANG TERPOTONGRetakan di langit terus melebar setelah suara misterius itu menghilang. Aku masih berdiri di tempat sambil menatap gadis kecil di depanku. Ucapannya terus terngiang di kepalaku."Kau adalah Pengendali Waktu berikutnya.""Dan kau akan mati seperti semua Pengendali Waktu sebelumnya."Aku bahkan belum memahami apa yang terjadi pada diriku. Beberapa saat yang lalu aku masih terbaring di ranjang rumah sakit. Sekarang aku berada di dunia asing yang dipenuhi kekuatan aneh dan orang-orang yang ingin membunuhku.Belum sempat aku memikirkan semuanya lebih jauh, tanah di bawah kakiku kembali bergetar.Kali ini jauh lebih kuat.Aku dan gadis kecil itu sama-sama mendongak ke langit.Retakan yang membentang di atas kepala kami perlahan melebar, lalu sebuah bayangan raksasa jatuh dari dalam kegelapan.BOOOOM!Tanah pecah.Debu beterbangan ke segala arah.Aku refleks menarik gadis kecil itu menjauh sebelum gelombang kejut menghantam kami.Saat debu mulai menghilang, sosok m
Last Updated: 2026-06-14
Chapter: BAB 8#Undangan ke Kantor PusatSejak inspeksi sehari sebelumnya, suasana Hotel Grand Wijaya terasa berbeda bagi Arga. Ke mana pun ia melangkah, selalu ada tatapan yang diam-diam mengikutinya. Sebagian penuh rasa penasaran, sebagian lagi dipenuhi iri hati, Penyebabnya hanya satu.Rosela van deu Wijaya.Tak seorang pun menyangka wanita yang dijuluki *Ice Queen* itu menghentikan langkahnya hanya untuk berbicara dengan seorang petugas kebersihan. Bahkan lebih mengejutkan lagi, ia sempat memuji hasil kerja Arga di depan para manajer.Hal itu menjadi bahan pembicaraan seluruh karyawan sejak pagi."Aku dengar Bu Rosela sampai nanya nama Arga.""Serius?""Iya. Seumur-umur aku kerja di sini, baru kali ini beliau ngobrol sama cleaning service.""Jangan-jangan Arga masih keluarga pemilik hotel.""Kalau keluarga pemilik, ngapain jadi tukang pel?"Bisik-bisik itu terus terdengar setiap kali Arga melintas di koridor. Namun ia memilih mengabaikannya. Ia sendiri masih belum memahami alasan Rosela memperha
Last Updated: 2026-07-01
Chapter: BAB 7#Tatapan Sang Pemilik Hotel Kalimat-kalimat yang muncul dengan sendirinya di dalam buku harian tua itu terus menghantui pikiran Arga sepanjang malam. Meskipun ia sudah menutup buku tersebut dan menyimpannya kembali ke dalam kotak kayu, tulisan itu seolah masih terukir jelas di dalam benaknya. "Semakin banyak keuntungan yang kau ambil." "Semakin sedikit empati yang akan tersisa." Namun, saat mengingat bagaimana ia mengabaikan Pak Roni yang kesulitan mengangkat galon pagi tadi, Arga tak mampu lagi menyangkal bahwa sesuatu memang telah berubah di dalam dirinya. Dulu, tanpa diminta pun ia pasti akan berhenti membantu. Kini, ia bahkan tidak merasa bersalah saat terus melangkah meninggalkan pria tua itu. Yang lebih mengganggunya, perubahan tersebut terasa begitu alami. Seolah memang begitulah seharusnya. Keesokan paginya, suasana Hotel Grand Wijaya tampak jauh lebih sibuk dibanding hari-hari sebelumnya. Sejak matahari belum sepenuhnya meninggi, seluruh karyawan sudah bekerja tanpa
Last Updated: 2026-06-30
Chapter: BAB 6#Harga Sebuah Kemanusiaan Bayangan di jendela itu tersenyum tipis, membuat udara di dalam kamar kos Arga mendadak terasa lebih dingin. Jantungnya berdegup keras ketika menyadari bahwa sosok tersebut masih berdiri di sana, tepat di balik pantulan kaca yang gelap. Seluruh lampu masih padam sejak beberapa menit lalu, hanya menyisakan cahaya remang dari luar yang menerobos masuk melalui celah tirai dan membentuk bayangan samar di dinding kamar. Ketika ia kembali mengalihkan pandangan ke arah jendela, bayangan itu masih ada dan tetap menatapnya dengan senyum yang membuat bulu kuduknya berdiri. "Apa maumu?" tanyanya dengan suara yang nyaris berbisik. Sosok itu tidak langsung menjawab. Setelah beberapa detik yang terasa sangat panjang, bayangan tersebut akhirnya membuka mulut. "Aku adalah dirimu." Tubuh Arga langsung menegang. "Apa?" "Aku adalah dirimu." Jawaban yang sama diulang tanpa perubahan sedikit pun, seolah kalimat itu adalah satu-satunya hal yang ingin disampaikan. "Kau boh
Last Updated: 2026-06-20
Chapter: BAB 5#Harga AromaJantung Arga berdetak semakin cepat.Nadia masih berdiri sangat dekat di depannya. Jarak mereka begitu dekat hingga Arga dapat melihat jelas kegelisahan yang selama ini tersembunyi di balik wajah dingin wanita itu."Parfum itu..." bisik Nadia pelan. "Kenapa aku merasa pernah menciumnya sebelumnya?"Arga tidak tahu harus menjawab apa.Sementara itu, suara misterius yang selama ini hanya muncul di dalam kepalanya kembali terdengar."Dia mengenal aroma itu."Tubuh Arga langsung menegang.Siapa yang dimaksud?Dan bagaimana mungkin Nadia mengenali aroma yang berasal dari botol misterius tersebut?Sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, suara ketukan terdengar dari luar gudang."Bu Nadia? Anda di dalam?"Keduanya langsung tersentak.Ekspresi Nadia berubah seketika. Seolah baru tersadar dari sesuatu yang membuatnya kehilangan kendali.Wanita itu segera menjauh beberapa langkah dari Arga. Wajahnya kembali dingin dan profesional seperti biasanya."Saya sedang memeriksa inventaris."
Last Updated: 2026-06-13
Chapter: BAB 4#Perhatian yang Berbahaya" parfum apa yang Anda pakai hari ini..."Jantung Arga langsung berdegup lebih cepat."...itu parfum apa?"Untuk beberapa saat, Arga hanya bisa berdiri mematung di depan pintu ruangan Nadia. Otaknya bekerja keras mencari jawaban yang terdengar masuk akal."Parfum murah, Bu," jawabnya akhirnya.Nadia menatapnya cukup lama.Tatapan itu membuat Arga semakin tidak nyaman."Murah?" ulang Nadia pelan."Iya, Bu."Nadia mengangguk kecil, meskipun wajahnya jelas menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya percaya."Aromanya unik."Arga hanya tersenyum canggung."Kalau tidak ada lagi, saya kembali bekerja dulu, Bu.""Silakan."Arga segera keluar dari ruangan itu sebelum pertanyaan lain muncul.Hari itu menjadi hari paling aneh selama dua tahun Arga bekerja di Hotel Grand Meridian.Biasanya keberadaannya nyaris tidak terlihat.Beberapa staf sering lupa namanya.Namun sekarang semuanya terasa berbeda.Saat melewati area resepsionis, salah satu pegawai wanita langsung tersenyum
Last Updated: 2026-06-13
Chapter: BAB 3#Aroma PertamaSesuatu yang dingin menyentuh bahu Arga dari belakang.Tubuhnya langsung menegang.Dengan jantung berdegup kencang, ia membalikkan badan secepat mungkin. Namun tidak ada siapa-siapa.Ruangan kontrakan itu tetap kosong seperti sebelumnya.Hanya ada meja kayu tua, ranjang sempit, dan kotak misterius yang masih terbuka di hadapannya. Arga berdiri beberapa saat sambil mengatur napas. Mungkin aku terlalu takut. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Lampu kamar yang tadi padam perlahan menyala kembali. Dua titik merah yang sempat muncul di sudut ruangan juga telah menghilang begitu saja. Namun kejadian malam ini sudah cukup membuat kepalanya terasa penuh. Ia kembali duduk di depan meja dan menatap isi kotak tersebut. Botol parfum hitam. Buku harian tua. Dan kunci perak kebiruan. Ketiga benda itu terlihat biasa. Tetapi semua yang terjadi sejak ia menemukannya sama sekali tidak biasa. Setelah membaca buku harian itu beberapa kali, Arga akhirnya mengembuskan napas
Last Updated: 2026-06-13