LOGINDi kehidupan pertama, Samuel hidup dalam penyesalan abadi. Kesibukannya mengejar balas dendam atas kematian sang ayah membuat ia mengabaikan ibu dan adiknya yang hancur karena tipu muslihat paman serakah. Ketika ia akhirnya sukses dan kembali, yang ia temukan hanyalah sang ibu yang membusuk di rumah sakit jiwa dan adiknya yang tewas tragis dalam kecelakaan. Takdir memberinya kesempatan kedua. Samuel terbangun kembali di bangku SMA, tepat di hari di mana kehancuran keluarganya bermula. Kali ini, tidak akan ada air mata penyesalan. Samuel bersumpah akan mencabut akar kebusukan pamannya, melindungi ibunya dari jurang depresi, dan menjaga perusahaan keluarganya dari bayang-bayang pembunuh sang ayah.
View MoreSamuel berdiri di depan makam adiknya dengan mata berkaca-kaca. Dia sadar bahwa adiknya tidak bisa kembali lagi ke dunia.
Kring! Kring! Kring! Ponsel Samuel tiba-tiba berdering, dengan segera Samuel mengangkat panggilan teleponnya. "Pak, ini saya detektif Arief. Saya berhasil menemukan Ibu anda, Pak." "Benarkah?! Di mana?!" tanya Samuel bersemangat. "Di..rumah sakit jiwa, Pak," jawab detektif Arief terbata-bata. "Bagaimana bisa...?" Suara telpon tiba-tiba terputus seiring tubuh Samuel tersungkur lemas ke tanah. Samuel menyesal. Samuel menangis, air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi. “Andaikan saja aku tidak mengabaikan Ibu dan Adikku saat itu. Tidak sibuk membalas dendam atas kematian Ayah. Mungkin mereka sekarang masih hidup,” batinnya menyesal. Samuel bergegas menuju rumah sakit jiwa tempat ibunya dirawat. Selama perjalanan, Samuel mengendarai mobil dengan raut wajah kosong dan hampa. Ia merasa putus asa dan lelah. BRAK! Samuel kehilangan fokus. Benturan keras dua kendaraan tak terelakkan. Samuel terpental keluar dari mobilnya. Tubuhnya jatuh terkulai di jalan dan darah mengucur deras dari kepalanya. "Ibu...,"ucapnya lirih sebelum Samuel tidak sadarkan diri. “Cepat! Telepon ambulans!” teriakan panik orang sekitar berusaha menolong. *** "Sam! Bangun, Sam!" Suara seseorang berhasil membangunkan Samuel. "Daniel? Ini di…mana?” Samuel langsung membulatkan matanya selebar mungkin saat sadar akan satu hal. Daniel yang membangunkannya dan sekarang dia di kelasnya. “Bukannya aku tadi kecelakaan? Apa itu semua mimpi?! Tapi, aku masih mengingat kejadian tadi dengan sangat jelas!” kaget Samuel bertanya-tanya di dalam hati. Melihat keanehan di sekitarnya, Samuel merasakan perasaan deja vu. Samuel tak sengaja melihat tanggal yang ditulis di buku notes Daniel. 7 September 2011. Samuel menatap tanggal tersebut dalam-dalam. Alih-alih mati, ia membuka mata dan mendapati dirinya duduk kembali di bangku kelas 3 SMA-tepat di hari di mana orang tuanya mulai bertengkar hebat soal sang paman. Samuel tidak akan melupakan tanggal tersebut karena berselang dua hari kemudian debt collector datang mencari pamannya ke rumah orang tuanya yang akhirnya mengetahui masalah yang ditimbulkan pamannya akhirnya bertengkar hebat. Samuel gelisah. Tiba-tiba ide cemerlang melintas di kepalanya. "Aduh, Pak! Perut saya sakit!" keluh Samuel sambil pura-pura memegang perutnya. “Ya sudah, sana ke UKS.” Setelah mendapat izin dari Pak Prapto guru matematikanya, Samuel bergegas menuju UKS sebelum berbalik lari ke pintu gerbang belakang sekolah menuju asrama. Samuel berlari sekuat tenaga sambil berusaha mengingat nomor kamar di asrama sekolahnya. Samuel merogoh sakunya, beruntung kunci kamarnya masih ada di saku celananya. Dengan tangan gemetar, ia bergegas membuka pintu kamar. Klik! Suara Pintu kamar berhasil dibuka. Samuel bernapas lega. Samuel melihat jam tangannya. Pukul 10.30. Seingatnya, pamannya berjanji kepada kedua orang tuanya untuk datang ke rumah saat pukul 11.00. “Masih ada waktu,” batin Samuel. Kali ini ia harus bertindak cepat. Samuel berencana menggagalkan rencana jahat pamannya dan meyakinkan ibunya tentang niat buruk pamannya. Ia berniat membeberkan beberapa bukti kejahatan pamannya yang diam-diam ia kumpulkan dan simpan. Kali ini ia akan memberikannya kepada kedua orang tuanya. Samuel lekas membuka laci mejanya, namun gagal karena terkunci rapat. Ia segera mengobrak-abrik seisi kamar, berusaha menemukan kunci mejanya. Namun, sudah lima menit berlalu dan masih belum ia temukan. Samuel kehabisan akal. Diburu waktu, ia berniat mencongkel paksa laci mejanya. Ketika ia sudah mengambil ancang-ancang, matanya tak sengaja tertuju pada cermin besar di pojok kamarnya. Ia segera menghampiri dan melihat ke belakang cermin. Di situ tergantung kunci yang dia cari-cari. “Bagaimana bisa aku melupakan hal ini?” tanya Samuel di dalam hati. Samuel segera membawa kunci tersebut dan berhasil membuka laci mejanya dan segera mengambil bukti-bukti itu dan menaruhnya didalam tas yang akan dibawanya pulang. Samuel menghembuskan napas panjang. Dirinya berusaha tenang dalam menghadapi yang akan terjadi. Samuel menatap cermin, melihat seragam SMA-nya yang melekat dan bersumpah dalam hati. "Kali ini, Paman keparat itu dan siapapun yang menghancurkan keluargaku akan kubuat sujud di kaki Ibu.""Halo?" "Tuan Muda? Ini saya Untung, mau mengabarkan kondisi Pak Prajogo. Saya harap Tuan Muda tetap tenang.” Suara tergesa-gesa itu berhasil membuat Samuel terbangun. "Di mana Ayah? Apa Ayah baik-baik saja?" tanya Samuel panik. "Tuan Besar mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang. Sekarang beliau dirawat di rumah sakit," jawab Pak Untung. Jantung Samuel seperti berhenti berdetak. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. "Apakah parah? Bagaimana kata dokter, apakah Ayah bisa diselamatkan?" cecar Samuel dengan suara gemetar. "Untunglah Tuan Besar selamat. Beliau duduk di kursi belakang sehingga mengalami luka ringan sedangkan bagian depan mobil ringsek parah," jawab Pak Untung cepat. Samuel menghembuskan napas lega. Ia segera menanyakan nama rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Setelah mendapat info nama rumah sakit tempat ayahnya dirawat, Samuel bergegas memakai jaket dan menelepon taksi. Selama perjalanan menuju rumah sakit, Samuel berusaha mencerna informasi yang ia
"Kira-kira masalah apa lagi sekarang?" gumam Samuel sambil memasuki rumah. Tidak berapa lama pertanyaan Samuel terjawab. Terlihat Bima bersama satu orang yang tidak dikenalnya duduk berhadapan dengan Susan yang sendirian. Kebetulan sekali, Prajogo sedang bertugas ke luar kota. "Untuk apa paman datang pagi-pagi sekali? Paman belum kapok dengan kejadian kemarin, ya?" ledek Samuel. "Diam kamu! Dasar bocah ingusan!" balas Bima sengit. "Bima! Jaga ucapanmu!" tegur Susan. "Dia adalah keponakanmu!" Wajah Bima memerah menahan amarah. Tiba-tiba dengan suara percaya diri, ia melanjutkan. "Mbak, aku datang untuk membahas masalah warisan Ayah." Bima mengenalkan pria di sampingnya. "Ini, Pak Baya, notaris yang diam-diam ditunjuk Ayah untuk menangani setelah beliau wafat." Susan mengernyit. "Bukannya pembagian warisan sudah dilakukan sebelum Ayah meninggal?"
"Ayah." Prajogo mengangkat kepala, lalu memandang ke arah Samuel yang baru masuk ke dalam ruang kerjanya. "Ada apa, Nak?" tanya Prajogo lembut. "Aku ingin belajar bisnis keluarga,” jawab Samuel, padahal itu hanya siasatnya saja. Kalimat itu membuat Prajogo tertawa. "Kamu serius?! Kamu ini masih SMA. Anak SMA fokus sekolah saja,” remeh Prajogo. "Aku bukan anak kecil lagi," protes Samuel. Di masa depan aku yang akan meneruskan perusahaan ini. Kuharap ayah mengizinkanku belajar dari sekarang,” jelas Samuel mencari celah. Prajogo menatap anaknya. Selama ini Samuel tidak pernah menunjukkan minat terhadap perusahaan. Kini, melihat kesungguhan Samuel, tentu saja Prajogo merasa senang. "Baiklah," kata Prajogo menyetujui. "Kalau Ayah tidak keberatan, bagaimana kalau dimulai dari sekarang?" tawar Samuel sambil merenggut dokumen dari tangan Prajogo. "Hahaha...Ayo, tanya saja ke ayah bila kamu tidak mengerti." *** Sejak malam itu, Prajogo mulai mengajak Samuel berdiskusi
Keesokan harinya sesampainya Samuel di sekolah, ia segera menuju ruang administrasi untuk membatalkan permohonan tinggal di asrama. Setelah kemarin mengungkapkan kebohongan pamannya, Samuel memikirkan berbagai kemungkinan buruk yang bakal terjadi. Untuk mempermudah kegiatannya, dia berencana untuk tinggal bersama kedua orang tuanya. Di kehidupan sebelumnya, ketika orang tuanya menghadapi kesulitan akibat ulah sang paman, ia tidak berada di sisi mereka. Sekarang, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Setelah semua urusan selesai, masih tersisa waktu lima belas menit sebelum bel berbunyi. Samuel melangkah menuju kelas dengan langkah santai. Saat melewati tikungan lorong, tak sengaja Samuel mendengar keributan disertai tawa ejekan. "Pantas kamu selalu sendirian. Berani-beraninya kamu ke sekolah dengan penampilan lusuh sepert












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.