Share

BAB 61

Author: Rosela2505
last update publish date: 2026-09-07 22:21:15

#MOMEN

Matahari belum sepenuhnya terbit ketika gerbang Benteng Waktu akhirnya terbuka lebar di hadapan kami. Tidak ada sorak-sorai maupun perayaan yang terdengar, meskipun selama ratusan tahun penduduk desa memimpikan momen ini. Kenyataannya, mereka semua justru berdiri dalam keheningan yang penuh haru, menatap lima sosok yang akan menjadi orang pertama meninggalkan tempat ini setelah sekian lama aku, Lira, Sera, Damar, dan Togar.

Angin dingin berembus lembut dari luar ger
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 72

    KEKUATAN ASAP Raja Herek menaiki panggung kayu itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Anehnya, keheningan yang mengiringi kemunculannya justru terasa jauh lebih menekan daripada teriakan atau ancaman apa pun. Seluruh lapangan seolah menahan napas ketika makhluk itu berdiri di tengah panggung dan membiarkan tatapannya menyapu kerumunan secara perlahan.Matanya bergerak dari satu wajah ke wajah lain, seakan sedang menilai setiap orang yang berdiri di hadapannya. Tidak ada yang berani membalas tatapan itu. Banyak penduduk justru menundukkan kepala lebih rendah saat pandangan Raja Herek melewati mereka, seolah melihat langsung ke arah penguasa desa itu merupakan sebuah kesalahan yang dapat mengundang malapetaka.Aku mengamati sosoknya dengan lebih saksama.Tubuhnya memang menyerupai kera raksasa, tetapi tidak ada lagi kesan hewan liar dalam gerak-geriknya. Cara ia berdiri menunjukkan kesadaran penuh akan kekuasaan yang dimilikinya. Ada kesombongan d

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 71

    RAJA DI ATAS KETAKUTANKeesokan paginya, Desa Tarutung terbangun dalam suasana yang jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Tidak terdengar tawa anak-anak yang biasanya berlarian di sepanjang jalan tanah desa, dan para pedagang yang setiap pagi bersahut-sahutan menawarkan dagangan pun memilih diam. Bahkan udara terasa lebih berat, seolah seluruh desa sedang memikul ketakutan yang sama.Aku, Sera, dan Lira berjalan menuju lapangan utama mengikuti arus penduduk yang bergerak ke arah yang sama. Sepanjang perjalanan hampir tidak ada percakapan yang terdengar. Orang-orang hanya melangkah dengan kepala tertunduk dan wajah muram. Beberapa ibu menggenggam tangan anak perempuan mereka begitu erat hingga buku-buku jari mereka memutih, seakan mereka takut kehilangan putri mereka jika melepaskan genggaman itu walau hanya sesaat.Pemandangan tersebut membuat dadaku terasa sesak.Saat kami tiba di lapangan, hampir seluruh penduduk desa telah berkumpul di sana.

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 70

    BAYANGAN DIBALIK KABUTMalam di Desa Tarutung terasa jauh lebih sunyi dibandingkan biasanya. Dari jendela kamar penginapan, aku dapat melihat deretan rumah yang telah menutup pintu dan jendelanya rapat-rapat, sementara cahaya lampu minyak yang redup memantulkan bayangan panjang di sepanjang jalan desa. Semuanya tampak tenang di permukaan, tetapi setelah mendengar begitu banyak cerita tentang Raja Herek, aku tidak bisa lagi melihat desa ini sebagai tempat yang damai.Pikiranku terus memutar berbagai kemungkinan yang membuatku sulit beristirahat. Semakin lama aku memikirkannya, semakin kuat perasaan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Raja Herek telah menguasai desa ini selama bertahun-tahun. Dia bukan orang bodoh yang bisa dijebak dengan cara sederhana, apalagi seseorang yang mampu bertahan selama itu sambil mengendalikan begitu banyak orang melalui rasa takut.Bagaimana jika dia sudah mengetahui keberadaan kami sejak hari pertama kami tiba di Tarutung?Bagaimana jika dia sudah mendeng

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 69

    UMPAN UNTUK RAJA HEREKUntuk pertama kalinya sejak mendengar tentang kekejaman Raja Herek, aku mulai menyadari bahwa kemarahan saja tidak akan cukup untuk mengalahkannya. Yang jauh lebih penting saat ini adalah memikirkan strategi yang tepat serta cara yang cerdas untuk mengalahkannya tanpa harus menghadapi ketiga kekuatan itu secara langsung.Malam mulai turun ketika diskusi kami akhirnya mengarah pada satu kesimpulan: kami membutuhkan seseorang yang bisa memancing Raja Herek keluar dari istananya, seseorang yang cukup menarik perhatian hingga membuatnya mengambil tindakan sendiri. Sayangnya, pilihan yang paling masuk akal hanya ada satu.Aku langsung menggeleng tegas dan menolak ide itu sepenuhnya.Namun, Damar tetap tenang. Ia menyampaikan bahwa ini adalah pilihan terbaik yang kami miliki, meskipun aku tetap bersikeras menolaknya. Sementara itu, Lira yang sejak tadi hanya mendengarkan justru terlihat jauh lebih tenang dibandingkan diriku d

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 68

    Kemarahan SeraSeluruh tubuh pohon terangkat dari tanah bersama akar-akar besarnya yang sempat kulihat tercabut dari dalam bumi. Pohon itu melayang sejenak di udara, lalu terpental jauh seolah dilempar oleh tangan raksasa, melewati pagar penginapan, melewati beberapa rumah kosong di kejauhan, dan baru jatuh ratusan meter kemudian dengan suara dentuman yang menggema ke seluruh penjuru desa.Sekawanan burung langsung beterbangan panik dari pepohonan di sekitar, sementara debu membumbung tinggi ke udara, menandakan tempat di mana pohon itu akhirnya jatuh.Untuk beberapa saat, tidak ada seorang pun yang berbicara.Damar berkedip.“Aku rasa aku baru saja melihat sesuatu yang seharusnya tidak mungkin terjadi.”“Aku juga,” sahut Lira.“Aku bahkan tidak yakin itu masih bisa disebut meninju.”“Lalu?” tanyaku.“Menurutku itu lebih mirip bencana alam.”Aku dan Lira hanya saling berpandangan sambil berkedi

  • REINKARNASI PENGENDALI WAKTU TERAKHIR   BAB 67

    MENGAHAJAR RAJA HEREKKami meninggalkan keramaian pasar beberapa saat kemudian, meskipun suasana hatiku yang berat seakan tertinggal di sana. Bayangan gadis kecil itu dan wajah ayahnya terus terlintas di pikiranku tanpa henti wajah seseorang yang sudah mengetahui masa depan buruk yang menunggu anaknya, namun sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk mengubahnya.Aku pernah melihat ekspresi seperti itu sebelumnya di Benteng Waktu, pada orang-orang yang terkurung di balik gerbang selama ratusan tahun hingga mereka perlahan kehilangan harapan. Aku membencinya karena tidak seorang pun di dunia ini seharusnya dipaksa hidup dalam ketakutan seperti itu.Kami berjalan menyusuri jalan utama desa, melewati rumah-rumah yang sebagian besar tampak tertutup rapat. Di salah satu halaman rumah, aku melihat seorang ibu memeluk anak perempuannya begitu erat, seakan takut seseorang akan datang dan merebutnya kapan saja. Pemandangan itu membuat dadaku terasa semakin sesak dan berat.Sera memanggil namaku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status