INICIAR SESIÓNAlan Brooks tiene el corazón blindado y las palabras medidas. Tras una decepción que lo dejó frío, firme y desconfiado, ha decidido que su lealtad es un recurso demasiado caro para volver a entregarlo. No busca romance; solo mantener el control absoluto de su entorno y de sus instintos. Pero entonces aparece Adriana Summers. Ella es una ráfaga de cabello rojo, adicta al café y dueña de una sonrisa vibrante que esconde profundos deseos y fantasías al igual que inseguridades. Y lo que la hace aún más peligrosa: es la amiga íntima de la mujer que le rompió el corazón a Alan. Lo que comienza como un simple favor se transforma en una combustión silenciosa. Encerrados en el espacio íntimo de un auto, el aroma dulce de Adriana y el peso de lo incorrecto asfixian cualquier intento de razón. Cada mirada inquisitiva de Alan la desnuda; cada roce accidental enciende una chispa que ambos intentan, inútilmente, ignorar. Es una espiral de pura provocación. Alan sabe que ceder ante ella desafía toda lógica, pero el morbo de saborear a la pelirroja prohibida es más fuerte que sus propias reglas. Entre culpas, silencios eléctricos y una química brutal, ambos descubrirán que rendirse al instinto es el único escape, y que caer en la tentación nunca se sintió tan malditamente bien.
Ver más“Dad, aku tidak mau dijodohkan! Usiaku masih 19 tahun, Dad!” Vintari berseru dengan cukup tinggi, menolak di kala ayahnya ingin menjodohkannya dengan anak dari teman baik ayahnya itu.
Robby menatap dingin Vintari. “Vintari, perjodohan ini sudah aku atur. Kau tidak bisa menolak. Lagi pula kenapa dengan usiamu masih 19 tahun? Menikah muda itu bagus. Saat anakmu nanti sudah besar, kau masih muda.”
Vintari melebarkan mulut dan matanya, menganga tak percaya akan apa yang dikatakan oleh ayahnya itu. “Come on, Dad. Jangan bercanda. Aku masih ingin menikmati hidupku. Aku belum mau menikah.”
Robby mendekat pada Vintari. “Vintari, keluarga Ducan banyak membantu kita. Daddy bisa menjadi ahli bedah senior dan mendapatkan gaji besar, karena tak luput dari kedekatan Daddy pada keluarga Ducan.”
Vintari menatap tak percaya ayahnya itu. Gadis cantik berusia 19 tahun itu rasanya hampir kehilangan kewarasannya. Vintari bahkan masih duduk di bangku kuliah. Tak pernah terbesit sedikit pun Vintari akan menikah muda.
“Dad, jadi maksudmu, kau menjualku sebagai bayaran atas bantuan Keluarga Ducan?” seru Vintari dengan nada kesal.
“Vintari, kau ini bicara apa. Kenapa berpikir seperti itu,” ujar Jenny—ibu Vintari—yang sejak tadi memang tak banyak bicara, karena membiarkan sang suami yang berbicara pada putrinya itu.
Robby menatap tajam Vintari. “Singkirkan pikiran konyolmu. Aku hanya memilihkan jodoh yang terbaik untukmu. Belum tentu di luar sana, kau mendapatkan pria yang baik, Vintari.”
Vintari mendengkus tak suka. “Aku tidak mau dijodohkan titik. Jangan paksa aku lagi. Kalau Daddy terus memaksa, Daddy saja yang menikah. Aku tidak mau menikah.”
“Vintari!” bentak Robby keras.
“Vintari, bicara yang sopan pada Daddy,” seru Jenny menatap tegas putrinya.
Vintari menatap kedua orang tuanya itu, menahan rasa kesal. “Aku tidak mau menikah muda. Jangan paksa aku!” Dia berlari pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
“Vintari Rivers berhenti! Kita belum selesai bicara!” teriak Robby dengan nada keras dan menggelegar, tetapi sayangnya tetap saja Vintari tak menghentikan langkahnya. Gadis itu malah berlari semakin cepat meninggalkan rumah.
Jenny memeluk lengan sang suami, menenangkan dari kemarahan. “Biarkan Vintari menenangkan dirinya. Dia butuh waktu untuk menerima semua ini.”
Robby mengembuskan napas kasar, dan memejamkan mata singkat, berusaha meredam kemarahan dalam diri.
***
Siang itu di kota Manhattan, Vintari melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Marah, kesal, kecewa telah melebur menjadi satu dalam diri gadis cantik itu, hingga membuatnya melajukan mobil di atas rata-rata.
“Shit! Menyebalkan sekali!” Vintari memukul stir mobilnya, dan kian menginjak pedal gas, guna kian melajukan mobil dengan kecepatan penuh. Rasa marah dalam diri Vintari membuat gadis itu lepas kendali dalam melajukan mobil.
Napas Vintari memburu. Sepasang iris mata ambernya berkilat tajam. Namun, tiba-tiba tatapan Vintari terkejut melihat mobil sport berhenti mendadak di hadapannya. Refleks, gadis itu menginjak pedal rem begitu kuat. Namun…
Brakkk
“Ah, sial!” Vintari mengumpat di kala mobilnya menabrak mobil sport yang ada di hadapannya. Makian dan umpatan lolos dalam hati gadis itu. Entah, karma apa yang didapatkannya sampai membuatnya hari ini begitu sial.
Terpaksa, Vintari turun dari mobil, saat dia melihat sosok pria pemilik mobil yang dia tabrak pun turun dari mobil. Tak mungkin dirinya melarikan diri. Jika sampai melarikan diri, maka sama saja dengan menambah masalah baru.
Saat Vintari turun dari mobil, tatapan gadis itu menatap sosok pria tampan memakai kaca mata baca hitam melangkah mendekat padanya. Raut wajah Vintari sedikit gugup berhadapan dengan pria dewasa. Meskipun dirinya bukan lagi anak-anak, tapi sifatnya kerap masih terbilang gadis remaja.
“Apa kau tidak bisa mengemudikan mobilmu dengan baik?!” seru pria itu dengan nada tinggi dan keras. Dia membuka kaca matanya, memperlihatkan iris mata cokelat gelap tajam, namun penuh kharisma.
Beberapa detik, Vintari terhenyak akan iris mata cokelat gelapnya yang penuh dengan kharisma itu. Akan tetapi, buru-buru, dia menepis pikiran konyol yang ada di dalam pikirannya.
“Tuan, yang salah adalah kau, bukan aku. Kenapa kau berhenti mendadak? Kalau saja kau tidak berhenti mendadak, aku tidak akan menambrakmu,” kata Vintari keras kepala, tak ingin disalahkan.
Pria itu menatap dingin Vintari. “Apa matamu itu sudah tidak lagi berfungsi? Aku tidak berhenti mendadak. Kau yang tidak memiliki aturan dalam mengemudi!”
Vintari berdecak pelan. Sebenarnya, dia ingin kembali menjawab tapi gadis itu menyadari bahwa dirinya pun salah karena telah melajukan mobil dengan tanpa aturan. Jika CCTV di area jalan dibuka, pasti dirinya bersalah.
“Oke fine, aku salah. I’m sorry. Aku akan mengganti kerugianmu. Kau bilang saja berapa uang yang kau butuhkan untuk memperbaiki mobilmu?” seru Vintari yang enggan untuk memperpanjang masalah.
Pria itu menatap Vintari dari ujung rambut ke ujung kaki. “Gadis kecil, lebih baik kau simpan keangkuhanmu. Belum tentu kau mampu mengganti kerugianku.”
Vintari kembali berdecak. “Aku ini bukan gadis kecil lagi. Usiaku sudah 19 tahun! Cepat beri tahu aku, berapa kerugian yang harus aku bayar!”
Pria itu tersenyum sinis. “Alright, kalau kau memaksa, silahkan cek harga mobilku. Apa kau yakin mampu mengganti rugi?”
Vintari melirik mobil pria yang dia tabrak. Gadis itu mengeluarkan ponselnya, guna memeriksa type mobil yang dia tabrak. Namun, seketika mata Vintari melebar melihat harga mobil dari mobil yang dia tabrak itu. Raut wajahnya memucat. Matanya memancarkan jelas kepanikan dan ketakutan.
“A-aku—” Lidah Vintari tiba-tiba saja kelu, tak mampu merangkai kata. Ucapan angkuhnya bagaikan es yang telah beku. Oh, shit! Vintari mengumpati nasib buruknya. Bukannya menenangkan pikiran, malah mendapatkan masalah baru.
Pria itu tersenyum meremehkan Vintari. “Lain kali tidak usah mengemudi, jika kau bodoh dalam mengemudi.” Lalu pria itu melangkah pergi meninggalkan Vintari.
“Hey! Berani sekali kau menghinaku bodoh!” Vintari kesal, dia langsung melepaskan heels-nya dan melempar ke punggung pria itu.
Langkah kaki pria itu terhenti saat heels Vintari berhasil mendarat di punggungnya. Dia mengambil heels Vintari, menatap gadis itu dengan tajam, lalu membuang jauh heels Vintari ke sungai yang kebetulan ada di sana. Tanpa merasa bersalah, pria itu masuk ke dalam mobilnya meninggalkan tempat itu.
Mata Vintari melebar. “Ya Tuhan, sepatuku! Akh pria sialan!” serunya dengan raut wajah kesal, dan mengumpati pria menyebalkan yang telah melempar sepatunya ke sungai.
El interior de la ambulancia olía a yodo, a plástico esterilizado y a su propia adrenalina rancia. Daisy se estremeció cuando el paramédico, un chico joven con ojeras marcadas, le aplicó un antiséptico frío sobre el labio partido y la mejilla hinchada. El escozor fue agudo, pero lo recibió casi con gratitud; era un dolor real, físico, anclándola al presente y alejándola de la pesadilla del búnker subterráneo.A través de las ventanas tintadas del vehículo, las luces rojas y azules de las patrullas policiales teñían la noche madrileña con destellos frenéticos. La "Mansión de Cristal", antes un monumento a la intocabilidad de Arturo Vargas, parecía ahora la escena de una zona de guerra. Agentes de la Unidad de Delincuencia Económica y Fiscal (UDEF) entraban y salían cargando cajas de documentos, discos duros empaquetado
La bofetada no fue un golpe limpio; fue el impacto descontrolado de un animal herido. La mano de Arturo cruzó el rostro de Daisy con la fuerza de un latigazo, enviándola al suelo junto con la silla de cuero, que volcó con un crujido sordo contra la alfombra persa.El dolor estalló en su mejilla, agudo y cegador, y el sabor metálico de la sangre llenó su boca al instante. Su labio inferior se había partido contra sus propios dientes. Por un segundo, el mundo giró violentamente, reducido a un zumbido agudo en sus oídos y al destello de la lámpara de caoba sobre ella.Pero no gritó. No lloró. Había anticipado la violencia física como el último recurso de un hombre al que le acababan de arrebatar el control del universo.Se apoyó sobre los codos, escupiendo una mezcla de saliva y sangre sobre la inmaculada alfombra. Cuando alzó la vista, la má
El amanecer posterior a la subasta llegó perezoso, bañado en la luz dorada y engañosa de la primavera madrileña. La mansión, usualmente impecable antes de que sonara el primer despertador, aún mostraba las cicatrices de la ostentación nocturna. El personal del servicio de catering desmontaba las carpas de cristal en silencio sepulcral, conscientes de que el patrón dormía, agotado tras su triunfo.Daisy no había dormido. Se había duchado largamente, fregando su piel hasta enrojecerla para borrar cualquier rastro físico de la celebración de Arturo, aunque sabía que la verdadera mancha, el acuerdo tácito de su sumisión, tardaría mucho más en desaparecer.Se vistió con un conjunto de lino crudo, sencillo, la antítesis de la esmeralda brillante de la noche anterior. Su reflejo en el espejo le devolvía la mirada de una mujer que h
La noche de la subasta benéfica, la finca de Arturo Vargas resplandecía como una constelación artificial caída sobre La Moraleja. Las inmensas carpas de cristal, iluminadas desde el interior con un cálido resplandor ámbar, albergaban a doscientas de las personas más poderosas del país. El murmullo de las conversaciones, el tintineo del cristal de Baccarat y la suave música de un cuarteto de cuerda flotaban en el aire primaveral.Daisy estaba frente al espejo de cuerpo entero de su suite. El vestido que Arturo había elegido para ella era una obra de arte de alta costura, un diseño de seda esmeralda que se adhería a sus curvas como una segunda piel, con un escote en la espalda que descendía peligrosamente bajo. Era una joya para ser exhibida, y el color verde no era casualidad: era el color del éxito financiero, el color de la envidia.En su muñeca derecha brillaba un












Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.
reseñasMás