ROJO VENENO: Placer Prohibido

ROJO VENENO: Placer Prohibido

last updateÚltima actualización : 2026-05-27
Por:  xRaconteurrCompletado
Idioma: Spanish
goodnovel18goodnovel
10
7 calificaciones. 7 reseñas
116Capítulos
2.0Kvistas
Leer
Agregar a biblioteca

Compartir:  

Reportar
Resumen
Catálogo
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP

Alan Brooks tiene el corazón blindado y las palabras medidas. Tras una decepción que lo dejó frío, firme y desconfiado, ha decidido que su lealtad es un recurso demasiado caro para volver a entregarlo. No busca romance; solo mantener el control absoluto de su entorno y de sus instintos. Pero entonces aparece Adriana Summers. Ella es una ráfaga de cabello rojo, adicta al café y dueña de una sonrisa vibrante que esconde profundos deseos y fantasías al igual que inseguridades. Y lo que la hace aún más peligrosa: es la amiga íntima de la mujer que le rompió el corazón a Alan. Lo que comienza como un simple favor se transforma en una combustión silenciosa. Encerrados en el espacio íntimo de un auto, el aroma dulce de Adriana y el peso de lo incorrecto asfixian cualquier intento de razón. Cada mirada inquisitiva de Alan la desnuda; cada roce accidental enciende una chispa que ambos intentan, inútilmente, ignorar. Es una espiral de pura provocación. Alan sabe que ceder ante ella desafía toda lógica, pero el morbo de saborear a la pelirroja prohibida es más fuerte que sus propias reglas. Entre culpas, silencios eléctricos y una química brutal, ambos descubrirán que rendirse al instinto es el único escape, y que caer en la tentación nunca se sintió tan malditamente bien.

Ver más

Capítulo 1

Capítulo 1 - El peso del oxígeno

“Dad, aku tidak mau dijodohkan! Usiaku masih 19 tahun, Dad!” Vintari berseru dengan cukup tinggi, menolak di kala ayahnya ingin menjodohkannya dengan anak dari teman baik ayahnya itu.

Robby menatap dingin Vintari. “Vintari, perjodohan ini sudah aku atur. Kau tidak bisa menolak. Lagi pula kenapa dengan usiamu masih 19 tahun? Menikah muda itu bagus. Saat anakmu nanti sudah besar, kau masih muda.”

Vintari melebarkan mulut dan matanya, menganga tak percaya akan apa yang dikatakan oleh ayahnya itu. “Come on, Dad. Jangan bercanda. Aku masih ingin menikmati hidupku. Aku belum mau menikah.”

Robby mendekat pada Vintari. “Vintari, keluarga Ducan banyak membantu kita. Daddy bisa menjadi ahli bedah senior dan mendapatkan gaji besar, karena tak luput dari kedekatan Daddy pada keluarga Ducan.”

Vintari menatap tak percaya ayahnya itu. Gadis cantik berusia 19 tahun itu rasanya hampir kehilangan kewarasannya. Vintari bahkan masih duduk di bangku kuliah. Tak pernah terbesit sedikit pun Vintari akan menikah muda.

“Dad, jadi maksudmu, kau menjualku sebagai bayaran atas bantuan Keluarga Ducan?” seru Vintari dengan nada kesal.

“Vintari, kau ini bicara apa. Kenapa berpikir seperti itu,” ujar Jenny—ibu Vintari—yang sejak tadi memang tak banyak bicara, karena membiarkan sang suami yang berbicara pada putrinya itu.

Robby menatap tajam Vintari. “Singkirkan pikiran konyolmu. Aku hanya memilihkan jodoh yang terbaik untukmu. Belum tentu di luar sana, kau mendapatkan pria yang baik, Vintari.”  

Vintari mendengkus tak suka. “Aku tidak mau dijodohkan titik. Jangan paksa aku lagi. Kalau Daddy terus memaksa, Daddy saja yang menikah. Aku tidak mau menikah.”

“Vintari!” bentak Robby keras.

“Vintari, bicara yang sopan pada Daddy,” seru Jenny menatap tegas putrinya.

Vintari menatap kedua orang tuanya itu, menahan rasa kesal. “Aku tidak mau menikah muda. Jangan paksa aku!” Dia berlari pergi meninggalkan kedua orang tuanya.

“Vintari Rivers berhenti! Kita belum selesai bicara!” teriak Robby dengan nada keras dan menggelegar, tetapi sayangnya tetap saja Vintari tak menghentikan langkahnya. Gadis itu malah berlari semakin cepat meninggalkan rumah.

Jenny memeluk lengan sang suami, menenangkan dari kemarahan. “Biarkan Vintari menenangkan dirinya. Dia butuh waktu untuk menerima semua ini.”  

Robby mengembuskan napas kasar, dan memejamkan mata singkat, berusaha meredam kemarahan dalam diri.

***

Siang itu di kota Manhattan, Vintari melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Marah, kesal, kecewa telah melebur menjadi satu dalam diri gadis cantik itu, hingga membuatnya melajukan mobil di atas rata-rata.

“Shit! Menyebalkan sekali!” Vintari memukul stir mobilnya, dan kian menginjak pedal gas, guna kian melajukan mobil dengan kecepatan penuh. Rasa marah dalam diri Vintari membuat gadis itu lepas kendali dalam melajukan mobil.  

Napas Vintari memburu. Sepasang iris mata ambernya berkilat tajam. Namun, tiba-tiba tatapan Vintari terkejut melihat mobil sport berhenti mendadak di hadapannya. Refleks, gadis itu menginjak pedal rem begitu kuat. Namun…

Brakkk

“Ah, sial!” Vintari mengumpat di kala mobilnya menabrak mobil sport yang ada di hadapannya. Makian dan umpatan lolos dalam hati gadis itu. Entah, karma apa yang didapatkannya sampai membuatnya hari ini begitu sial.

Terpaksa, Vintari turun dari mobil, saat dia melihat sosok pria pemilik mobil yang dia tabrak pun turun dari mobil. Tak mungkin dirinya melarikan diri. Jika sampai melarikan diri, maka sama saja dengan menambah masalah baru.  

Saat Vintari turun dari mobil, tatapan gadis itu menatap sosok pria tampan memakai kaca mata baca hitam melangkah mendekat padanya. Raut wajah Vintari sedikit gugup berhadapan dengan pria dewasa. Meskipun dirinya bukan lagi anak-anak, tapi sifatnya kerap masih terbilang gadis remaja.

“Apa kau tidak bisa mengemudikan mobilmu dengan baik?!” seru pria itu dengan nada tinggi dan keras. Dia membuka kaca matanya, memperlihatkan iris mata cokelat gelap tajam, namun penuh kharisma.

Beberapa detik, Vintari terhenyak akan iris mata cokelat gelapnya yang penuh dengan kharisma itu. Akan tetapi, buru-buru, dia menepis pikiran konyol yang ada di dalam pikirannya.

“Tuan, yang salah adalah kau, bukan aku. Kenapa kau berhenti mendadak? Kalau saja kau tidak berhenti mendadak, aku tidak akan menambrakmu,” kata Vintari keras kepala, tak ingin disalahkan.

Pria itu menatap dingin Vintari. “Apa matamu itu sudah tidak lagi berfungsi? Aku tidak berhenti mendadak. Kau yang tidak memiliki aturan dalam mengemudi!”

Vintari berdecak pelan. Sebenarnya, dia ingin kembali menjawab tapi gadis itu menyadari bahwa dirinya pun salah karena telah melajukan mobil dengan tanpa aturan. Jika CCTV di area jalan dibuka, pasti dirinya bersalah.

“Oke fine, aku salah. I’m sorry. Aku akan mengganti kerugianmu. Kau bilang saja berapa uang yang kau butuhkan untuk memperbaiki mobilmu?” seru Vintari yang enggan untuk memperpanjang masalah.  

Pria itu menatap Vintari dari ujung rambut ke ujung kaki. “Gadis kecil, lebih baik kau simpan keangkuhanmu. Belum tentu kau mampu mengganti kerugianku.”

Vintari kembali berdecak. “Aku ini bukan gadis kecil lagi. Usiaku sudah 19 tahun! Cepat beri tahu aku, berapa kerugian yang harus aku bayar!”

Pria itu tersenyum sinis. “Alright, kalau kau memaksa, silahkan cek harga mobilku. Apa kau yakin mampu mengganti rugi?”

Vintari melirik mobil pria yang dia tabrak. Gadis itu mengeluarkan ponselnya, guna memeriksa type mobil yang dia tabrak. Namun, seketika mata Vintari melebar melihat harga mobil dari mobil yang dia tabrak itu. Raut wajahnya memucat. Matanya memancarkan jelas kepanikan dan ketakutan.

“A-aku—” Lidah Vintari tiba-tiba saja kelu, tak mampu merangkai kata. Ucapan angkuhnya bagaikan es yang telah beku. Oh, shit! Vintari mengumpati nasib buruknya. Bukannya menenangkan pikiran, malah mendapatkan masalah baru.

Pria itu tersenyum meremehkan Vintari. “Lain kali tidak usah mengemudi, jika kau bodoh dalam mengemudi.” Lalu pria itu melangkah pergi meninggalkan Vintari.

“Hey! Berani sekali kau menghinaku bodoh!” Vintari kesal, dia langsung melepaskan heels-nya dan melempar ke punggung pria itu.

Langkah kaki pria itu terhenti saat heels Vintari berhasil mendarat di punggungnya. Dia mengambil heels Vintari, menatap gadis itu dengan tajam, lalu membuang jauh heels Vintari ke sungai yang kebetulan ada di sana. Tanpa merasa bersalah, pria itu masuk ke dalam mobilnya meninggalkan tempat itu.

Mata Vintari melebar. “Ya Tuhan, sepatuku! Akh pria sialan!” serunya dengan raut wajah kesal, dan mengumpati pria menyebalkan yang telah melempar sepatunya ke sungai.

Expandir
Siguiente capítulo
Descargar

Último capítulo

Más capítulos

A los lectores

Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.


reseñasMás

Wendy Ortiz
Wendy Ortiz
Le tengo una envidia a esa Adriana… Ufff
2026-07-14 21:52:22
0
0
Nubia Galvis
Nubia Galvis
Súper súper recomendada!
2026-07-14 21:41:55
1
0
Jesús Andrés Galvis
Jesús Andrés Galvis
Y además… me metí en problemas por ello ...
2026-07-14 21:37:32
2
0
Jesús Andrés Galvis
Jesús Andrés Galvis
¿Les confieso algo? ¡Esta novela es inspirada en personajes reales!
2026-07-14 21:37:11
2
0
María Soledad Gómez Retamal
María Soledad Gómez Retamal
Muy buena novela y su final debería tan pasional como sus protagonistas que son fantásticos
2026-04-29 22:03:43
1
0
116 Capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status