Mag-log inKetegangan di dalam ruangan tak mempengaruhi keceriaan di ruang keluarga rumah besar itu.
Keluarga Chiang tampak semringah. Suara renyah Meyling yang tengah menggoda anak kucing, dan rayuan maut Ranto yang terus berusaha memancing obrolan gadis cantik yang kini tampak segar dengan blus oranye dipadu rok panjang warna senada yang tampak manis di tubuh mungilnya.
![]()
Di kediaman Tuan Hong, mobil Ranto dihentikan oleh penjaga. Namun setelah memperlihatkan tanda pengenal mereka, semua diperkenankan masuk dan duduk di aula yang lumayan luas dan bisa menampung ribuan orang.Ruangan ini dibangun Tua Hong untuk difungsikan sebagai sarana kumpul karyawan di moment-moment tertentu.“Jadi, Bapak ini, penjaga gedung ujung jalan sana, ya?” tanya Philip mengakrabkan diri.“Iya. Saya juga sering lihat Aden sepedaan saat SD, SMP, motoran pas SMA-nya,” kata lelaki baya dengan logat sundanya yang kental sambil tersenyum.“Wah bener. Bapak memang yang itu.”“Yang itu yang mana, Tuan Muda?” bisik Ranto menyenggol bahu Philip dengan bahunya.
“Namanya Pak Hendra.Beliau adalah seorang pengacara hebat yang akan membantumu mensterilkan lokasi. Saat ini sedang meluncur kesana jadi kalian bersiaplah.” Begitu instruksi Tuan Chiang pada dua pemuda yang terus mengangguk di depannya.“Maria juga akan ikut untuk menyerahkan berkas agar diurus Pak Hendra nanti,” katanya lagi sambil mengangkat wajah ke arah Dokter Maria.“Ya, Kak.”“Wa ikut kan, Ma?” Meyling kebingungan melihat orang-orang akan pergi.“Tidak boleh, Sayang. Banyak orang akan menarik perhatian dan bisa jadi akan sampai pada papamu kalau ada yang lapor.”“Non Lingling sama saya dan
Ketegangan di dalam ruangan tak mempengaruhi keceriaan di ruang keluarga rumah besar itu.Keluarga Chiang tampak semringah. Suara renyah Meyling yang tengah menggoda anak kucing, dan rayuan maut Ranto yang terus berusaha memancing obrolan gadis cantik yang kini tampak segar dengan blus oranye dipadu rok panjang warna senada yang tampak manis di tubuh mungilnya.“Udah sehat betul, Neng?” tanyanya basa-basi.“Alhamdulillah, A’a.” Singkat saja jawabnya.Karlina masih asyik dengan camilan kuaci di tangannya. Tak peduli apapun selama bisa mengunyah sesuatu adalah hal yang membuatnya betah duduk lama.Layar kotak 21 inch di tengah ruangan menampilkan dua so
Paman Tua duduk di kursi kebesarannya.Ruangan ini tak ubahnya ruangan kantor di gedung-gedung perkantoran. Rak buku yang menjulang, lemari berkas, dan perangkat canggih di meja . Ruangan itu juga terdapat sebuah sofa minimalis.Paman Tua sering menerima tamu di sana untuk membahas pekerjaan atau hal-hal penting lainnya.“Duduklah.” Perintah Paman tua sambil menunjuk sebuah kursi di depan mejanya.Aku duduk tak nyaman di hadapan beliau hanya terhalang meja kerja. Sangat dekat.“Kenapa masalah sebesar ini kau tak memberitahukan pada kami, Philip?” tanyanya dengan tatapan yang sulit diartikan.Aku meraba-raba maks
“Kenapa datang lagi ke sini, Dok? Bukannya ini jadwal praktek di rumah sakit?” tanya Dokter Irma heran.Dokter Wan melirik malas wanita bertubuh berisi yang duduk di kursi malas ruang istirahat. Klinik kecil ini memang didesain senyaman mungkin. Selain itu Klinik Kasih Bunda yang hampir dikhususkan untuk pasien ibu dan anak , juga salah satu tempat pendirinya melepas penat.“Sudah minggir sana aku mau istirahat di sini lagi malas praktek.”“Ya ampun. Untung Pak Direktur tahan punya dokter sepertimu,” kelakar Dokter Irma sambil bangkit dari kenyamanan kursi malas.“Aku akan ngadain pesta kalau ayah berkenan memecatku,” balas Dokter Wan sambil mengambil alih kursi yang baru ditinggalkan.Ketika mau membalas lagi, Dokter Irma melihat sahabatnya telah memejamkan mata. Selama mereka bersahabat. dokter spesialis obgyn itu sangat memahami karakter Dokter Wan sehingga persahabatan mereka awet dan solid meski masing-masing menikah dan memiliki keluarga. Hingga rahasia gagalnya pernikahan lelaki
Aku melesat ke rumah Mama Maria dengan motor kesayangan. Benar saja sampai depan pabrik sudah terdapat orang tak kukenal berjaga mengamankan tempat.“Sebentar Mas! Mau apa masuk ke sana?Area ini sedang disterilkan jadi orang asing tidak diizinkan masuk.”“Aku putra pemilik rumah di belakang area pabrik ini,” kataku.“Putra Bu Dokter?” tanyanya menelisik penampilan sederhana yang kini kutampilkan.Aku hanya mengangguk dan melangkah masuk dengan tenang menuju rumah belakang di mana wanita yang melahirkanku berada.Mama Maria sedang termenung di depan televisi yang menyala tapi dengan pandangan kosong.Entah apa yang sedang dipikirkannya.“Mama!”“Ah Putraku. Kau sudah datang, Nak?” tanya Mama dengan binar di matanya.Aku menatap penampilan Mama yang agak sembrono. Baju tidur masih melekat dengan aroma badan yang kurang sedap menguar menguasai penciuman.Mama sedikit kacau.“Mama jangan pikirkan apapun. Philip akan melakukan yang terbaik dibantu teman-teman. Kami akan mengurus semuany







