Anak Selingkuhan Suamiku

Anak Selingkuhan Suamiku

last updateLast Updated : 2026-07-28
By:  Mira RestiaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel12goodnovel
10
3 ratings. 3 reviews
27Chapters
22views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Selama 7 tahun Ririn membesarkan Denis dengan cinta seorang ibu. Sampai satu gambar anaknya membongkar semua: Denis punya dua ibu. Ternyata, Denis adalah anak selingkuhan suaminya, Dafa. Anak kandung Ririn sendiri? Dibuang dan dititipkan di panti asuhan dalam keadaan terluka. Saat Ririn berjuang merebut Azka dan menuntut keadilan, ia bertemu Rey. Kuasa hukum dingin yang ternyata sudah lama mengaguminya. Dendam mantan suami, hasutan mertua, dan luka masa lalu menguji ketegaran Ririn. Mampukah Ririn menjadi ibu bagi dua anak yang berbeda takdir, dan menemukan rumahnya kembali?

View More

Chapter 1

BAB 1 Dua Ibu

"Aku sebenarnya punya dua Ibu, tau!"

Langkahku terhenti. Kata-kata itu meremukkan hati secara tiba-tiba. Suara Denis—anak yang sudah tujuh tahun kupeluk, kutimang, kusuapi—terdengar ringan, seolah ia sedang membicarakan cuaca. Padahal kalimatnya merobek dadaku perlahan.

Halaman sekolah masih basah oleh gerimis yang baru reda. Aku berdiri mematung di balik tiang, seperti patung yang lupa cara bernapas.

Teman Denis menjawab polos, suaranya nyaring dan penuh keyakinan anak usia tujuh tahun, "Ada-ada aja kamu. Ibu itu hanya satu, mana mungkin bisa jadi dua?"

Denis tertawa kecil. Tawa yang dulu selalu membuat hatiku mengembang, kini terdengar asing. "Aku serius. Ibu yang di rumah itu tugasnya ngasuh aku dan marah-marah. Dan yang satunya khusus buat jalan-jalan ke luar kota sama Ayah. Tapi, ini rahasia kita berdua, ya!"

Darahku berdesir. Tangan yang sedari tadi menggenggam bekal Denis mengepal tanpa sadar. Kertas minyak pembungkus bekal itu berkerut, seperti hatiku yang mulai kusut.

"Denis, apa yang kamu bilang barusan?" Suaraku keluar setengah membentak, setengah tercekat. Aku tidak bermaksud meninggikan suara. Tapi kaget dan perih membuat nada itu melesat lebih dulu daripada akal.

Denis membalikkan badan ke arahku. Matanya membulat. Kedua tangannya spontan menutup mulut, seolah ingin menarik kembali kata-kata yang sudah terlanjur terbang. Wajahnya pucat, seperti anak yang baru sadar telah menjatuhkan vas bunga kesayangan ibunya. Sementara itu, temannya—bocah kurus dengan seragam kebesaran—langsung lari tunggang-langgang begitu melihat ekspresiku mulai mendekat. Langkah kakinya yang kecil menghantam aspal basah, meninggalkan percikan air dan tanda tanya yang lebih besar di kepalaku.

"Kamu tadi bilang apa? Coba ulangi!" pintaku, suaraku bergetar antara marah dan takut. Takut mendengar jawabannya, takut kalau dugaanku benar.

Denis hanya menggeleng. Kepalanya menggeleng pelan. Wajahnya dipalingkan. Ia menghindari mataku, sama seperti orang menghindari matahari saat silau.

"Denis! Kamu nggak pantas bilang kayak gitu sama Mamah. Coba jelaskan, kenapa kamu bisa bicara kayak gitu?" Aku berjongkok, berusaha setinggi matanya. Aku ingin suaraku lembut, tapi bibir ini kaku. Lidah ini kelu.

"Mamah galak. Denis nggak suka Mamah yang galak!" jawabnya akhirnya, lirih tapi menusuk. Setiap suku kata itu seperti jarum kecil yang ditusukkan ke dadaku satu per satu.

Denis berjalan mendahuluiku. Ngambek adalah senjatanya. Senjata yang selalu ia keluarkan setiap kali merasa terpojok, setiap kali ia tak ingin dimarahi. Sepertinya, aku terlalu memanjakannya selama ini. Hanya ditegur sedikit, ia sudah menyebutku galak. Dulu aku kira itu tanda ia dekat denganku. Sekarang aku bertanya-tanya, dekat atau hanya nyaman karena aku tak pernah benar-benar menuntut?

Aku dan Denis masuk ke dalam mobil kami. Mobil itu saksi bisu banyak percakapan kami. Dari "Mamah, besok aku mau bekal nugget" sampai "Mamah, bacain dongeng lagi". Kini, saksi bisu itu dipaksa mendengar keheningan yang berat. Sepanjang jalan, Denis hanya manyun. Bibirnya dimajukan, matanya menatap kosong ke jendela. Tetesan air hujan di kaca seolah menirukan suasana hatinya: jatuh, satu per satu, tanpa suara.

Meskipun penasaran menusuk-nusuk seperti duri, aku tidak mencercanya. Aku takut. Takut kalau pertanyaanku membuatnya semakin memberontak. Takut kalau tembok kecil yang baru saja ia bangun di antara kami menjadi semakin tinggi. Jadi aku diam, menelan ludah, dan membiarkan mesin mobil menggeram pelan mengisi ruang yang seharusnya berisi tawa kami.

Hingga akhirnya, aku pun memulai pembicaraan.

"Yang tadi kamu sebut 'ibu yang satunya lagi' itu siapa, Sayang?" tanyaku pelan. Aku berharap Denis akan menjawab kalau aku bertanya pelan, tanpa tekanan, tanpa amarah. Namun, ia terdiam. Wajahnya cemas. Alis kecilnya berkerut, bibirnya digigit dari dalam. Ada yang tidak beres. Anak sekecil ini sudah dibungkam oleh seseorang. Matanya yang dulu selalu jujur, kini menyimpan rahasia. Mungkinkah Mas Dafa yang membungkamnya? Pikiran itu menyelinap dalam hati. Matahari tinggi, tapi hatiku gelap. Masih harus menunggu malam hari untuk bertanya pada Mas Dafa. Menunggu, sementara prasangka tumbuh seperti gulma.

Waktu berjalan begitu lambat. Setiap detik terasa seperti satu jam. Dari siang sampai malam, hatiku tak tenang. Perasaanku kacau, berputar-putar seperti air di pusaran. Bahkan karena perasaanku yang kacau itu, Denis jadi tidak nyaman berada di sampingku. Dari tadi aku sinis padanya. Tatapanku tajam, suaraku dingin. Denis pun akhirnya memilih berdiam diri di kamar, memeluk mainan mobil-mobilannya seperti memeluk benteng terakhir.

Mas Dafa pulang jam 8 malam. Seperti biasa, ia tersenyum cerah, wajahnya ceria, tangan kanannya menjinjing kantong plastik berisi snack kesukaanku—cokelat dan keripik pedas. Ia menyimpannya di meja tepat di depanku, seolah dunia baik-baik saja. Seolah tidak ada retakan sekecil rambut di antara kami.

"Sayang! Tumben kamu nggak menyambutku. Di mana Denis?" tanyanya, suaranya hangat seperti selimut.

"Di kamar!" jawabku pendek. Satu kata itu keluar seperti batu.

Wajah Dafa mengerut. Kerutan halus di dahinya dalam sekejap. Mungkin ia sadar aku tidak seperti biasanya. Aku, Ririn yang setiap hari menyambutnya dengan pelukan dan cerita, kini duduk kaku seperti kayu. Energiku terkuras habis oleh prasangka yang menumpuk sejak siang hingga malam. Aku pun menghela napas panjang. Napas yang keluar bukan hanya udara, tapi juga lelah.

Dafa menghampiriku. Ia mengelus rambutku dengan jemari yang selalu bisa menenangkanku. Mengecup puncak kepalaku, lembut, seperti dulu saat aku demam. Aku sadar ia berusaha menenangkan hatiku yang bergemuruh. "Ada apa, Sayang? Cerita!"

"Apa ada yang kamu rahasiakan selama ini dariku?" Kalimat itu keluar sebelum aku sempat menahannya. Jujur, getir.

Dafa tampak berpikir sejenak. Dahinya berkerut, matanya menatap ke sudut ruangan, seperti mencari jawaban di antara bayangan lampu. Lalu ia berkata, tegas tapi tenang, "Nggak ada!"

Aku tersenyum sinis. Senyum yang bahkan aku sendiri benci. Senyum yang lahir dari luka.

"Aku mau rahasiakan apa dari kamu, Sayang? Kamu dan Denis adalah harta yang tidak ternilai harganya. Toh, selama ini kita baik-baik saja, kan?" katanya, masih dengan nada yang sama. Nada suami yang mencintaiku.

Iya, selama ini keluarga kami memang baik-baik saja. Rumah kami rapi, meja makan selalu penuh, tawa Denis menggema tiap sore. Andai saja aku tidak pernah memergoki Denis berkata tentang memiliki ibu yang lain, mungkin aku akan menjadi orang yang bodoh selamanya. Si bodoh yang tidak tahu bahwa di balik lukisan keluarga yang sempurna, ada goresan tinta yang belum kering.

"Kamu jangan overthinking. Yuk kita lihat Denis lagi apa? Nggak biasanya dia berdiam diri lama-lama di kamar." Dafa menggandeng tanganku, menarikku dari pusaran pikiranku sendiri.

"Seharian ini aku marah pada Denis. Denis jadi ngurung diri di kamar!" Aku mengikutinya, langkahku berat.

"Loh, kenapa?" tanyanya polos.

"Tadi di sekolah Denis bilang pada temannya, punya dua ibu. Apa maksudnya itu? Jangan-jangan kamu ada main di belakang?" Kalimat terakhir itu meluncur seperti anak panah. Aku tidak mengarahkannya, tapi ia tetap melesat.

Dafa terdiam tanpa ekspresi. Wajahnya datar, seperti danau saat tak ada angin. Tidak tahu karena bingung, atau dia memang pintar menyembunyikan rasa cemas. Aku sulit membaca ekspresinya saat itu. Selama tujuh tahun menikah, aku kira aku hafal setiap garis di wajahnya. Ternyata tidak. Ternyata ada ruang-ruang yang belum pernah kujamah.

"Cuma ucapan anak-anak. Mungkin dia lagi berimajinasi! Jangan terlalu dipikirkan sampai sejauh itu!" Dafa mengelus punggungku, tersenyum lembut. Senyum yang sama yang dulu membuatku jatuh cinta.

Aku mulai bimbang. Apakah aku yang terlalu berprasangka, hingga bayanganku sendiri menakutiku? Atau aku terjebak dalam permainannya yang tanpa celah? Dafa tampak sempurna. Tidak ada keringat dingin, tidak ada gelagat gugup, tidak ada rasa cemas dalam wajahnya. Andai saja aku punya alat pendeteksi kebohongan, mungkin aku tak segalau ini. Andai saja hati punya alarm, mungkin ia sudah meraung sejak siang.

Dafa menuntunku menuju kamar Denis. Kami berdua mengintip dari celah pintu. Denis sedang asyik menggambar dengan silky crayon yang baru saja kubelikan minggu lalu. Crayon warna-warni itu berserakan seperti pelangi yang jatuh ke lantai.

"Wah, Denis lagi menggambar apa? Bagus sekali," puji Dafa sambil mengelus punggung Denis. Sentuhannya penuh kebanggaan seorang ayah.

"Lihat Ayah! Bagus, nggak?" Denis menunjukkan gambarnya, antusias. Matanya berbinar. Untuk sesaat, ia melupakan pertengkaran tadi. Untuk sesaat, ia kembali menjadi anak tujuh tahun yang polos.

Aku ikut melihat tanpa berkata apa pun pada Denis. Tenggorokanku tercekat. Denis menggambar anak laki-laki—dirinya—yang sedang digenggam tangan ayah dan ibunya di sisi kanan dan kiri. Latarnya sebuah rumah dengan atap segitiga dan cerobong asap yang mengeluarkan gumpalan awan. Ada matahari tersenyum di pojok. Beberapa detail tidak jelas, goresan crayon masih berantakan, tapi nuansanya hangat dan ceria. Hangat seperti pelukan yang selama ini kupikir nyata.

"Lihat Ayah! Ini aku, Ibu, dan Ayah!" seru Denis bangga.

"Pintar sekali anak Ayah!" Dafa melirik ke arahku, lalu berkata padaku, "Lihatlah, Sayang! Anak kita sebaik ini. Masa kamu tega sampai marah seharian padanya." Kalimat itu seperti cermin. Menamparku dengan kebenaranku sendiri.

Aku mengambil kertas gambar itu dari tangan Dafa. Kertasnya masih hangat oleh genggaman Denis. Aku mengusap gambar itu pelan-pelan, seolah bisa menghapus sesuatu dengan sentuhan. Jadi, aku yang salah? Aku yang terlalu cepat menuduh? Aku amati gambar itu baik-baik. Penuh nuansa keceriaan. Warna kuning, biru, hijau berpadu seperti janji. Tapi kenapa... kenapa di sudut kanan atas, tepat di samping rumah, ada gambar nenek sihir? Topinya lancip, jubahnya hitam, tangannya memegang sapu. Goresannya lebih gelap, lebih menekan, seperti rahasia yang sengaja disembunyikan di balik keceriaan.

"Ini siapa? Yang pakai topi penyihir dan pegang sapu?" tanyaku pada Denis. Suaraku bergetar.

"Itu Mamah!" jawab Denis spontan. Polos. Tanpa filter.

Dia buru-buru menutup mulutnya saat sadar aku melot ke arahnya. Matanya melebar, seperti anak yang baru menyadari ia telah membuka pintu yang seharusnya terkunci. Sekilas, aku melihat Dafa juga panik. Kedipan matanya lebih cepat, napasnya tertahan sepersekian detik. Panik yang cepat ia sembunyikan di balik senyum.

"Kalau penyihir ini Mamah? Lalu yang di depan pegang tangan kamu siapa, dong?" tanyaku lagi, suaraku kini bergetar antara perih dan marah.

Denis terdiam. Ia memeluk Dafa erat, wajahnya disembunyikan di dada ayahnya. Seakan-akan meminta perlindungan dari ayahnya. Seakan-akan aku adalah badai yang harus ia hindari.

Aku tak sadar meremas gambar itu. Kertas crayon itu berkerut di tanganku, warna-warnanya meleber, wajah kami bertiga jadi buram. Lalu aku melemparkannya ke meja belajar Denis. Lemparan itu bukan amarah, tapi keputusasaan.

Denis pun menangis. Tangisnya pecah, keras, dan memilukan. Ia mempererat pelukan pada ayahnya, seolah hanya Dafa yang bisa melindunginya dari ibunya sendiri.

Dafa menatapku tajam. Tatapannya tidak marah, tapi kecewa. Kecewa yang lebih dalam dari amarah. "Pantas saja Denis tidak suka sama kamu. Begini kah cara kamu bertanya pada anak? Jangan salahkan imajinasi dia. Kamu harus introspeksi diri sebagai ibu. Kalau kamu baik, mana mungkin digambar seperti nenek sihir."

Kalimat itu menghantamku. Lebih keras daripada "dua ibu" yang diucapkan Denis tadi siang. Karena yang mengatakannya adalah orang yang kupercaya sepenuhnya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Syantik bingit
Syantik bingit
deg degan banget kenapa anak sendiri bisa manggil ibu pada orang lain. sakit hati banget bacanya.
2026-07-28 19:52:15
1
0
Baca Novel
Baca Novel
Gila keren bgt, gak sia-sia baca, baper parah suer ini rekomendasi banget buat kalian yg suka baca novel tanpa kokop tapi baper abizzzz. aku padamu thor
2026-07-28 19:47:48
2
0
Mira Restia
Mira Restia
Bismillah Makasih Good Novel, semoga Novel baru ini bisa masuk list pembaca.
2026-07-02 17:15:30
2
0
27 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status