LOGINKarlina menjadi saksi drama keluarga orang kaya. Dari seorang yang hanya pegawai kecil menjadi sejajar dengan mereka yang duduk diatas karena perjuangannya yang gigih.
View MoreNamaku Karlina. Seorang wanita berusia sembilan belas tahun yang hidup dengan penuh perjuangan tanpa fasilitas yang diberikan kedua orang tua yang miskin.
Tuan Hong adalah ayah pemuda tampan bernama Philip. Entah siapa nama panjangnya. Sang ayah adalah seorang pengusaha garment cukup sukses yang memiliki rumah produksi sendiri dalam pengelolaan seorang wanita muda berbakat bernama Rosi yang akrab dipanggil Cece. Di sanalah aku mengais rupiah demi bertahan hidup sendirian menjadi perantau kecil. Ibu Philip adalah Dokter Maria. Dokter umum yang bekerja di sebuah rumah sakit cukup besar di kotanya. Keseharian Dokter Maria hanya seputar kamar pribadi, ojeg online, dan rumah sakit. Hanya terkadang masuk dapur dan ruang makan jika ada Philip yang jarang sekali di rumah atau Meyling yang sekolah dan tinggal di asrama, pulang untuk berlibur. Rumah besar mereka selalu lengang sementara Philip memilih tinggal terpisah dari orang tuanya. Tak banyak yang tahu pemuda jangkung dengan rambut ikal hitam gondrong itu seorang yang berbakat. Jemarinya yang tampak lentik meski lelaki, memiliki kelenturan luar biasa saat menari bersama cutter kecil di atas media kayu maupun bambu. Karya-karyanya selalu menarik perhatian pembeli dengan hasil yang cukup besar untuk hidup dirinya sendiri tanpa perlu berhati-hati dalam menggunakan uang. Tidak sepertiku yang harus super hemat karena gaji kecil yang kuterima setiap akhir pekan dari Cece. Philip punya ayah yang kaya, tapi dia tak suka berurusan dengan Tuan Hong meski untuk uang sekalipun. Saat sangat merindukan ibu dan adiknya, Philip selalu memasuki rumah orang tuanya dengan menyelinap seperti pencuri melewati pintu kecil bagian samping yang biasa digunakan para karyawan Sang Ayah untuk keluar masuk mengurus barang produksi. Dia tinggal di luar sana. Tiap melintas aku melihat tatapannya begitu sinis ke arah kantor yang berada di bagian depan bangunan terpisah dari rumah utama. Di ruang itulah Tuan Hong menghabiskan waktu bersama Cece. *** Hari sudah sore ketika semua karyawan berkemas untuk meninggalkan pekerjaan dan melanjutkan sisa hari bersama keluarga. Kecuali aku tentu saja meskipun tak ketinggalan segera membereskan gunting, cater dan teman-temannya selepas menjiplak pola-pola di lembaran kertas karya Cece. Aku adalah asisten Cece, posisi yang kerap membuat teman-teman iri. Ketidak mampuan diri ini memegang segala mesin produksi membawa keberuntungan tersendiri. Namun jangan dikira aku sangat nyaman menjadi asisten karena jam kerja kemudian tidak lagi jelas. Teman-teman semua punya jam kerja dari jam tujuh pagi sampai jam empat sore. Sementara aku masih saja ada tugas-tugas lain setelah semuanya bebas melenggang keluar gedung pengap ini. Seperti sekarang. “Karlina, kamu ikut Tuang Hong ke Sukses Makmur sekarang soalnya ada yang tidak masuk kamu gantikan!” Begitu titah Cece. Sukses Makmur adalah toko yang menjual segala pernik fashion yang sebagian besar merupakan hasil produksi pabrik tempatku bekerja. Namaku Karlina Suryo. Anak dari keluarga miskin di desa kecil daerah Jawa Tengah. Aku hanya bisa mengecap pendidikan di bangku SMA karena terkendala biaya, kemudian merantau seorang diri ke Bandung. Dengan menumpang mobil pengangkut barang yang hendak setor ke pasar induk Caringin, aku sampai di kota Kembang. Jangan tanya kenapa bapak ibuku melepas anak gadisnya ini pergi seorang diri merantau begitu jauh dari keluarga. Anak banyak dalam kemiskinan tentu saja akan mengurangi beban ketika salah satu sudah bisa mandiri, syukur-syukur bisa meringankan beban dengan menjadi penyumbang nafkah keluarga. Selama tidak menyalahi norma, kedua orang tuaku sama sekali tak pernah keberatan kami mencari jalan mencari uang untuk sekedar jajan sejak kami masih sekolah. Kami terbiasa mandiri dan lepas pengawasan. Tapi alhamdulillah anak-anak bapak dan ibu tak ada yang berani macam-macam dalam artian nakal. “Pergilah cari kerja, kalau sampai sore tak dapat balik lagi ke sini ikut aku pulang lagi ke kampung.” Begitu pesan Kang Karman sopir truk yang kutumpangi. “Ya, Kang. Kalau aku ndak ada balik berarti dapat kerja ya, Kang …,” kataku yang hanya dibalas anggukan. Kang Karman sibuk menurunkan barang. Lelaki tiga puluh tahun itu adalah sepupuku anak dari kakaknya ibu. Keadaan menjadikannya lelaki tangguh. Demi anak dan istrinya lelaki penuh tanggung jawab itu merelakan sebagian waktu berjibaku di jalanan. Tak kenal waktu malam yang harusnya untuk istirahat bercengkrama dengan keluarga malah tengah mengukur jalan. Begitupun saat panas dan hujan tetap tak menyurutkan roda kendaraannya yang terus melaju menerabas aspal yang tak selalu mulus. Lelaki sederhana pekerja keras yang berhati lembut. Aku mendatangi beberapa pabrik lumayan besar seperti pabrik sepatu, juga beberapa toko yang sekiranya membutuhkan karyawan. Perkantoran jelas tidak akan menampung lulusan SMA kampung kecuali posisi OB atau OG. Aku tak berminat. Alhamdulillah akhirnya pabrik konveksi kecil milik Tuan Hong menerimaku. Wanita cantik bernama Rosi yang meyakinkan si bos yang semula tak yakin badan kecilku mampu bekerja keras di pabrik. “Biarlah, Koh. Rosi butuh dia buat asisten.” Rosi yang kemudian biasa kami panggil Cece adalah tangan kanan Tuan Hong yang mengelola pabrik ini. Keputusan penerimaan pegawai juga tergantung pada wanita cantic berbadan mungil yang kini tersenyum ke arahku. Kubalas dengan senyum selebar mungkin isyarat diri ini mengandalkannya. Dan benar akhirnya aku diterima. Resmilah aku mengakhiri predikat pengangguran berkat Cece Rosi. “Cepat masuk mobil, Kar!” Suara Cece membawaku ke dunia nyata dari lamunan. Tak ada yang bisa kulakukan selain mengangguk lemah lalu mengikuti langkah cepat wanita berkaus pendek grey dipadu celana pendek cream di atas lutut mengekspos kaki mulus yang terlihat lebih panjang dari ukuran tubuh mungilnya itu. Aku duduk diam-diam di kursi belakang menunggu innova metalik meluncur keluar tetapi entah apa yang ditunggu sang Tuan hingga masih diam di balik kemudi dengan kaca jendela terbuka. Tanpa sadar mata ini melirik tangan yang terjulur keluar. Cece meremas lembut sekilas kemudian kaca itu menutup keatas seiring roda yang melaju perlahan. Degg! Dadaku terasa nyeri tanpa sebab menyaksikan adegan sekilas itu. Apa rumor itu benar bahwa Tuang Hong mengkhianati Dokter Maria? Anganku melayang pada pertemuan pagi tadi dengan Dokter Maria di lorong ruang produksi. Wanita berambut keriting itu berjalan cepat melintasi ruangan di mana kami sedang berkumpul dan bergosip sebelum dimulainya jam kerja beberapa menit lagi. Rok span semata kaki dengan blazer batik dipadu kaos panjang di dalamnya dan lengan baju yang saling mendahului memang terlihat sangat tidak rapi apa lagi modis bagi penampilan seorang wanita. Berbanding terbalik dengan Cece Rosi yang selalu tampil seksi bercelana pendek meski tak terlihat vulgar di bagian atas tubuhnya. Cece Rossi memang bukan wanita gitar spanyol dengan dada membusung hingga pakaian minim yang dipakainya tak menimbulkan kesan seronok. Bahkan aku yang keseharian bersamanya tak menangkap kesan genit pada tingkah laku wanita yang kutaksir berusia dibawah tiga puluh tahun itu. Dibandingkan dengan Tuan Hong Dan Dokter Maria, Cece tampak seperti anak sulung untuk mereka. Konon Philip putra pertama keluarga Hong, lahir setelah lebih dari delapan tahun usia pernikahan. Mengingat Dokter Maria aku jadi …. “Hei! Lu orang tidak mau turun ha?” Aku terlonjak mendengar suara Tuan Hong. Lelaki tua yang masih tampak gagah itu menggelengkan kepala melihatku tergagap dari lamunan panjang tentang keluarganya. Mataku memicing saat tangan lebar kurus yang agak keriput itu melambai di depan wajahku. “Sebenarnya lu orang kesambet apa bagaimana? Bengong saja kerjanya. Cepat turun masuk toko biar bisa gantikan pegawai yang izin. Malam Minggu ramai ha, jangan sampai tidak buka!” perintahnya panjang lebar. Aku beranjak turun dari mobil dan melangkah gontai memasuki ruko berlantai dua yang penuh sesak dengan rak-rak tinggi juga baju berbagai model bergelantungan di sana-sini. “Hei! Kamu jalan sambil tidur apa gimana sih,” gerutu Mas Untung kepala toko Sukses Makmur milik Tuan Hong yang kutabrak bahunya sambil berjalan. “Lemes amat,” tanyanya lagi sambil memindai diriku dari atas ke bawah lalu ke atas lagi. “Apaan sih. Aku sebel aja selalu di suruh gantiin anak buahmu yang izin melulu itu. Mending dihitung lembur,” kataku sambil cemberut. “Udah jangan cemberut gitu nanti uang makan aku tambahin dari biaya operasional toko,” kata Mas Untung menerbitkan senyum lebarku. “Asyik!” Tak ada yang lebih baik dari mendapat tambahan uang makan. Gaji yang tak seberapa membuatku berjuang keras menahan diri untuk sekedar bakso semangkok ditambah kerupuk selebar piring untuk dicelupkan ke kuah saus yang kental dan pedas. Air liur ku langsung menetes. “Ih jorok!” teriak Mas Untung. Sisa waktu sampai jam sembilan malam nanti aku gunakan untuk membantu Mas Untung melayani pembeli yang semakin malam semakin ramai. Malam minggu membuat sepanjang jalan depan toko ramai muda-mudi berjalan-jalan. Baik untuk sekedar melihat-lihat, berburu kuliner khas Bandung, dan juga berbelanja termasuk ke toko yang kami jaga. Menjelang jam Sembilan pengunjung berangsur sepi. Banyak pemilik toko mulai menutup perniagaan mereka hari ini kecuali para penjaja kuliner yang tutup lebih malam. Aku dan Mas Untung pun mulai berbenah memasukkan segala sesuatu yang masih berada di luar dan menarik rolling door untuk menutupnya. Kemudian kami duduk sebentar mengistirahatkan badan sejenak sambil memakan sisa cemilan milik Mas Untung tentunya. “Lin, kamu tahu kelemahan Cece Rosi?” Aku menggeleng polos sambil menatapnya meminta penjelasan. “Sebenarnya aku sering ketemu Philip.” “Anak lelaki Tuan Hong?” “Ya. Dia menyuruhku memata-matai Cece dan ayahnya.” “Gimana caranya? Mas Untung tiap hari di toko dan cuma ke pabrik kalau ambil kunci. Eh ngomong-ngomong kenapa kunci toko juga Cece yang pegang ya bukan Bu Dokter? Bukannya Cece cuma orangnya Tuan Hong yang pegang pabrik?” Aku memicingkan mata menatap lelaki berusia dua puluh lima tahun di depanku. Lelaki hitam manis bertubuh sedikit pendek itu menoyor kepalaku hingga terayun ke samping. “Mas!” pekikku tak terima. “Kamu Lin, lemot banget jadi orang. Berbulan-bulan berdiri diantara mereka enam hari dalam seminggu kok tak menyadari sesuatu.” “Jadi maksudnya mereka ….” “Yess Karlina binti Suryapalo eh Suryo!” Aku mencebik melihat tingkah lelaki yang duduk di depanku itu. “Jadi mau nggak mematai mereka untukku eh untuk Philip? Ada uangnya lho.” Mataku berkedip penuh binar mendengar kata uang. Bersambung ….Aku sungguh tak sengaja menguping pembicaraan ibu dan anak itu. Hanya saja pembicaraan rahasia selalu menarik rasa penasaran yang besar di hatiku. Bukan segera pergi aku malah memelankan langkah semakin mendekat.“Dia karyawan Rossi, Mah. Pasti aman karena kami dekat. Percaya sama Rossi, ya.”Cece berusaha meyakinkan mamanya yang tampaknya masih meragukanku.“Sudah! Rosi harus pergi. Soalnya Akoh sudah menunggu,” tegas Cece, mengakhiri obrolan dengan sedikit tak sabar.Menyadari percakapan akan segera berakhir, aku segera melesat ke kamar sebelum ketahuan menguping pembicaraan orang.Benar saja. Tak berselang lama, pintu kamar diketuk dari luar.Tok! Tok!“Karlina, sudah selesai mandinya?”“Ya, Ce … sebentar!”Aku pura-pura memegang sisir sebelum membuka pintu.“Oh, lagi dandan? Kamu orang cantik banget, Kar. Pantas Si Untung suka sama kamu,” katanya sambil terkekeh.Aku hanya tersenyum menanggapinya.Suka-suka orang mau bilang apa.“Mama lagi kurang sehat, Kar … tapi kami tidak pakai
Teman-teman mulai berisik membuat rencana jalan bersama untuk menghabiskan sore sepulang kerja.Aku melirik benda hitam yang melingkar di pergelangan tangan. Kurang lima belas menit lagi mereka akan segera bubar dan tempat ini akan senyap seperti kuburan.Aku melirik ke ujung meja. Belum ada tanda-tanda Cece akan mengakhiri coretannya di atas kertas kraft yang masih terhampar.Aku menarik napas lelah.“Kenapa?” Cece mungkin mendengar helaan nafasku.“Sekarang malam Minggu, Ce … apa nggak bisa pulang lebih cepat?”“Lu orang ada janji ama Si Untung?”Uhuk! Uhuk!Aku tersedak ludah mendengar ucapannya.“Eh, Karlina! Lu orang tak apa-apa? Ini minum!”Cece menyodorkan air mineral dalam gelas yang sudah ditusuk sedotan.Baik, kan, Cece Rosi?Aku masih diam sambil membereskan sisa-sisa pekerjaan.Sementara itu, entah kenapa Cece masih berdiri di samping meja kecil tempatku menggunting hasil gambarnya sekaligus memilah dan menyatukannya sesuai jenis potongan. Setelah diberi nomor, potongan-po
Hari-hari berlalu begitu cepat.Kesibukan membuatku perlahan melupakan kejadian absurd ketika Ko Philip mengaku tinggal di Pasadena. Mana mungkin? Selama ini dia sangat jarang terlihat. Pasti rumahnya jauh entah dimana.Setiap Memey—panggilan sayang untuk Meyling—pulang berlibur, kami para karyawan pabrik yang jumlahnya hanya belasan orang ini seperti mendapat tontonan drama gratis.Rengekan gadis manja itu selalu terdengar karena ingin segera bertemu kakaknya.“Sabar, Sayang … Mama sudah telepon Koko. Sebentar lagi pasti Koko pulang,” bujuk Dokter Maria dengan lembut.Tak lama kemudian, suara motor ojek online berhenti di pintu samping. Sesosok tinggi dan ramping dengan jeans serta hoodie yang menutupi hampir seluruh tubuh menyelinap masuk dengan cepat. Penjaga keamanan sudah pasti mengenalnya sehingga dia bisa masuk tanpa kendala.Tak lama kemudian, pekikan gembira Meyling terdengar nyaring.“Koko!”Aku terus mengikuti pergerakan dua kakak beradik itu dengan ujung mata. Posisi di
“Kar, tolong lu orang kasih bahan contoh ini ke tukang potong kain.”“Ya, Ce,” jawabku singkat sambil meraih gulungan kecil kain yang telah dipotong-potong.Ketika ingin melangkah ke ruang potong aku melintasi lorong arah rumah utama keluarga Hong. Tanpa sadar tatapanku bertemu dengan mata hazel milik putra pertama keluarga Hong yang tengah memeluk erat gadis muda yang bergelayut manja pada lengannya yang kokoh. Konon dialah kesayangannya yang menjadi alasan selalu datang berkunjung.Mengingat apa yang terjadi diantara kami di Taman Pasadena kemarin membuat aku segera mengalihkan pandangan. Sempat seringaian sinis kutangkap dari ujung bibirnya yang tertarik ke atas menampilkan wajah yang menyebalkan. Untung ganteng.Astaghfirullah! Apa yang kupikirkan?“Ayo Ko, kita masuk ketemu Mama. Kita sarapan bersama, ya …,” katanya manja sambil menyeret langkah Sang kakak yang berkesan ogah-ogahan.Dia adalah Meyling putri Tuan Hong bersama Dokter Maria. Saudara kandung Ko Philip satu-satunya.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.