LOGIN"Selama aku masih hidup, dia lebih aman bersamaku," ujar Irani dengan tegas.
Aditya boleh menganggapnya tidak memiliki apa-apa karena memang itu yang ingin Irani tampakkan di depan Aditya.Irani pikir lebih baik Aditya tidak mengetahui bahwa dirinya bisa hidup berkecukupan dan memiliki ekonomi yang baik.Aditya yang merasa Irani sangat ngotot dan tidak mau mengalah merasa geram dengan perempuan itu."Mishka itu anakku—""YANG BILANG DIA ANAK KUCING SIAPA MAS?"Aditya heran mendengar kegilaan Irani yang tiba-tiba berkata seperti itu dengan nada tinggi hingga membuatnya emosi."Jaga batasanmu Ira! Itulah sebabnya aku ga mau Mishka tinggal sama kamu. Kamu itu cuma perempuan bad attitude, ga berakhlak dan miskin. Selama ayahnya masih kaya dan bisa memberikan segalanya buat Mishka dia harus tinggal sama aku."Mendengar hinaan dari Aditya tidak lantas membuat Irani menampakkan yang sesungguhnya bahwa dia bukanlah seperti yang Aditya kira. Miskin.Justru Irani membiarkan Aditya berpikir seburuk dan serendah-rendahnya tentang dirinya. Baginya yang terpenting dirinya bukan seperti yang Aditya pikir saat ini."Itulah sebabnya aku ga mau juga Mishka tinggal sama ayahnya yang hanya berpikir pendek bahwa uang dan kekayaan adalah segalanya. Memang benar semuanya butuh uang, tapi kasih sayang, cinta dan kesetiaan tidak akan bisa kamu beli dengan uang mas."Irani memanggil Mishka yang sejak tadi sedang asyik bermain sendiri. Gadis kecil itu pun datang padanya. "Kita tanya saja sama Mishka, dia ingin tinggal bersama siapa."Aditya langsung mendekati Mishka dan ingin menarik hatinya supaya mau tinggal bersamanya."Kenapa ayah sama ibu ga tinggal bareng lagi? Mishka sedih kalau harus memilih," curhatnya dengan sedih.Aditya memegang tangan Mishka dan menatapnya. "Ga usah sedih sayang, ayah ga bisa lagi tinggal sama ibu kamu karena kita udah ga cocok. Tapi kamu harus tinggal sama ayah ya!" suruh Aditya berharap bisa membuat Mishka luluh padanya.'Huh, ga cocok apanya Mas? Kalau aja kamu bukan ayah dari Mishka udah aku bilang sama Mishka kalau kita bercerai itu karena pengkhianatanmu. Dasar laki-laki manipulatif,' pikir Irani.Perempuan itu tidak ingin dirinya menyebutkan Aditya dengan buruk di depan Mishka karena bagaimanapun laki-laki itu tetaplah ayah Mishka."Kamu tinggal sama ayah ya. Apapun yang kamu mau pasti akan ayah turutin sayang. Kamu mau apa? Boneka baru? Baju baju? Tas atau buku baru?" tanya Aditya pada Mishka.Perempuan kecil itu hanya menggeleng, semua benda-benda yang Aditya sebutkan tidak menarik hatinya."Terus kamu mau apa sayang? Bilang aja biar ayah beliin buat kamu ya."Irani membiarkan Aditya membujuk Mishka. Lagipula tidak ada yang lebih paham tentang Mishka kecuali dirinya."Mishka mau tinggal sama ibu," ucap Mishka akhirnya memberikan keputusan.Irani tersenyum senang mendengar itu. Hanya Aditya yang merasa marah dan berpikir bahwa Irani yang telah memengaruhi Mishka untuk menolaknya."Kamu dengar sendiri kan mas?" tanya Irani "Kamu bisa bersama perempuan itu tapi Mishka akan tinggal sama aku," ujar Irani pelan tepat di samping telinga Aditya.Setelah Aditya mendengar sendiri bahwa Mishka memilih Irani. Perempuan itu lalu mengajak Mishka untuk pulang.Aditya meminta Mishka menunggu di mobil dan memaksa Irani untuk bicara dulu sebentar dengannya."Ada apa lagi sih mas? Kamu masih mau apa? Udah denger kan kalau Mishka maunya itu tinggal sama aku?" tanya Irani dengan nada tinggi pada Aditya."Kamu pasti udah mencuci otak Mishka buat benci aku. Iya kan?"Nada tinggi yang dibalas dengan nada tinggi juga oleh Aditya. Irani merasa waktunya hanya akan terbuang sia-sia jika terus melanjutkan perdebatannya dengan Aditya."Itu cuma pikiranmu sendiri mas. Kamu ngerasa kotor karena perselingkuhan dan pengkhianatan kamu itu makanya kamu bisa berpikir seburuk itu kalau aku yang mencuci otak Mishka buat benci kamu. Lagian ngapain aku menceritakan perilaku menjijikanmu itu sama Mishka mas? Dia masih anak kecil dan ga akan tahu kejahatan yang kamu lakukan," jelas Irani.Aditya ingin sekali menampar Irani namun ia melihat Mishka yang sedang menunggu dan memperhatikan dirinya dan Irani di mobil jadi laki-laki itu mengurunkan niatnya.Irani tidak terima atas tuduhan tidak baik yang Aditya lontarkan padanya. "Lagipula Mishka itu lebih dekat sama aku mas, wajar kalau dia milih tinggal sama aku. Harusnya kamu bawa kaca kamu yang besar itu dan lihat wajah dan perilakumu setelah mengenal perempuan itu. Kamu sudah ga peduli lagi sama Mishka. Kamu khianatin aku, kamu bermain bersama perempuan itu. Sekarang sudah, udah cukup semua itu mas."Aditya merasa kalah jika sampai hak asuh Mishka benar-benar jatuh di tangan Irani.Bagaimanapun Mishka harus tinggal bersamanya. Aditya lalu memikirkan cara supaya Mishka mau kembali ke rumahnya.Laki-laki itu menyuruh Tarina untuk mendekati Mishka dan membujuknya. Namun apa reaksi perempuan itu?"Apa mas? Aku?" tanya Tarina terkejut dan merasa tidak setuju."Iyalah, besok kamu tinggal sama aku kamu istri aku juga jadi kamu harusnya bisa bujuk Mishka," ujar Aditya.Tarina hanya menganga mendengar itu. Ia merasa tidak suka dengan cara Aditya menyuruhnya. "Tapi mas, kalau anaknya aja ga mau tinggal sama kamu ya udah lah buat apa kamu paksa?""Dia itu anakku Rin. Aku ingin dia tinggal di rumah aku dan memiliki kehidupan yang layak.""Iya itu bagus mas, tapi kalau dia ga bahagia tinggal sama kamu ya sama aja mas. Biar aja lah dia pilih tinggal sama Irani."Aditya menatap Tarina yang terkesan tidak mau mendukungnya. Dari cara wanita itu bicara, Aditya tahu Tarina tidak suka Mishka tinggal dengannya."Dengar kamu Rin! Kamu bisa terima aku jadi kamu juga harus bisa terima Mishka juga," tegas Aditya.Tarina memutar bola matanya kesal. "Bukannya aku ga mau nerima mas. Aku cuma kasian aja kalau dia kamu paksa ngelakuin hal yang ga dia suka. Dia masih kecil aku cuma kasian aja.""Makanya itu kamu bujuk dia kamu deketin dia supaya dia mau tinggal sama aku Rin."Nada bicara Aditya mendadak berubah menjadi lebih kasar saat berkata itu pada Tarina.Mau tidak mau Tarina harus menurut pada Aditya untuk membujuk Mishka dan berpura-pura baik pada anak kecil itu.Tarina pikir masalah untuk menyingkirkan Mishka setelah nanti berhasil tinggal di rumah Aditya adalah urusan belakangan.Daripada saat ini Aditya marah padanya dan tidak mempercayainya, Tarina terpaksa harus menurut padanya."Kapan kita bisa mulai ketemu sama dia mas? Apa sekarang dia tinggal dengan neneknya atau ...." Tarina tidak meneruskan bicaranya."Aku juga ga tahu dimana dia tinggal sekarang. Yang pasti besok kita temui Mishka saja di sekolahnya, kamu harus bisa mengambil hatinya dan buat dia mau tinggal sama aku!" suruh Aditya tidak mau tahu.'Anak kecil itu benar-benar masalah sekarang. Apa aku singkirkan saat ini saja supaya tidak menghalangi kehidupanku dengan Aditya?' pikirnya.Bersambung."Gimana dengan urusan kamu Aryan? Apa kamu sudah membereskan semuanya?" tanya Bu Naya pada putranya itu, Aryan.Laki laki itu hanya mengangguk dan tersenyum, bu Naya merasa lega akhirnya Aryan tidak lagi diberitakan buruk oleh orang orang tidak dikenal itu. Hanya Irani yang mengenal mereka, tapi karena Aryan sudah membuat wanita itu bekerja dengannya maka ia malah menjadi harus terseret juga kedalam berita murahan itu.Aryan sudah membereskan semuanya, ia sudah berhasil menjebloskan Aditya ke penjara atas tuntutan pencemaran nama baik. Aditya mungkin memang kaya karena laki laki itu juga memiliki pekerjaan dan gaji yang tinggi, tapi jika dibandingkan dengan Aryan, jelas Aryan pemenangnya."Dia tidak berpikir dulu sebelum bertindak, biarkan hari ini laki laki itu merasakan dinginnya penjara, lain kali kalau dia masih berani mencari gara gara denganku, tidak akan aku ampuni seperti saat ini," tutur Aryan dengan penuh percaya diri.Laki laki itu ternyata sudah berubah sejak kabar buruk y
Hari sudah malam, Irani masih berusaha mencari Mishka di rumah teman temannya dan bertanya satu satu namun tidak ada yang tahu bocah itu ada di mana sekarang.Perempuan itu sudah tidak berdaya lagi, ia datang ke rumah Zana dan sudah putus asa. Satu satunya orang yang Irani sayangi saat ini hanyalah Mishka. Tentu saja ia tidak akan bisa menerima semua ini."Ini minum dulu," ujar Zana sambil memberikan sebotol minuman pada Irani. Kali ini Zana menemani perempuan itu mencari Mishka, Zana mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia tidak tega melihat Irani dalam keadaan seperti ini."Tenang dulu, kita pasti bisa nemuin Mishka kok, sabar yah," ujarnya lagi melihat Irani sudah berkali-kali mengusap air matanya.Saat mereka sedang fokus mengemudi tiba tiba sebuah pesan masuk muncul di handphone milik Irani. Sebuah pesan yang menunjukkan nama Aryan di sana."Kamu sedang mencari Mishka anakmu kan? Kali ini karena keras kepalamu untuk tetap resign dari perusahaanku dan karena kamu juga su
"Mishka ga ada di sekolah?" tanya Irani tidak percaya. Pagi tadi dia sendiri yang mengantar anak itu ke sekolah, sekarang ga mungkin kalau dia ga ada, batin Irani dengan cemas.Perempuan itu berpikir pasti Aditya dan Tarina mulai membuat rencana licik untuk bisa mengusik hidupnya. Setelah apa yang mereka perbuat kemarin, sekarang pun masih belum puas lagi mengganggu hidupnya.Kali ini Irani tidak jadi bertemu dengan Aryan dan membahas masalah resign yang sudah ia bicarakan kemarin namun masih belum mendapatkan persetujuan juga darinya.Perempuan itu buru buru ke sekolah Mishka karena Aditya mengatakan hal yang tidak bisa ia terima."Ga mungkin Mishka ga ada, tadi pagi saya anter dia Bu, di sekolah ini, di depan gerbang sekolah. Coba ibu cek cctv deh saya yakin pasti ada," pinta Irani sudah sangat khawatir dengan anaknya. Mishka ga mungkin tiba tiba menghilang seperti ini apalagi di sekolahnya. Ga mungkin ada yang menculiknya di sekolah kan? tanya Irani pada dirinya sendiri dan sudah
Niat hati ingin menjatuhkan Irani karena Tarina merasa dirinya memiliki kesempatan untuk menuduh Irani tapi ternyata malah masih belum berhasil juga.Padahal Irani sudah tidak peduli lagi dengan Tarina dan mantan suaminya itu, ia sampai heran kenapa Tarina tidak pernah mau lepas untuk terus mengusik hidupnya dan mencari gara gara dengannya? Ternyata setelah mendapatkan Mas Aditya pun Tarina masih belum puas juga."Maaf Pak, hari ini saya mau mengajukan resign," jelas Irani pada Aryan, atasannya yang akhir akhir ini membuatnya pusing juga karena Irani ternyata malah harus melakukan double job atas perintah Aditya. Perempuan itu memberikan surat resign padanya setelah mempertimbangkan semuanya.Laki laki itu tentu saja tidak terima dan menolaknya. "Tidak bisa, pengajuan yang kamu inginkan saya tolak," jawab Aryan dengan mudahnya."Tapi pak, saya sudah tidak bisa bekerja lagi di sini, saya mau resign!" Sama seperti Aryan yang tidak terima, Irani juga sama. Aryan menatap Irani yang sudah
"Hai mba Ira, ternyata pinter juga ya kamu?" tanya Tarina tersenyum remeh pada Irani saat mereka bertemu di sebuah cafe.Irani sama sekali tidak tertarik melihat wajah perempuan yang sudah merebut suaminya. Terlihat kasar, tapi itu fakta. Pelakor, sangat memalukan. Tarina masih belum mendapatkan respon dari Irani. "Aku ga nyangka aja loh mba kalau perselingkuhan yang kamu tuduhkan ke Mas Aditya sama aku itu bisa kamu balas dengan perselingkuhan juga antara kamu sama laki laki itu?" tanya Tarina lagi.Irani tahu siapa yang Tarina maksud. Tentu saja Aditya. Pintar sekali perempuan itu berusaha memancing emosi. Tapi tenang, Irani harus bisa menghadapinya dengan manis."Jaga bicaramu Rin! ujar Irani dengan lembut dan tentu saja tetap tenang. "Apa kamu belum puas telah menghancurkan rumah tangga aku dan sekarang apa? Kamu masih mau cari gara gara juga setelah kamu sudah mendapatkan suamiku dan posisiku?"Irani sebenarnya tidak tertarik menanggapi wanita yang sudah menjadi Istri dari mant
"Aryaaan, Aryaaan, Aryan bangun dong ini udah siang. Mama mau nunjukin kamu hal penting. Ayo bangun dulu," suruh Bu Naya, mamanya Aryan.Pagi-pagi sekali bu Naya sudah terkejut melihat anaknya menjadi bahan pembicaraan orang-orang di media sosial."Apa sih Ma, hari ini Aryan libur Ma, bangun nanti juga gapapa," ujar laki-laki itu dengan malasnya."Ga, ga bisa. Kamu harus lihat ini dulu. Ini maksudnya apa? Coba kamu jelasin sama mama," pinta Bu Naya sambil menarik Aryan untuk bangun dan memperlihatkan ponsel miliknya.Dengan terpaksa Aryan pun bangun dan melihat berita tentang dirinya. "Kok bisa gini sih? Ini maksudnya apa? Aryan ga ngerti Ma," jawabnya bingung. "Kamu dituduh selingkuh sama Irani. Jadi Irani itu janda? Dia udah punya suami sebelumnya? Tapi kenapa mantan suaminya jadi ikut nyeret kamu juga dalam hal ini? Ini gimana maksudnya?" tanya Bu Naya panik."Laki-laki kurang ajar, dia yang aku temuin kemarin malam sama Irani Ma. Aryan ga nyangka dia malah bawa-bawa aku jadi sel
"Aku talak kamu Irani Mayangsari."Hancur sudah rumah tangga yang selama ini Irani bangun bersama Aditya. Ibarat sebuah kaca yang dilempar dengan batu besar dan kaca itu hancur berkeping-keping seperti itulah bahtera rumah tangga Irani saat ini.'Tenang, sabar, kuasai dan jangan berdebat lagi Irani
Sehari setelah pertemuan Tarina dan Aditya, perempuan itu harus mendapatkan masalah karena sebagian teman kerjanya tahu hubungan pernikahan sirinya dengan Aditya. Semua itu karena Irani. Tarina pun mencoba menghubungi Aditya untuk bicara padanya. Sayangnya Irani yang justru mengangkatnya. "Hallo
Hari ini weekend dan Mishka anak perempuan Aditya sangat bersemangat untuk menghabiskan waktunya bersama orang tuanya.Sejak sarapan pagi Aditya mendapatkan telepon dari Tarina, laki-laki itu mengangkatnya dan menjauh dari Mishka dan Irani."Sebentar ya sayang, kamu main dulu nanti kita jalan-jalan
"Tarina Febriyana, akhirnya ketemu juga," kata Irani Mayangkari dengan senyuman puas, namun juga kecewa dan penuh sesak di hati. Irani akhirnya menemukan akun media sosial milik perempuan yang sudah menjadi selingkuhan suaminya. "Huh, perempuan seperti dia saja kamu jadikan selingkuhan mas, harus







