Share

5.

last update Terakhir Diperbarui: 2024-09-27 23:21:09

Mungkin karena kelelahan dengan aktivitas yang baru saja mereka lakukan. Riska langsung tertidur pulas, berbeda dengan Arland yang turun dari ranjang masuk ke dalam kamar mandi membersihkan tub uhnya yang terasa lengket.

Sepuluh menit kemudian Arland keluar dari kamar mandi dengan tub uh terbalut bathrobe. Seulas senyum tipis terbit di bibirnya melihat Riska masih terlelap dalam tidurnya. Dia segera membuka tas milik Riska mengambil laptop yang tersimpan di dalamnya.

Sambil membawa laptop di tangannya, Arland berjalan menuju kursi lalu duduk di atasnya. Dengan gerakan cepat dia membuka laptop sesekali melirik ke arah Riska, memastikan Riska tidak melihat apa yang sedang dilakukan olehnya.

Dengan cepat Arland mengirim data-data Phoenix Group ke laptop miliknya yang saat ini sedang diakses oleh Mark (asisten/orang kepercayaannya).

"Mark, aku sudah mengirim data-data Phoenix Group."

"Ya, sudah masuk Bos." Arland menarik salah satu sudut bibirnya ke atas mendengar ucapan Mark, dia mematikan laptopnya lalu memasukkannya kembali ke dalam tas.

Arland memungut pakaiannya yang tercecer di lantai lalu memakainya kembali. Dengan langkah pelan dia berjalan menuju ke pintu kemudian keluar dari sana. Arland mengendarai mobilnya menuju ke rumahnya. Ketika sampai di rumahnya, dia terkejut karena tidak ada Ayra di dalam kamarnya.

"Sayang kamu dimana? Ayra!" Teriak Arland memanggil-manggil istrinya namun tidak ada jawaban.

"Kemana Ayra?" Gumam Arland lirih menelusuri setiap sudut kamar, dia juga membuka pintu kamar mandi barang kali Ayra ada di dalamnya. Namun ternyata nihil tidak ada siapa-siapa di dalam kamar atau pun kamar mandi.

Arland mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya lalu menyugar rambutnya. Dia merogoh sakunya mengambil benda pipih yang tersimpan di dalamnya, jari tangannya bergerak lincah mencari nomor Ayra lalu menghubunginya.

Arland mendengar suara dering hp milik Ayra di dalam kamarnya. Dia mengedarkan pandangannya mencari sumber suara. Setelah ditelusuri ternyata hp Ayra berada di bawah bantal. Hingga akhirnya pandangannya tertuju pada pintu menuju balkon.

"Apa mungkin Ayra berada di balkon?" Gumam Arland berjalan ke arah pintu menuju balkon lalu membukanya. Seulas senyum tipis terbit di bibirnya melihat Ayra sedang menatap ke atas ke arah bintang yang berkelap-kelip menghiasi gelapnya malam.

Dengan langkah pelan Arland berjalan ke arah Ayra lalu memeluknya dari belakang. Mengecup kedua pipinya secara bergantian.

Ayra tersentak kaget menyadari seseorang memeluknya dari belakang bahkan mengecup kedua pipinya. Refleks berusaha melepaskan diri darinya, namun usahanya sia-sia karena Arland semakin erat memeluknya. Setelah beberapa saat kemudian Ayra akhirnya menyadari orang yang sedang memeluknya adalah Arland.

"Mas, kenapa pulang?" Arland mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan dari Ayra.

"Apa mas nggak boleh pulang?"

"Aku kira Mas akan menginap di kantor karena ini sudah tengah malam."

"Sudah tengah malam, kenapa kamu belum tidur?"

"Belum ngantuk."

Arland membalikkan tub uh Ayra agar menghadap ke arahnya. Ayra tampak heran melihat rambut Arland masih basah seperti baru saja keramas.

"Mas, habis mandi keramas tengah malam begini?"

"Iya, tadi gerah jadi mandi keramas." Jawab Arland berusaha meyakinkan Ayra.

"Oh." Jawab Ayra singkat.

DEG

Ayra terkejut matanya membulat sempurna, jantungnya berpacu tidak karuan pikirannya kacau tub uhnya terasa lemas melihat kissmark di leher Arland. Perlahan buliran-buliran bening menetes begitu saja membasahi kedua pipinya.

"Jadi benar selama ini Mas Arland sudah selingkuh dengan wanita lain." Batin Ayra yakin hatinya terasa nyeri sangat nyeri, tidak menyangka suaminya selingkuh dengan wanita lain bahkan mungkin juga sudah tidur bersama. Apa yang dikatakan oleh Arland selama ini ternyata hanya bualan semata.

"Sayang, kamu kenapa?" Arland merasa heran melihat perubahan ekspresi wajah Ayra.

"Jangan menyentuhku, pergi!" Ayra mengulurkan tangannya mendorong dada Arland sehingga mundur beberapa langkah ke belakang. Dia berjalan ke arah pintu, namun belum sempat membukanya Arland sudah menarik pergelangan tangannya sehingga tub uhnya ketarik ke belakang menabrak dada Arland. Dengan gerakan cepat Arland langsung memeluknya.

"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Arland mengecupi pucuk rambut Ayra.

Ayra merasa risih dengan apa yang dilakukan oleh Arland, apalagi mengingat Arland melakukannya tidak hanya dengan dirinya.

"Tanya pada diri Mas sendiri! Malam ini aku tidur di kamar tamu." Jawab Ayra ketus berusaha melepaskan diri dari pelukan Arland, namun tidak bisa karena tenaganya tidak sebanding.

Arland terkejut mendengar ucapan Ayra.

"Kamu tetap tidur di kamar utama tidak pindah kemana pun!" Ujar Arland tegas.

"Mas egois." Arland mengangkat Ayra membawanya ke dalam kamar, tidak peduli dengan Ayra yang terus meronta-ronta minta dilepaskan.

Dia merebahkan Ayra di atas ranjang lalu memeluknya dengan erat, membuat Ayra tidak bisa bergerak dengan leluasa.

Terdengar suara dengkuran halus menandakan bahwa Arland sudah tidur dengan pulas. Ayra berusaha melepaskan tangan Arland yang sedang memeluknya, namun dia dikejutkan dengan suara Arland.

"Ayra, tidur sudah malam!"

"Aku kira Mas Arland sudah tidur dengan pulas." Batin Ayra merasa kecewa usahanya untuk melepaskan diri dari Arland gagal.

"Aku merasa penasaran dengan wanita yang menjadi selingkuhan Mas Arland, kira-kira siapa ya? Apa dia lebih muda serta lebih cantik dan sek si dariku? Sehingga membuat Mas Arland tergila-gila dengannya." Monolog Ayra dalam hati merasa begitu penasaran dengan wanita yang menjadi selingkuhan suaminya.

Ayra tidak bisa tidur padahal sudah berulang kali mencoba memejamkan matanya. Rasa penasaran dengan wanita yang menjadi selingkuhan suaminya masih terus memenuhi otaknya. Tidak hanya itu saja dia juga ingin tahu alasan suaminya selingkuh darinya.

Menit demi menit jam demi jam akhirnya berlalu Ayra akhirnya berhasil memejamkan matanya mengantarkannya ke alam mimpi.

Menyadari sesuatu yang kenyal menempel di bibirnya memaksa Ayra untuk membuka matanya kembali. Dia tersentak kaget melihat suaminya berada di atasnya.

Melihat Ayra sudah bangun dari tidurnya, Arland segera melepaskan tautan bibirnya.

"Sayang, kamu tidur begitu pulas. Berulang kali mas membangunkan mu tapi kamu nggak bangun-bangun. Kalau tahu dengan morning kiss kamu langsung bangun, pasti Mas sudah melakukannya sejak tadi." Arland tersenyum melihat Ayra membuka matanya lalu duduk di tepi ranjang.

Sedangkan Ayra mengucek-ngucek matanya, berusaha duduk menyandarkan punggungnya pada headboard di belakangnya. Kepalanya terasa pusing rasanya baru saja tidur namun Arland malah membangunkannya. Tidak tahu saja suaminya itu kalau tadi malam dia tidak bisa tidur. Baru tidur setelah menjelang pagi.

Ketika menoleh ke arah Arland, Ayra kembali melihat tanda kissmark di lehernya walaupun warnanya sudah sedikit memudar. Hatinya kembali terasa nyeri ketika bayangan Arland sedang bercumbu mesra dengan wanita lain memenuhi otaknya.

"Mas, nggak ke kantor?" Mendengar pertanyaan yang diucapkan oleh Ayra, Arland menoleh ke arahnya.

"Hari Minggu, kenapa?"

"Nggak apa-apa cuma nanya."

"Ayra, siapkan air mandi!"

"Iya Mas." Dengan malas Ayra turun dari ranjang berjalan menuju ke kamar mandi lalu masuk ke dalamnya.

"Kenapa harus aku? seharusnya minta sama Kekasihnya untuk menyiapkan air mandi." Gerutu Ayra yang sedang mengisi bathtub dengan air hangat.

BRAAAKKK

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rahasia Suamiku    Bab 82.

    Perpisahan yang Menyayat HatiDi ruang jenazah, Ayra melangkah pelan mendekati brankar tempat suaminya terbujur kaku. Dengan tangan gemetar, ia membuka kain putih yang menutupi wajah Revan sedikit demi sedikit. Hatinya mencelos saat melihat wajah suaminya yang penuh luka memar. Bekas darah yang mulai mengering semakin menegaskan betapa keras penderitaan yang dialaminya sebelum menghembuskan napas terakhir."Mas Revan..." gumamnya, bersamaan dengan buliran air mata yang jatuh tanpa bisa dibendung. Tangannya yang bergetar mengusap lembut wajah suaminya, seolah ingin menghapus jejak luka yang tersisa.Air matanya mengalir semakin deras. Tubuhnya melemah, lalu perlahan merosot ke lantai yang dingin. Dunia seolah berubah gelap. Ia tidak pernah membayangkan bahwa pertemuan mereka setelah satu bulan justru terjadi dalam keadaan seperti ini—Revan kembali, tetapi tanpa nyawa."Mas, secepat inikah kamu pergi meninggalkan aku dan Zavier? Bukankah kamu bilang ingin membahagiakan kami?" isaknya, s

  • Rahasia Suamiku    Bab 81.

    Pak Revan terdiam mendengar pertanyaan Kyai Syamsudin. Otaknya sibuk mencari jawaban yang tepat."Saya sudah meminta izin kepada istri dan anak saya. Untuk sementara, usaha saya akan diurus oleh Doni, jadi kebutuhan mereka tetap tercukupi," jawabnya mantap.Kyai Syamsudin mengangguk-angguk, memahami penjelasan Pak Revan.Dalam pertemuan itu, Pak Revan menceritakan masa lalunya. Penyesalan menggelayut dalam hatinya, terutama saat nama Reyhan kembali muncul dalam pikirannya, mengingatkan pada dosa-dosa yang pernah ia lakukan. Kyai Syamsudin menyarankannya untuk bertaubat dengan taubat nasuha.Pak Revan mengikuti saran itu. Dalam hati, ia bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik.Hari demi hari, ia belajar ilmu agama dari dasar—Tauhid, Fiqih, hingga membaca qiraati sebagai langkah awal sebelum mempelajari Al-Qur'an. Lidahnya terasa kaku saat melafalkan huruf-huruf hijaiyah, tapi ia tak menyerah. Ia sadar, belajar ilmu agama ternyata lebih sulit dibanding mempelajari bisnis.Terkada

  • Rahasia Suamiku    Bab 80.

    Kepergian Pak Revan"Sayang, Mas harus pergi ke luar kota selama satu bulan."Pak Revan baru saja pulang dari kantor ketika ia menyampaikan kabar itu. Ayra yang tengah duduk di sofa langsung terkejut mendengarnya."Kapan Mas pergi?" tanyanya hati-hati.Pak Revan menatap istrinya sekilas, lalu menyunggingkan senyum tipis. "Sepertinya kamu ingin Mas cepat-cepat pergi?"Ayra terbelalak, tidak menyangka suaminya berpikir seperti itu. Dengan cepat ia menggeleng. "Bukan begitu, Mas. Aku hanya bertanya.""Besok pagi," jawab Pak Revan akhirnya. "Kamu nggak apa-apa 'kan ditinggal di rumah sama Zavier?"Ayra mengangguk pelan. "Nggak apa-apa, Mas."Entah kenapa, jawaban istrinya justru membuat Pak Revan kecewa. Ia berharap Ayra akan mencoba menahannya pergi—setidaknya menunjukkan sedikit rasa enggan. Namun, wanita itu justru menerimanya dengan begitu tenang."Aku saja yang terlalu berharap," batinnya pahit. "Dulu dia bahkan tega meninggalkanku.""Mas!" panggilan Ayra membuyarkan lamunannya.Pak

  • Rahasia Suamiku    Bab 79.

    Kembalinya Masa LaluBeberapa hari telah berlalu. Pak Revan yang mengetahui bahwa istrinya telah suci akhirnya menyunggingkan senyum tipis. Ada kebahagiaan yang menjalar di hatinya—waktunya telah tiba untuk melanjutkan malam pernikahan mereka yang sempat tertunda."Sayang," panggilnya lembut.Ayra menoleh, matanya menatap suaminya dengan ragu. "Ada apa, Mas?""Bolehkah malam ini Mas meminta hak sebagai suami?" tanya Revan, suaranya terdengar dalam, penuh makna.Ayra terdiam. Hatinya bergetar, bukan karena rindu, melainkan karena bayangan masa lalu yang tiba-tiba muncul. Ingatan akan malam itu, ketika pria di hadapannya ini pernah menyakitinya, masih begitu jelas. Meskipun tahun telah berlalu, luka itu belum sepenuhnya sembuh.Menolak? Ayra tak berani. Dia tahu kewajibannya sebagai istri. Lagipula, bukankah menolak ajakan suami tanpa alasan yang sah adalah dosa? Namun, hatinya masih didera ketakutan.Pak Revan menyadari keraguan di mata istrinya. Dengan lembut, dia meraih dagu Ayra, me

  • Rahasia Suamiku    Bab 78.

    Ketakutan yang sejak tadi menghantuinya perlahan mereda ketika Ayra mendengar suara Zavier memanggilnya."Ibu!" seru Zavier, berlari ke arahnya.Seulas senyum tipis terbit di bibir Ayra saat melihat putranya mendekat. "Zavier, kamu sudah pulang?" tanyanya lembut."Sudah, Bu. Tadi di sekolah Zavier diajari lagu 'Kasih Ibu'."Ayra tersenyum. "Coba nyanyikan untuk Ibu, Ibu ingin dengar."Tanpa ragu, Zavier mulai menyanyikan lagu itu dengan suara polosnya. Ayra mendengarkan dengan seksama, hatinya menghangat. Setitik air mata jatuh di pipinya, namun segera ia hapus sebelum putranya menyadarinya."Anak Ibu sekarang sudah pintar nyanyi," pujinya sambil mengusap lembut rambut Zavier.Merasa bangga, Zavier menatap ibunya dengan mata berbinar dan tersenyum lebar."Ayo, ganti pakaian dulu, habis itu makan!" ajak Ayra."Mau sama Ibu!" pinta Zavier manja."Iya, sama Ibu."Ayra menggandeng tangan putranya, membawanya ke kamar untuk mengganti pakaian. Setelah itu, ia segera menyiapkan makan siang u

  • Rahasia Suamiku    Bab 77.

    Pagi itu, Ayra sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Seperti kebiasaannya dulu saat bersama Reyhan, rutinitas ini memberinya ketenangan. Namun, kesadarannya tersentak ketika tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang, lalu mengecup lembut kedua pipinya.Tanpa menoleh, Ayra sudah tahu siapa pelakunya."Mas, lepas... susah gerak," pintanya, sedikit memaksa, mencoba melepaskan diri dari pelukan suaminya.Pak Revan akhirnya melepaskan Ayra, lalu melipat kedua tangannya di dada. "Aku heran, apa nggak takut tanganmu lecet gara-gara masak?" tanyanya dengan nada menggoda, tapi ada sindiran di sana."Kalau Mas nggak mau makan, nggak apa-apa. Aku masak buat diri sendiri dan Zavier."Dahi Pak Revan berkerut mendengar jawaban istrinya. "Sayang, kamu mengabaikan suamimu?"Ayra menatapnya sekilas, lalu kembali sibuk dengan masakannya. "Terserah Mas mau mikir apa," ucapnya, sebelum membawa masakannya ke meja makan, meninggalkan suaminya yang hanya bisa mendengus kesal.Pak Revan menyusulnya, duduk be

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status