Share

PRIA DI SOFA

Author: Santi
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-26 14:58:47

Apartemen keamanan itu terasa berbeda ketika Alessia melangkah masuk—lebih tenang dari yang ia bayangkan, mengingat siapa yang sedang menunggu di dalam.

Ethan duduk di karpet ruang tamu, sibuk menyusun balok kayu, sementara seorang pria berusia sekitar empat puluhan duduk di sofa terdekat, mengawasinya dengan senyum tipis. Dua petugas keamanan berdiri waspada di sudut ruangan, namun tidak ada ketegangan berlebihan di wajah mereka.

Pria itu berdiri begitu melihat Alessia masuk.

“Alessia Windraya
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Rahasia Yang Tumbuh Di Rahimku   WAJAH DI LAYAR

    Wajah di layar itu bukan orang asing.Sari Dumanauw menatap mereka lewat kamera, duduk di sebuah ruangan yang tidak dikenali—dinding polos, pencahayaan datar, seperti sengaja dipilih agar tidak memberi petunjuk lokasi.“Bu Sari?” Alessia hampir tidak percaya pada apa yang dilihatnya. “Anda yang mengirim semua pesan ini?”Sari tersenyum tipis, jauh berbeda dari perempuan yang menangis di depan kamera wartawan beberapa minggu lalu, menuntut kebenaran soal suaminya.“Aku bertanya-tanya kapan kalian akan menyadarinya,” katanya, suaranya tenang, hampir dingin. “Kalian terlalu sibuk mengejar Herman dan Damar, sampai lupa bertanya siapa yang sebenarnya mengarahkan mereka ke arah yang tepat.”Ferdinand melangkah maju, wajahnya pucat. “Kau yang mengaku sebagai janda Yusuf. Semua yang kau katakan di depan kamera itu—”“Semuanya benar,” potong Sari cepat. “Yusuf memang suamiku. Dia memang meninggal dengan nama yang salah. Aku memang berduka selama dua puluh tahun. Tapi kesedihan itu berubah jadi

  • Rahasia Yang Tumbuh Di Rahimku   DALANG DI BALIK DALANG

    Alessia menatap pesan itu, tangannya mendadak dingin meski udara sore masih hangat. “Apa itu?” tanya Adrian, melihat perubahan di wajahnya. Ia menyerahkan ponselnya tanpa berkata-kata. Adrian membaca pesan itu, rahangnya langsung mengeras. “Yusril hanya orang suruhan?” ulangnya pelan. “Kalau begitu ini bukan soal saham dan kepemimpinan semata.” “Ini kelanjutan dari semuanya,” kata Alessia, suaranya bergetar. “Herman dan Damar hanya bagian dari rencana yang lebih besar.” Adrian langsung menghubungi Reza, meletakkan ponsel di atas meja dan mengaktifkan pengeras suara. “Reza, aku butuh kau melacak nomor ini lagi. Ini yang sama seperti tiga minggu lalu.” “Saya akan coba, Pak,” jawab Reza. “Tapi terakhir kali nomor itu selalu mati dalam hitungan menit.” “Coba juga cari tahu latar belakang Yusril Hamdani lebih dalam,” tambah Adrian. “Siapa yang mendanai pembelian sahamnya, dari mana asal modalnya, dan apakah ada hubungan dengan Herman atau Damar sebelumnya.” “Baik, Pak. Saya akan k

  • Rahasia Yang Tumbuh Di Rahimku   MOSI TIDAK PERCAYA

    Tiga minggu berlalu sejak pesan misterius terakhir itu, dan tidak ada kelanjutan apa pun yang muncul. Reza sudah melacak nomor itu berkali-kali, namun selalu berujung buntu—nomor sekali pakai yang mati begitu pesan terkirim.Alessia mulai terbiasa dengan ritme baru hidupnya—pagi bersama Ethan, siang membantu papanya mengurus sebagian pekerjaan Windrayana Group yang tertunda, dan sore yang perlahan mulai diisi kehadiran Adrian yang semakin sering datang tanpa alasan bisnis apa pun. Namun kalimat itu—*aku baru saja mulai*—masih terngiang setiap kali ia lengah.Pagi itu, ketenangan itu terusik oleh dering telepon yang membangunkan Alessia lebih awal dari biasanya.“Bu Alessia,” suara sekretaris papanya terdengar cemas di seberang telepon, “Bapak meminta Anda segera ke kantor. Ada masalah dengan rapat pemegang saham.”Alessia bergegas bersiap, meninggalkan Ethan bersama Marlena. Di dalam mobil menuju kantor, ia mencoba menghubungi papanya, namun panggilannya tidak terjawab.Begitu tiba di

  • Rahasia Yang Tumbuh Di Rahimku   SORE YANG TENANG

    Beberapa hari berlalu setelah kekacauan besar itu, dan Arcadia perlahan mulai kembali pada ritme normalnya—meski berita tentang Rasyid, Damar, dan Herman masih menjadi topik utama di berbagai media selama beberapa hari berikutnya.Alessia duduk di teras belakang rumah Windrayana, menikmati sore yang tenang untuk pertama kalinya sejak ia kembali ke Arcadia. Ethan bermain di halaman bersama Marlena, tertawa riang mengejar kupu-kupu yang hinggap di antara bunga-bunga yang mulai mekar.Ferdinand duduk di kursi rodanya tidak jauh dari sana, wajahnya sudah jauh lebih segar dibanding beberapa hari lalu, meski masih perlu istirahat teratur sesuai anjuran dokter.“Kau tampak lebih tenang,” kata Ferdinand, memperhatikan putrinya dari samping.“Aku rasa begitu,” jawab Alessia. “Meski aku masih terus menunggu kabar buruk lain setiap kali ponselku berbunyi.”Ferdinand tersenyum tipis. “Itu wajar, setelah semua yang kita lalui. Tapi kau harus percaya, Nak, badai ini sudah benar-benar berlalu.”“Bag

  • Rahasia Yang Tumbuh Di Rahimku   PANGGILAN AYAH

    Reza menghubungi kembali kurang dari satu jam kemudian, saat mereka masih berada di ruang tunggu rumah sakit menemani Ferdinand yang baru saja memulai pengobatan pertamanya.“Pak Adrian,” suara Reza terdengar dari ponsel yang diletakkan di atas meja, “Ratna sudah memberikan keterangan soal racikan teh itu.”“Dan?” tanya Adrian.“Dia mengaku itu inisiatif Herman,” jawab Reza. “Herman menyuruhnya menitipkan racikan itu lewat Wulan, dengan harapan efeknya akan membuat Ferdinand semakin lemah dan lebih mudah ditekan lewat ancaman-ancaman yang dikirimnya belakangan.”Marlena menutup mata sesaat, mencoba menahan amarah yang bercampur lega karena akhirnya semua pertanyaan terjawab.“Jadi bukan untuk membunuh Papa,” gumam Alessia, “hanya untuk melemahkannya.”“Menurut pengakuan Ratna, ya,” jawab Reza. “Herman ingin Ferdinand cukup lemah untuk tidak bisa melawan, tapi tidak sampai mati—karena dia masih butuh Ferdinand hidup untuk memberikan pengakuan publik yang direncanakannya.”Ferdinand, ya

  • Rahasia Yang Tumbuh Di Rahimku   HASIL LABORATORIUM

    Pagi itu datang lebih cepat dari yang Alessia inginkan. Ia nyaris tidak tidur sepanjang malam, pikirannya terus berputar mencoba menebak apa yang akan disampaikan pihak rumah sakit.Adrian sudah menunggu di ruang tamu apartemen ketika Alessia keluar dari kamar, wajahnya juga menunjukkan tanda kurang tidur yang sama.“Ethan masih tidur,” katanya. “Cassandra akan menjaganya sampai kita kembali.”Mereka tiba di rumah sakit tepat pukul delapan pagi. Marlena sudah menunggu di lorong dekat ruang rawat Ferdinand, wajahnya pucat dan cemas.“Ma,” Alessia langsung memeluknya. “Ada apa sebenarnya?”“Dokter bilang mereka menemukan sesuatu dari hasil laboratorium teh yang diambil beberapa hari lalu,” jawab Marlena, suaranya bergetar. “Yang dibawa Wulan waktu itu.”Alessia teringat percakapan lama itu—teh herbal yang dibawa tante Wulan sebagai hadiah, yang diminum papanya untuk membantu tidurnya. Sesuatu yang sempat mereka curigai sebagai bagian dari rencana peracunan, sebelum semua perhatian teral

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status