Hujan tipis turun ketika mobil Alessia memasuki gerbang tol Arcadia. Empat tahun dia pergi. Empat tahun dia berusaha menjauh dari kota ini, dari nama keluarganya, dari semua hal yang bisa membuka luka lama.Tapi surat dari ibunya minggu lalu mengubah semuanya. Hanya tiga kalimat pendek: Ayahmu sakit. Perusahaan butuh kamu. Pulanglah, Alessia. “Mama, kita mau ke mana lagi?” Suara Ethan dari kursi belakang membuyarkan lamunannya. Alessia melirik kaca spion. Anaknya duduk sambil memeluk boneka rubah kesayangannya, menatap balik lewat pantulan kaca. “Ke kota tempat Mama dulu tinggal,” jawab Alessia. “Kenapa kita nggak pernah ke sana sebelumnya?” “Mama sibuk,” katanya, meski dia tahu jawaban itu bohong. Dia sudah terlalu terbiasa berbohong pada anaknya sendiri. Ethan diam sebentar, memiringkan kepalanya—kebiasaan kecil yang selalu membuat dada Alessia sesak, karena dia tahu persis dari siapa kebiasaan itu berasal. “Kita selalu pindah-pindah,” kata Ethan pelan. “Teman-teman di sekola
Última atualização : 2026-08-09 Ler mais