تسجيل الدخولAlessia Windrayana kembali ke Arcadia setelah empat tahun menghilang bersama putranya, Ethan. Ia terpaksa pulang karena Ferdinand Windrayana, ayahnya, jatuh sakit dan perusahaan keluarga membutuhkan kehadirannya. Namun, kepulangan itu membawa Alessia pada pria yang paling ingin ia hindari: Adrian Kertanegara, CEO dingin dari keluarga yang menjadi musuh bebuyutan Windrayana selama dua puluh tahun. Lima tahun lalu, Alessia bertemu seorang pria misterius dalam pesta amal bertopeng di Meridian City. Mereka tidak saling mengetahui nama, latar belakang, maupun keluarga masing-masing. Satu malam itu seharusnya berakhir tanpa arti. Sampai Ethan lahir. Ketika Adrian mulai menyadari bahwa bocah berusia empat tahun itu mungkin adalah darah dagingnya, rahasia Alessia perlahan terancam terbongkar. Di saat yang sama, pesan-pesan misterius mulai datang, mengungkit Proyek Aurora—kecelakaan lama yang menewaskan Rasyid Windrayana dan memulai perang antara dua keluarga. Seseorang sengaja mempermainkan kebencian mereka. Saat rahasia masa lalu, penculikan, dan pengkhianatan mulai terungkap, Alessia dan Adrian harus memilih: terus menjadi musuh seperti yang diwariskan keluarga mereka, atau bekerja sama demi melindungi Ethan. Tapi jika kebenaran terungkap, apakah cinta mereka cukup kuat untuk menghentikan perang dua keluarga?
عرض المزيدHujan tipis turun ketika mobil Alessia memasuki gerbang tol Arcadia. Empat tahun dia pergi. Empat tahun dia berusaha menjauh dari kota ini, dari nama keluarganya, dari semua hal yang bisa membuka luka lama.
Tapi surat dari ibunya minggu lalu mengubah semuanya. Hanya tiga kalimat pendek: Ayahmu sakit. Perusahaan butuh kamu. Pulanglah, Alessia. “Mama, kita mau ke mana lagi?” Suara Ethan dari kursi belakang membuyarkan lamunannya. Alessia melirik kaca spion. Anaknya duduk sambil memeluk boneka rubah kesayangannya, menatap balik lewat pantulan kaca. “Ke kota tempat Mama dulu tinggal,” jawab Alessia. “Kenapa kita nggak pernah ke sana sebelumnya?” “Mama sibuk,” katanya, meski dia tahu jawaban itu bohong. Dia sudah terlalu terbiasa berbohong pada anaknya sendiri. Ethan diam sebentar, memiringkan kepalanya—kebiasaan kecil yang selalu membuat dada Alessia sesak, karena dia tahu persis dari siapa kebiasaan itu berasal. “Kita selalu pindah-pindah,” kata Ethan pelan. “Teman-teman di sekolah lama nggak gitu.” “Aku tahu. Tapi kali ini kita nggak akan pindah lagi. Janji.” Alessia tidak yakin bisa menepati janji itu. Tapi dia mengucapkannya karena itulah yang selama ini membuat Ethan merasa aman. Menara tertinggi di Arcadia berdiri dengan logo huruf K besar yang menyala biru di puncaknya. Kertanegara Corp. Alessia buru-buru memalingkan wajah dari menara itu. Jangan sekarang, pikirnya. Jangan di sini. Dia tidak menyangka akan kembali ke Arcadia secepat ini. Dia pikir masih punya waktu untuk mempersiapkan diri—untuk Ethan, untuk semua pertanyaan yang mungkin muncul. Tapi sakit ayahnya tidak menunggu kesiapannya. Rumah keluarga Windrayana berdiri di ujung Jalan Cendrawasih. Begitu mobil berhenti di depan gerbang, Marlena berlari keluar dengan payung di satu tangan. “Alessia.” “Mama.” Marlena memeluknya erat, lalu matanya turun ke Ethan yang berdiri malu-malu sambil memeluk bonekanya. “Dia sudah sebesar ini,” bisik Marlena. “Empat tahun, Ma. Banyak yang terlewat.” Marlena berjongkok di depan Ethan. “Halo, Nak. Aku nenekmu.” Ethan menatapnya hati-hati, lalu tersenyum tipis—senyum yang persis seperti senyum Alessia di usia yang sama. “Halo. Namaku Ethan.” Di dalam rumah, Ferdinand duduk di kursi roda dekat perapian. Wajahnya menua lebih cepat dari yang Alessia ingat. “Papa,” Alessia berhenti di ambang pintu. Ferdinand mengangkat wajah. Beberapa detik berlalu tanpa satu pun dari mereka bicara. “Empat tahun, dan yang pertama kamu lakukan begitu pulang adalah berdiri di pintu seperti tamu,” katanya akhirnya. Bukan kalimat hangat. Tapi Alessia tahu itu cara papanya bilang bahwa dia merindukannya. Dia melangkah masuk sambil menggandeng tangan Ethan. “Papa, ini—” “Papa tahu siapa dia,” potong Ferdinand. Matanya menatap Ethan lama sekali—terlalu lama. “Papa tahu?” “Mama kirim foto,” jawab Ferdinand cepat. Terlalu cepat. “Duduklah. Kita bicara nanti, setelah anak ini istirahat.” Alessia menatap mamanya, mencari penjelasan. Marlena hanya menggeleng kecil. Ada sesuatu yang tidak dikatakan di ruangan itu. Alessia bisa merasakannya. Malam itu, setelah Ethan tidur di kamar yang sudah dihias Marlena dengan mainan dan buku anak-anak, Alessia duduk sendiri di balkon lantai dua. Menara Kertanegara Corp masih berdiri di kejauhan, seolah menantangnya untuk tidak melupakan. Lima tahun lalu, di sebuah pesta bertopeng di Meridian City, dia bertemu seorang pria yang tidak pernah dia ketahui namanya. Satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Dia tidak pernah membayangkan wajah di balik topeng itu bisa menghancurkan segalanya kalau sampai terlihat lagi. Ponselnya bergetar. Pesan dari Cassandra. **Kamu udah sampai? Gimana rasanya pulang?** Alessia mengetik balasan. **Aneh. Kayak nahan napas di bawah air terus pura-pura itu normal.** **Kamu nggak sendirian kali ini,** balas Cas. **Dan Arcadia kota besar. Kemungkinan ketemu DIA kecil banget.** Alessia tersenyum getir membaca itu. Dia ingin percaya. Tapi lusa, mamanya sudah mengirim undangan—acara bisnis tahunan paling bergengsi di Arcadia, tempat semua nama besar kota ini berkumpul dalam satu ruangan. Termasuk, kemungkinan besar, nama yang paling dia takuti. Alessia menatap Ethan yang tidur lelap lewat pintu kaca kamarnya. Empat tahun aku menyembunyikanmu, pikirnya. Semoga aku masih punya waktu sedikit lebih lama. Di kejauhan, di balik jendela kaca tertinggi menara Kertanegara Corp, satu-satunya lampu yang belum padam masih menyala.“Itu tidak mungkin,” kata Broto. Suaranya masih tenang, tapi tangannya yang gemetar tidak bisa disembunyikan lagi. “Reza bilang platnya terdaftar atas nama anak perusahaan Kertanegara Corp,” ulang Adrian, matanya tidak lepas dari ayahnya. “Bagian logistik. Divisi yang Ayah pegang langsung.” “Aku tidak tahu apa-apa soal mobil itu.” “Ayah selalu tidak tahu.” Kalimat itu keluar lebih tajam dari yang Adrian inginkan. Broto terdiam, seperti baru disadarkan berapa lama pola itu sudah berulang di antara mereka. Alessia berdiri di samping Marlena, mengamati keduanya. Ethan sudah dibawa kembali ke kamarnya oleh salah satu petugas keamanan, meski matanya sempat menoleh ke arah Broto sebelum pintu tertutup—tatapan penasaran seorang anak kecil yang tidak tahu bahwa dirinya baru saja menjadi alasan dua keluarga saling curiga lagi. “Kalau memang bukan Ayah,” kata Adrian, “berarti seseorang di dalam perusahaan kita memakai nama Kertanegara tanpa sepengetahuan Ayah.” “Atau seseorang sengaja m
Alessia membaca pesan itu berulang kali.*Bagus, Alessia. Sekarang Adrian tahu anaknya. Saatnya seluruh Arcadia tahu.*Ia langsung menekan nomor itu. Panggilan tidak tersambung. Sekali, dua kali, tiga kali—tetap sama.“Tidak bisa dihubungi?” tanya Cassandra.Alessia menggeleng.Ambulans sudah membawa Ferdinand dan Wulan ke rumah sakit. Marlena ikut di dalam, sementara Adrian pergi dengan mobil lain untuk menemani ibunya. Reza masih berdiri beberapa meter dari Alessia, memberi instruksi lewat radio.“Periksa semua jalan keluar pelabuhan,” katanya. “Cari rekaman kamera radius lima kilometer. Kendaraan itu tidak mungkin hilang begitu saja.”Alessia mendekat begitu Reza selesai bicara. “Pesan baru masuk.” Ia menyerahkan ponselnya.Reza membaca layar itu. Wajahnya langsung serius. “Saya minta tim siber melacak sumbernya.”“Bisa dihentikan sebelum foto Meridian City tersebar?”“Kita belum tahu apa yang sudah mereka kirim.”Jawaban itu membuat dada Alessia semakin sesak.Mobil Adrian berhent
“Buka halaman terakhir.” Suara pria dari pengeras suara kembali menggema di dalam Gudang 17. Adrian masih memegang map kulit cokelat di tangannya. Di sisi lain ruangan, Wulan bersandar lemah pada kursi setelah ikatannya dilepas. Ferdinand baru saja dibawa masuk oleh dua petugas medis, tetapi wajahnya terlihat semakin pucat. Alessia berdiri di dekat ayahnya. “Jangan dibuka,” bisik Wulan. Adrian menoleh kepadanya. “Kenapa?” “Karena itu yang dia inginkan.” “Kalau tidak dibuka, dia akan menyebarkan foto Meridian City,” kata Alessia. Wulan memandang Alessia. Tatapannya berhenti beberapa saat, seolah ia akhirnya memahami arti foto dan pesan-pesan yang dikirim selama ini. “Foto itu hanya alat,” ujar Wulan pelan. “Laporan Aurora yang asli adalah tujuan mereka.” “Kalau begitu, kenapa mereka menyuruh kami membuka halaman terakhir?” tanya Adrian. “Karena halaman itu bukan bagian dari laporan.” Adrian menatap map tersebut. Ia membuka pengikatnya perlahan. Halaman-halaman pertama beri
“Papa!” Alessia membuka pintu mobil sebelum Cassandra sempat menahannya. “Jangan keluar!” Cassandra menarik lengannya. “Kita tidak tahu dari mana tembakannya!” Namun Alessia sudah melihat Ferdinand terjatuh di dekat mobil. Marlena berlutut di sampingnya. Map kulit berisi **salinan** laporan Aurora masih berada beberapa langkah dari tangan papanya. Tidak ada darah di tubuh Ferdinand. Tembakan itu mengenai tanah tepat di depan kakinya. “Dia tidak kena,” kata Cassandra cepat. Alessia menahan napas lega, tetapi rasa lega itu hanya bertahan sesaat. Pria bermasker di depan Gudang 17 mengangkat pistolnya lagi. “Jangan bergerak!” teriaknya. Marlena memeluk kepala Ferdinand yang masih terbaring di tanah. Wajah pria itu pucat, mungkin karena terkejut atau karena tubuhnya memang sudah terlalu lemah. Ponsel Alessia bergetar. Pesan dari Adrian. **Tetap di mobil. Tim kami sudah bergerak.** Alessia menatap area di sekitar gudang. Ia tidak melihat Adrian atau Reza. Hanya dua mobil gelap


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.