FAZER LOGIN“Itu bukan gambar AI, Ndis, itu asli. Foto keluarga Abang,” sambung Lana seolah sudah bisa menebak apa yang ada di pikiran Gendis saat ini. “Sebenarnya Abang sudah bilang ke kamu waktu di taman tempo hari. Tapi melihat tanggapan kamu, Abang memilih untuk tidak mendebat atau ngotot dan akhirnya harus mengatakan kalau Abang yatim piatu agar masalah tidak panjang. Lagian waktu itu mood kamu juga lagi nggak bagus. Jadi Abang nggak mau mood kamu tambah rusak dan kamu kabur lagi ke pesantren.”Gendis menelan saliva kuat-kuat, tak menyangka jika Lana tahu tentang kepergiannya ke pesantren waktu dirinya patah hati terhadap Cahaya. Lalu apakah Umi Masfufah mengatakan tentang cintanya yang bertepuk sebelah tangan pada lelaki di sebelahnya itu, namun lelaki itu memilih seolah tidak tahu tentu adalah pikiran yang kini memenuhi otaknya.Ingin dia mengelak dengan penjelasan di luar nalar. Tapi, melihat raut wajah yang ditunjukkan Lana saat ini sulit baginya untuk mencari jawaban lain. “Jadi … Aba
Pagi sekitar pukul tujuh, Lana keluar dari kamar dengan langkah sedikit terburu. Semalaman dia merenung dan akhirnya telat bangun. Namun, langkahnya mendadak berhenti ketika mendengar suara televisi yang ada di ruang tengah menyala cukup keras. Niatnya untuk membuat sarapan pun berubah, langkahnya berbelok ke arah ruang tengah. "Astaga, " ujarnya ketika melihat pemandangan mencengangkan di pagi buta. Ruangan terlihat penuh dengan sampah makanan yang dibuang asal. Bantal berantakan dan yang lebih fatal, Gendis, sang pelaku justru duduk manis sambil menikmati cemilan dan televisi di hadapan, cengar-cengir menatap layar yang menyajikan serial Drama Korea di aplikasi yang dia bayar setiap bulan, seolah tanpa dosa. "Yassalam, Gendis. Kamu apa-apaan? Udah dibilang nggak boleh makan di sofa. Mengundang semut, Gendis. Ini makanan sebanyak ini nggak ada yang bergizi kamu habisin sendiri? Nggak ada faedahnya, Gendis! Astaga!" ujar Lana sembari memungut sampah yang bertebaran dengan kasar.
Gendis terbangun ketika adzan ashar berkumandang. Rumah yang dia tempati memang cukup dekat dengan mushola perumahan, sehingga adzan terdengar cukup keras. "Astaga!" Gendis tersentak manakala matanya terbuka dan melihat Lana duduk di tepi ranjang dengan senyum yang mengembang. Gendis menghembuskan napas kasar."Kaget, ya?" tanya Lana masih dengan senyuman. Kali ini senyumannya berubah menjadi senyuman yang menghangatkan jiwa."Ngapain disini?" tanya Gendis, nada lemah yang dipadukan dengan rasa malas membuatnya tampak tak bergairah."Abang takut, kamu nggak bangun-bangun. Tapi mau bangunin nggak tega.""Terus?" tanya Gendis sembari memegangi kepala yang terasa berat."Ya jadi Abang disini.""Ngapain?""Lihatin napas kamu."Lagi-lagi Gendis dibuat tersentak dengan jawab Lana. Tawa sumbang pun keluar. "Abang pikir aku sekarat? Mau mati? Seneng kalau Gendis mati ya? Biar bisa bebas!" Tuduhan bernada sindiran akhirnya terlontar."Bukan gitu, tadi kamu pucet banget kayak mayat, jadi Abang
Dengan dada yang terus berdebar dan tubuh yang gemetar, Gendis memberanikan diri untuk tetap melangkah menuju tempat yang diberitahukan Aga. Taman kota dekat kampus menjadi tujuannya sekarang. Langkahnya melambat sebelum akhirnya berhenti sama sekali. Di bawah pohon rindang dia berdiri, membeku, menatap dua insan yang sedang beradu pandang dalam bisu. Tak ada yang bisa dia dengar, namun tatapan keduanya seolah mengatakan bahwa Gendis harus berbalik dan mundur."Beginikah rasanya patah hati?" Gendis mundur beberapa langkah, di balik pohon besar dia mendudukkan diri sembari memeluk lututnya yang melemah dan berbisik pelan. Meratapi nasibnya yang sialan.Ingin lari, namun langkahnya seolah tertahan. Ribuan kali hantaman demi hantaman perasaan yang datang, tak membuatnya serapuh dan sehancur kali ini.Pesan tak terbaca, panggilan terabaikan, bahkan kelas yang tak dihadiri dan jawaban yang selalu mengambang saat dirinya bertanya perihal Kanaya Larasati, semua seakan berputar di dalam kepa
"Gendis, Lana kelihatannya anak baik. Jangan merepotkan dan jangan membuatnya marah ya, Nduk. Kemarin saja dia sempat melarang Bunda dan Mbak Hanin untuk menemui kamu karena tidak mau kita mengungkit masa lalu yang bisa saja membuat kamu terluka lagi. Kamu juga dengar sendiri tadi, dia berubah pikiran hanya karena kamu ngigau. Itu berarti dia cukup peduli." Vivian mengusap pipi Gendis. "Lihat kamu dengan penampilan seperti ini, Bunda semakin yakin," lanjutnya dengan tatapan kagum ke arah putri yang kini berjilbab rapi.Gendis tersipu, mendengar penuturan sang ibu. Ada rasa hangat yang menelusup masuk ke dalam relung jiwa yang sempat membeku beberapa waktu lalu akibat cinta yang dia rasa bertepuk sebelah tangan itu, namun kini harapan itu seolah kembali setelah sang ibu mengatakan kalimat demi kalimat yang menghadirkan rasa tenang."Gendis, kamu dengar Bunda, 'kan?"Gendis tersadar dari perasaan yang kembali dipenuhi oleh bunga -bunga asmara."Iya, Bun.""Jadilah partner yang baik se
"Mbak, Bunda, aku bisa jelasin. Ini nggak seperti yang kalian pikirin." Gendis meraih tangan ibu dan kakaknya yang terlihat begitu terkejut sekaligus terpukul.Hanin menghela napas dan menghembuskannya secara perlahan untuk menambah kesabaran. "Apa yang bisa kamu jelasin ke Mbak dan Bunda, jelasin," ujar Hanin, nadanya tak bersemangat.Gendis menarik tangannya kembali. "Di perusahaan ada acara, mahasiswa magang disuruh ikut serta. Di sana ada minuman, aku kira cola karena botolnya memang botol cola," ujar Gendis sembari menundukkan kepala, kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan, berusaha terus menambah keberanian."Terus?" tanya Hanin."Terus aku minum cola karena Mbak sendiri tahu kalau aku suka cola dan nggak sampai beberapa menit aku pusing, akhirnya aku putuskan pulang ke tempat Hana karena tempat itu memang paling dekat daripada harus pulang ke rumah. Aku udah nggak kuat. Tapi begitu sampai di sana, aku malah salah masuk ke kamar Bang Lana yang juga kurang enak badan w
4. Perubahan sikap GendisSeberkas sinar mentari menerobos jendela kaca yang berada di sebelah tempat tidur. Silaunya mengenai mata dan membuatnya harus mengerjap. Aku baru bisa tenang setelah adzan subuh berkumandang. Tanpa sengaja tidur di atas sajadah setelah melakukan pengakuan dosa dan memoho
3. Perdebatan tengah malamKutinggalkan kamar Gendis setelah lampu kumatikan. Menenangkan diri di teras rumah dan memandang langit kelam sudah menjadi rutinitas setiap mata sulit untuk diajak kompromi. Tak ada cemilan ataupun kopi, hanya ada angan yang terus merajut segala pertanyaan dan merangkai
2. Sama-sama dijebakAku duduk menyamai Gendis yang saat ini tersedu di bawah lampu jalan."Kenapa keluar malam-malam? Sudah Abang bilang kalau butuh apa-apa telepon atau kirim pesan ke Abang," ucapku. Namun seperti biasa, dia hanya diam tak menjawab.Akhirnya aku menghela napas dalam."Pulang, ya
1. Gadis yang kau anggap gila itu, istriku"Orang gila ... orang gila ... orang gila." Sayup kudengar suara dari depan gang di mana aku tinggal. Aku bergegas turun dari motor karena memang baru pulang mencari pekerjaan. Terlihat beberapa anak kecil sedang berkerumun di sana, di tengahnya tampak s







