Share

2. Sama-sam dijebak

Author: Novita Sadewa
last update publish date: 2023-03-07 16:23:43

2. Sama-sama dijebak

Aku duduk menyamai Gendis yang saat ini tersedu di bawah lampu jalan.

"Kenapa keluar malam-malam? Sudah Abang bilang kalau butuh apa-apa telepon atau kirim pesan ke Abang," ucapku. Namun seperti biasa, dia hanya diam tak menjawab.

Akhirnya aku menghela napas dalam.

"Pulang, ya, Ndis," ajakku lembut. Ya, selama hidup bersama beberapa minggu, aku tak pernah berkata dengan nada tinggi, memperlakukannya sebaik dan selembut mungkin. Sebisa mungkin untuk tidak menambah keadaannya semakin parah dan semakin patah.

Ia tak menjawab, hanya tatapan nyalang yang dia berikan sebagai jawaban setiap kali aku mengajaknya bicara. Dia sangat membenciku, sangat. Baginya, aku lah penyebab kehancuran sekaligus penyebab terusirnya dia dari keluarga, terpisah dari orang-orang tercinta. Aku baginya, hanyalah orang yang tidak mempunyai hati. Menjauhkan seorang gadis dan dibenci oleh keluarga, atau bahkan dia sudah memiliki kekasih dan harus berpisah karena ulahku? Entahlah.

Dengan lancang tangan ini terulur, niat hati menyibak rambut hitam yang sedikit menutupi wajah lalu menghapus air matanya, namun dia menepis tanganku dengan begitu kasar. Kemudian bangkit meninggalkanku menuju rumah yang kami tinggali selama kami mengasingkan diri.

Kuambil motor lalu kutuntun menuju rumah mengikuti langkah cepat Gendis.

Sesampainya di rumah, kuparkir motor di halaman, sedangkan dia langsung masuk ke dalam kamar, menutup pintu setengah membanting.

Aku melangkah masuk ke dalam. Lagi, kudengar di dalam sana suara tangis yang selalu membuatku merinding setiap kali mendengarnya dan berakhir dengan menyalahkan diri sendiri.

Aku melangkah gontai menuju kamar lainnya, kamar yang ada di sebelah kamar Gendis adalah tempatku mengistirahatkan badan.

Tak pernah ada percakapan diantara kami, hinaan bahkan cacian pun tak pernah keluar dari mulut Gendis meski dia terlihat begitu membenciku.

Kuketuk pintu kamar yang sudah terlihat lebih tenang setelah aku menyiapkan makan malam sederhana. Nasi putih dan nugget ayam yang kubeli dari mini market sepulang dari mencari kerja tadi menjadi menu makan malam kami kali ini. Keadaan ekonomiku memang masih belum stabil. Kami hidup dari uang sisa yang sempat aku ambil saat pergi ke Jogja, sehingga aku dan Gendis harus berhemat.

"Gendis, makan dulu. Abang taruh di luar," ucapku di depan pintu yang tertutup rapat, meletakkan piring di atas nakas yang ada di sebelah pintu seperti biasa, kemudian kembali ke meja makan untuk mengisi perut dan menghabiskan kopi untuk menghangatkan badan yang sempat kehujanan saat perjalanan pulang.

***

Malam semakin larut. Jam menunjukan pukul sebelas malam, namun mata masih belum bisa terpejam. Scroll media sosial sebagai hiburan memang kerap aku lakukan saat hati membutuhkan teman, terlihat sebuah pesan spam masuk dari Kanaya.

*Kamu di mana? Kenapa nggak dateng di acara ulang tahunku?*

Kutekan menu kembali tanpa membalasnya. Aku menghela napas kasar. Aku memang mengganti semua nomor yang bisa dihubungi. Mengasingkan diri di pinggiran kota Jakarta untuk menekan pengeluaran. Semua rekening yang aku pegang sudah dibekukan. Jadi, mau tidak mau aku harus berjuang dari titik paling bawah. Mencoba hidup di tempat yang lebih murah.

Netraku kini tertuju pada kotak jam tangan warna coklat di atas nakas yang sengaja aku pesan khusus dari perancangnya. Jam yang sempat aku beli dari Jogja sebelum kejadian nahas itu terjadi. Aku membelinya sebagai kado ulang tahun untuk Kanaya. Namun sayang, tak ada kesempatan untuk memberikannya, bahkan sekedar mengucapkan selamat padanya pun aku tak bisa.

Kanaya Larasati, dari sorot matanya aku tahu, dia menyimpan rasa. Tapi tak berani mengungkapkan karena dia wanita, dia lebih memilih untuk diam dan menunggu. Sedangkan aku? Aku memilih diam dari pada harus membuatnya kecewa karena cinta tak kunjung hadir meski hatiku sudah setengah memaksa.

Kutepis segala pemikiran tentang cinta dan perasaan, karena memikirkan esok makan apa jauh lebih penting dibanding segalanya. Terlebih, mencari pekerjaan tidak semudah yang aku bayangkan. Entah, sudah berapa banyak lamaran yang aku sebar, berapa perusahaan aku datangi dan selalu berakhir dengan jawaban nanti akan saya hubungi kembali.

Terkadang aku berpikir. Andai aku terima sedikit bantuan dari Mbak Aya, setidaknya uang di dompet masih ada. Akan tetapi, harga diriku masih di atas rata-rata. Bagaimana bisa menikah tanpa memberi nafkah? Atau memberi nafkah bukan dari hasil jerih payah, padahal mereka sudah menolakku mentah-mentah, entah ayah dari Gendis atau papaku sendiri. Mereka mengusir kami. Sedangkan aku bukanlah orang yang bisa dengan mudah merendahkan harga diri dengan memohon dan mengiba hanya demi uang. Harga diri adalah harga mati bagi seorang Maulana Ibra Rendiatama.

Rasa gelisah semakin menyiksa setiap mengingat keuangan semakin menipis sedangkan pekerjaaan tak kunjung ada panggilan.

Aku bangkit dari pembaringan, keluar mencari udara segar. Berada di dalam kamar berukuran 3x3 terasa semakin panas, ditambah tanpa AC dan juga kipas angin membuat pikiran kusut semakin suntuk.

Kulangkahkan kaki, pelan, agar tidak menimbulkan suara. Langkahku terhenti saat kulihat pintu kamar sebelah. Di jam-jam seperti inilah aku terkadang melihat keadaannya, saat dia terlelap nyenyak. Kuberanikan diri membuka pintu, pelan dan penuh kehati-hatian.

Kulihat dari ambang pintu, dia sedang tidur di bawah dengan posisi duduk, namun hari ini berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Piring di atas nakas terlihat kosong. Bibirku pun tertarik sempurna. Setelah sekian lama dia memilih mencicipi lalu meninggalkan makanan begitu saja, maka malam ini berbeda, sudah ada kemajuan.

Jadi dia suka nugget? Atau suasana hatinya sedang membaik?

Kubawa dia ke atas ranjang agar tidurnya lebih nyaman, lalu sebuah benda jatuh dari atas pangkuan. Setelah meletakkan tubuh yang sedikit mengurus itu dengan penuh kehati-hatian dan menarik selimut menutupi tubuhnya, kuambil benda pipih persegi panjang milik Gendis yang terjatuh dan memeriksa apakah daya perlu diisi.

Kutekan tombol bagian samping untuk melihat berapa daya yang tersisa. Menyala. Selain daya, bisa kulihat juga terakhir apa yang dia buka. Galeri foto. Di sana terlihat foto keluarga, foto bersama ayah dan ibunya, terlihat pula fotonya bersama gadis muda entah siapa. Mungkin saudara.

Rasa asa ingin tahu mulai membimbing jemariku menggeser foto selanjutnya. Beberapa foto bersama teman-teman kampus juga banyak di sana, keceriaan dan kebahagiaan tampak terpancar dari wajah Gendis di foto tersebut, jauh berbeda dengan kondisinya saat ini, pucat, tanpa riasan, dan juga gairah. Apa yang aku lihat sekarang membuatku diliputi rasa entah.

Kuhentikan jemari dan menekan menu kembali. Lalu, aku kembali tersentak saat kulihat gambar wallpapper di layar tersebut. Gambar beberapa orang termasuk Gendis dengan wajah penuh suka cita menunjukkan sebuah tanda pengenal dari perusahaan Mahesa Tunggal dan di belakangnya terlihat sebuah gedung yang tidak asing bagiku.

Keringat mulai membasahi wajah lalu merambat ke seluruh tubuh. Mungkinkah dia adalah salah satu mahasiswa magang di Mahesa Tunggal?

Aku terhenyak di bibir ranjang, menghela napas dalam untuk menghilangkan rasa tegang, lalu kupandang wajah yang terlihat muram meski matanya sedang terpejam.

"Maafkan Abang, Gendis," lirihku mengusap sudut matanya yang basah. Ya, bahkan dia masih mengeluarkan air mata meski matanya tertutup rapat.

Terkadang, aku bertanya pada diri sendiri dan berpikir bahwa dia telah menjebakku. Namun, setiap melihat kondisinya yang begitu terpuruk dan hancur maka sampailah aku pada kesimpulan bahwa kami sama-sama dijebak. Lalu, siapa yang melakukannya? Kebungkaman Gendis membuatku jadi serba salah dan bingung harus berbuat apa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   73. Cari suami kaya

    Gendis terbangun ketika adzan ashar berkumandang. Rumah yang dia tempati memang cukup dekat dengan mushola perumahan, sehingga adzan terdengar cukup keras. "Astaga!" Gendis tersentak manakala matanya terbuka dan melihat Lana duduk di tepi ranjang dengan senyum yang mengembang. Gendis menghembuskan napas kasar."Kaget, ya?" tanya Lana masih dengan senyuman. Kali ini senyumannya berubah menjadi senyuman yang menghangatkan jiwa."Ngapain disini?" tanya Gendis, nada lemah yang dipadukan dengan rasa malas membuatnya tampak tak bergairah."Abang takut, kamu nggak bangun-bangun. Tapi mau bangunin nggak tega.""Terus?" tanya Gendis sembari memegangi kepala yang terasa berat."Ya jadi Abang disini.""Ngapain?""Lihatin napas kamu."Lagi-lagi Gendis dibuat tersentak dengan jawab Lana. Tawa sumbang pun keluar. "Abang pikir aku sekarat? Mau mati? Seneng kalau Gendis mati ya? Biar bisa bebas!" Tuduhan bernada sindiran akhirnya terlontar."Bukan gitu, tadi kamu pucet banget kayak mayat, jadi Abang

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   72. Sakit tak berdarah

    Dengan dada yang terus berdebar dan tubuh yang gemetar, Gendis memberanikan diri untuk tetap melangkah menuju tempat yang diberitahukan Aga. Taman kota dekat kampus menjadi tujuannya sekarang. Langkahnya melambat sebelum akhirnya berhenti sama sekali. Di bawah pohon rindang dia berdiri, membeku, menatap dua insan yang sedang beradu pandang dalam bisu. Tak ada yang bisa dia dengar, namun tatapan keduanya seolah mengatakan bahwa Gendis harus berbalik dan mundur."Beginikah rasanya patah hati?" Gendis mundur beberapa langkah, di balik pohon besar dia mendudukkan diri sembari memeluk lututnya yang melemah dan berbisik pelan. Meratapi nasibnya yang sialan.Ingin lari, namun langkahnya seolah tertahan. Ribuan kali hantaman demi hantaman perasaan yang datang, tak membuatnya serapuh dan sehancur kali ini.Pesan tak terbaca, panggilan terabaikan, bahkan kelas yang tak dihadiri dan jawaban yang selalu mengambang saat dirinya bertanya perihal Kanaya Larasati, semua seakan berputar di dalam kepa

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   71. Kembalinya masa lalu

    "Gendis, Lana kelihatannya anak baik. Jangan merepotkan dan jangan membuatnya marah ya, Nduk. Kemarin saja dia sempat melarang Bunda dan Mbak Hanin untuk menemui kamu karena tidak mau kita mengungkit masa lalu yang bisa saja membuat kamu terluka lagi. Kamu juga dengar sendiri tadi, dia berubah pikiran hanya karena kamu ngigau. Itu berarti dia cukup peduli." Vivian mengusap pipi Gendis. "Lihat kamu dengan penampilan seperti ini, Bunda semakin yakin," lanjutnya dengan tatapan kagum ke arah putri yang kini berjilbab rapi.Gendis tersipu, mendengar penuturan sang ibu. Ada rasa hangat yang menelusup masuk ke dalam relung jiwa yang sempat membeku beberapa waktu lalu akibat cinta yang dia rasa bertepuk sebelah tangan itu, namun kini harapan itu seolah kembali setelah sang ibu mengatakan kalimat demi kalimat yang menghadirkan rasa tenang."Gendis, kamu dengar Bunda, 'kan?"Gendis tersadar dari perasaan yang kembali dipenuhi oleh bunga -bunga asmara."Iya, Bun.""Jadilah partner yang baik se

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   70. Tidak dapat dihubungi

    "Mbak, Bunda, aku bisa jelasin. Ini nggak seperti yang kalian pikirin." Gendis meraih tangan ibu dan kakaknya yang terlihat begitu terkejut sekaligus terpukul.Hanin menghela napas dan menghembuskannya secara perlahan untuk menambah kesabaran. "Apa yang bisa kamu jelasin ke Mbak dan Bunda, jelasin," ujar Hanin, nadanya tak bersemangat.Gendis menarik tangannya kembali. "Di perusahaan ada acara, mahasiswa magang disuruh ikut serta. Di sana ada minuman, aku kira cola karena botolnya memang botol cola," ujar Gendis sembari menundukkan kepala, kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan, berusaha terus menambah keberanian."Terus?" tanya Hanin."Terus aku minum cola karena Mbak sendiri tahu kalau aku suka cola dan nggak sampai beberapa menit aku pusing, akhirnya aku putuskan pulang ke tempat Hana karena tempat itu memang paling dekat daripada harus pulang ke rumah. Aku udah nggak kuat. Tapi begitu sampai di sana, aku malah salah masuk ke kamar Bang Lana yang juga kurang enak badan w

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   69. Keras kepala

    "Ssttt." Dengan jari telunjuk yang menempel di bibir, Hanin meminta Gendis untuk diam. Sebab, Lana terlihat sudah kembali masuk ke dalam restoran."Gendis, Abang ada urusan penting sebentar, masih ada waktu satu jam lebih sebelum jam kuliah kamu dimulai. Nanti Abang jemput lagi kesini. Gimana?" tanya Lana begitu sampai di dekat Gendis. "Nanti kita bisa antar, kok," sahut Hanin mengajukan diri. "Nggak usah, biar saya jemput saja. Kalau begitu saya permisi. Ndis, Abang pergi dulu," ujar Lana sebelum akhirnya melangkah pergi setelah mendapat jawaban berupa anggukan kepala dari Gendis.Kepergian Lana menyisakan banyak tanya di benak Gendis. Raut wajah yang belum pernah dia lihat sebelumnya membuatnya sedikit kepikiran."Dasar, sombongnya," gerutu Hanin setelah Lana benar-benar menghilang dari pandangan."Itu namanya perhatian dan sayang, Hanin," jawab Vivian tersenyum."Apa dia selalu seperti itu, Ndis? Sepertinya dia orang baik dan bertanggung jawab.""Ya, Bang Lana memang baik dan ber

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   68. Cerai

    43. Cerai?"Gendis ...." Dengan suara yang tak kalah bergetar sang Ibu berujar. Kedua tangannya terbuka seolah siap menerima kedatangan sang putri. Lana melepas genggaman tangannya dan membiarkan Gendis menghambur ke pelukan ibunya. Setelah semalaman berpikir, akhirnya ego itu kalah dengan pemandangan menyedihkan di hadapan. Melihat betapa Gendis merindukan sang ibu, membuatnya terenyuh dan mengubah keputusan. "Bunda," ucap Gendis tersedu dalam dekapan sang ibu. Di sebelahnya, Hanin, tak kalah terharu. Tangannya pun terulur meraih pundak kedua wanita yang ada di dekatnya. Ketiganya saling memeluk, melepas kerinduan yang teramat menggebu. Namun, harus berakhir ketika ponsel di saku Lana berdering. Ketiganya mengurai pelukan. Lalu mengusap air matanya sendiri-sendiri. Sementara, di tempat yang masih sama, Lana terlihat menatap layar yang berpendar. Wajahnya terlihat tegang, seolah sedang menadapat telepon yang tidak menyenangkan."Kenapa, Bang? Apa ada masalah?" tanya Gendis begitu me

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   4. Perubahan sikap Gendis

    4. Perubahan sikap GendisSeberkas sinar mentari menerobos jendela kaca yang berada di sebelah tempat tidur. Silaunya mengenai mata dan membuatnya harus mengerjap. Aku baru bisa tenang setelah adzan subuh berkumandang. Tanpa sengaja tidur di atas sajadah setelah melakukan pengakuan dosa dan memoho

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   3. Perdebatan tangah malam

    3. Perdebatan tengah malamKutinggalkan kamar Gendis setelah lampu kumatikan. Menenangkan diri di teras rumah dan memandang langit kelam sudah menjadi rutinitas setiap mata sulit untuk diajak kompromi. Tak ada cemilan ataupun kopi, hanya ada angan yang terus merajut segala pertanyaan dan merangkai

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   1. Gadis yang kau anggap gila itu istriku

    1. Gadis yang kau anggap gila itu, istriku"Orang gila ... orang gila ... orang gila." Sayup kudengar suara dari depan gang di mana aku tinggal. Aku bergegas turun dari motor karena memang baru pulang mencari pekerjaan. Terlihat beberapa anak kecil sedang berkerumun di sana, di tengahnya tampak s

  • Rahasia di Balik Akad Nikahku   7. Mas Boy 2

    Tawanya pecah begitu mendengar jawabanku. "Apa Danuarta sudah tidak mampu lagi memberi anaknya pekerjaan?" "Bukan, bukan begitu. Ini tidak ada hubungannya dengan Papa saya. Saya hanya ingin mandiri saja," terangku. Aku tak bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Dia adalah satu-satunya orang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status