Share

Bab 5

Author: Liam
Beberapa bulan kemudian, kondisiku sama sekali tidak membaik.

Bahkan, frekuensi kambuhnya menjadi semakin tak terkendali.

Diam-diam aku mengunggah postingan di internet untuk mencari metode pengobatan.

Ada sebuah komentar dengan suara terbanyak yang menyarankan agar aku pergi berjalan-jalan sendirian untuk menyegarkan suasana hati.

Maka dari itu, aku memutuskan untuk naik bus jarak jauh.

Awalnya, segalanya berjalan ke arah yang baik.

Aku mendapat banyak teman baru dan mulai memberanikan diri untuk tampil apa adanya.

Perlahan, aku mulai melupakan kejadian-kejadian tidak menyenangkan itu.

Namun, karena perjalanan yang sangat jauh, tanpa sadar sebagian besar kursi di barisan belakang kini ditempati oleh pria!

Perjalanan ini sangat melelahkan, dan mereka tertidur pulas.

Suara dengkur yang membawa aroma hormon pria yang kental itu seketika membuat kepalaku berdenyut kencang.

Pikiran untuk berbuat nekat tanpa batasan kembali muncul dengan liar di benakku.

Tangan seseorang yang sedang tidur lelap di belakangku tanpa sengaja jatuh melewati celah kursi, tepat mengenai bagian paling sensitif di samping tubuhku.

Saraf di bagian itu seketika bergejolak hebat, rasa mati rasa yang tak tertahankan mulai menjalar.

Apa yang harus kulakukan?

Aku hampir ... kehilangan kendali ....

Merasakan tangan pria di belakangku yang terkulai itu, aku bahkan tidak memiliki keberanian untuk menepisnya.

Aku membiarkan pikiranku jatuh ke dalam jurang kegelapan, rasa cemas dan gelisah itu perlahan-lahan berubah menjadi gairah yang meluap.

Aku menggigit bibir dan melirik ke belakang.

Hari sudah sangat larut, tidak akan ada yang memperhatikanku.

Semua pria sedang tertidur pulas.

Kecuali ... sopir yang sedang mengemudi tidak jauh dari tempatku duduk.

Namun, dari pantulan kaca di depanku, aku bisa melihat ekspresinya yang sangat fokus menatap jalanan.

Dia tidak akan menyadarinya, ‘kan?

Aku benar-benar hampir tidak bisa menahannya lagi.

Aku menelan ludah, membiarkan tangan yang bersandar di bahuku itu tetap di sana.

Mengikuti insting tubuh, aku meringkuk sekuat tenaga di atas kursi, membuka jeruji penjara hasratku sendiri.

Aku memejamkan mata, menutup mulut dengan satu tangan.

Bus melaju semakin kencang, dan gerakan tanganku pun semakin cepat.

Aku bahkan bisa melihat setiap ekspresi sopir bus melalui pantulan kaca.

Tepat di sisi kiriku, hanya berjarak setengah meter.

Dia begitu fokus, sama sekali tidak tahu bahwa di sampingnya sedang duduk seorang wanita nakal yang bertindak sembarangan.

Saraf-sarafku berteriak mencapai batasnya, gelombang di lubuk hatiku menerjang bertubi-tubi.

Di sela-sela itu, aku sengaja membuka mata untuk menatap kaca di depan.

Ekspresi sopir itu saat menatap jalan begitu serius, wajah tampak sampingnya pun terlihat cukup tampan.

Mungkin dia tidak akan pernah menyangka bahwa dia telah menjadi alat bagi seluruh kenikmatanku.

Dia tidak akan pernah tahu bahwa saat ini, di sampingnya, ada seorang wanita yang bisa dia dapatkan dengan mudah.

Aku kembali memejamkan mata, meringkuk, dan diam-diam menikmati dunia kenikmatan tubuhku sendiri.

Setelah tenagaku terkuras habis, aku menjauhkan tangan dari mulutku dan memejamkan mata sejenak untuk menenangkan diri.

Aku berpikir, apakah aku tidak akan pernah bisa lepas dari perasaan gila ini.

Aku menekan rasa gairah yang timbul dari rasa malu tersebut.

Bersiap untuk kembali mengenakan topeng sebagai "dewi dingin" seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia di Dalam Bus   Bab 13

    Menghadap jendela besar yang memperlihatkan aliran kendaraan, aku menahan kuat-kuat dorongan di dalam hati untuk kembali ke kebiasaan lama. Aku berlari keluar rumah. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak berpikir dan tidak melihat.Akhirnya, aku melangkah ke hadapan seorang psikolog wanita. Kali ini tidak ada hinaan, tidak ada kata-kata kotor, yang ada hanyalah penghiburan dan dukungan yang hangat. Dialah yang membuatku kembali melihat harapan hidup. Dialah yang menyadarkanku bahwa aku juga bisa menjadi manusia normal yang seutuhnya.Aku mengikuti setiap sesi konselingnya. Sedikit demi sedikit, aku mengucapkan selamat tinggal pada batinku yang selama ini sudah terdistorsi. Aku mulai bisa masuk ke lingkungan sosial yang normal, dan bisa berdamai dengan diriku yang buruk di masa lalu.Namanya adalah Laila Ertina. Dialah yang memberiku cahaya kedua dalam hidupku.Dalam percakapan baru-baru ini, aku tidak sengaja mengetahui bahwa psikiater pertama yang kutemui dulu, telah dilaporka

  • Rahasia di Dalam Bus   Bab 12

    Aku sampai di rumah. Sambil menjinjing sepatu hak tinggi, aku berdiri dengan kaki telanjang yang kelelahan di depan pintu. Suara sensor sidik jari terdengar sangat pelan, hingga tidak akan mengejutkan siapa pun.Aku ingin segera mencari suamiku untuk meminta ketenangan, baik secara psikologis maupun fisik. Aku hanya ingin memeluknya erat-erat. Namun tiba-tiba, terdengar suara lenguhan aneh dari dalam kamar, serta suara pria dan wanita yang sedang bercanda pelan?Jantungku seolah berhenti berdetak. Aku mengintip perlahan.Di atas tempat tidur yang besar itu, ada suamiku dan bibi tersayangku. Selimut yang berantakan dan dua orang yang sedang bercumbu tanpa henti. Aku bahkan bisa mencium aroma yang tak terlukiskan dari sana."Menyebalkan! Pelan sedikit, apa kamu nggak takut kalau Susi pulang dan melihat kita?""Siapa yang menyebalkan? Ayo, biarkan aku memelukmu lagi, jangan berhenti.""Aku nggak bercanda.""Alah, Susi? Dia itu cuma psikopat yang wajahnya saja yang cantik! Lucu seka

  • Rahasia di Dalam Bus   Bab 11

    Dia tiba-tiba membuka pintu bus dan membopongku turun. Perlawananku yang lemah sama sekali tidak berarti baginya.Pada akhirnya, apakah dia akan menembus pertahanan terakhir itu? Padahal, itu adalah harga diri terakhir yang kupunya. Aku menangis dalam diam.Tidak ada yang bisa menyelamatkanku. Aku benar-benar hanya sedang sakit, mengapa semua orang tidak mau melepaskanku? Mengapa semua orang menghinaku?Mereka menganggapku rendahan sejak lahir, yang bisa dipermainkan, dan dilecehkan sesuka hati.Dokter itu begitu, sopir ini pun begitu, tidak ada satu pun yang melepaskanku. Apakah semua ini salahku? Aku tidak mengerti.Di saat terakhir, aku berhenti melawan. Aku membiarkan pria itu melemparkanku ke dalam kegelapan ladang yang luas. Aroma hormon pria itu menutupi cahaya bintang yang tersisa. Jarak di antara kami perlahan menghilang.Bisikan gila sopir itu terus terdengar di telingaku. Dia dengan mahir menggoda setiap jengkal sarafku, hingga kesadarannya sendiri mulai tertelan ga

  • Rahasia di Dalam Bus   Bab 10

    Rasa dingin di balik rok setiap saat seolah mengingatkanku tentang apa yang baru saja kulakukan di depan pria ini. Gesekan langsung antara kulit dan bahan kasar kursi bus seketika memicu rasa malu yang tak terlukiskan di dalam hati.Aku menatap sopir yang tampak berwibawa itu dengan penuh kebencian. Aku tidak tahu sampai kapan harus menanggung penghinaan ini.Selama perjalanan, aku bangkit dan berjalan mondar-mandir di lorong bus sebanyak tiga kali, mengayunkan pinggul dengan kondisi tanpa busana di balik rokku.Entah itu hanya halusinasiku saja atau bukan. Setiap kali aku melangkah, aku merasa ada banyak pasang mata pria yang menatapku dengan panas, melekat erat pada tubuhku. Seolah-olah mereka bisa menembus gaun tali tipis ini dan melihat segalanya!Secara naluriah aku merasa mereka tampak mengagumi kecantikan dinginku di depanku. Namun di belakang, mereka membicarakan betapa bejatnya tindakanku. Bahwa aku adalah wanita nakal yang sesungguhnya.Namun di mataku sendiri, aku terla

  • Rahasia di Dalam Bus   Bab 9

    "Nggak perlu yang lain!" sahutku panik. "Aku makan ini saja."Aku mencengkeram benda yang diberikan sopir bus di telapak tanganku. Aku kira ini sudah berakhir. Namun, saat aku mendongak dan melihat tatapan matanya yang membara, barulah aku tahu. Tidak, ini justru baru saja dimulai!Pria itu perlahan mendekatkan wajahnya ke telingaku, mengembuskan napas pendek. "Sekarang juga, aku ingin kamu melakukannya di depanku."Aku menggigit bibir erat-erat. Di tengah kepanikan, terselip keinginan aneh yang sulit dilukiskan untuk segera mencobanya. Aku bertanya-tanya seperti apa rasanya melakukan hal itu nanti. Apakah akan menjadi pengalaman luar biasa yang belum pernah kurasakan sebelumnya? Jenis pengalaman yang membawa gairah mencapai puncaknya!Seperti saat di depan jendela kamar mandi. Di ketinggian yang tak diketahui siapa pun, melepaskan kesepian di lubuk hatiku sedalam-dalamnya.Mataku berkaca-kaca saat perlahan menatap sopir itu. "Aku hanya akan melakukan ini sekali saja. Kamu ngga

  • Rahasia di Dalam Bus   Bab 8

    Pria itu menjulurkan tangan dan meremas paha molekku yang jenjang. Pada saat ini, rasa takut telah mengalahkan kegembiraan di lubuk hatiku. Aku hanya bisa pasrah berada di bawah kendali pria di hadapanku ini."Apa yang harus kulakukan?" tanyaku dengan suara kecil yang pengecut. Aku menyerah pada nasib sambil meletakkan tangan di atas kulit perutku yang lembut dan halus.Namun pria itu menggelengkan kepala, seolah tiba-tiba terpikirkan sesuatu. Senyum licik yang penuh arti muncul di wajahnya."Aku nggak bilang untuk melakukannya sekarang. Sekarang semua orang di bus sedang tidur, mana seru begitu?""Cantik, kalau mau main, kita main yang lebih menantang!""Aku akan terus mengawasimu. Besok siang, apa pun yang kukatakan, kamu harus melakukannya."Mulutku sedikit ternganga, secara tidak sadar aku menelan ludah. Karena ancaman sopir itu, aku tidak ingin orang-orang tahu betapa liar dan tak terkendalinya diriku di balik topeng "dewi dingin" ini. Aku tidak punya pilihan lain.Setelah it

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status