ログインRudi akhirnya pergi.
Pintu tertutup, tapi udara di dalam rumah Yanti masih terasa berat. Seperti ada sisa tekanan yang tertinggal di dinding, di lantai, bahkan di dada mereka berdua.
Eko berdiri mematung beberapa detik. Tangannya masih mengepal, rahangnya mengeras—bukan karena marah, tapi karena ada sesuatu di dalam dirinya yang belum sepenuhnya reda. Ia tidak merasa menang. Tidak juga merasa aman. Tapi satu hal membuat dadanya sedikit lebih ringan: Yanti tidak kenapa-kenapa.
Tatapannya jatuh pada Yanti.
Wajah itu pucat, napasnya belum sepenuhnya stabil. Rambutnya sedikit berantakan, matanya menyimpan terlalu banyak hal yang belum sempat keluar.
Keheningan di antara mereka terasa canggung. Terlalu banyak yang baru saja terjadi, ter
Siang itu matahari bersinar cukup terik, memantulkan cahaya di sela-sela bangunan kota yang mulai ramai. Yanti berdiri di depan meja riasnya, menatap bayangan sendiri di cermin. Ia tidak berdandan berlebihan—tidak ada riasan mencolok, tidak ada pakaian yang terlalu menarik perhatian. Namun justru kesederhanaan itulah yang membuatnya terlihat menawan.Ia menghela napas pelan.“Oke… hari ini aku harus dapatkan faktanya,” gumamnya lirih. “Semoga semua kecurigaan Eko nggak terjadi.”Kata-kata itu terdengar seperti doa, sekaligus penguat untuk dirinya sendiri.Tak lama kemudian Yanti berangkat menuju kafe tempat ia dan Daniel sepakat bertemu. Sebuah kafe kecil, tenang, dengan parkiran terbuka dan jendela kaca besar—tempat yang terlihat aman, wajar, dan jauh dari kesan mencurigakan.Dari kejauhan, sepasang mata memperhatikan.Eko tidak mengikuti terlalu dekat. Ia menjaga jarak, cukup untuk melihat tanpa terlihat. Bukan karena ia ingin mengontrol, tapi karena firasatnya tidak pernah benar-be
Pagi datang tanpa suara, tapi kepala Eko tidak benar-benar pernah tidur.Ia terbangun di kamar kosnya dengan langit-langit kusam yang sudah terlalu sering ia tatap dalam keadaan berpikir. Ada rasa lega yang menggantung di dadanya—bukan lega karena masalah selesai, tapi lega karena ia akhirnya memilih bertindak, bukan terus menjadi penonton.Eko duduk di tepi ranjang, mengusap wajahnya pelan.Apa yang ia lakukan semalam adalah langkah yang benar. Setidaknya menurut nuraninya.Ia sudah menyerahkan kebenaran ke tangan Yanti.Sekarang tinggal satu hal:menunggu.Menunggu apakah langkah itu akan membuka jalan keluar…atau justru meledakkan semuanya.Eko paham betul, sejak semalam, tidak ada lagi jalan mundur.Semua yang terjadi setelah ini adalah konsekuensi.Yanti berdiri di dapur, pagi itu berjalan seperti hari-hari sebelumnya—terlalu normal untuk sesuatu yang sebenarnya sudah retak.Ia menyiapkan sarapan untuk Herman.Nada bicaranya sama.Gerakannya sama.Bahkan senyumnya… nyaris sama.
Bagi Yanti, apa yang ia lihat di layar itu seperti sambaran petir di siang bolong. Bukan karena ia tak pernah curiga—melainkan karena selama ini ia memilih menutup mata.Semua yang pernah ia tahan. Semua usaha untuk tetap menjadi istri yang “cukup”. Semua kompromi kecil yang ia anggap wajar demi menjaga pernikahan.Mendadak terasa sia-sia.Namun anehnya, di balik rasa sakit yang menusuk dada, ada sesuatu yang lain muncul. Rasa lega. Tipis, tapi nyata.Sekarang ia tahu. Ia tidak lagi berdiri di tengah kabut. Tidak lagi menebak-nebak posisinya sendiri. Kebenaran itu menyakitkan, tapi setidaknya ia memberi arah.Air mata Yanti jatuh satu per satu, tanpa suara. Bukan tangisan histeris, bukan luapan emosi—melainkan tangis orang yang terlalu lama menahan segalanya sendirian.Dadanya sesak. Ia ingin marah, ingin berteriak, ingin menumpahkan semua rasa yang menekan jantungnya. Tapi yang keluar hanya isak kecil yang ia tekan sekuat tenaga.Eko melihat itu. Dan sebelum ia s
Rudi mondar-mandir di dalam rumahnya seperti binatang yang terjebak di kandang sempit. Keringat dingin membasahi pelipisnya, bukan karena panas, tapi karena pikirannya tak berhenti berputar.Ponsel itu.Satu-satunya pegangan yang selama ini membuatnya merasa aman.Sekarang hilang.Bukan hanya Yanti yang lepas dari genggamannya—semua orang yang selama ini ia tekan, ia kendalikan, ia paksa diam dengan ancaman halus maupun kasar… semuanya kini berada di luar jangkauannya. Tanpa bukti, ia bukan siapa-siapa. Hanya lelaki setengah tua dengan rahasia busuk dan reputasi rapuh.Ia meninju dinding pelan, lalu tertawa pendek—tawa kosong yang cepat mati.“Tenang,” gumamnya sendiri. “Belum habis.”Ancaman kepada Herman tadi malam…Itu perjudian nekat. Ancaman kosong. Tanpa bukti apa pun di tangan. Dan entah bagaimana—sialan—itu berhasil. Herman berhenti. Ragu. Mundur.Rudi tahu itu bukan karena keberanian.Itu karena rasa takut.Dan rasa takut, pikir Rudi, selalu bisa dimanfaatkan.Tapi ia juga sa
Yanti membaca pesan itu berulang kali.Bukan karena tak paham isinya, tapi karena terlalu sedikit yang bisa dipahami.Yan, kita perlu bertemu. Ada hal penting yang harus kita bicarakan.Tidak ada penjelasan.Tidak ada petunjuk.Justru itulah yang membuat dadanya terasa sesak.Ia meletakkan ponsel di atas meja, lalu menatap kosong ke arah jendela. Pagi terasa terlalu terang untuk perasaan yang belum selesai semalam. Tubuhnya masih mengingat ketakutan itu—tangan Rudi, teriakannya sendiri, dan wajah Herman yang berubah menjadi sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.Kemarahan itu.Brutal. Melindungi. Menakutkan.Yanti menelan ludah.Jika ia pergi menemui Eko…Jika Herman tahu…Kemarahan itu bisa saja beralih arah.Bukan kepada Rudi.Bukan kepada orang luar.Tapi kepada orang yang paling dekat.Ia melirik ke arah kamar. Herman masih tertidur. Wajahnya tenang, seolah semalam tak pernah terjadi apa-apa. Dan ketenangan itu justru membuat Yanti ragu.Apa yang sebenarnya ingin Eko bicar
Herman menutup pintu perlahan setelah memastikan Rudi benar-benar pergi.Tangannya masih gemetar, napasnya belum sepenuhnya teratur.Ia mendekati Yanti yang duduk meringkuk di sudut sofa. Bahunya naik turun, wajahnya pucat, matanya kosong seperti belum benar-benar kembali ke ruangan itu.“Sayang… kamu nggak apa-apa?”suara Herman terdengar lebih rendah dari biasanya. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja hampir kehilangan kendali.Ia menarik Yanti ke dalam pelukannya. Terlalu cepat. Terlalu rapi.Yanti menempelkan wajahnya ke dada suaminya, menangis tanpa suara.“Aku takut… sangat takut,” ucapnya terbata, tubuhnya masih bergetar.“Tenang,” balas Herman sambil mengusap rambut Yanti.“Sekarang semuanya sudah selesai. Nggak akan ada apa-apa lagi.”Kalimat itu terdengar seperti janji.Tapi di telinga Yanti, itu terdengar seperti keputusan sepihak.Tangannya yang tadi menenangkan kini terasa kaku.Tidak hangat. Tidak marah. Tidak juga lega.Yanti menarik napas dalam-dalam.Ada sesu







