LOGIN"Wanita mandul tidak punya tempat di keluarga Syahreza." Kalimat kejam itu menjadi akhir dari pernikahan Raisa. Ia diusir seperti sampah, sementara suaminya, Kavindra Elvan Syahreza, hanya diam membisu sebelum akhirnya menikahi wanita pilihan ibunya. Raisa pergi membawa luka, martabat yang diinjak-injak, dan sebuah rahasia yang ia kunci rapat. Lima tahun berlalu. Raisa kembali sebagai dokter anak yang kehadirannya justru sangat dibutuhkan oleh RS Syahreza. Namun, segalanya berubah rumit saat ia harus membawa serta Arkan dan Aira, si kembar yang memiliki wajah sangat mirip dengan pria yang dulu membuangnya. Kavindra terobsesi dengan kemiripan Arkan yang seolah melihat cermin masa kecilnya sendiri. Di sisi lain, Raisa bersikap sedingin es dan mengaku telah memiliki suami baru. Akankah Raisa terus menyembunyikan identitas ayah biologis anak-anaknya?
View More"Kapan kamu mau ngasih Ibu cucu, Raisa? Tiga tahun kalian menikah dan rumah ini masih sepi kayak kuburan. Nggak ada suara tangis bayi di rumah ini."
Wajah Raisa memucat. "Bu, Raisa sedang berjuang menyelesaikan residen spesialis anak. Jadwal jaga Raisa sangat padat, dan kami juga sedang berusaha—" "Berusaha? Tiga tahun, Raisa. Jangan-jangan memang kamu yang mandul?" potong Sofia tanpa belas kasihan. "Keluarga Syahreza itu butuh pewaris untuk mewarisi semua harta keluarga kami. Kavindra adalah putra tunggal. Kalau kamu tidak bisa memberikan anak, apa gunanya kamu di keluarga ini?" "Ibu, tolong. Jangan mulai lagi." Kavindra akhirnya bersuara, tetapi nadanya datar. Tidak membela Raisa. "Jangan mulai lagi? Vindra, lihat istrimu! Dia terlalu sibuk mengurusi anak orang lain di rumah sakit sampai lupa dengan dirinya sendiri!" Sofia menggebrak meja ringan. "Ibu sudah konsultasi dengan dr. Hanum, spesialis kesuburan. Dia bilang di usia pernikahan kalian sekarang, kalau belum ada tanda-tanda, kemungkinan besar ada masalah di pihak perempuan. Dan Ibu yakin yang bermasalah itu kamu, Raisa. Mengingat gaya hidupmu yang sering pulang pagi karena jadwal pendidikanmu itu." Raisa merasakan matanya memanas. "Raisa sehat, Bu. Hasil cek rutin Raisa semuanya bagus." "Sehat katamu? Lalu mana hasilnya? Mana buktinya?!" Sofia berdiri, mencondongkan tubuhnya ke arah Raisa. "Jangan-jangan kamu pakai KB tanpa sepengetahuan Vindra karena mau egois mengejar gelar spesialis itu? Kamu sengaja menunda pewaris Syahreza demi ambisimu sendiri?" "Tidak, Bu. Demi Allah, Raisa tidak pernah memakai KB." Suara Raisa mulai bergetar. "Kalau begitu, artinya kamu yang mandul," desis Sofia. "Ibu malu, Raisa. Setiap kali arisan ditanya mana cucu dari Direktur RS Syahreza. Ibu harus jawab apa?" Raisa menatap Kavindra, memohon dukungan lewat tatapan matanya. Berharap suaminya akan membanting sendok atau setidaknya menegur ibunya. Namun, Kavindra tetap tenang, jemarinya lincah menggeser layar ponsel. "Vindra!" Suara Raisa bergetar, "kamu dengar apa yang Ibu katakan?" Kavindra menghela napas pendek, akhirnya meletakkan ponselnya dengan perlahan. Ia menatap Raisa, tetapi tatapannya kosong. "Raisa, Ibu tuh khawatir. Wajar kalau beliau bersikap begitu. Kita sudah bicara soal ini berbulan-bulan yang lalu, kan? Tentang fokusmu yang terbagi." "Fokusku terbagi?" Raisa terkekeh getir. "Aku ini residen, Vindra. Aku sedang menempuh pendidikan spesialis yang kamu dukung sejak awal. Kamu juga seorang dokter, kamu tahu bagaimana perjuangannya!" "Jangan bawa-bawa profesi sebagai tameng. Banyak dokter spesialis yang punya anak banyak. Masalahnya bukan di pendidikanmu, tapi di tubuhmu. Apa perlu Ibu seret kamu ke klinik kesuburan besok pagi supaya kamu sadar kalau ada yang salah dengan fungsi wanitamu?" "Bu, cukup!" Raisa berdiri, tangannya mencengkeram pinggiran. "Raisa bukan mesin pencetak anak. Raisa istri Kavindra." "Istri?" Sofia berdiri menyamai tinggi Raisa, menatapnya dengan hinaan. "Istri macam apa yang membiarkan suaminya pulang ke rumah yang sepi setiap malam? Istri macam apa yang tidak bisa memberikan kebanggaan pada mertuanya? Kamu tahu apa yang orang-orang bilang di luar sana? Mereka bilang keluarga Syahreza sedang kena kutukan karena punya menantu yang rahimnya dingin." "Itu fitnah, Bu! Raisa nggak seperti yang mereka katakan!" "Lalu mana buktinya?!" Sofia menjerit kecil, suaranya melengking tajam. "Mana? Tunjukkan pada Ibu satu saja bukti kalau kamu bisa hamil! Tidak bisa, kan? Kamu hanya memberi kami janji dan alasan setiap tahunnya. Ibu sudah bosan." Raisa merasakan air mata mulai menggenang, tetapi ia menahannya sekuat tenaga. Ia beralih pada Kavindra. "Vindra, katakan sesuatu. Dari tadi kamu banyak diam." Kavindra menyesap air putihnya, lalu menatap Raisa dengan raut wajah yang lelah. "Raisa, mungkin ada baiknya kamu dengarkan Ibu. Kamu memang terlalu sibuk. Mungkin jadwal pendidikanmu itu yang membuat hormonmu berantakan. Kalau kamu memang tidak bisa memberikan apa yang keluarga ini butuhkan sekarang, jangan salahkan jika Ibu mulai mencari alternatif lain." "Alternatif lain?" Raisa tiba-tiba bingung. "Maksudmu wanita lain?" "Aku butuh anak, Raisa. Aku direktur masa depan rumah sakit ini. Aku tidak mungkin memimpin tanpa ada orang yang akan meneruskannya," jawab Kavindra dingin. Sofia tersenyum miring. "Dengar itu? Suamimu sendiri sudah bicara. Jadi, jangan berlagak jadi korban di sini. Kamu yang gagal sebagai wanita. Kamu yang tidak bisa memberikan anak." "Ibu tahu nggak?" Raisa menyeka air matanya dengan kasar, suaranya mendadak tajam karena amarah yang memuncak. "Di rumah sakit, setiap hari Raisa menyelamatkan nyawa anak orang lain. Raisa belajar bahwa anak adalah anugerah. Kalau Ibu menganggap Raisa menantu yang gagal hanya karena saya belum hamil, maka Ibu tidak pernah menganggap Raisa sebagai menantu sejak awal." "Berani kamu bicara begitu pada Ibu?!" wajah Sofia memerah padam. "Ya, Raisa berani! Karena Raisa bukan properti keluarga Syahreza!" Raisa menatap Kavindra dengan tatapan yang hancur sekaligus muak. "Dan kamu, Vindra, terima kasih atas pembelaannya. Sangat luar biasa melihat suamiku sendiri membiarkan aku diinjak-injak seperti sampah di meja makan ini." Raisa berbalik, melangkah cepat menuju kamarnya. Di dalam saku bajunya, tangannya meremas test pack yang baru saja ia pakai di toilet rumah sakit sore tadi. Dua garis merah itu ada di sana. Ia ingin berteriak bahwa ia sedang mengandung, tapi kata-kata Kavindra tentang "alternatif" membuat tenggorokannya tercekat. Untuk apa memberi tahu pria yang bahkan tidak sudi membelanya dari tuduhan mandul? Di ruang makan, suara Sofia masih terdengar jelas. "Lihat itu, Vindra! Dia tidak punya sopan santun! Wanita mandul dan tidak tahu diri. Kamu harus segera mengurus perceraian itu. Nadira jauh lebih baik, dia dari keluarga terpandang dan ibunya punya sepuluh cucu. Bibitnya jelas!" Raisa menutup pintu kamar dengan bantingan keras, lalu luruh ke lantai. Ia mendekap perutnya yang masih rata. "Jangan takut, Sayang," bisiknya di sela isak tangis. "Mama tidak akan membiarkan kalian tumbuh di lingkungan beracun seperti ini. Kalau mereka ingin pewaris, mereka tidak akan mendapatkannya dari rahim yang mereka hina ini."Gerimis tipis mengguyur Jakarta saat sebuah mobil sedan mewah berhenti di depan sebuah rumah petak di gang sempit daerah pinggiran. Nadira turun dengan anggun, meski wajahnya menunjukkan ekspresi jijik saat sepatunya yang seharga belasan juta harus menginjak aspal yang becek.Di depan pintu kayu yang catnya sudah mengelupas, ia berhenti. Di dalam, ia melihat Kavindra, pria yang dulu selalu tampil klimis dengan jas Armani kini hanya mengenakan kaos oblong putih tipis dan celana kain biasa, sedang duduk di meja kayu kecil sambil memeriksa tumpukan rekam medis pasien kliniknya.Nadira mengetuk pintu dengan keras. Kavindra menoleh, matanya sedikit membelalak melihat siapa yang datang. Ia berdiri dan membuka pintu. "Nadira? Sedang apa kamu di sini?"Nadira tidak menjawab, ia langsung menerobos masuk dan menutup hidungnya. "Astaga, Vindra! Tempat apa ini? Bau apak, sempit, dan ... apa itu? Kipas angin karatan?""Ini tempat tinggalku sekarang. Kalau kamu tidak suka, silakan keluar," ja
Enam bulan telah berlalu sejak badai di RS Syahreza mereda. Kavindra benar-benar menepati janjinya. Ia menanggalkan jabatan Direktur Utama, keluar dari rumah mewah Syahreza, dan memutuskan hubungan finansial sepenuhnya dari Sofia. Kini, ia bukan lagi pangeran mahkota medis Jakarta. Ia hanyalah dr. Kavindra, seorang dokter umum yang membuka praktik di sebuah klinik kecil di pinggiran kota, jauh dari gemerlap kekuasaan.Sore itu, udara Jakarta terasa gerah. Kavindra baru saja selesai melayani pasien terakhir ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Raisa.Raisa: Arkan ada latihan basket di lapangan komplek jam 4 sore. Aku ada operasi darurat, Abimanyu sedang di luar kota untuk simposium. Kalau kamu mau mencoba bicara dengannya, ini waktunya. Tapi ingat janji kita, jangan memaksa.Tangan Kavindra gemetar. Ini adalah kesempatan yang ia tunggu-tunggu. Selama enam bulan, ia hanya berani mengirimkan buku atau mainan lewat kurir tanpa nama, atau mengintip dari kejauhan saat Abi menjem
Pintu ruang sidang Komite Etik RS Syahreza tertutup rapat, menciptakan suasana yang mencekam. Di dalam, Raisa duduk sendirian di kursi pesakitan, dikelilingi oleh lima dokter senior yang menatapnya dengan tatapan menghakimi. Di sudut ruangan, Sofia Syahreza duduk dengan anggun, menyilangkan kaki, dan menatap kuku-kukunya seolah nyawa karier Raisa hanyalah hiburan pagi yang membosankan."Dokter Raisa Andriana." Suara Ketua Komite Etik, dr. Gunawan, menggema. "Ada laporan serius mengenai pelanggaran prosedur medis yang Anda lakukan pada pasien anak di bangsal Melati tiga hari lalu. Pasien mengalami reaksi alergi berat setelah Anda memberikan injeksi antibiotik. Laporan menyebutkan Anda tidak melakukan skin test terlebih dahulu."Raisa mengepalkan tangannya di bawah meja. "Itu tidak benar, Dok. Saya melakukan skin test. Hasilnya negatif, dan perawat saksinya ada. Saya mencatat semuanya di rekam medis digital.""Sayangnya," sela Sofia dengan suara lembut yang berbisa, "rekam medis digi
Kavindra merasa dunianya runtuh tepat di depan matanya sendiri. Dari balik pilar beton di lorong, ia menyaksikan pemandangan yang lebih menyakitkan daripada melihat laporan kerugian perusahaan. Ia melihat Raisa tersenyum dengan rona merah di pipi. Dan senyum itu bukan untuknya. Senyum itu milik Abimanyu.Begitu Raisa menghilang di balik belokan menuju poliklinik, Abimanyu berbalik. Pria itu berjalan santai menuju area parkir, masih dengan sisa senyum di bibirnya. Kavindra tidak bisa menahan diri lagi. Amarah yang membuncah, rasa cemburu yang membakar, dan ego sebagai seorang Syahreza meledak seketika. Ia keluar dan mencegat langkah Abimanyu tepat di area parkir VIP yang sepi."Berhenti di sana, Dokter Abimanyu." Suvara Kavindra berat dan penuh ancaman.Abimanyu menghentikan langkahnya. Ia tidak tampak terkejut. Sebaliknya, ia menarik napas panjang dan berbalik dengan tenang, menatap lurus ke mata Kavindra yang merah karena emosi."Pak Direktur. Ada yang bisa saya bantu sepagi i












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews