Masuk“Apakah keputusan ini sudah final, Yang Mulia?”Satu pertanyaan itu saja cukup membuat Aula Kehakiman Kekaisaran jatuh ke dalam keheningan absolut.Aula Kehakiman Kekaisaran pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena musim, melainkan karena keputusan yang akan dijatuhkan tidak menyisakan ruang untuk belas kasihan. Para tetua dan bangsawan tinggi berdiri berderet rapi, kepala menunduk, napas ditahan. Tidak ada bisik-bisik, tidak ada gerakan sia-sia. Semua orang paham, satu kata yang salah bisa mengundang malapetaka.Wang Rui berdiri di singgasana, posturnya tegak dan tak tergoyahkan. Tatapannya menyapu aula dengan ketenangan yang justru menekan. Sejak naik takhta, ia jarang menunjukkan emosi. Namun hari ini, ketenangannya bukan lagi tanda keraguan, melainkan keputusan yang telah matang dan tidak dapat dipatahkan.“Sudah.” jawab Wang Rui singkat. “Umumkan sekarang.”Di tengah aula, Ibu Suri berlutut. Jubahnya sederhana berwarna putih polos, tanpa lambang kehormatan. Semua
“Tarik napas. Jangan bergerak.”Nada suara Huang Ziyan terdengar profesional, tenang, terlalu tenang untuk situasi yang sedang ia hadapi. Jarinya masih menekan pergelangan tangan Lin Qian, menghitung denyut nadi dengan ketelitian yang nyaris kejam. Wajahnya kaku, alisnya sedikit berkerut, seolah ada satu variabel yang tidak seharusnya muncul namun menolak disangkal.Lin Qian duduk di ranjang rendah Paviliun Medis, punggungnya lurus, namun telapak tangannya dingin. Ada firasat aneh yang membuat dadanya terasa sesak.“Ziyan.” katanya pelan. “katakan saja.”“Jika hasilnya salah, aku sendiri yang akan bertanggung jawab.”Kalimat Huang Ziyan jatuh tegas, tanpa celah untuk dibantah. Ruang pemeriksaan Paviliun Medis Kekaisaran dijaga ketat, jauh lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada tabib lain. Tidak ada pelayan. Hanya mereka bertiga.Wang Rui berdiri di sisi ranjang, satu langkah terlalu dekat untuk disebut formal, namun terlalu jauh untuk benar-benar tenang. Sejak Lin Qian dibaringkan, tata
“Apa yang kau sembunyikan dariku?”Kalimat itu meluncur datar dari Lin Yuan, namun tekanan di baliknya cukup untuk membuat tabib-tabib istana menahan napas. Aula kecil Paviliun Timur yang biasanya tenang berubah menjadi ruang dengan atmosfer tertekan, seolah satu kesalahan kata saja bisa memicu ledakan.Lin Qian duduk di tepi ranjang, punggungnya tegak, wajahnya pucat namun tetap terjaga. Ia baru saja menyelesaikan pemeriksaan denyut nadi rutin yang semestinya tidak memakan waktu lama. Namun sejak fajar, kepalanya terasa berat, penglihatannya sesekali mengabur, dan tubuhnya seolah kehilangan daya tahan yang selama ini menjadi kebanggaannya.“Aku tidak menyembunyikan apa pun.” jawab Lin Qian akhirnya, suaranya tenang namun jelas lebih lemah dari biasanya.Lin Yuan tidak puas. Ia melangkah mendekat, terlalu dekat. Tangannya mengepal di balik lengan jubah prajurit bayangan, rahangnya mengeras. Reaksinya jauh melampaui standar kewaspadaan seorang kakak, apalagi seorang prajurit yang terbi
“Mulai hari ini, tidak ada lagi yang boleh mempertanyakan posisimu.” Ucapan Wang Rui terdengar tenang, namun beratnya terasa jelas di ruang dalam Paviliun Anxin. Lin Qian berdiri di hadapannya, cahaya pagi menyelinap lewat tirai tipis, memantulkan bayangan keduanya di lantai batu. Kalimat itu bukan janji manis, melainkan pernyataan yang sudah diputuskan. Lin Qian mengangkat pandangan. “Keraguan tidak akan hilang hanya dengan pengumuman, Yang Mulia.” “Aku tahu.” jawab Wang Rui singkat. “Karena itu hari ini bukan soal pengumuman. Ini soal peneguhan.” Hari itu istana bergerak dengan ritme yang berbeda. Tidak gaduh, namun jelas terarah. Para petinggi dan bangsawan dipanggil satu per satu, bukan ke aula besar, melainkan ke ruang pertemuan kecil yang biasanya dipakai untuk diskusi inti. Wang Rui sengaja memilih cara itu. Tidak semua hal perlu dipertontonkan. Beberapa cukup ditegaskan pada orang-orang yang memegang kendali nyata. Lin Qian duduk di sisi Wang Rui, bukan setengah la
“Apakah kalian benar-benar percaya bahwa ini semua hanya kebetulan?” Suara Wang Rui memecah keheningan aula istana sebelum siapa pun sempat menata napas. Para petinggi yang baru saja duduk kembali setelah rangkaian sidang panjang langsung menegakkan punggung. Kalimat itu terdengar ringan, namun tekanannya membuat udara terasa menurun beberapa derajat. Wang Rui berdiri di depan singgasana, tidak duduk seperti biasanya. Sikap itu sendiri sudah menjadi pernyataan. Di sisi kanannya, Lin Qian berdiri dengan tenang, wajahnya datar, seolah apa pun yang akan diucapkan Kaisar bukan sesuatu yang perlu ia sangkal atau benarkan. Ia sudah melewati fase pembelaan. Kini, ia hanya menunggu. "Kehebatan dan ilmu Permaisuri Lin,” lanjut Wang Rui, suaranya stabil. “bukanlah keanehan. Bukan pula keberuntungan rakyat jelata yang tiba-tiba menyentuh langit.” Beberapa bangsawan saling bertukar pandang. Sejak awal, kecurigaan semacam itu sebenarnya sudah beredar. Terlalu rapi, terlalu presisi, terla
“Kau akhirnya bangun tanpa bau obat menyengat di ruangan ini.”Suara itu terdengar lebih dekat dari yang Wang Rui perkirakan. Ketika ia membuka mata, cahaya pagi menyelinap melalui tirai tipis, dan Lin Qian duduk di sisi ranjang, tidak mengenakan jubah permaisuri lengkap, hanya pakaian sederhana yang selama ini lebih sering ia kenakan saat meracik obat. Untuk sesaat, istana terasa jauh. Tidak ada aula sidang seperti ketegangan belakangan ini, tidak ada bisikan politik. Hanya pagi yang tenang dan tubuh yang perlahan kembali sadar.Pemulihan Wang Rui berlangsung pelan namun stabil. Racun yang selama ini menggerogoti tubuhnya tidak lenyap dalam satu malam, tetapi ramuan Lin Qian berhasil menahan kerusakan lebih lanjut dan memberi tubuh kesempatan memperbaiki diri. Setiap hari, denyut nadinya lebih kuat, langkahnya lebih mantap. Tidak cepat, namun nyata.Lin Qian sendiri tidak sepenuhnya lolos dari kelelahan. Luka batin dari penjara bawah tanah dan tekanan publik masih membekas. Namun be