Balas Dendam Istri Jenderal Qu

Balas Dendam Istri Jenderal Qu

last updateLast Updated : 2026-01-02
By:  Andrea_WuUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
8Chapters
8views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Shen Lihua adalah putri sulung dari klan terkemuka Shen. Sejak kecil dia bercita-cita ingin menjadi seorang tabib wanita pertama di dinasti Ruo. Namun, semua harapannya kandas ketika ayahnya memaksa dia menikah dengan Jenderal Qu Liang, dan melahirkan keturunan Qu. Takdir tak pernah berpihak pada Shen Lihua, setelah 3 tahun menikah, Shen Lihua tak kunjung hamil. Hingga pagi menyesakkan itu tiba, pelayanan kediaman Jenderal—Su Minshan—hamil anak Qu Liang karena perselingkuhan. Keluarganya menuduh Shen Lihua mandul, dan menjadi aib keluarga sendiri. Dia dibuang, diusir klannya sendiri, dicaci maki. Malam di mana dia diasingkan seorang pria tua menolongnya, dan menjadikannya murid. Pria itu adalah Lan Rui Hong—tabib legendaris yang memilih mengasingkan diri di gunung. Lima tahun berlalu, akhirnya Shen Lihua kembali, dan menuntut balas.

View More

Chapter 1

Bab 1. Pengkhianatan

"Nona Shen, Nona Shen!"

Aroma dupa cendana berpilin lembut di Paviliun Anggrek, menyelimuti tirai sutra yang bergoyang pelan tertiup angin sore. Shen Lihua tengah duduk di depan meja rias, jemarinya yang ramping menata benang sulam, ketika langkah tergesa tiba-tiba memecah ketenangan paviliun itu.

Seorang pelayan wanita bernama Luo Qingyu berlari masuk dengan wajah pucat, napasnya tersengal seolah baru saja dikejar sesuatu yang mengerikan.

"Nona Shen, ini gawat." Napasnya naik turun seiring degup jantungnya yang berpacu setelah berlari dari paviliun di sayap timur.

Wanita yang dipanggil oleh pelayan Luo itu adalah Shen Lihua, putri sah pejabat negara Shen Mo, sekaligus istri resmi Jenderal Qu Liang—pernikahan yang telah berlangsung selama tiga tahun atas titah langsung dari Kaisar.

"Qingyu," ucap Shen Lihua tenang, meski alisnya terangkat tipis. "Kenapa kau berlari seperti dikejar arwah? Mana tata krama yang kau pelajari selama ini."

Qingyu segera berlutut. Dadanya masih naik turun menahan kepanikan. Sekilas matanya melirik ke belakang, lalu kembali pada sosok Shen Lihua sebelum menunduk, jemarinya memilin ujung gaun dengan gugup.

"Nona… p-pelayan dari Paviliun Teratai… pelayan bernama Su Minshan, dia…"

Shen Lihua menghentikan sulamannya. Jantungnya berdebar keras. Dari raut wajah Luo Qingyu, ia menangkap gurat ketakutan yang sulit disembunyikan.

"Ada apa dengannya?"

Qingyu menelan ludah. Suaranya bergetar. Ia menatap Shen Lihua, namun kata-kata seolah terkunci di tenggorokannya—terbelenggu oleh kenyataan yang baru saja ia dengar.

"Luo Qingyu, jangan menguji kesabaranku!" Nada suara Shen Lihua naik satu oktaf. Ia tak lagi peduli pada sikap lembut yang dituntut oleh gelar kebangsawanannya; rasa penasaran itu telah mencapai ubun-ubun.

"Pelayan Su... Dia… dia hamil, Nona."

Benang sulam terlepas dari jemari Shen Lihua, jatuh ke lantai tanpa suara. Ia membiarkannya menggelinding hingga membentur kaki meja.

Mendadak, ruangan itu seketika sunyi.

Tangan Shen Lihua melemas, seolah seluruh tulang di tubuhnya luruh bersamaan.

"Siapa ayah anak itu?" tanya Shen Lihua pelan. Nadanya nyaris tak beriak, namun jemarinya perlahan mengepal di balik lengan jubah.

Qingyu menunduk lebih dalam. Ia ragu—antara harus mengatakannya atau menelan kebenaran itu seorang diri.

"Seluruh pelayan sudah tahu… Jenderal sering bermalam di Paviliun Teratai sejak tiga bulan lalu. Tabib kediaman juga telah dipanggil secara diam-diam." Luo Qingyu tak mengatakannya secara gamblang.

Namun, dari kata-kata itu saja, Shen Lihua sudah mampu menebak siapa ayah dari bayi yang dikandung pelayan Su Minshan.

Tiga bulan.

Wajah Shen Lihua tetap tenang, seolah kabar itu hanyalah angin lalu. Namun di balik ketenangan tersebut, dadanya terasa diremas begitu kuat. Ia telah menikah selama tiga tahun, meminum ramuan pahit setiap hari, menahan mual dan pusing demi satu harapan—seorang anak yang tak kunjung hadir di rahimnya.

Dan kini, seorang pelayan rendahan… lebih dulu mengandung darah sang jenderal.

Bibir Shen Lihua melengkung tipis. Bukan senyum—melainkan garis getir yang nyaris menyayat.

"Berapa usia kandungannya? Tabib mengatakan sesuatu, Qingyu?" gumamnya lirih.

"Tabib mengatakan jika usia kandungan pelayan Su, sekitar dua bulan."

Miris, sungguh miris.

Di saat ia berjuang meminum ramuan pahit itu, menunggu keajaiban datang, berdoa setiap malam pada para dewa agar rahimnya berkenan menerima kehidupan… suaminya justru bermain gila dengan seorang pelayan rendahan.

"Apa aku tidak seberguna itu, Luo Qingyu." Air mata mengalir di pipi seputih porselen milik Shen Lihua. Ia terduduk di lantai, tubuhnya rapuh tak berdaya.

Mendengar tangis pilu sang Nona, Qingyu baru berani mengangkat kepala. "Nona, apa kita perlu melapor pada Nyonya Tua Qu?"

Shen Lihua bangkit perlahan. Jubah putih gadingnya menyapu lantai. Langkahnya tetap anggun seperti biasa—tak ada yang berubah di mata orang lain. Namun di dalam hatinya, segalanya telah remuk oleh perbuatan sang suami.

"Tidak," katanya dingin.

Luo Qingyu menatap tak mengerti, bola matanya mengikuti sosok Shen Lihua yang tampak begitu rapuh malam itu.

Shen Lihua melangkah menuju jendela, menatap kolam teratai yang mulai layu dimakan musim gugur. Kelopak-kelopak bunga itu jatuh satu per satu ke permukaan air—seperti hatinya yang perlahan tenggelam.

"Tapi, Nyonya Tua Qu harus—"

"Jika aku mengatakannya sekarang," sambarnya pelan, "mereka hanya akan berkata aku iri karena tak bisa memberi keturunan."

Ia tertawa kecil—tertahan dan pahit. Rasa sakit di dadanya menusuk seperti dihujam belati.

"Mana mungkin begitu, Nyonya Tua Qu pasti akan menentang kehamilan pelayan Su. Anda adalah istri sah Jenderal Qu, Nyonya di kediaman Jenderal. Saya yakin beliau akan memihak pada Anda."

Namun Shen Lihua tetap diam. Ia terlalu takut untuk bersuara.

Ia dididik dalam keluarga terhormat dengan doktrin untuk selalu patuh pada suami dan keluarga besarnya.

Ia tak boleh menentang siapa pun, bahkan ketika dirinya benar.

"Nona Shen, jangan diam saja. Anda harus—"

"Apa Jenderal ada di sana?" Ia mengalihkan pertanyaan.

Detik itu juga, Luo Qingyu mengangguk.

"Apa dia terlihat—"

"Ya, aku bahagia, dan kau juga harus menerima kehamilan Su Minshan."

Shen Lihua langsung menoleh.

Ia mendapati suaminya berjalan masuk sambil memapah Shu Minshan. Wanita itu bersandar manja di bahu sang jenderal.

Saat itu juga, dunia Shen Lihua runtuh.

Hatinya berdenyut nyeri—seolah seluruh hidupnya hancur dalam satu tarikan napas.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status