LOGINShen Lihua adalah putri sulung dari klan terkemuka Shen. Sejak kecil dia bercita-cita ingin menjadi seorang tabib wanita pertama di dinasti Ruo. Namun, semua harapannya kandas ketika ayahnya memaksa dia menikah dengan Jenderal Qu Liang, dan melahirkan keturunan Qu. Takdir tak pernah berpihak pada Shen Lihua, setelah 3 tahun menikah, Shen Lihua tak kunjung hamil. Hingga pagi menyesakkan itu tiba, pelayanan kediaman Jenderal—Su Minshan—hamil anak Qu Liang karena perselingkuhan. Keluarganya menuduh Shen Lihua mandul, dan menjadi aib keluarga sendiri. Dia dibuang, diusir klannya sendiri, dicaci maki. Malam di mana dia diasingkan seorang pria tua menolongnya, dan menjadikannya murid. Pria itu adalah Lan Rui Hong—tabib legendaris yang memilih mengasingkan diri di gunung. Setelah waktu berlalu, akhirnya Shen Lihua kembali, dan menuntut balas.
View MoreAula Paviliun Naga diselimuti keheningan yang menekan. Ukiran naga emas di pilar-pilar raksasa memantulkan cahaya obor, menciptakan bayangan panjang yang menyerupai cakar-cakar raksasa mencengkeram lantai marmer. Di ujung aula, di atas singgasana tinggi, duduk Kaisar Lin Shue yang telah menunggu kedatangan putranya. Wajahnya tidak menunjukkan amarah. Namun ekspresi datarnya cukup membuat semua orang melangkah mundur. Langkah Lin Ye Su bergema mantap ketika ia memasuki aula. Jubah kebesaran putra mahkota menjuntai panjang, sulaman naga perak di dadanya berkilau samar. Ia berlutut sesuai tata krama, dan aturan negara. "Putra mahkota memberi hormat kepada Kaisar." Kaisar Lin menildongak, lalu berdiri dari duduknya. Melangkah turun guna menghampiri Lin Ye Su. "Bangunlah." Lin Ye Su langsung berdiri. Punggungnya tegak, dengan tatapan lurus ke depan. Beberapa menteri berdiri di sisi kiri dan kanan aula, tak satu pun berani mengangkat kepala. "Kau tahu apa kesalahanmu, hingga aku
"Nona di belakangmu!" Luo Qingyu berteriak sekencang mungkin. Anak panah itu melesat membelah udara. Cepat, tanpa suara dan mematikan. Waktu seakan melambat. Namun Shen Lihua tidak panik. Selama beberapa bulan ini selain berlatih ilmu pengobatan, dia juga melatih ilmu bela dirinya. Tubuhnya berputar ringan seperti dedaunan tertiup angin. Ujung lengan bajunya menyapu udara—anak panah itu hanya menyentuh kainnya sebelum menancap keras di dinding batu di belakangnya. Dentang tajam menggema, memantul di dinding. Mata Shen Lihua berubah, tak lagi lembut seperti biasanya. Kini sedingin es yang membeku di puncak gunung. "Nona Shen, berhati-hatilah!" teriak Luo Qingyu. Wajahnya pucat pasi. Namun ketika ia melihat sosok jenderal Qu yang hanya diam di tempatnya, amarah langsung memuncak. "Apanya yang melindungi, dia bahkan diam saja seperti orang bodoh. Masih menginginkan Nona kembali ke kediaman Qu." Shen Lihua masih berkonsentrasi. Tidak peduli suara di sekitarnya. Dari b
Fajar telah lama meninggi di atas Paviliun Qiongi ketika Lin Ye Su membuka matanya. Sinar matahari menembus celah tirai tipis, jatuh lembut di atas ranjang berkanopi tempat ia terbaring. Aroma samar obat-obatan dan bunga plum masih tersisa di udara—aroma yang melekat pada wanita itu. Bayangan semalam berkelebat di benaknya. Tatapan mata yang bergetar namun tegar. Jemari yang dingin namun tidak menolak ketika ia menggenggamnya. Suara pelan yang memanggil namanya dalam gelap. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya. Namun, ketika ia menoleh ke sisi ranjang—tempat itu sudah kosong. Tak ada jejak kehadiran Shen Lihua. Selimut telah dirapikan. Meja kecil di dekat jendela bersih tanpa secarik kertas pun. Seolah wanita itu tak pernah berada di sini. Senyumnya memudar. "Ke mana dia?" gumamnya pelan. Tatapannya menggelap. Ia bangkit tanpa ragu. Gerakannya cepat, dan tegas. Jubah dalam dikenakan, ikat pinggang emas dirapatkan. Wajahnya kembali pada topeng seorang putra mahkota—dingi
"Apa yang kau katakan!" Kaisar mengepakkan lengan jubah naganya ketika mendengar laporan dari Menteri Hong. Suaranya menggema di aula dalam, mengguncang udara pagi yang belum sepenuhnya hangat. "Hamba mengatakan apa adanya, Yang Mulia," jawab Menteri Hong dengan kepala tertunduk. "Putra Mahkota bersama Tabib Shen semalaman di Paviliun Qiongi." Wajah Kaisar Lin memerah padam. Urat di pelipisnya menegang. Sangat kentara sekali jika dia menahan amarah. Ia tidak mungkin membiarkan putranya mengusik kestabilan negara hanya karena urusan perasaan. Terlebih lagi—wanita itu adalah Shen Lihua— putri Mo Lan An. Nama itu saja sudah cukup untuk membangkitkan bara di hatinya. Dendam lama menyakitkan tentang Mo Lan An—tabib istana yang dituduh sebagai dalang kematian Permaisuri Xian Yi. Meskipun belum pernah terbukti secara langsung, luka itu tak pernah benar-benar sembuh dalam hati sang Kaisar. "Seret anak itu ke mari," desisnya dengan suara tajam. "Sekarang juga!" Menteri Hong segera






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore