LOGINDemi menyelamatkan diri dan kakaknya dari kemiskinan, Lin Qian yang berbakat dalam pengobatan nekat menyamar sebagai pria untuk menjadi tabib istana. Tak disangka, kemampuanya yang luar biasa membawanya ke tengah pusaran kekuasaan dan mendekatkan dirinya pada Kaisar. Namun rahasianya tak bertahan lama. Saat rahasianya terbongkar, nyawanya dipertaruhkan di tengah istana yang penuh intrik.
View More"Ugh..argh.."
Suara rintihan yang terdengar begitu lirih di tengah hutan berkabut Gunung Shenlan, menghentikan kegiatan Lin Qian yang sedang memotong akar Shenlan tua. Badanya menegang, napasnya tertahan. Lin Qian berdiri perlahan sambil memegang pisau erat, melangkah perlahan ke arah sumber suara. "Jangan- jangan siluman harimau? Atau siluman rubah?" bisik Lin Qian waspada. Rintihan tersebut terdengar lagi. Tapi kali ini lebih terdengar seperti suara pria yang menahan sakit. Lin Qian segera melangkah cepat ke arah sumber suara di balik semak, menyibak dedaunan semak yang tumbuh tingi di bawah pohon Qingmu tua. Dedaunan basah menyentuh wajah dan lenganya, tapi Lin Qian tetap fokus pada tujuanya menuju sumber suara. Lin Qian sedikit menunduk. Pandanganya langsung bertemu seorang pria yang bersandar pada batang pohon. Tubuhnya basah oleh keringat dan darah, sebilah panah menancap dalam di bahu kirinya. Matanya terpejam, nafasnya berat dan tak beraturan. Namun yang paling mencolok adalah jubah yang dikenakanya, terlihat mewah dan tidak seperti jubah orang biasa. Lin Qian menghampiri pria itu dan berlutut di sampingnya, memangilnya panik. "Hei! Kau dengar aku?" Pria itu membuka matanya pelan dan samar. Tatapanya tajam seperti elang, menyiratkan kewaspadaan. "Siapa kau?" desinya galak. Lin Qian yang menyadari pria di hadapanya tampak waspada pun segera menjelaskan cepat niat baiknya. "Tenang saja, aku bukan musuh. Kalau mau selamat cepat ikuti aku!" Pria bernama Wang Rui itu terdiam, ia tidak bisa menahan sakitnya lebih lama lagi. Akhirnya tanpa ada pilihan lain, ia pun mengikuti Lin Qian yang membawanya menuju Goa Batu Langit, goa mistis yang terletak tidak jauh dari pohon Qingmu besar. Dengan susah payah Lin Qian membopong tubuh besar Wang Rui menyusuri jalur kecil menuju goa tersembunyi di balik batu besar dan akar pohon tua. Lin Qian sering melewati goa tersebut, namun enggan untuk menelusurinya. Sesampainya di dalam goa, Lin Qian menyalakan api kecil dari ranting kering dan mengeluarkan kantong kain yang mengantung di pingangnya. Kemudian, ia mulai menghaluskan ramuan obat dari akar Huangqin dan daun Qingxiao. Lin Qian merobek sedikit jubah di bagian bahu yang dikenakan Wang Rui. Ia mengoleskan racikan yang dibuatnya sebelum menarik anak panah keluar dalam satu gerakan cepat. "Arghh.." rintih Wang Rui pelan. Wajah Wang Rui memerah, menahan sakit. Lin Qian meratakan obatnya pada luka Wang Rui yang sudah mengeluarkan banyak darah. Aroma pahit langsung memenuhi goa. "Racun..." desi Wang Rui pelan setelah melihat ujung panah perak tersebut berwarna ungu, menandakan adanya racun. Lin Qian meganguk. "Benar, racun ini belum menyebar sampai jantung. Kau dilindungi Dewa Keberuntungan." Wang Rui menatapnya samar, matanya buram namun tetap menyimpan kewaspadaan seperti binatang terluka yang terpojok. Namun tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Lin Qian membalut bahu Wang Rui dengan sobekan jubah. Jarinya cekatan, tanganya tidak gemetar seperti profesional. Kemudian Ia mengencangkan ikatan balutan membuat Wang Rui berteriak kesakitan. Racun pada panah tadi dapat membuat korbanya merasakan sakit yang ekstrim untuk beberapa saat. Lin Qian memberikan daun Yuzhen untuk meredakan nyeri, tapi Wang Rui sepertinya engan membuka mulutnya. Wang Rui tidak suka mengkomsumsi herbal yang belum diolah. "Daun ini untuk meredakan nyeri, rasanya dingin. Kalau kau mau terus kesakitan yasudah tidak usah makan." cibir Lin Qian jengkel karena Wang Rui tetap merapatkan mulutnya. Akhirnya Wang Rui menurut. Dengan susah payah ia mengunyah daun tersebut mentah- mentah. Lin Qian merebahkan tubuh Wang Rui sesudah menelan daun Yuzhen. Setelah selesai, Lin Qian duduk di samping api sambil menatap pria itu. Cahaya api menari di dinding goa, memperlihatkan siluet wajah pria tampan tapi penuh guratan tegas. Pria itu tampak seperti jenderal dari istana daripada perwira lapangan. "Siapa kau...dan siapa yang menginginkan kematianmu?" tanya Lin Qian pelan. Tak ada jawaban. Wang Rui telah tertidur. Namun sebelum Lin Qian sempat berpikir jauh, Suara napas Wang Rui terdengar cepat tidak beraturan. Keringat membanjiri wajahnya yang tertidur tidak tenang. Lin Qian cepat-cepat mengecek suhu tubuh Wang Rui dan mengeringkan keringatnya. "Demam tingi, efek samping racun." gumam Lin Qian dengan gurat wajah serius. Lin Qian segera membasahi sisa potongan kain dengan kantung air yang dibawanya dan meletakanya di kening pria tersebut. Lin Qian pergi meningalkan goa untuk mencari tambahan akar Hanxiao, herbal pendingin demam. Di luar Goa, kabut sudah mulai menipis. Memudahkan pencarian Lin Qian. Beberapa saat kemudian Lin Qian kembali, tapi goa itu telah kosong. Bara api telah padam, pria itu menghilang. Tak ada suara, tak ada jejak kaki. Hanya sia sobekan kain berdarah dan bekas kompres demam. Lin Qian menatap sekeliling. Ia menemukan sobekan kecil dari jubah dengan sulaman naga bertanduk satu berwarna emas yang tergeletak diatas batu. Lin Qian menatap kain itu dengan jantung berdebar. "Apa dia pergi sendiri? Dengan keadaan begitu?" gumamnya ragu,"Atau ada yang membawanya? Siapa orang yang tadi aku selamatkan?" Angin tiba- tiba bertiup dari dalam mulut goa, membawa aroma logam dan sesuatu yang dingin. Lin Qian menelan ludah pelan. Sekujur badanya merinding. Saat ia berbalik untuk pergi, sebuah suara dingin misterius menyerupai bisikan pelan terdengar dari dalam goa. "Kau sudah melihat terlalu banyak, tabib muda."“Sejak kapan prajurit istana diizinkan menyamar selama bertahun-tahun... tanpa satu pun catatan?”Pertanyaan itu jatuh ke aula seperti batu ke air tenang. Meluncur singkat, dingin, dan cukup untuk membuat aula istana kehilangan keseimbangannya.Lin Yuan berdiri di tengah ruangan, tubuhnya tegap, wajahnya tenang. Bayangan tubuhnya memandang di lantai marmer. Ia tidak segera menjawab. Di sekelilingnya, para pejabat daerah yang terlibat kasus Ibu Suri mulai gelisah, seolah baru menyadari bahwa tidak semua yang hadir di aula ini tercatat secara resmi.Tatapannya beralih ke Wang Rui, seolah menunggu satu hal terakhir yang tak perlu diucapkan keras-keras. Wang Rui tidak bergerak. Tatapannya lurus ke depan. Sebuah anggukan kecil darinya menjadi isyarat yang tak perlu penjelasan.Lin Yuan akhirnya melangkah setengah langkah ke depan.“Sejak Kaisar membutuhkan mata yang tidak terlihat.” jawab Lin Yua. Suaranya datar, profesional, tanpa nada pembelaan. “Dan tangan kanan yang tidak tercatat sec
“Apakah tuduhan masih akan disebut fitnah... jika buktinya berasal dari kamar Ibu Suri sendiri?”Suara itu memotong aula seperti bilah dingin.Langkah kaki terdengar dari arah pintu besar istana. Tidak tergesa, tidak ragu. Para penjaga refleks menoleh bersamaan, sebagian bahkan belum sempat menyadari siapa yang masuk sebelum sosok tinggi dengan pakaian prajurit gelap berdiri tepat di ambang cahaya.Lin Yuan.Nama itu tidak asing bagi Lin Qian, tapi kehadirannya di tempat ini sama sekali tidak masuk dalam perhitungan apa pun. Ia sendiri bahkan sangat bingung, bagaimana bisa kakaknya yang tinggal di Desa Lanxi —Yang jaraknya tempuhnya sampai ke Ibu kota kekaisaran memakan waktu tiga hari— tiba-tiba berada di depan pintu aula.Untuk sesaat, dunia seolah menyempit bagi Lin Qian. Napasnya tertahan, jantungnya berdegup lebih cepat dari yang seharusnya. Ia menatap wajah kakaknya yang telah lama tidak ia lihat, wajah yang kini jauh lebih keras, lebih tenang, dan membawa aura seseorang yang hi
Aula istana belum sempat bernapas setelah penjelasan tentang dua lukisan itu.Keheningan yang muncul bukanlah ketenangan, melainkan jeda sebelum ledakan berikutnya. Para tetua dan bangsawan tinggi saling melirik, sebagian menunduk pada lukisan yang masih terbuka di lantai, sebagian lain menatap Lin Qian seolah ia baru saja menginjak wilayah terlarang yang selama ini tidak pernah disentuh siapa pun.Ibu Suri menyadari momen itu dengan cepat. Ia tidak menunggu keraguan berubah menjadi keyakinan. Ia juga tidak mencoba membantah penjelasan Lin Qian secara rinci. Sebaliknya, ia memilih jalur paling tua, paling efektif, dan paling sulit dilawan.Ketakutan.“Cukup!” suara Ibu Suri terdengar, stabil namun mengandung tekanan berat. Ia melangkah satu langkah ke depan, tongkat kekuasaannya menyentuh lantai marmer dengan bunyi pendek yang memecah perhatian. “Penjelasan seperti itu justru semakin menguatkan dugaanku.”Beberapa pejabat terkejut. Yang lain menegang.Ia menatap lurus ke arah Lin Qia
Langkah kaki Lin Qian menggema pelan di aula istana yang masih dipenuhi sisa kekacauan. Tidak tergesa, tidak pula ragu. Di tangannya, dua gulungan lukisan dibawa dengan posisi sejajar, seolah ia sengaja menegaskan bahwa keduanya memiliki bobot yang sama. Mata para petinggi otomatis tertuju padanya, bukan karena perhiasan atau statusnya sebagai Permaisuri, melainkan karena waktu kemunculannya terlalu tepat untuk diabaikan. Bukankah seharusnya Lin Qian terkurung di penjara bawah tanah? Begitulah yang sedang ada di kepala semua orang dalam ruangan itu.Aula yang tadi riuh perlahan kembali hening. Keheningan jenis ini bukan karena hormat, melainkan karena ketegangan. Semua orang sadar, apa pun yang akan diungkap Lin Qian bukanlah hal remeh.“Yang Mulia...” suara Lin Qian tenang, nyaris datar. Ia berhenti tepat di tengah aula, jaraknya terukur dari singgasana dan barisan pejabat. “Saya membawa dua lukisan leluhur.”Beberapa orang saling melirik. Lukisan leluhur. Kata itu saja sudah cukup






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore