تسجيل الدخول“Kamu tahu gak sih, ternyata aku bukan anak kandung Papa. Ternyata Papa belum pernah menikah,” adunya sendu. Tapi ajaibnya, sudah tidak ada air mata lagi saat Alea menceritakan tentang jati dirinya yang sebenarnya.Namun, respon Salsa yang sangat tenang tanpa ekspresi terkejut malah membuat Alea curiga.“Meski begitu, Papamu sangat menyayangimu, Al. Lagian bukan salah Papamu juga kenapa kecelakaan itu terjadi,” sahut Salsa menenangkan.Mata Alea membelalak. “Huh? Jadi kamu sudah tahu dari dulu dan kamu memilih untuk tidak bilang apapun padaku?” tuntut Alea tak percaya.“Bukan begitu, Al. Aku merasa masalah itu sangat sensitif dan harus disampaikan langsung oleh Papamu sendiri. Salah banget kalau kamu sampai tahu masalah securcial itu dari mulutku,” tutur Salsa lembut.“Tapi Clara secara terang-terangan menyampaikan itu di depan banyak orang, Sa! Awalnya Papa gak ngaku, tapi akhirnya Papa terpaksa ngaku,” sahut Alea dengan jengkel mengingat kelakuan wanita itu.“Loh? Kok dia bisa tahu?
“Kenapa anak kecil jam segini belum bobo?” tanya Alea heran. Beberapa detik berikutnya dia baru sadar kalau sudah bertamu tengah malam dan pastinya mengganggu jam tidur si kembar. “Jangan-jangan gara-gara Kak Al datang, kalian kebangun ya?” tebak Alea lagi. Tapi detik berikutnya Alea langsung dibuat bungkam.“Sok tahu!” seru Kenzi dan Kenzo kompak.Raka langsung menyemburkan tawa ngakak, sementara Salsa sibuk mengomeli kedua anak kembarnya karena dianggap tidak sopan dan menyuruh mereka minta maaf pada Alea.Setelah memarahi si kembar, barulah Salsa menjelaskan pada sang sahabat kenapa kedua buntalnya itu masih melek jam segini.“Kata Ayah, mereka tidurnya kesorean. Soalnya seharian aku ajak mereka keliling untuk mencari sekolah baru karena minggu depan mereka harus sudah mulai masuk. Sebelum aku pulang kerja tadi ternyata mereka sudah kebangun,” jelas Salsa.“Udah dapat sekolahnya?” tanya Alea penasaran.Salsa mengangguk. “Sudah, tapi agak jauh. Kasihan mereka kalau aku sekolahin di
Salsa memijat kepalanya yang mendadak berdenyut akibat wajah si kembar berhasil membuat Alea dan Raka syok bukan main. Ini pasti anak Papa, pikir Alea. Sebelum Alea sempat menuntut penjelasan dari Salsa, tiba-tiba Salsa berlutut di depan Raka. “Ja–jadi-” Alea terbata, tatapannya terkunci pada dua bocah yang wajahnya mirip sembilan puluh persen seperti sang papa.“Kumohon tolong sembunyikan ini dari atasan anda, pak. Tolong jangan sampai hidup kami susah lagi. Saya mohon berpura-puralah untuk tidak mengetahui soal ini, sama seperti saat anda tetap memilih untuk pura-pura tidak tahu menahu soal kepergian saya,” ujar Salsa, berhasil membuat Raka membeku karena dihantam rasa bersalah begitu hebatnya pada sosok di depannya ini. Anak-anak itu berlarian ke dalam rumah sebelum Alea berhasil menyentuh keduanya. “Saya mohon. Jangan ganggu hidup saya, lima tahun ke belakang hidup saya tak mudah untuk saya lalui. Saya hampir kehilangan nyawa saat melahirkan mereka. Saya butuh pekerjaan untuk m
“Siapa bertamu tengah malam begini?” Gumam Salsa lagi. Dia menoleh ke arah kedua anaknya yang juga ikut tegang mendengar bel rumah yang mereka tempati berbunyi. “Nah, siapa itu, Ma? Apa jangan-jangan Mama pesan pizza?” tebak Kenzi. “Hmmmm sedapnya pizza,” sahut Kenzo. Keduanya tergelak setelah hidungnya dicubit sang mama. “Udah sana main sama kakek dulu, Mama mau lihat tamu yang datang,” ucap Salsa. Dia menurunkan tubuh Kenzi yang gembul dan didudukan di sofa. Dia meminta sang ayah untuk menjaga kedua anaknya, “jagain ya, Yah. Siapa tahu itu suster yang kita tungguin,” ujar Salsa. Dia sedang menunggu pengasuh untuk kedua anaknya mengingat sang Ayah sudah sakit-sakitan dan gak bisa lagi jagain keduanya yang super aktif seperti dulu.“Iya, Nak,” jawab Kakeknya si kembar. Saat si kembar mau ikut ke depan, sang Kakek berhasil menahannya. “Jangan nakal, nanti Mama marah,” bujuknya.“Mama gak pernah marah,” sahut Kenzo membuat sang kakek pening karena kedua cucunya selalu punya jawaban j
Sepanjang makan malam berlangsung, Nathan beberapa kali sengaja memanggil manajer restoran hanya untuk melayani hal-hal sepele yang diminta tunangannya. Salsa tahu betul permainan pria itu. Meski hatinya sangat panas dan jengkel melihat betapa manjanya Clara di depan umum pada Nathan, Salsa memilih tetap bekerja dengan profesional. Ia sadar tugas utamanya adalah memuaskan konsumen—termasuk melayani calon istri dari mantannya itu dengan sepenuh hati tanpa menunjukkan riak di wajahnya.Hampir dua setengah jam rombongan pengusaha itu menghabiskan waktu di The Grand Pavilion dan Salsa jadi semakin yakin kalau perusahaan Nathan sudah jauh lebih berkembang pesat ketimbang sebelum musibah itu terjadi. Dia juga mendengar Nathan menyebut Papanya Clara yang mengambil peran besar dalam kebangkitannya ke puncak popularitas. Ada rasa sakit di hati yang tidak bisa Salsa ungkapkan dengan kata-kata. Selama itu pula, Salsa berkali-kali memergoki tatapan Nathan yang menatap intens ke arahnya. Sorot ma
Salsa berusaha keras menahan debar jantungnya dan menjaga pandangannya tetap menatap tamunya.“Kamu yang dulu pernah ikut ke London bareng calon suamiku, kan?” tanya Clara. Matanya menatap Salsa dari atas ke bawah. Wajah wanita di depannya ini sama sekali tak berubah—bahkan kini terlihat jauh lebih cantik, matang, dan berkelas ketimbang beberapa tahun lalu.Salsa mengukir senyum manis di bibirnya, senyum yang dulu selalu membuat Nathan jatuh cinta berkali-kali pada wanita ini. Konyol rasanya dikenali oleh tunangan dari mantannya sendiri.“Benar, Bu. Saya dulu korban PHK di sana, makanya saya memutuskan cari pengalaman di tempat lain,” jawab Salsa dengan suara lembut dan berhasil membuat Nathan lupa akan uang ganti rugi sepuluh miliar.Clara manggut-manggut puas karena tebakannya benar.Mengabaikan rasa perih yang diam-diam menjalar di relung hatinya, Salsa menatap lagi ke arah Nathan. “Mari, Pak, Bu, saya antarkan ke meja Anda.” Ia mengibaskan tangannya sopan, mengarahkan mereka menuj
Di dalam taksi online, air matanya menetes membasahi layar ponselnya yang menunjukkan jam digital. Sepuluh menit perjalanan rasanya seperti berabad-abad. Begitu mobil berhenti di depan sebuah gerbang rumah mewah di pusat kota, Salsa langsung turun.Rumah mewah itu berdiri megah, seolah tak tersentu
Salsa berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU, lalu bersandar lemas ke dinding ruang tunggu. Tatapan matanya terus-terusan tertuju pada pintu kaca buram di depannya. Pikiran Salsa sudah kacau sejak mendapat kabar kalau ayahnya kritis dan mengalami pendarahan hebat di otak akibat kecelakaan maut ya
Di sisi lain, layar ponsel di genggaman Zara mendadak terasa panas saat sebuah unggahan video di media sosial menampilkan sosok Aditya. Di dalam rekaman video itu, Aditya berjalan menunduk dengan tangan terborgol, dikelilingi beberapa petugas kepolisian yang menggiringnya masuk ke mobil tahanan. T
Begitu pintu ruangannya tertutup dan Salsa keluar, Nathan langsung melonggarkan dasinya yang terasa mencekik leher. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. Dia tidak membuang waktu untuk memikirkan hal lain dan langsung meraih ponsel pribadinya di atas meja kerja. Targetnya sudah jelas, yaitu menghanc







