LOGIN
Salsa berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU, lalu bersandar lemas ke dinding ruang tunggu. Tatapan matanya terus-terusan tertuju pada pintu kaca buram di depannya. Pikiran Salsa sudah kacau sejak mendapat kabar kalau ayahnya kritis dan mengalami pendarahan hebat di otak akibat kecelakaan maut yang menimpanya tadi pagi. Bahkan hingga malam hari sang ayah belum juga sadarkan diri.
Pintu kaca di ruang ICU akhirnya terbuka. Seorang dokter paruh baya keluar dan Salsa langsung menghampirinya. “Bagaimana keadaan Ayah saya, dok?” tanya Salsa, berharap ada kabar baik yang ia dapatkan dari dokter. Salsa sangat mengkhawatirkan kondisi Ayahnya meskipun sejak sang Ayah menikah lagi, Salsa nyaris kehilangan sosok Ayah yang dulu begitu menyayanginya. “Kondisi pasien semakin memburuk dan harus dilakukan operasi besar secepatnya. Kami hanya punya waktu tiga jam menunggu sampai deposit untuk operasinya dilunasi, jika tidak kami tidak berani menjamin apapun tentang keadaan pasien,” ucap dokter, yang terpaksa memberi kabar buruk itu pada keluarga pasien. Mendengar itu, kaki Salsa langsung lemas. Wajahnya semakin pucat dan jantungnya berdebar sangat kencang karena takut kehilangan sang Ayah. Air mata kembali mengalir membasahi wajahnya. “Be–berapa biayanya, dok?” tanyanya terbata. “Satu miliar. Minimal ada uang deposit lima puluh persen dulu baru operasi bisa dilakukan. Saya permisi dulu,” pamit dokter itu meninggalkan Salsa dalam kebingungan. Ia masih mematung di tempatnya saat dokter berjalan menjauh. Otaknya mendadak tak bisa diajak berpikir jernih. Satu miliar? Uang dari mana? Jangankan uang sebanyak itu, tabungannya saat ini bahkan tidak akan cukup untuk membayar biaya kamar ICU semalam. Mereka benar-benar tidak punya harta apapun, apalagi selama ini mereka tinggal di rumah kontrakan. Salsa mulai frustrasi, ia bingung harus mencari pinjaman ke mana dalam waktu se-singkat ini untuk menyelamatkan sang Ayah. Di tengah kepanikannya, Salsa melihat Aditya, tunangannya, berjalan mendekat menuju ke arahnya. Namun, Aditya tidak datang sendirian. Dia datang bersama Zara, kakak tiri Salsa. Melihat mereka, Salsa langsung berlari menghampiri dengan air mata yang mulai mengalir deras membasahi wajahnya yang pucat. “Mas Adit, untung saja kamu datang. Tolong bantu Salsa, mas. Ayah harus segera dioperasi dan biayanya harus dilunasi minimal lima puluh persen. Dokter bilang hanya punya waktu tiga jam saja, kalau tidak…” Ucapan Salsa terpotong oleh pertanyaan sang tunangan. “Berapa biaya operasinya?” tanya Adit datar, sama sekali tidak ada rasa iba melihat ayah tunangannya sedang terbaring lemah dan berjuang antara hidup dan mati di dalam ruang ICU. Salsa menarik napas berat sebelum akhirnya menyebutkan angka tak masuk akal itu, “Sa–satu miliar, Mas.” “Apa?” Aditya tersentak kaget mendengar nominal yang disebutkan Salsa. “Apa kamu sudah gila mau pinjam uang dariku sebanyak itu?” Bentak Aditya. Salsa buru-buru memegang tangan tunangannya berharap agar pintu hati sang tunangan terketuk untuk menolongnya. “Kumohon bantu selamatkan Ayahku, Mas. Aku janji akan bekerja siang dan malam agar bisa mengembalikan uangmu,” ucapnya penuh permohonan. Salsa sangat berharap Aditya mau membantunya. Biar bagaimanapun, mereka sudah bersama selama lima tahun kebelakang dan Salsa yakin Adit punya tabungan lebih dari satu miliar. Ia bahkan sudah menemani pria itu dari nol sampai sekarang sukses punya usaha showroom mobil. Salsa yakin Aditya tidak akan tega membiarkan satu-satunya orang tua yang dia miliki meninggal dunia tanpa sempat ditangani di ruang operasi. Namun, Aditya justru menepis tangan Salsa dengan kasar hingga gadis cantik itu mundur selangkah. “Aku gak punya uang sebanyak itu. Kalaupun ada, lebih baik uang itu aku pakai untuk menambah unit mobil di showroomku,” jawab Aditya tanpa perasaan. Ulu hati Salsa mendadak sakit seperti diremas tangan tak kasat mata dengan sangat kuat. Dia menatap Aditya nyaris tidak percaya mendengar penolakan dari pria itu. Bagaimana bisa pria yang selama ini dia sayangi berubah menjadi orang tak berperasaan di saat ayahnya sedang kritis? Dengan sisa harapan yang ada, Salsa menatap kakak tirinya yang berdiri di sebelah Aditya. “Kak, sejak Ibumu menikah dengan ayahku, ayah begitu menyayangimu. Bahkan seluruh kasih sayangnya dia berikan untukmu. Aku mohon bantu aku untuk bujuk Mas Adit agar mau menyelamatkan nyawa Ayah,” ujar Salsa lagi sambil menangis. Dia berharap sang kakak tiri mau melakukannya. Kalau bukan karena Salsa, tidak mungkin Zara bisa menjadi asisten pribadi sang tunangan. Namun, Zara yang sejak tadi melipat tangannya di depan dada hanya menatap Salsa penuh ejekan. Tidak ada sedikit pun raut sedih di wajahnya, padahal pria di dalam ruang ICU itu adalah ayah tiri yang selalu memanjakannya. Orang yang berhasil meyakinkan Salsa kalau Zara bisa bekerja profesional di showroom milik Aditya. “Sudahlah Salsa. Pasrahkan saja nyawa ayahmu pada Tuhan, daripada kamu pusing mikirin biayanya,” jawab Zara tanpa belas kasihan sedikitpun melihat adik tirinya yang sedang menangis membayangkan betapa beratnya sang Ayah berjuang di dalam sana. Belum sempat Salsa menanggapi ucapan menyakitkan dari kakak tirinya, Aditya kembali bersuara. “Lagian aku datang ke sini mau memutuskan hubungan kita,” timpal Aditya. Deg. Mendengar itu, Salsa sampai lupa cara bernapas. Dia menatap pria yang sangat dia cintai selama lima tahun terakhir ini. Pria yang dia temani berjuang dari nol, dari zaman tidak punya apa-apa, sampai sekarang bisa sukses dan namanya tercatat sebagai pengusaha muda yang sukses. “Kamu jangan bercanda, Mas,” ucap Salsa lirih, ia berharap ada masalah dengan pendengarannya barusan. “Aku serius. Aku sudah lama ingin memutuskan hubungan kita. Dan hari ini adalah momen yang tepat. Aku jatuh cinta sama Zara. Mulai hari ini kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi,” ucapnya. “Nggak, Mas. Kamu pasti bohong kan? Kita bahkan sebentar lagi akan menikah, Mas. Tolong jangan seperti ini,” lirih Salsa sambil berderai air mata. “Dia calon suamiku, Salsa. Dia lebih mencintaiku daripada kamu. Mulai sekarang, lupakan kalau kalian pernah bersama,” sambar Zara. Ada binar bahagia di matanya ketika berhasil melukai hati saudara tirinya ini, dengan merebut semua milik Salsa. Menurut Zara, dialah yang lebih pantas bahagia dari adik tirinya ini. Aditya kemudian merogoh sakunya, mengambil cincin pertunangan mereka yang dua bulan terakhir tidak pernah ia pakai lagi, lalu melempar cincin itu tepat di depan kaki Salsa. Setelah itu, tanpa memperdulikan kondisi Salsa yang hancur, Aditya berbalik dan berjalan meninggalkan ruang ICU bersama Zara. “Mas Adit, kamu gak bisa kayak gini sama aku, Mas. Mas Adit, hiks hiks,” teriak Salsa sambil menangis. Tubuh Salsa langsung melorot ke lantai. Dia sudah tidak punya kekuatan lagi untuk berdiri. Ulu hatinya sangat sakit seperti ditikam senjata tajam, membuatnya nyaris tak bisa lagi untuk bernapas. Salsa meremas ulu hatinya dengan keras bermaksud agar mengurangi sakitnya, tetapi rasa perih itu tetap tidak mau hilang bahkan kian menjadi-jadi. Salsa menangis sendirian di lantai rumah sakit. Namun, di tengah kebingungan dan rasa sakit akibat dikhianati oleh kakak tiri dan tunangannya, Salsa sadar dia tidak punya banyak waktu untuk meratapi nasib malangnya. Nyawa ayahnya sedang dipertaruhkan di dalam ruang ICU. Dia harus menyelamatkan sang ayah, bagaimanapun caranya. Rasa sakit ini harus dia singkirkan dulu. Saat otaknya berputar mencari jalan keluar, tiba-tiba terlintas satu nama di benaknya. Seseorang yang sangat kaya raya, yang mungkin bisa menjadi harapan terakhirnya. Salsa langsung menyeka air matanya. Dia memaksakan diri untuk bangkit, lalu setengah berlari meninggalkan area ruang ICU menuju rumah pria itu. “Bertahanlah, Yah. Salsa akan berusaha menyelamatkan nyawa Ayah,” bisiknya pilu.“Sa–saya hanya ingin minta maaf sama almarhum,” jawab Zara gugup setelah menyadari ada seseorang di belakangnya yang menatapnya penuh curiga.“Tapi saya belum pernah melihatmu datang ke makam ini,” jawab pria itu.“Iya, benar, Pak. Saya terlambat menyadari kesalahan yang pernah saya lakukan kepada mantan ayah tiri saya. Saya tidak punya maksud apa-apa. Kalau Salsa bertanya, bilang saja yang datang Zara. Mantan adik tiri saya itu berhati lembut, dan saya yakin dia tidak akan marah,” jawab Zara.Pria itu adalah penjaga makam yang digaji di atas UMR oleh Nathan untuk menjaga makam kedua mertuanya. Siapa pun yang datang ke makam itu pasti dilaporkan oleh penjaga makam ini kepada Nathan. Belum lagi, setiap kali Salsa atau anggota keluarga Abimanyu lainnya datang ke makam ini, pria itu pasti mendapatkan bonus yang cukup besar. Bahkan, jika ditotal dalam sebulan, bonus itu melebihi gajinya. Itulah yang membuatnya selalu melaporkan orang-orang yang datang berziarah ke makam tersebut.“Saya pe
“Wah, rumahnya bagus sekali, Bu,” ucap Zara takjub. Meskipun tadi Zara sempat dimarahi oleh pamannya karena kembali melawan setelah dihina habis-habisan oleh istri pamannya, tapi hari ini dia dan sang ibu akan hidup nyaman di rumah baru yang sempit ini.“Ya, kan? Walaupun nggak sebagus rumah dari Pak Tua itu, setidaknya rumah ini sangat layak kita huni. Ayo, masuk. Kamu harus lihat kamarmu sendiri,” ucap sang ibu.Mereka berdua pun masuk lebih jauh ke dalam rumah dan ternyata semua furniturnya lengkap. Rumah ini benar-benar layak untuk ditempati. Bahkan, di setiap kamarnya sudah disediakan AC oleh ibunya. Di ruang tamu juga ada AC. Rumah subsidi ini jadi terlihat naik kelas.“Ya Tuhan, terima kasih, ya Tuhan. Akhirnya Ibu bisa beli rumah. Setidaknya, dalam masa pengobatanku nanti, aku tidak perlu memikirkan harus bekerja,” ucap Zara pada dirinya sendiri.Dia langsung merebahkan dirinya di atas ranjang sambil memeluk guling. Air matanya kembali menetes karena tidak pernah menyangka pen
Salsa akhirnya naik ke lantai dua bersama sang suami, sementara anak-anaknya juga bersiap-siap untuk makan malam bersama di luar karena sang papa mengajak mereka makan malam di luar.“Apa sebaiknya ditunda aja saya ke rumah sakitnya lusa, biar aku bisa anterin?” ucap Nathan, berharap istrinya mau menunda sehari untuk datang ke rumah sakit.“Nggak bisa dong, Sayang. Kan dokter spesialis ini cuma ada besok. Udah, nggak apa-apa, Sayang. Aku sendiri aja. Nanti juga bakalan dapat video USG-nya. Tenang aja, aku bukan istri yang manja,” jawab Salsa.“Tapi aku merasa bersalah aja, Sayang. Apa aku nggak usah kunjungan proyek aja, ya?” gumam Nathan.“Jangan dong, Sayang. Itu kan masa depan kamu ada di sana. Kamu kerja aja. Cuma USG doang, kok. Lagian, aku nggak ada keluhan apa-apa. Ngidam juga udah nggak. Anak kita juga bergerak aktif dalam perutku. Nggak apa-apa, kita bulan depan aja barengannya. Besok biar aku aja. Lagian, setelah dari rumah sakit, aku ada janji juga sama Alea, mau nganterin
“Kenapa, Sayang?” tanya Salsa, melihat suaminya sangat serius menatap ke arah ponsel.Sementara itu, Nathan tahu wanita hamil tidak boleh stres. Jadi, yang akan dia ceritakan pada istrinya adalah hal yang baik-baik saja. Bahkan, akhir-akhir ini dirinya mimpi buruk. Nathan sama sekali tidak berani memberitahu sang istri soal kegelisahannya itu.“Nggak apa-apa, Sayang. Besok ada kunjungan proyek. Di grup, anak-anak masih sibuk membahas soal besok,” jawab Nathan, lalu meletakkan lagi ponselnya setelah memblokir nomor tak dikenal itu dan menghapus pesannya.“Papa, boleh beli tablet nggak buat belajar? Teman-teman di kelas semua bawa tablet buat belajar,” ucap Kenzo, menyela obrolan orang tuanya. Sang adik kembar ikut mengangguk setuju.“Boleh dong, Sayang. Kok anak SD sudah pakai tablet, sih? Belajarnya? Bukannya nggak boleh lihat HP atau tablet selama di sekolah?” tanya Nathan.“Ih, Papa katrok!” ceplos Kenzi, membuat Nathan tak tahan untuk mencubit pipi gembul gadis kecilnya.Nathan men
Semakin pamannya ngomel semakin kuat keinginan Zara untuk memilih jalan pintas mengakhiri masalah yang dihadapinya. Seandainya pamannya mengetahui kalau dirinya sedang mengidap penyakit mematikan, mungkin detik ini juga dia sudah diusir dari rumah ini. Zara memilih diam dan membiarkan ibunya yang berdebat dengan pamannya itu.“Iya nanti kami cari kerja. Lagian rumah ini peninggalan ayah dan ibu. Aku juga ada ayah dan ibu. Jangan kamu menyuruhku untuk menambah laki-laki brengsek itu lagi,” sahut ibunya Zara mendengar ucapan kakaknya. “Terserah,” balas pria itu langsung keluar dari kamar yang ditempati adiknya dan keponakannya yang super males itu.Lama ibunya Zara terdiam, sampai akhirnya dia punya ide, “ibu akan minta modal dari Salsa. Ibu yakin dia masih mau membantu kita. Kita harus keluar dari rumah ini,” ujar sang ibu.“Terserah ibu,” balas Zara. Saat itu juga ibunya mulai bersiap-siap membuat Zara bingung, “ibu mau kemana?” tanyanya.“Mau ke kantor Abimanyu Group. Ibu akan buat
Zara masih menangis histeris dan menolak hasil laboratorium yang dibacakan oleh dokter. Dia enggak percaya kalau dirinya mengidap penyakit HIV/AIDS, penyakit mematikan yang belum ada obatnya sampai detik ini. Dia terus menangis meraung-raung, bahkan menjambak rambutnya. Suster yang ada di ruangan dokter berusaha ikut menenangkan, tapi tangisan itu terus terdengar semakin menyayat hati.Dokter paruh baya itu menatap iba ke arah pasien di hadapannya ini. Semua orang yang mendapatkan hasil kesehatan dengan virus mematikan ini pasti tidak bisa menerima kenyataan pahit itu. Tapi sebagai dokter yang sering menghadapi pasien yang sama, beliau dengan sabar berusaha menenangkan dan memberi penjelasan yang logis pada pasien di depannya ini.“Bu Zara, dengan Anda menangis seperti ini tidak akan mengubah apa pun. Tolong berhenti menangis biar saya bisa menjelaskan apa yang bisa Ibu lakukan ke depannya. Masih ada pengobatan yang bisa Ibu lakukan untuk menghambat perkembangan virus di tubuh Ibu,” u
Di dalam taksi online, air matanya menetes membasahi layar ponselnya yang menunjukkan jam digital. Sepuluh menit perjalanan rasanya seperti berabad-abad. Begitu mobil berhenti di depan sebuah gerbang rumah mewah di pusat kota, Salsa langsung turun.Rumah mewah itu berdiri megah, seolah tak tersentu
Nathan menatap tubuh Salsa dari atas hingga bawah, sementara gadis itu hanya bisa meneteskan air mata sampai akhirnya suara Nathan membuatnya buru-buru mengusap air mata yang membasahi kedua sudut matanya.“Jangan buat nafsuku hilang. Kau disini wajib melayani nafsuku dan membuatku puas,” ujar pria
“Ta–tapi saya gak mau pakai baju ini, Om,” cicit Salsa, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya yang sudah hampir habis ditelan ketakutan setiap kali bertemu dengan Nathan.Nathan yang sejak tadi sibuk di depan MacBook seketika berhenti mengetik. Dia menoleh ke sumber suara, menatap Salsa dengan r
“Tapi, Om…” “Kalau kamu punya barang berharga sebagai jaminan, boleh pakai itu. Asal nilai jualnya lebih besar dari uang satu miliar yang kamu butuhkan sekarang,” ucap Nathan cepat, memotong kalimat Salsa sebelum gadis itu sempat menyelesaikannya. Salsa tampak semakin frustasi. Detik jam dinding







