Home / Romansa / Ranjang Panas Ayah Sahabatku / Ternyata Masih Perawan

Share

Ternyata Masih Perawan

Author: Atieckha
last update publish date: 2026-06-02 18:11:35

Malam harinya, Salsa sudah sampai di rumah Alea. Tadi, sahabatnya itu pulang lebih awal bersama papanya. Sebenarnya Salsa sempat berniat membatalkan rencana menginap di rumah sahabatnya itu. Tubuhnya masih pegal setelah kejadian di vila tadi. Namun, sekitar pukul lima sore, Nathan kembali mengirim pesan agar Salsa datang sebelum makan malam.

Setelah makan malam, karena cuaca malam itu cukup gerah, Alea mengajak Salsa berenang.

“Renang yuk, Sa,” ajaknya. Biasanya kalau cuaca seperti ini Alea selalu memilih berenang di malam hari.

Salsa langsung menggeleng. “Nggak ah. Aku capek banget.”

Beruntung Alea tidak memaksa, kalau tidak bisa saja tubuhnya yang penuh tanda kepemilikan akan terlihat oleh sang sahabat saat memakai baju renang. Sementara Alea justru menoleh ke arah sang papa yang sedang duduk di ruang tamu sambil membaca koran bisnis yang belum sempat dibacanya sejak pagi.

“Pa,” panggil Alea.

“Iya, Sayang?”

Perasaan Salsa kembali terasa aneh melihat betapa hangatnya Nathan ketika berbicara dengan putrinya. Pria yang di hadapannya sekarang terlihat begitu berbeda dari sosok tegas yang ia kenal ketika mereka hanya berdua saja.

“Papa jadi ke luar negeri besok?”

“Jadi dong, Sayang.” Nathan menurunkan koran yang sedang dibacanya. “Memangnya kenapa? Mau ikut Papa?” tawarnya.

Mendengar Nathan akan pergi ke luar negeri, Salsa diam-diam merasa lega. Setidaknya untuk sementara waktu, dia tidak perlu berhadapan langsung dengan pria itu.

“Nggaklah, Pa. Kan mau ujian. Salam saja buat Grandma dan Grandpa, ya. Semoga akhir tahun ini kita bisa kumpul,” ucap Alea.

“Iya, Sayang. Sudah sana ke kamar. Jangan telat tidur.”

“Oke, Pa.” Alea pun mengajak sang sahabat naik ke lantai dua menuju kamarnya.

Belum sampai beberapa langkah, ponsel Salsa berdering pendek. Sebuah pesan masuk dari Nathan. Wajah Salsa seketika menegang.

“Pesan dari siapa?” tanya Alea setelah menyadari perubahan ekspresi sahabatnya.

“Bukan siapa-siapa,” jawab Salsa cepat.

“Bohong. Sini aku lihat.” Alea hendak mengambil ponsel Salsa karena takut kalau Aditya kembali mengganggu Salsa, tetapi suara Nathan langsung terdengar dari belakang mereka.

“Alea, Sayang.”

Seketika Alea menghentikan gerakannya. Nathan menatap putrinya dengan penuh kasih.

“Boleh saja penasaran, tapi jangan membuka sesuatu yang bukan milikmu. Salsa juga punya privasi.”

Alea nyengir kecil, kemudian mengembalikan ponsel Salsa. “Bercanda, Pa. Alea kira Adit yang kirim pesan,” jawabnya.

Nathan mengangguk. “Jangan terlalu mencampuri urusan pribadi Salsa, Sayang. Boleh dekat sebagai sahabat, tapi tetap harus tahu batas.”

“Baik, Pa. Maaf.”

Salsa hanya diam. Kalimat Nathan terdengar seperti nasihat biasa seorang ayah kepada anaknya, tetapi dia tahu ada maksud lain di baliknya. Pria itu jelas tidak ingin Alea mengetahui pesan yang baru saja dikirimkannya.

“Ya sudah, sana naik. Jangan telat bobonya,” pesan Nathan.

“Oke, Papaku sayang. Good night, Pa.”

“Semoga mimpi indah, Sayang,” balas Nathan. Alea kemudian menggandeng tangan Salsa dan mengajaknya menuju kamar.

Salsa berusaha terlihat biasa saja, meskipun pikirannya masih tertuju pada pesan Nathan. Dia tahu malam ini dirinya kembali harus tidur dengan pria itu. Anehnya, di balik rasa takut yang masih tersisa, ada bagian dalam dirinya yang justru terus mengingat kejadian di vila tadi. Salsa tidak ingin mengakui perasaan itu. Menurutnya, semua yang terjadi di antara mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan.

Sementara itu, setelah memastikan kedua gadis tersebut naik ke lantai dua, Nathan kembali duduk di ruang tamu. Dia mengembuskan napas lega. “Hampir saja ketahuan,” gumamnya.

Nathan kembali membuka majalah bisnis yang sejak tadi belum sempat dibacanya. Namun, pikirannya sesekali kembali tertuju pada Salsa. Ada sesuatu dari gadis itu yang membuatnya sulit menganggap pertemuan mereka di vila sebagai sekadar transaksi biasa. Sikap Salsa yang selalu gugup di hadapannya justru membuat Nathan semakin penasaran.

Sekitar pukul sepuluh malam, setelah menerima pesan singkat dari Nathan, Salsa keluar dari kamar Alea dengan hati-hati. Dia memastikan sahabatnya sudah tertidur sebelum berjalan menuju lantai tiga. Salsa berharap kepala pelayan yang berada di lantai satu tidak melihatnya. Dia tidak ingin keberadaannya di rumah itu menimbulkan kecurigaan siapapun.

Sesampainya di depan kamar Nathan, pintu sudah terbuka. Salsa melangkah masuk. Setelah Nathan menutup pintu, pandangannya berkeliling ke seluruh sudut ruangan.

Kamar itu terasa seperti kamar seorang raja di film-film yang sering ditontonnya. Luasnya bahkan beberapa kali lipat dari kamar Alea yang selama ini sudah dianggapnya sangat besar. Ranjang berukuran besar dengan ukiran bernuansa emas dan perak menjadi pusat ruangan. Dindingnya didominasi warna abu-abu muda, sementara layar besar di dekat sofa membuat Salsa semakin terpukau.

Dia belum sempat menikmati seluruh kemewahan kamar itu ketika suara Nathan membuyarkan lamunannya.

“Buka bajumu.”

Salsa menelan ludah. Jantungnya kembali berdetak lebih cepat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Juan Latif
tepu tepu lahh....untung coba langganan 1mnggu aja 47rb. trs batalkan langganan lanjutan. mosok sdh berlangganan skrg buka kunci bayar lage?? gatau abis bayar nti didepan ada buka apa lagi? wkwkw
goodnovel comment avatar
Cok Ardeswari
lanjut semakin seru
goodnovel comment avatar
Ima Imeh
lanjutkan, seru jadi penasaran
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Chapter 298

    “Siapa, Pak?” tanya Raka. Wajahnya ikut menegang melihat atasannya menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal.“Aditya. Dia pelaku penculikan Salsa dan dia minta tebusan dua triliun,” jawab Nathan. Tangannya mengepal sangat kuat menahan emosi yang sudah berada di ujung tanduk. Bajingan brengsek itu benar-benar tidak punya otak, beraninya menculik Salsa dalam kondisi sedang hamil.“Brengsek, dasar manusia tidak punya hati nurani! Sudah tahu Bu Salsa lagi hamil, masih saja dia memanfaatkan itu. Kalau ketemu dengan dia, saya sendiri yang meremukkan tulang belulangnya!” ucap Raka ikut terbawa emosi yang tak bisa ditahan lagi.“Kita harus segera ke kantor polisi,” perintah Nathan karena laporan polisi harus segera mereka buat agar mendapat bantuan untuk mencari keberadaan Salsa.“Baik, Pak,” jawab Raka sigap. Setibanya di kantor polisi, Nathan langsung masuk ruang unit reserse dan melaporkan kasus penculikan sang istri secara resmi lengkap dengan salinan rekaman CCTV dari rumah sakit

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Chapter 297

    “Lepaskan aku, bajingan!”Teriakan Salsa menggema di ruangan sempit dan pengap itu. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat, dan air matanya terus mengalir sejak menyadari bahwa dirinya telah diculik oleh Aditya. Kedua tangannya terikat di atas, membuat bahunya terasa nyeri karena harus terus menahan beban tubuhnya sendiri. Kakinya mulai gemetar, tetapi dia tidak bisa berbuat apapun untuk menghentikan tindakan jahat Aditya.Dia benar-benar tidak menyangka Aditya akan melakukan hal sekeji ini. Laki-laki yang pernah menjadi tunangannya itu seolah sudah kehilangan akal sehat. Bahkan, dia tidak peduli bahwa Salsa sedang hamil.“Stttt! Jangan berisik!” Aditya mengisap cerutunya, lalu membuang asap ke sembarang arah. Dia sama sekali tidak peduli kalau Salsa sampai kesulitan bernapas karena asap rokoknya apalagi ruangan itu sangat pengap.“Apa maumu, hah?” teriak Salsa lagi. Dia berusaha melawan rasa takut yang terus menghantuinya. “Kenapa kamu menculikku? Apa salahku sama kamu sampai kamu mela

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Chapter 296

    “Maaf, tidak ada orang yang boleh masuk ke ruangan ini tanpa izin dari direktur rumah sakit.” petugas keamanan yang berjaga di sana tidak mengizinkan siapapun untuk masuk ke ruang IT.“Aku anaknya Nathan Abimanyu,” pekik Alea kesal.“Saya tahu. Tapi kalau saya tidak mendapatkan perintah saya tidak berani. Sebaiknya anda segera temui direktur Rumah Sakit terlebih dahulu,” ujarnya.Alea menjambak rambutnya sendiri karena kesal. Dan saat genting seperti ini ponsel Papanya dan Raka tidak aktif. Alea benar-benar frustasi. “Tunggu di sini, Non. Kalau kita Adu mulut kayaknya sampai sore tidak akan selesai. Kami akan menemui direktur rumah sakit untuk meminta izin melihat rekaman CCTV,” ucap salah satu pengawal Salsa. “Pergilah,” sahut Alea. Gadis itu benar-benar dibuat panik. Tapi dia masih berusaha berpikir positif bahwa Mamanya dalam keadaan baik-baik saja. Setelah sepuluh menit pengawal itu pun kembali, dan disaat yang bersamaan petugas keamanan menerima telepon dari direktur rumah saki

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Chapter 295

    “Coba lihat dulu ke depan, siapa tahu Mama sudah datang,” ujar Alea pada pelayan di rumahnya. Jantungnya berdebar kencang karena sang mama angkat belum pernah telat datang tanpa kabar.“Baik, Non.” Setelah pelayan meletakkan kembali telepon rumah, dia langsung berlari ke halaman depan. Pelayan itu bertanya pada pengawal dan sopir Salsa yang masih berada di rumah karena Salsa memang tidak mau dikawal ataupun diantarkan oleh sopir. Dia kalau sedang pergi dengan Alea ingin bebas pendirian dan itu sudah beberapa kali dilakukan. Nathan pun awalnya menolak permintaan istrinya yang menolak menggunakan sobek atau pengawal, tapi seperti biasa melawan ibu hamil sama dengan melawan tembok. Jadinya Nathan mengalah, asal Salsa tetap hati-hati berkendara dan hanya boleh pergi satu minggu sekali. Makanya makan berusaha untuk meluangkan waktu agar bisa pergi bareng istrinya. Karena hal yang kayak ginilah yang dia khawatirkan. “Loh, memangnya Bu Salsa di mana?” tanya pengawal panik. “Katanya harusn

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Chapter 294

    “Sa–saya hanya ingin minta maaf sama almarhum,” jawab Zara gugup setelah menyadari ada seseorang di belakangnya yang menatapnya penuh curiga.“Tapi saya belum pernah melihatmu datang ke makam ini,” jawab pria itu.“Iya, benar, Pak. Saya terlambat menyadari kesalahan yang pernah saya lakukan kepada mantan ayah tiri saya. Saya tidak punya maksud apa-apa. Kalau Salsa bertanya, bilang saja yang datang Zara. Mantan adik tiri saya itu berhati lembut, dan saya yakin dia tidak akan marah,” jawab Zara.Pria itu adalah penjaga makam yang digaji di atas UMR oleh Nathan untuk menjaga makam kedua mertuanya. Siapa pun yang datang ke makam itu pasti dilaporkan oleh penjaga makam ini kepada Nathan. Belum lagi, setiap kali Salsa atau anggota keluarga Abimanyu lainnya datang ke makam ini, pria itu pasti mendapatkan bonus yang cukup besar. Bahkan, jika ditotal dalam sebulan, bonus itu melebihi gajinya. Itulah yang membuatnya selalu melaporkan orang-orang yang datang berziarah ke makam tersebut.“Saya pe

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Chapter 293

    “Wah, rumahnya bagus sekali, Bu,” ucap Zara takjub. Meskipun tadi Zara sempat dimarahi oleh pamannya karena kembali melawan setelah dihina habis-habisan oleh istri pamannya, tapi hari ini dia dan sang ibu akan hidup nyaman di rumah baru yang sempit ini.“Ya, kan? Walaupun nggak sebagus rumah dari Pak Tua itu, setidaknya rumah ini sangat layak kita huni. Ayo, masuk. Kamu harus lihat kamarmu sendiri,” ucap sang ibu.Mereka berdua pun masuk lebih jauh ke dalam rumah dan ternyata semua furniturnya lengkap. Rumah ini benar-benar layak untuk ditempati. Bahkan, di setiap kamarnya sudah disediakan AC oleh ibunya. Di ruang tamu juga ada AC. Rumah subsidi ini jadi terlihat naik kelas.“Ya Tuhan, terima kasih, ya Tuhan. Akhirnya Ibu bisa beli rumah. Setidaknya, dalam masa pengobatanku nanti, aku tidak perlu memikirkan harus bekerja,” ucap Zara pada dirinya sendiri.Dia langsung merebahkan dirinya di atas ranjang sambil memeluk guling. Air matanya kembali menetes karena tidak pernah menyangka pen

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Ternyata Besar

    “Ta–tapi saya gak mau pakai baju ini, Om,” cicit Salsa, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya yang sudah hampir habis ditelan ketakutan setiap kali bertemu dengan Nathan.Nathan yang sejak tadi sibuk di depan MacBook seketika berhenti mengetik. Dia menoleh ke sumber suara, menatap Salsa dengan r

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Lingerie

    Braaaaak Pintu kamar Zara dibuka lebar hingga menimbulkan dentuman yang cukup keras membuat Salsa kaget. “Kurang ajar! Kamu ngintip, ya?” tuduh Aditya kesal. Dia keluar untuk mencari tahu apa sebetulnya yang pecah di depan kamar calon istrinya. Dan betapa kesalnya dia mendapati Salsa di sana. Ad

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Suara Desahan

    Ting. Satu pesan baru masuk lagi dari Nathan. Pria itu mengirimkan sebuah titik lokasi vila yang menjadi tempat pertemuan mereka besok siang. Belum sempat Salsa mencerna semuanya, satu pesan beruntun kembali masuk. “Jangan bilang apa pun pada Alea tentang perjanjian panas ini. Paham!” Hati Salsa

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Tubuhmu Milikku

    “Tapi, Om…” “Kalau kamu punya barang berharga sebagai jaminan, boleh pakai itu. Asal nilai jualnya lebih besar dari uang satu miliar yang kamu butuhkan sekarang,” ucap Nathan cepat, memotong kalimat Salsa sebelum gadis itu sempat menyelesaikannya. Salsa tampak semakin frustasi. Detik jam dinding

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status