Home / Romansa / Ranjang kedua dr. Jonathan / 22. Undangan menginap

Share

22. Undangan menginap

Author: Riri riyanti
last update publish date: 2026-08-26 20:55:15

"Jangan merasa ini sebagai hutang budi lagi, Lily. Jangan seperti itu, saya kurang menyukainya jujur saja." Jonathan meliriknya melalui ekor mata sejenak sebelum kembali menatap ke arah jalanan lengang.

Lampu jalan kuning memantul di aspal basah. Pria itu tersenyum. Senyum yang tulus, bukan senyum dokter ke pasien.

"Justru seharusnya saya yang berterima kasih padamu. Beberapa hari ini kau terus mengirimkan saya makanan enak, saya benar-benar menyukainya. Saya yakin, kelak kau akan menjadi i
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   51. Kepulangan yang terlambat

    Diandra memasuki rumah yang telah lima belas tahun ini ia tempati bersama Sang suami ketika matahari telah menampakkan diri. Cahaya pagi menerobos celah tirai ruang tamu, menyorot debu-debu halus yang melayang di udara. Rumah ini terlalu besar untuk hanya diisi dua orang. Terlalu sunyi. Terlalu banyak kenangan yang sekarang terasa menusuk. Ia melangkah dengan perasaan was-was, serta sebentuk rasa bersalah yang menumpuk di dada tatkala tanpa sengaja menatap foto pernikahannya yang tergantung di ruang tamu. Foto itu masih sama. Diandra dengan gaun putih, tersenyum paling bahagia dalam hidupnya. Jonathan di sampingnya, tampan dengan setelan jas, menatapnya seperti ia adalah satu-satunya wanita di dunia. Lima belas tahun lalu. Jantung Diandra mencelos. Dulu ia berjanji di depan foto itu untuk setia. Dulu. Ah, terkadang keinginan memang tak sesuai realita. Cintanya yang suci nyatanya telah ia nodai secara sadar. Entah sudah berapa kali penyesalan itu hinggap, namun di akhir dirinya

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   50. Adegan ranjang dan ancaman

    Diandra Maharani adalah seorang model yang kini mulai melebarkan sayapnya pada seni peran. Ini adalah syuting perdananya sebagai seorang aktris. Meskipun hanya memerankan tokoh sampingan, namun baginya hal itu merupakan awal yang baik bagi kariernya di dunia perfilman. Berakting di depan kamera sebenarnya bukanlah hal yang asing bagi Diandra, namun biasanya proses syuting yang ia lakoni hanya memakan waktu yang relatif singkat; hanya memerlukan waktu beberapa hari saja, karena ia hanya membintangi sebuah iklan atau menjadi model video klip sebuah lagu. Diandra melangkah masuk ke dalam ruang ganti. Bukannya senyum yang ia tebar, justru wajah cantiknya tertekuk kesal. Kebetulan di ruangan itu hanya ada dirinya dan Sang asisten pribadi, Javier. "Arrgghh! Laras sialan!" tiba-tiba saja sebuah umpatan keluar dari mulutnya, ia mengempaskan pantatnya pada sofa dengan gerakan kasar. "Aku benar-benar kesal padanya!" Javier menatap padanya. Dengan sebotol air mineral dingin di tangannya, pri

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   49. Kram malam itu

    Libur bekerja bagi Lily adalah suatu anugerah. Waktu di mana ia bisa bersantai di dalam kamarnya dan ditemani oleh tontonan drama seri asal negeri gingseng favoritnya. Yah, meskipun bila boleh jujur, ia lebih menginginkan untuk ditemani oleh Si pria jangkung berambut pirang dan bermata biru itu. Namun, sayangnya Jonathan sudah pergi hampir dua jam lalu, tepat setelah mengantarkan dirinya pulang selepas makan malam bersama di 'The Cozy Cup', sebuah restoran yang menyajikan beragam makanan tradisional dan modern yang lokasinya paling dekat dengan rumahnya. Hanya makan malam biasa, tapi berbeda bagi Lily. Baginya, makan malam tadi merupakan kencan pertama mereka. Tak lama berselang, suara ketukan di pintu mengalihkan perhatian Lily dari layar ponselnya. Tanpa mengubah posisinya yang sedang tengkurap di atas tempat tidur, secara spontan ia menoleh pada jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, sudah cukup larut. "Siapa yang datang di jam seperti ini?" Lily bertanya pad

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   48. Uang dan dusta

    Lily membeku. Hangat di pipinya hilang berganti was-was, sebab ia memang tidak membeli pil kontrasepsi sesuai perintah Si pria. Senyumnya berubah kaku. Kering. "... sudah." Ya, pada akhirnya Lily memilih berdusta, lalu menoleh ke arahnya. "Kenapa Anda bertanya?" "Hanya untuk berjaga-jaga saja. Jika kau sampai hamil, kita akan tamat. Lagipula kau masih terlalu muda untuk mengandung." Jonathan menjawab dengan ketenangan yang seakan telah terlatih. Sedangkan Lily justru mengernyit menatapnya. "Maksud Anda, jika saya sudah cukup dewasa bagi Anda, maka saya boleh mengandung anak Anda?" sungguh, jantungnya berdebar-debar. Apakah ucapan Jonathan barusan adalah sebuah sinyal bagus untuknya? Namun, Jonathan justru tampak membeku. Sejenak ia kehilangan kata-kata untuk memberikan respons atas ucapan Lily. Sejujurnya, bahkan ia tidak tahu harus ke arah mana membawa hubungan mereka nanti. Jonathan belum bisa melihat jalan di hadapan mereka, semua masih tampak abu-abu. "Pada intinya, kita haru

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   47. Lingerie hitam

    Langit belum sepenuhnya gelap ketika Jonathan turun dari kendaraan roda empatnya. Pria itu tampak melihat pada arlojinya sejenak sebelum menutup pintu mobil yang ia parkirkan di halaman rumah Lily. Pada akhirnya ia memilih untuk menuruti permintaan wanita itu untuk mampir ke rumahnya sepulang bekerja. Entahlah, seakan ia telah terjerat oleh mantra magis yang Lily tiupkan padanya sehingga ia tidak mampu menolak keinginannya. Kini Jonathan telah berdiri di depan pintu rumah Lily. Tangan kanannya terulur untuk mengetuk permukaan pintu berbahan kayu jati itu. Dan setelah ketukan ke tiga, pintu itu terbuka. Tentu ada sosok cantik Lily di baliknya, tersenyum begitu menawan ke arahnya. "Selamat datang, Paman." Tepat di detik itu, kedua mata biru Jonathan membeliak. Spontan pria itu segera menutup rapat pintu kemudian menguncinya. Ketika tubuh jangkung itu berbalik, ia menatap tubuh Lily dengan kening mengerut, seakan tak suka. "Mengapa kau memakai baju yang ... seperti itu?!" ucapnya. M

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   46. Pesta dan dusta

    "Kau akan datang nanti malam?" Pertanyaan dari Marcell sukses mengalihkan perhatiannya. Sejenak menghentikan suapan makan siangnya ke dalam mulut, Jonathan menatap Si lawan bicara. Ada kernyit samar di dahi, pertanda dirinya tidak paham dengan arah pertanyaan rekan kerja sekaligus sahabat di depannya. "Datang ke mana?" tanyanya. "Pesta perayaan dr. Baskara." Selesai berucap, Marcell kembali melahap mie ayam yang menjadi menu makan siangnya kali ini. Makan siang yang terlambat, sebab jarum jam sudah menunjukkan pukul dua. Perutnya sudah meronta-ronta meminta diisi. Kafetaria rumah sakit cukup lengang, hanya beberapa meja saja yang terisi, termasuk meja yang Jonathan dan Marcell tempati. Kebetulan mereka baru saja selesai menangani seorang pasien penderita penyakit jantung kronis bersama-sama. "Wah, apakah Beliau naik jabatan?" Jonathan kembali bertanya. Ia meraih es jeruknya, meminumnya perlahan menggunakan sedotan. Dingin bercampur rasa manis dan sedikit asam mengaliri tenggoroka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status