Share

25. Secangkir kopi

Author: Riri riyanti
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-29 20:47:13

Kafe Serenade cukup sepi malam ini, mungkin karena malam yang memang sudah beranjak semakin kelam. Lampu-lampu gantung berwarna kuning temaram menggantung rendah, memantulkan cahaya ke lantai kayu yang baru saja dipel. Hanya ada beberapa bangku yang terisi, sedangkan sebagian besar telah kosong dan dibersihkan oleh para pelayan dengan gerakan cepat.

Keriuhan itu telah pergi. Tawa, denting sendok, pesanan yang berteriak-teriak. Semua sudah selesai. Berganti suasana cukup sunyi, meninggalkan ob
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   54. Malam terakhir di Serenade

    "Ini adalah malam terakhir aku bekerja di sini, Kak. Aku baru saja mengajukan surat pengunduran diri." Sontak segala gerakan Jasmine terhenti. Jantungnya berdegup tidak beraturan. Ia terlalu terkejut sampai-sampai tidak mampu mengatakan apa pun ketika menatap mata indah perempuan di sisinya. Mata itu jernih, tenang, seolah keputusan besar yang baru saja diucapkan hanyalah soal memilih menu makan malam. Sedangkan Lily hanya menatapnya tanpa dosa. Senyum tipisnya tetap terpasang, seperti biasa setiap kali ia melayani pelanggan yang rewel sekalipun. Dapur kafe Serenade yang biasanya riuh dengan denting sendok dan obrolan karyawan, mendadak terasa terlalu sunyi bagi Jasmine. "... kenapa tiba-tiba?" akhirnya Jasmine mampu mengeluarkan kata setelah sekian detik terdiam. Suaranya bergetar, tercekat di tenggorokan. Tatapannya berubah menyelidik, menyapu wajah Lily dari atas ke bawah seakan mencari luka yang disembunyikan. "Apakah kau ada masalah? Jika iya, seharusnya kau mengatakannya pa

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   53. Obrolan ruang ganti

    "Really?" Itu adalah ucapan pertama Elizabeth yang Diandra dengar ketika wanita itu berjalan mendekat. Wanita yang baru beberapa bulan lalu melahirkan itu memang sengaja mengunjungi lokasi syuting Si sahabat, kebetulan lokasi pemotretannya memang tidak terlalu jauh dari lokasi syuting Diandra. "Benar! Aku saja tidak menyangka." Tania Arizona, Seseorang yang didapuk menjadi peran utama di dalam judul film yang mereka bintangi menimpali. Meski jarang bertemu sebelumnya, namun mereka memang sudah saling mengenal semenjak masih duduk di bangku perkuliahan. "Dunia terus berputar, ya?" wanita bernama lengkap Elizabeth Marthadinata itu menghela napas, seakan turut prihatin atas keadaan yang menimpa Naya Wilhelmina; teman sesama model yang sedang mereka bicarakan. "Kalian sedang membicarakan apa?" ketika masuk ke dalam obrolan kedua temannya, Diandra mengambil duduk pada kursi single terdekat. Ia meraih sebuah kaleng cola di dalam box, segera membuka penutupnya sebelum akhirnya meneguk

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   52. Telepon di siang hari

    Napas Lily terembus panjang, lalu menaruh ponselnya di permukaan ranjang begitu saja. Ketika ia memutuskan untuk bangkit dari tempat tidur, kernyit di dahinya muncul. Ia merasa sesuatu mengalir dari kemaluannya, dan rasanya begitu tidak nyaman. "Apa yang terjadi?" Tak ingin hanya menduga-duga, wanita muda itu buru-buru berlari ke kamar mandi untuk mengeceknya. Ia duduk di kloset setelah melepas celana dalamnya. Ketika sebuah bercak darah ia temukan, kedua mata indahnya menutup rapat. Napasnya terembus berat. Ternyata tamu bulanannya datang. Wajahnya mengeras, lalu tangannya mengepal sebelum akhirnya memukul lututnya sendiri dengan perasaan kesal. "Sial! Kenapa harus datang bulan?!" Lily hela napasnya berkali-kali kemudian kembali membenarkan celana dalamnya. Selanjutnya, ia bangkit berdiri di depan kaca wastafel, bergeming menatap wajahnya sendiri. Harapannya untuk segera memiliki bayi dengan pria yang memiliki hatinya telah pupus. Namun, bukankah kesempatan lain masih selalu ad

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   51. Kepulangan yang terlambat

    Diandra memasuki rumah yang telah lima belas tahun ini ia tempati bersama Sang suami ketika matahari telah menampakkan diri. Cahaya pagi menerobos celah tirai ruang tamu, menyorot debu-debu halus yang melayang di udara. Rumah ini terlalu besar untuk hanya diisi dua orang. Terlalu sunyi. Terlalu banyak kenangan yang sekarang terasa menusuk. Ia melangkah dengan perasaan was-was, serta sebentuk rasa bersalah yang menumpuk di dada tatkala tanpa sengaja menatap foto pernikahannya yang tergantung di ruang tamu. Foto itu masih sama. Diandra dengan gaun putih, tersenyum paling bahagia dalam hidupnya. Jonathan di sampingnya, tampan dengan setelan jas, menatapnya seperti ia adalah satu-satunya wanita di dunia. Lima belas tahun lalu. Jantung Diandra mencelos. Dulu ia berjanji di depan foto itu untuk setia. Dulu. Ah, terkadang keinginan memang tak sesuai realita. Cintanya yang suci nyatanya telah ia nodai secara sadar. Entah sudah berapa kali penyesalan itu hinggap, namun di akhir dirinya

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   50. Adegan ranjang dan ancaman

    Diandra Maharani adalah seorang model yang kini mulai melebarkan sayapnya pada seni peran. Ini adalah syuting perdananya sebagai seorang aktris. Meskipun hanya memerankan tokoh sampingan, namun baginya hal itu merupakan awal yang baik bagi kariernya di dunia perfilman. Berakting di depan kamera sebenarnya bukanlah hal yang asing bagi Diandra, namun biasanya proses syuting yang ia lakoni hanya memakan waktu yang relatif singkat; hanya memerlukan waktu beberapa hari saja, karena ia hanya membintangi sebuah iklan atau menjadi model video klip sebuah lagu. Diandra melangkah masuk ke dalam ruang ganti. Bukannya senyum yang ia tebar, justru wajah cantiknya tertekuk kesal. Kebetulan di ruangan itu hanya ada dirinya dan Sang asisten pribadi, Javier. "Arrgghh! Laras sialan!" tiba-tiba saja sebuah umpatan keluar dari mulutnya, ia mengempaskan pantatnya pada sofa dengan gerakan kasar. "Aku benar-benar kesal padanya!" Javier menatap padanya. Dengan sebotol air mineral dingin di tangannya, pri

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   49. Kram malam itu

    Libur bekerja bagi Lily adalah suatu anugerah. Waktu di mana ia bisa bersantai di dalam kamarnya dan ditemani oleh tontonan drama seri asal negeri gingseng favoritnya. Yah, meskipun bila boleh jujur, ia lebih menginginkan untuk ditemani oleh Si pria jangkung berambut pirang dan bermata biru itu. Namun, sayangnya Jonathan sudah pergi hampir dua jam lalu, tepat setelah mengantarkan dirinya pulang selepas makan malam bersama di 'The Cozy Cup', sebuah restoran yang menyajikan beragam makanan tradisional dan modern yang lokasinya paling dekat dengan rumahnya. Hanya makan malam biasa, tapi berbeda bagi Lily. Baginya, makan malam tadi merupakan kencan pertama mereka. Tak lama berselang, suara ketukan di pintu mengalihkan perhatian Lily dari layar ponselnya. Tanpa mengubah posisinya yang sedang tengkurap di atas tempat tidur, secara spontan ia menoleh pada jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, sudah cukup larut. "Siapa yang datang di jam seperti ini?" Lily bertanya pad

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status