MasukJonathan berakhir membawa Lily ke minimarket yang buka 24 jam, tentu saja setelah mengambil jaket parka yang ia simpan di dalam mobil untuk ia kenakan. Ia mengajak gadis itu duduk di kursi depan bangunan toko seraya memberikannya minuman cup hangat, mencoba membuat Si gadis merasa tenang.
Udara malam yang terasa dingin menyengat kulit sudah tak lagi Lily rasakan, sebab kemeja milik Si pria yang membungkus tubuhnya berhasil membuat dirinya nyaman. Bahannya yang lembut dan hangat membuat Si gadis mengira-ngira betapa mahalnya harga baju yang ia kenakan. Meski kebesaran bahkan hingga dirinya nyaris tenggelam, namun Lily merasa begitu senang memakainya. Apalagi ketika samar-samar ia mampu mencium aroma parfum Si pria yang masih tertinggal di sana. "Bagaimana perasaanmu sekarang? Sudah merasa lebih baik?" tanya pria itu setelah meneguk kopi cup miliknya, memecah hening. Gadis itu mengangguk, menyentuh permukaan gelas berbahan kertas dengan kedua telapak tangan demi merasakan hangatnya. "Terima kasih, Tuan. Anda baik sekali. Saya tidak tahu lagi bagaimana nasib saya seandainya Anda tidak menolong saya." Berakhir Si gadis kembali meneguk pelan minumannya. "Sama-sama, sudah menjadi kewajiban bagi saya untuk menolong sesama." Jonathan membagi senyum untuk Si gadis, sebelum kembali bertanya. "Oh, ya ... siapa namamu?" "Saya Lily, Tuan. Anda sendiri?" "Nama saya Jonathan. Senang berkenalan denganmu." Lagi-lagi senyum itu terlukis dengan begitu indah. Lily hampir selalu terpaku kala menatap senyum pria yang duduk di depannya, tentu dengan ritme debaran jantungnya yang semakin meningkat tiba-tiba. Pria itu tampak begitu tampan dan sangat dewasa, pas seperti kriteria pria idamannya. Ah, bahkan melebihinya! Apalagi dengan kemurahan hati pria itu yang telah tanpa pamrih menolongnya, membuat rasa tertarik itu semakin nyata. Ya, Lily memang memiliki kecenderungan tertarik pada pria yang jauh lebih tua dari usianya. "Kau harus lebih berhati-hati, zaman sekarang kejahatan semakin merajalela, apalagi kau seorang perempuan. Jika memungkinkan jangan keluar malam sendirian, Nak." Jonathan kembali berucap saat Lily hanya diam saja menatapnya. Di matanya, Lily tidak lebih dari seorang gadis kecil yang membutuhkan perlindungan dari orang dewasa. Wajahnya cantik dan sangat enak dipandang. Kedua mata yang jernih berhiaskan bulu mata lentik serta alis rapi nan simetris, kedua pipinya tembam, hidungnya mungil nan mancung, serta bibirnya yang tipis nan ranum. Ah, andai dirinya dan Sang istri memutuskan untuk memiliki seorang putri, mungkin Lily adalah wujud nyata dari gambaran putri yang ia dambakan. Dan jika hal itu benar terjadi, mungkin usia putrinya pun tak jauh berbeda dari gadis yang duduk di depannya saat ini. Pikiran itu membuat dadanya sesak. Ia mengusirnya cepat-cepat. 'Diandra'. Nama itu muncul di kepalanya seperti tamparan. Ia sudah punya istri. Istri yang ia cintai. Pun kesepakatan Childfree sudah terlanjur disepakati. "Bagaimana saya tidak keluar malam sendirian, Tuan? Saya bekerja di kafe itu sebagai pelayan." Kernyitan halus menghiasi kening Jonathan. "Kafe itu?" Lily mengangguk. "Kejadian tadi terjadi di depan kafe tempat saya bekerja. Saat mereka menyerang saya, saya baru saja selesai bekerja. Saya sedang mencegat angkutan umum untuk pulang, dan peristiwa itu terjadi begitu saja." "Jadi begitu." Kepala berhelaian pirang itu mengangguk paham. Ia mengingatnya, memang ada sebuah kafe yang baru ditutup di dekat tempat kejadian perkara. Ia bersedekap sebelum menjatuhkan punggungnya pada sandaran kursi berbahan besi. "Jika memungkinkan, kau bisa meminta orang rumah untuk menjemputmu, Nak. Malang tiada berbau. Untuk sekarang kau selamat, tapi untuk selanjutnya tidak ada yang tahu, bukan?" ia mencoba memberikan nasihat. Namun, ketika melihat raut wajah Lily, ia buru-buru menambahkan. "Saya tidak berniat menakut-nakutimu, hanya untuk berjaga-jaga saja." "Saya tinggal sendirian, mana mungkin ada yang datang menjemput saya?" ketika berucap, Lily menatap tepat ke dalam mata biru Si pria. "Ibu saya meninggal ketika saya masih kecil, sedangkan ayah saya menikah lagi dan tinggal di kota sebelah dengan keluarga barunya." Jonathan tertegun mendengar kisah hidup Lily. Ia tidak menyangka bahwa gadis yang saat ini duduk bersamanya memiliki nasib yang begitu malang, bahkan wajah cantik itu kini berubah sendu. Jujur saja ia merasa tak enak hati. Dadanya kembali menghangat, tapi kali ini karena iba. "Maaf, saya benar-benar tidak berniat untuk membuatmu bersedih." "Tidak apa-apa, Tuan. Saya sudah terbiasa." Lily tersenyum, namun pahit. Ia tampak memegang pergelangan tangannya. Jonathan bisa melihat bahwa bagian itu terlihat sedikit membiru. Ah, pasti itu akibat pria-pria tadi yang menarik Si gadis dengan kencang. "Oleskan salep ini secara rutin pada lebam di tanganmu. Jika perlu, kau bisa mengompresnya dengan air es. Lebammu akan segera sembuh." Si pria dewasa mendorong gel penyembuh lebam ke hadapan Lily. Ia memang sempat membelinya ketika memasuki minimarket seraya membeli minuman. Lily tampak menatapnya dengan ekspresi yang tak terbaca. Mimik wajahnya tampak ragu, namun pada akhirnya memilih untuk mengutarakan isi pikirannya. "Tuan, bolehkah saya meminta nomor telepon Anda?" "Untuk?" "Anda sudah menolong saya, setidaknya saya harus membalas kebaikan Anda. Dengan mentraktir Anda dengan secangkir kopi, mungkin?" tawar Si gadis. "Saya benar-benar tulus menolongmu, kau tidak perlu merasa berhutang budi padaku, Nak. Anggap saja saya sedang menolong putri saya sendiri." Gadis itu menatap tak setuju. "Tapi, saya akan merasa terbebani kalau seperti itu!" Jonathan terkekeh renyah melihatnya. Pada detik berikutnya pria itu merogoh kantung celana demi mengambil dompet di dalamnya. Ia menarik sebuah kartu dari sana, lalu memberikannya pada Lily. "Baiklah. Ini kartu nama saya. Simpanlah. Tapi, jangan terlalu kau pikirkan. Jika kau punya uang berlebih, lebih baik kau simpan." "Terima kasih, Tuan." Lily tersenyum. Itu adalah langkah awal yang terlintas di benaknya untuk dapat kembali bertemu dengan pria idamannya. *** Tbc...Lampu gantung rotan di atas meja mereka bergoyang pelan tiap kali angin laut memasuki ruangan restoran. Di luar, ombak menghantam batu karang. Konstan. Seperti suara detak jantung yang tenang. "Di sini cukup sepi, ya?" Lily berucap setelah duduk di kursi kayu, menghadap sebuah meja bundar. Mata indahnya telah selesai menatap sekeliling. Hanya ada beberapa meja yang terisi, berpasang-pasangan. "Itu salah satu alasanku memilih tempat ini. Di sini cukup privat, tidak akan ada yang mengenali kita." Jonathan menjawab, pria itu duduk tepat di depannya, hanya bersekat meja dengan vas berisi bunga mawar merah di atasnya. Aneka makanan laut sudah tersaji. Masih hangat, mengepulkan asap tipis. Aromanya menggugah selera. "Oh, pantas saja." Kepala Lily mengangguk beberapa kali tanda paham. Hubungan mereka memang selalu dirahasiakan, bahkan sebuah keharusan. Ada saat di mana Lily sangat ingin diakui. Ia ingin dunia tahu bahwa Jonathan adalah miliknya. Bukankah itu hal yang wajar? Seorang yang
Angin Bali sore itu tidak bohong. Tidak seperti di Bandung yang berisik, bau asap, pula lampu neon yang tidak pernah mati. Di sini ... sepi. Pasir Pantai Nusa Dua begitu putih. Putih bersih, lembut setiap kali terinjak. Lautnya biru. Bukan biru biasa, tapi biru kaca. Jernih sampai batu karang di dasarnya terlihat jelas, bergoyang pelan ketika terkena arus. Anginnya terasa hangat. Membawa bau garam dan bunga kamboja yang sedang mekar di pinggir jalan, serta bau sate ikan yang dibakar dari warung nelayan di ujung pantai. Sesekali ada burung camar lewat, berteriak, lalu melayang jauh. Di sini hanya ada suara ombak. Bergulung-gulung naik, pecah di bibir pantai, kemudian mundur lagi. Seperti napas. Panjang, tenang, teratur. Tidak ada suara klakson. Tidak ada suara notifikasi ponsel. Berbicara tentang ponsel, bahkan sampai saat ini Jonathan belum mengganti mode pesawat di ponselnya. Alat komunikasi canggih miliknya itu ia tinggal di kamar resort. Masih tergeletak di atas nakas. "Langi
Jonathan duduk di tepi ranjang, menatap hamparan lautan yang tampak jelas melalui jendela kaca besar kamar resort yang ia sewa bersama Lily. Mata birunya melirik pada ponsel di atas nakas, ponsel yang masih dalam mode pesawat, mode yang ia pasang ketika masih terbang di atas ketinggian. Dan ia ada di sini, kurang lebih sudah dua puluh lima menit yang lalu, di Bali dan bukan Bandung. Ia telah sukses membohongi istrinya. Rasa bersalah itu sejenak hinggap, namun ia tepis dengan gelengan kepala. Tangannya yang bertaut di atas lutut mengepal kuat dengan jari menyentuh permukaan cincin pernikahannya dengan Diandra. Detik berikutnya ia memejamkan erat kedua mata ketika hatinya bergejolak gusar. Tidak! Ini sudah menjadi keputusannya, dan tidak boleh ada penyesalan. Jika Diandra bisa bepergian dengan leluasa bersama Javier, maka ia pun berhak pergi bersama Lily dengan hati tenang, bukan? Itulah yang dinamakan impas. Ia pergi dengan Lily karena Diandra sering bepergian dengan Javier. M
Mentari belum terlalu tinggi saat mobil Hatchback itu berhenti di halaman luas rumah Diandra dan Jonathan. Wanita cantik dengan riasan yang hampir setiap saat terpoles sempurna itu membuka pintu rumahnya, langkah anggun itu menjejak turun dari undakan, perlahan, menuju mobil yang sudah menunggunya. "Langsung ke lokasi saja, Javier." Itu adalah ucapan pertama Diandra ketika baru saja duduk di kursi penumpang depan sebelum menutup pintu mobil di sisinya. Tak ada yang berubah, wanita itu tetaplah cantik memesona kendati hatinya sedang tidak baik-baik saja. "Baiklah. Pakai sabuk pengamanmu kalau begitu." Javier memerintah dengan lembut, kembali menginjak pedal gas dengan pelan. Sedangkan Diandra menurut tanpa kata. Setelah sabuk pengaman berhasil ia pasang, ia kembali fokus pada ponsel yang semula tergenggam. Lalu, embus napas berat terlepas. [Sayang, sudah sampai di Bandung?] Pesan itu telah ia kirim lebih dari tiga jam yang lalu, ketika suaminya telah dua puluh menit meninggalkan
Jam kerja selesai, itu tandanya Jonathan harus pulang. Bukan ke rumahnya, melainkan rumah Lily. Rumah kedua yang selalu mampu membuatnya merasa nyaman. Meskipun itu bukan rumahnya sendiri. Jam di dashboard menunjukkan pukul setengah enam sore, di mana mentari sudah mulai terbenam. Jingga itu masih tersisa sedikit sebelum kegelapan menyelimuti langit di atas sana. Jonathan baru saja memarkirkan mobilnya di halaman rumah Lily. Ia menjejak turun pada paving, memasukkan kunci mobilnya ke dalam saku celana kemudian berjalan dengan sedikit bersiul menuju teras. Belum apa-apa, aroma gurih masakan rumahan sudah mulai tercium ketika tangannya memutar gagang pintu. Senyumnya mengembang tanpa sadar. "Aku pulang." Lily yang sedang menata makan malam di meja segera menoleh ke arah pintu. Senyuman terukir lebar saat menangkap sosok jangkung yang sudah ia tunggu kedatangannya. Ia mengusap tangannya pada celemek sebelum akhirnya berjalan pelan menuju posisi pria itu. Rambut panjangnya yang
Wajah pedih serta mata sembab Diandra terus saja terbayang ketika Jonathan melangkah menuruni anak tangga dari lantai dua. Semalam saat dirinya pulang, istrinya itu telah tertidur nyenyak dengan jejak air mata yang mengering di pipi. Jujur ia khawatir, ia hanya takut terjadi hal yang buruk pada wanita yang telah ia persunting lebih dari sepuluh tahun lamanya itu. Apalagi hari masih begitu pagi, bahkan mentari belum menampakkan diri. Tetapi, wanita itu telah menghilang dari sisinya. Apalagi dengan keadaan yang sangat ia yakini sedang tidak baik-baik saja. Ini kali kedua ia mendapati Diandra menangis ketika hendak terlelap di malam hari. Dan tebakannya tak mungkin salah; lagi-lagi istrinya itu menangis jelas karena dirinya. Kali ini karena ia yang telah menggagalkan rencana bulan madu kedua mereka. Langkah panjangnya mengantarkan pria itu pada ambang pintu dapur. Hela napas lega terembus spontan ketika sepasang mata birunya menangkap presensi seseorang yang ia cari. Ya, ternyata







