LOGINMobil berjenis Hatchback warna putih berhenti tepat di depan gerbang sebuah rumah besar berhalaman luas. Ketika pintu penumpang bagian depan terbuka, salah satu kaki berhak tinggi dengan paha mulus itu perlahan mejejak paving, disusul munculnya seorang wanita cantik dari dalam kabin mobil.
Diandra Maharani adalah namanya, seorang model papan atas yang kariernya selalu terang benderang, profesi yang ia geluti semenjak masih berusia belia. Bukan hanya cantik, bahkan visualnya nyaris sempurna. Tinggi badannya semampai, ditunjang dengan kulit putih bersih yang terawat. Tentu dirinya memiliki wajah yang menjual; begitu rupawan dilengkapi sepasang mata hazel menawan, bertulang hidung tinggi, bibir tipis pink alami, serta setitik tahi lalat di bawah mata kiri. Wanita itu baru saja sampai di rumahnya ketika waktu hampir menunjukkan pukul tengah malam setelah menyelesaikan sebuah sesi pemotretan. Meski penat, Wanita cantik itu tampak memberikan senyuman pada pria yang masih duduk di balik kemudi. Dialah Javier Sutanto, pria berambut hitam dengan sepasang mata sipit itu adalah asisten pribadinya. "Terima kasih sudah mengantarku," ujar Diandra. Pria itu balas tersenyum. "Masuklah ke dalam, Nae Sarang." "Sampai bertemu besok." Tepat setelah berucap, Diandra menutup pintu mobil yang tadi ia naiki. Setelah satu lambaian tangan, alat transportasi beroda empat itu berlalu dari hadapannya. Diandra memutar tubuh lalu melangkah memasuki pintu gerbang yang telah dibukakan oleh seorang satpam penjaga rumah tempat dirinya dan Sang suami tinggal. Kernyit halus tercipta di dahi. Ia merasa heran, sebab mobil suaminya tak terlihat di carport, yang artinya Sang suami masih belum pulang juga. Tidak biasanya. Mencoba mengabaikan situasi, wanita cantik itu melangkah menuju teras demi memasuki hunian mewahnya. Ketika ia membuka pintu, suara deru mesin mobil terdengar. Jonathan akhirnya pulang. "Aku pulang." Pria bertubuh jangkung itu berucap seraya menutup pintu mobilnya, kemudian berjalan menuju ke arah Diandra. "Selamat datang, Sayang." Diandra menyambutnya, memberikan ciuman singkat di bibir. "Ke mana saja? Kenapa baru pulang?" "Ada sedikit masalah di jalan." Jonathan menjawab sembari melangkah beriringan dengan Sang istri masuk ke dalam rumah mereka. "Masalah di jalan? Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?" sambil berjalan Diandra menatap ke sisi, menatap wajah Sang suami dengan penuh afeksi. "Aku baik-baik saja, hanya sedikit berkelahi dengan beberapa pemuda yang mencoba melecehkan seorang gadis." "Ya Tuhan! Coba kuperiksa." Setelah sejenak menutup mulutnya dengan telapak tangan, Diandra segera meneliti wajah tampan Sang suami. Tangan-tangannya menyentuh kedua sisi wajah prianya, dengan kedua mata menjelajah. Melihat apa yang Diandra lakukan padanya, pria itu hanya tertawa. "Aku benar-benar tidak terluka, Diandra." "Jika kau sampai terluka, aku akan benar-benar marah padamu!" setelah wanita itu memberikan ultimatum, barulah ia menurunkan kedua tangannya dari wajah Sang suami. "Lalu, bagaimana keadaan gadis itu?" "Dia baik-baik saja. Hanya sedikit merasa syok kurasa." Jonathan menjatuhkan diri pada sofa terdekat, duduk sejenak demi melepaskan penat. "Bagaimana pekerjaanmu?" tanyanya kemudian. "Cukup melelahkan." Diandra menghela napas sembari melepas mantel bulunya, mengempaskan kain yang menutupi gaun seksinya pada sandaran sofa. Selanjutnya ia bergabung duduk di sisi suaminya, memeluk tubuh besar itu seraya menutup mata. "Sepertinya aku harus segera tidur, besok pagi-pagi sekali aku memiliki jadwal pemotretan sebuah brand perhiasan." Hanya satu arah. Tidak ada pertanyaan 'pekerjaanmu sendiri bagaimana?' yang keluar dari mulut Diandra. Tapi, itu tidak menjadi masalah bagi Jonathan. Ia paham, ia mengerti bahwa istrinya sedang lelah. "Baiklah. Sebaiknya kau segera membersihkan diri dan segera beristirahat." Diandra sejenak membuka mata dan mendongak ke atas demi menemukan wajah tampan prianya, namun tanpa melepas pelukan. "Kau sudah makan malam?" "Belum." Jonathan menjawab ringan. Dan nyatanya jawaban singkat darinya itu sukses membuat wanita dalam dekapannya tersentak. Bagaimana mungkin Jonathan belum makan malam, sedangkan waktu sudah menunjukkan tengah malam? "Astaga! Mau kumasakkan mie instan?" Diandra segera melepaskan diri dari rengkuhan Sang suami dengan gerakan tiba-tiba, kembali menatap wajahnya. "Ah, atau memesan makanan secara online?" "Mie saja. Sesekali tidak masalah, asalkan ditambah dengan sayur dan protein." Anggukan kepala Diandra berikan setelahnya. "Baiklah. Kalau begitu, kau duluan yang mandi. Aku akan memasak mie sebentar." "Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu." Sebagai tanda terima kasih, Jonathan memberikan ciuman dalam di bibir Diandra. Tubuh istrinya nyaris terbaring di sofa saat ia semakin merapatkan diri. "I love you too." Diandra membalas kata cinta, pun ciuman yang selalu dirinya suka. Namun, detik berikutnya ia mendorong tubuh besar yang seakan menghimpit tubuhnya. "Sudah! Segeralah pergi ke kamar mandi dan bersihkan dirimu. Aku akan menunggumu di meja makan, aku akan menemanimu." "Baiklah. Aku akan menjadi suami penurut untukmu." Jonathan tertawa ringan. Ia memilih menurut tanpa banyak berkomentar. Ia bangkit dari tubuh Sang istri kemudian berdiri. Langkahnya pelan menaiki anak tangga menuju lantai dua seraya menarik resleting jaketnya ke bawah. Tidak ada dalaman, sebab kemeja yang sebelumnya ia kenakan masih membalut tubuh perempuan lain di luar sana. Lily, gadis muda nan cantik yang sudah ia tolong tadi. Gadis yang hanya terlihat sebagai anak kecil di matanya. Siapa yang menduga bahwa kelak gadis itu akan menyusup masuk ke dalam masalah rumah tangganya dengan Diandra? *** Tbc...[Terima kasih atas bekalnya, Lily. Saya sangat menyukainya. Masakanmu enak.] Senyuman itu tersungging begitu cerah ketika membaca pesan, bahkan nyaris diiringi pekikan kecil. Jantungnya copot. Akhirnya hal yang ia tunggu-tunggu ia terima. Balasan. Dari Jonathan. "Ya Tuhan ... dia menghubungiku!" Lily berseru lirih di balik meja kasir, berusaha agar rekannya yang sedang mengatur barang di luar sana tidak mendengar. Tangannya sampai gemetar. Ponselnya ia genggam erat, seolah kalau dilepas pesan itu akan hilang. Sungguh, ia merasa sangat senang. Rasanya seperti menang undian. Nyatanya, usahanya tidak berakhir sia-sia. Dua hari begadang masak, bangun jam empat, semuanya terbayar lunas. Apalagi ketika masakannya dipuji enak oleh orang yang ia cinta, ia benar-benar merasa tak lagi menapaki bumi. Melayang. Ia semakin semangat untuk meluluhkan hati Si pria, tentu dengan masakannya. Kalau lewat perut belum bisa, lewat apa lagi coba? Lily buru-buru mengetikkan balasan, dengan senyuman ya
Pukul delapan kurang lima menit, tepat ketika Jonathan selesai memarkirkan mobilnya dengan rapi pada parkiran khusus dokter di sisi kanan gedung rumah sakit besar tempat dirinya mengabdikan diri. Langkahnya terayun cukup ringan ketika menjejak pelataran menuju pintu masuk. Udara pagi masih sejuk. Dan di sanalah ia berpapasan dengan Marcell Hashmi. Temannya yang berprofesi sebagai dokter spesialis penyakit dalam itu tampak tersenyum cerah, secerah cuaca pagi ini ketika mata mereka bertemu. "Wah, dokter yang biasanya rajin tumben datang jam segini?" secara spontan langkah Marcell terhenti, sekedar untuk bertegur sapa. Tentu saja Jonathan turut menghentikan langkah kakinya. Salah satu tangannya yang membawa kunci kendaraan ia masukkan ke dalam saku celana, lalu membalas senyuman. "Aku memang bangun agak kesiangan. Ada beberapa masalah di klinik yang harus kuselesaikan, dan berakhir pulang hampir tengah malam." Secara otomatis Marcell menatap wajah tampan Jonathan, meneliti. Kantung
"Sialan!" decakan terlontar diiringi umpatan. Melihat perubahan raut wajah Lily membuat Dimas sadar bahwa dirinya sama sekali tidak diharapkan. "Toko sedang sepi, dan aku hanya ingin menikmati udara luar. Memangnya tidak boleh, hah? Ini kursi umum, bukan?" ujarnya kemudian, memberi alasan selogis mungkin. Tapi, Dimas berbohong. Ia memang sengaja menemani gadis itu untuk menjaganya. Ia peduli, apalagi ketika mengingat bahwa Lily hidup sebatang kara. Dan perasaannya tulus, tanpa mengharapkan balasan. "Yah, jujur saja. Aku merasa tidak nyaman diperhatikan ketika sedang makan." Hela napas terembus, Lily mengakui alasan yang sebenarnya. Biar bagaimanapun menyebalkan, ia tahu bahwa Dimas sebenarnya adalah teman yang baik. "Kau hanya perlu diam dan melanjutkan menikmati bekalmu, anggap saja aku tidak ada di hadapanmu. Aku hanya akan duduk sambil bermain ponsel." Selanjutnya Dimas memajukan wajah, berbisik lirih di hadapan Lily seraya memberikan lirikan ke arah kanan. "Pria di seberang jal
Suasana masih cukup tenang, waktu pun masih menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Namun, pria berjas putih itu sudah duduk manis di balik meja konsultasi. Ia sudah begitu siap mengerahkan segenap tenaga, pengetahuan serta keterampilannya untuk membantu pasien kembali mendapatkan kesehatan. Sejujurnya ia memang datang terlalu pagi. Setelah Sang istri berangkat bekerja dengan dijemput Si asisten pribadi, Jonathan memang turut serta angkat kaki. Toh, di rumah tidak ada siapa-siapa. Rumah besar itu akan kembali sepi dan dingin. Baginya, rumah tak ubahnya seperti tempat persinggahan, tak lebih dari tempat untuk menumpang tidur saja. Ia dan istrinya jarang sekali bercengkerama dalam waktu lama, karena sama-sama sibuk dengan kariernya masing-masing. Akhir pekan pun tak ada bedanya dengan hari-hari biasa. Jadwal Diandra padat, jadwalnya juga padat. Ketika ia hendak menyalakan komputer di hadapannya, suara ketukan di pintu menginterupsi. Jonathan sejenak melirik pada jam di dinding. Jam
Langit di luar sana belum sepenuhnya terang. Jam baru menunjukkan pukul lima pagi. Warna biru keabu-abuan masih menggantung di jendela, tapi Lily sudah sibuk di dapur kecil di rumahnya. Dapurnya sempit. Kompornya cuma satu tungku. Meja kayunya sudah agak lapuk di pojok. Tapi hangat. Hangat karena di sanalah ia menghabiskan sebagian besar waktunya sejak nenek meninggal. Tumis sayuran yang ia masak sudah matang. Aroma gurih bawang putih yang ditumis bersama saus tiram menguar dari wajan, bercampur dengan wangi ikan goreng. Aroma itu membuatnya tersenyum senang. Senyum yang tulus, bukan senyum saat bekerja di kafe. "Sebaiknya kukoreksi dulu rasanya!" Tangan kanannya meraih sendok, kemudian mengambil sedikit hasil masakannya untuk ia cicipi. Panas. Lidahnya sampai sedikit kelu. Dan ketika ia merasa bahwa rasanya telah sesuai, kepala dengan rambut panjang itu terangguk puas. Ia mengikat rambutnya tinggi-tinggi agar tidak terkena minyak. Beberapa helai jatuh ke pipi, tapi ia biarkan.
Jonathan baru saja selesai mandi ketika Diandra memasuki kamar mereka dengan secangkir kopi di tangan kanan. Rambut wanita itu masih tampak lembab, sebab ia memang belum sempat mengeringkannya. Namun, gaun panjang tanpa lengan berwarna marun sudah terpasang rapi membalut tubuhnya yang ramping. Meski tanpa riasan, Diandra masih tetap terlihat cantik menawan. Ini akhir pekan, namun istrinya tetap berangkat bekerja. Sangat berbeda dengan Jonathan, biasanya ketika libur bekerja ia memilih menghabiskan waktunya dengan membakar kalori di salah satu gedung pusat kebugaran terdekat. Tetap memiliki tubuh atletis di usianya yang menginjak kepala empat tentu bukanlah hasil yang instan, bukan? Pria itu gemar berolahraga bukan hanya untuk menjaga bentuk tubuhnya, namun untuk menjaga stamina dan kesehatannya juga. Apalagi profesinya sebagai dokter menuntut tenaga ekstra. Tapi, hari ini ia harus berangkat bekerja, sebab ia mendapatkan shift darurat di rumah sakit. Ada pasien kecelakaan berunt







