แชร์

5. Pulang tengah malam

ผู้เขียน: Riri riyanti
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-24 03:27:10

Mobil berjenis Hatchback warna putih berhenti tepat di depan gerbang sebuah rumah besar berhalaman luas. Ketika pintu penumpang bagian depan terbuka, salah satu kaki berhak tinggi dengan paha mulus itu perlahan mejejak paving, disusul munculnya seorang wanita cantik dari dalam kabin mobil.

Diandra Maharani adalah namanya, seorang model papan atas yang kariernya selalu terang benderang, profesi yang ia geluti semenjak masih berusia belia. Bukan hanya cantik, bahkan visualnya nyaris sempurna. Tinggi badannya semampai, ditunjang dengan kulit putih bersih yang terawat. Tentu dirinya memiliki wajah yang menjual; begitu rupawan dilengkapi sepasang mata hazel menawan, bertulang hidung tinggi, bibir tipis pink alami, serta setitik tahi lalat di bawah mata kiri.

Wanita itu baru saja sampai di rumahnya ketika waktu hampir menunjukkan pukul tengah malam setelah menyelesaikan sebuah sesi pemotretan. Meski penat, Wanita cantik itu tampak memberikan senyuman pada pria yang masih duduk di balik kemudi. Dialah Javier Sutanto, pria berambut hitam dengan sepasang mata sipit itu adalah asisten pribadinya.

"Terima kasih sudah mengantarku," ujar Diandra.

Pria itu balas tersenyum. "Masuklah ke dalam, Nae Sarang."

"Sampai bertemu besok." Tepat setelah berucap, Diandra menutup pintu mobil yang tadi ia naiki. Setelah satu lambaian tangan, alat transportasi beroda empat itu berlalu dari hadapannya.

Diandra memutar tubuh lalu melangkah memasuki pintu gerbang yang telah dibukakan oleh seorang satpam penjaga rumah tempat dirinya dan Sang suami tinggal. Kernyit halus tercipta di dahi. Ia merasa heran, sebab mobil suaminya tak terlihat di carport, yang artinya Sang suami masih belum pulang juga. Tidak biasanya.

Mencoba mengabaikan situasi, wanita cantik itu melangkah menuju teras demi memasuki hunian mewahnya. Ketika ia membuka pintu, suara deru mesin mobil terdengar. Jonathan akhirnya pulang.

"Aku pulang." Pria bertubuh jangkung itu berucap seraya menutup pintu mobilnya, kemudian berjalan menuju ke arah Diandra.

"Selamat datang, Sayang." Diandra menyambutnya, memberikan ciuman singkat di bibir. "Ke mana saja? Kenapa baru pulang?"

"Ada sedikit masalah di jalan." Jonathan menjawab sembari melangkah beriringan dengan Sang istri masuk ke dalam rumah mereka.

"Masalah di jalan? Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?" sambil berjalan Diandra menatap ke sisi, menatap wajah Sang suami dengan penuh afeksi.

"Aku baik-baik saja, hanya sedikit berkelahi dengan beberapa pemuda yang mencoba melecehkan seorang gadis."

"Ya Tuhan! Coba kuperiksa." Setelah sejenak menutup mulutnya dengan telapak tangan, Diandra segera meneliti wajah tampan Sang suami. Tangan-tangannya menyentuh kedua sisi wajah prianya, dengan kedua mata menjelajah.

Melihat apa yang Diandra lakukan padanya, pria itu hanya tertawa. "Aku benar-benar tidak terluka, Diandra."

"Jika kau sampai terluka, aku akan benar-benar marah padamu!" setelah wanita itu memberikan ultimatum, barulah ia menurunkan kedua tangannya dari wajah Sang suami. "Lalu, bagaimana keadaan gadis itu?"

"Dia baik-baik saja. Hanya sedikit merasa syok kurasa." Jonathan menjatuhkan diri pada sofa terdekat, duduk sejenak demi melepaskan penat. "Bagaimana pekerjaanmu?" tanyanya kemudian.

"Cukup melelahkan." Diandra menghela napas sembari melepas mantel bulunya, mengempaskan kain yang menutupi gaun seksinya pada sandaran sofa. Selanjutnya ia bergabung duduk di sisi suaminya, memeluk tubuh besar itu seraya menutup mata. "Sepertinya aku harus segera tidur, besok pagi-pagi sekali aku memiliki jadwal pemotretan sebuah brand perhiasan."

Hanya satu arah. Tidak ada pertanyaan 'pekerjaanmu sendiri bagaimana?' yang keluar dari mulut Diandra. Tapi, itu tidak menjadi masalah bagi Jonathan. Ia paham, ia mengerti bahwa istrinya sedang lelah.

"Baiklah. Sebaiknya kau segera membersihkan diri dan segera beristirahat."

Diandra sejenak membuka mata dan mendongak ke atas demi menemukan wajah tampan prianya, namun tanpa melepas pelukan. "Kau sudah makan malam?"

"Belum." Jonathan menjawab ringan.

Dan nyatanya jawaban singkat darinya itu sukses membuat wanita dalam dekapannya tersentak. Bagaimana mungkin Jonathan belum makan malam, sedangkan waktu sudah menunjukkan tengah malam?

"Astaga! Mau kumasakkan mie instan?" Diandra segera melepaskan diri dari rengkuhan Sang suami dengan gerakan tiba-tiba, kembali menatap wajahnya. "Ah, atau memesan makanan secara online?"

"Mie saja. Sesekali tidak masalah, asalkan ditambah dengan sayur dan protein."

Anggukan kepala Diandra berikan setelahnya. "Baiklah. Kalau begitu, kau duluan yang mandi. Aku akan memasak mie sebentar."

"Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu." Sebagai tanda terima kasih, Jonathan memberikan ciuman dalam di bibir Diandra. Tubuh istrinya nyaris terbaring di sofa saat ia semakin merapatkan diri.

"I love you too." Diandra membalas kata cinta, pun ciuman yang selalu dirinya suka. Namun, detik berikutnya ia mendorong tubuh besar yang seakan menghimpit tubuhnya. "Sudah! Segeralah pergi ke kamar mandi dan bersihkan dirimu. Aku akan menunggumu di meja makan, aku akan menemanimu."

"Baiklah. Aku akan menjadi suami penurut untukmu." Jonathan tertawa ringan. Ia memilih menurut tanpa banyak berkomentar. Ia bangkit dari tubuh Sang istri kemudian berdiri.

Langkahnya pelan menaiki anak tangga menuju lantai dua seraya menarik resleting jaketnya ke bawah. Tidak ada dalaman, sebab kemeja yang sebelumnya ia kenakan masih membalut tubuh perempuan lain di luar sana.

Lily, gadis muda nan cantik yang sudah ia tolong tadi. Gadis yang hanya terlihat sebagai anak kecil di matanya. Siapa yang menduga bahwa kelak gadis itu akan menyusup masuk ke dalam masalah rumah tangganya dengan Diandra?

***

Tbc...

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   94. Mata-mata di Restoran

    Lampu gantung rotan di atas meja mereka bergoyang pelan tiap kali angin laut memasuki ruangan restoran. Di luar, ombak menghantam batu karang. Konstan. Seperti suara detak jantung yang tenang. "Di sini cukup sepi, ya?" Lily berucap setelah duduk di kursi kayu, menghadap sebuah meja bundar. Mata indahnya telah selesai menatap sekeliling. Hanya ada beberapa meja yang terisi, berpasang-pasangan. "Itu salah satu alasanku memilih tempat ini. Di sini cukup privat, tidak akan ada yang mengenali kita." Jonathan menjawab, pria itu duduk tepat di depannya, hanya bersekat meja dengan vas berisi bunga mawar merah di atasnya. Aneka makanan laut sudah tersaji. Masih hangat, mengepulkan asap tipis. Aromanya menggugah selera. "Oh, pantas saja." Kepala Lily mengangguk beberapa kali tanda paham. Hubungan mereka memang selalu dirahasiakan, bahkan sebuah keharusan. Ada saat di mana Lily sangat ingin diakui. Ia ingin dunia tahu bahwa Jonathan adalah miliknya. Bukankah itu hal yang wajar? Seorang yang

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   93. Angin Bali yang tidak bohong

    Angin Bali sore itu tidak bohong. Tidak seperti di Bandung yang berisik, bau asap, pula lampu neon yang tidak pernah mati. Di sini ... sepi. Pasir Pantai Nusa Dua begitu putih. Putih bersih, lembut setiap kali terinjak. Lautnya biru. Bukan biru biasa, tapi biru kaca. Jernih sampai batu karang di dasarnya terlihat jelas, bergoyang pelan ketika terkena arus. Anginnya terasa hangat. Membawa bau garam dan bunga kamboja yang sedang mekar di pinggir jalan, serta bau sate ikan yang dibakar dari warung nelayan di ujung pantai. Sesekali ada burung camar lewat, berteriak, lalu melayang jauh. Di sini hanya ada suara ombak. Bergulung-gulung naik, pecah di bibir pantai, kemudian mundur lagi. Seperti napas. Panjang, tenang, teratur. Tidak ada suara klakson. Tidak ada suara notifikasi ponsel. Berbicara tentang ponsel, bahkan sampai saat ini Jonathan belum mengganti mode pesawat di ponselnya. Alat komunikasi canggih miliknya itu ia tinggal di kamar resort. Masih tergeletak di atas nakas. "Langi

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   92. Merah yang datang tidak tepat waktu

    Jonathan duduk di tepi ranjang, menatap hamparan lautan yang tampak jelas melalui jendela kaca besar kamar resort yang ia sewa bersama Lily. Mata birunya melirik pada ponsel di atas nakas, ponsel yang masih dalam mode pesawat, mode yang ia pasang ketika masih terbang di atas ketinggian. Dan ia ada di sini, kurang lebih sudah dua puluh lima menit yang lalu, di Bali dan bukan Bandung. Ia telah sukses membohongi istrinya. Rasa bersalah itu sejenak hinggap, namun ia tepis dengan gelengan kepala. Tangannya yang bertaut di atas lutut mengepal kuat dengan jari menyentuh permukaan cincin pernikahannya dengan Diandra. Detik berikutnya ia memejamkan erat kedua mata ketika hatinya bergejolak gusar. Tidak! Ini sudah menjadi keputusannya, dan tidak boleh ada penyesalan. Jika Diandra bisa bepergian dengan leluasa bersama Javier, maka ia pun berhak pergi bersama Lily dengan hati tenang, bukan? Itulah yang dinamakan impas. Ia pergi dengan Lily karena Diandra sering bepergian dengan Javier. M

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   91. Pesan centang satu

    Mentari belum terlalu tinggi saat mobil Hatchback itu berhenti di halaman luas rumah Diandra dan Jonathan. Wanita cantik dengan riasan yang hampir setiap saat terpoles sempurna itu membuka pintu rumahnya, langkah anggun itu menjejak turun dari undakan, perlahan, menuju mobil yang sudah menunggunya. "Langsung ke lokasi saja, Javier." Itu adalah ucapan pertama Diandra ketika baru saja duduk di kursi penumpang depan sebelum menutup pintu mobil di sisinya. Tak ada yang berubah, wanita itu tetaplah cantik memesona kendati hatinya sedang tidak baik-baik saja. "Baiklah. Pakai sabuk pengamanmu kalau begitu." Javier memerintah dengan lembut, kembali menginjak pedal gas dengan pelan. Sedangkan Diandra menurut tanpa kata. Setelah sabuk pengaman berhasil ia pasang, ia kembali fokus pada ponsel yang semula tergenggam. Lalu, embus napas berat terlepas. [Sayang, sudah sampai di Bandung?] Pesan itu telah ia kirim lebih dari tiga jam yang lalu, ketika suaminya telah dua puluh menit meninggalkan

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   90. Liburan yang salah alamat

    Jam kerja selesai, itu tandanya Jonathan harus pulang. Bukan ke rumahnya, melainkan rumah Lily. Rumah kedua yang selalu mampu membuatnya merasa nyaman. Meskipun itu bukan rumahnya sendiri. Jam di dashboard menunjukkan pukul setengah enam sore, di mana mentari sudah mulai terbenam. Jingga itu masih tersisa sedikit sebelum kegelapan menyelimuti langit di atas sana. Jonathan baru saja memarkirkan mobilnya di halaman rumah Lily. Ia menjejak turun pada paving, memasukkan kunci mobilnya ke dalam saku celana kemudian berjalan dengan sedikit bersiul menuju teras. Belum apa-apa, aroma gurih masakan rumahan sudah mulai tercium ketika tangannya memutar gagang pintu. Senyumnya mengembang tanpa sadar. "Aku pulang." Lily yang sedang menata makan malam di meja segera menoleh ke arah pintu. Senyuman terukir lebar saat menangkap sosok jangkung yang sudah ia tunggu kedatangannya. Ia mengusap tangannya pada celemek sebelum akhirnya berjalan pelan menuju posisi pria itu. Rambut panjangnya yang

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   89. Kebohongan sarapan pagi

    Wajah pedih serta mata sembab Diandra terus saja terbayang ketika Jonathan melangkah menuruni anak tangga dari lantai dua. Semalam saat dirinya pulang, istrinya itu telah tertidur nyenyak dengan jejak air mata yang mengering di pipi. Jujur ia khawatir, ia hanya takut terjadi hal yang buruk pada wanita yang telah ia persunting lebih dari sepuluh tahun lamanya itu. Apalagi hari masih begitu pagi, bahkan mentari belum menampakkan diri. Tetapi, wanita itu telah menghilang dari sisinya. Apalagi dengan keadaan yang sangat ia yakini sedang tidak baik-baik saja. Ini kali kedua ia mendapati Diandra menangis ketika hendak terlelap di malam hari. Dan tebakannya tak mungkin salah; lagi-lagi istrinya itu menangis jelas karena dirinya. Kali ini karena ia yang telah menggagalkan rencana bulan madu kedua mereka. Langkah panjangnya mengantarkan pria itu pada ambang pintu dapur. Hela napas lega terembus spontan ketika sepasang mata birunya menangkap presensi seseorang yang ia cari. Ya, ternyata

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status