Share

Tak merasa lapar

Author: Emmy Liana
last update Last Updated: 2023-01-05 14:08:15

"Alden?"

"Apa ada yang bisa aku bantu?"

Alden mendekati kamar itu dan melihat ke dalam.

Entah kenapa Alden sangat tertarik terus memperhatikan kamar itu. Seperti daya tarik seseorang yang tanpa sengaja dilihatnya saat itu sangat mengganggu pikirannya.

"Apa ada orang yang menempati kamar ini?"

Alden menyusuri semua sudut di ruangan kamar ini. Tak ada apa-apa, apa yang dia inginkan dari kamar ini, dia juga tak mengerti.

"Ayo kita makan, perutku sudah sangat lapar," ajak Edric mengalihkan pembicaraan agar Alden tak berusaha masuk ke dalam kamar itu.

Di dalam hati Edric merasa ingin sekali melindungi wanita di dalam kamar itu dari orang luar. Mengingat dia mulai trauma dengan keberadaan pria di hadapannya.

"Tidak Edric, aku hanya ingin mengatakan padamu, jadwal penerbangan sudah disiapkan oleh Robert untukku, satu jam lagi aku akan kembali pulang."

Edric mengernyitkan dahinya.

"Secepat ini, apa kau sadar kita belum menyelesaikan urusan bisnis kita."

"Aku memiliki urusan lain saat ini Ed
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rantai Cinta sang Taipan Arogan   Tolong lupakan

    Lampu kota yang berkelap-kelip di balik jendela kaca mobil tidak mampu mendinginkan kepala Alden. Sepanjang perjalanan meninggalkan kediaman Dixton, cengkeramannya pada kemudi begitu kuat hingga buku-bukunya memutih. Amarah, kerinduan, dan rasa dikhianati bercampur menjadi satu, menciptakan badai yang siap meledak kapan saja.​Begitu mobilnya berhenti di lobi hotel VVIP miliknya, Alden keluar tanpa menyerahkan kunci pada petugas valet. Ia melangkah lebar, mengabaikan sapaan hormat dari para staf hotel yang membungkuk dalam saat ia lewat. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: wajah Zaneta yang pucat dan tatapan melindungi dari Edric.​BRAKK!​Pintu penthouse mewah itu didorong kasar hingga menghantam dinding. Alden melangkah masuk dengan napas memburu. Keheningan kamar yang elegan itu justru terasa seperti ejekan baginya.​"ARGHHHH!"​Suara teriakan Alden menggema, memecah kesunyian malam. Ia menyambar vas bunga porselen di atas meja konsol dan menghantamkannya ke lantai hingga hancu

  • Rantai Cinta sang Taipan Arogan   Serangan panik

    Langkah kaki terburu-buru bergema di lorong paviliun yang sunyi. Pintu terbuka perlahan, menampakkan sosok pria paruh baya dengan tas medis di tangannya. Uncle Billy, dokter kepercayaan keluarga Dixton, masuk dengan raut wajah serius namun tenang.Nyonyq ​Gracia segera menghampirinya. Matanya yang berkaca-kaca memancarkan kecemasan yang mendalam. Ia mencengkeram lengan Billy dengan tangan yang gemetar. "Billy, syukurlah kau sudah sampai. Kumohon, lakukan yang terbaik untuknya. Dia sangat ketakutan... persis seperti pertama kali dia tiba di sini beberapa tahun lalu," bisiknya dengan suara serak menahan tangis.​Billy menepuk tangan Gracia lembut, mencoba memberikan ketenangan profesional. "Tenanglah, Gracia. Aku akan memeriksanya sekarang."​Billy melangkah mendekati tempat tidur tempat Zaneta terbaring pucat. Edric memberikan ruang bagi pamannya itu, namun tetap berdiri cukup dekat untuk memastikan ia bisa melihat setiap helai napas Zaneta yang masih tersengal. Dengan telaten, Billy m

  • Rantai Cinta sang Taipan Arogan   Janji Edric

    Suara deru mesin mobil Alden perlahan menjauh, meninggalkan keheningan yang mencekam di kediaman keluarga Dixton. Begitu lampu belakang mobil itu menghilang sepenuhnya di balik gerbang besi, topeng ketenangan Edric runtuh seketika. Ia tidak lagi peduli pada sisa jamuan makan malam yang dingin atau harga dirinya sebagai tuan rumah.​Edric bangkit dari kursi dengan terburu-buru hingga kursinya terseret kasar ke belakang. "Mom, pastikan semua pelayan tutup mulut dan perketat penjagaan di depan!" serunya pada Gracia tanpa menoleh lagi.​Ia berlari melewati ruang tengah, menembus rimbunnya tanaman hias di lorong rahasia yang menghubungkan bangunan utama dengan paviliun belakang. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena lelah berlari, melainkan karena rasa cemas yang menghimpit dada. Ia tahu betapa rapuhnya Zaneta saat ini.​Begitu pintu paviliun dibuka, Edric menemukan pemandangan yang menyayat hati. Di pojok ruangan yang minim cahaya, Zaneta sedang memeluk lututnya di samping tempat tidu

  • Rantai Cinta sang Taipan Arogan   Zaneta namanya

    Langkah kaki Alden yang mantap di atas lantai marmer vila keluarga Dixton menciptakan gema yang terasa menekan. Tanpa menunggu undangan resmi, ia melangkah masuk dengan aura dominasi yang tak tertandingi. Baginya, sopan santun adalah hal sekunder jika dibandingkan dengan "harta" yang hampir ia gapai. "Selamat malam, Nyonya Dixton," sapa Alden dengan nada suara yang halus namun sarat akan otoritas saat melihat Gracia turun dari lantai dua. Gracia berusaha menjaga ketenangannya, meski tangannya masih sedikit gemetar setelah meninggalkan Zaneta. "Alden. Kedatanganmu cukup mengejutkan. Edric tidak memberi tahu bahwa kau akan mampir malam ini." "Aku hanya ingin memastikan kerja sama kita berjalan lancar, dan mungkin... mencari sesuatu yang sempat tertinggal di bengkel tadi," jawab Alden sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling aula besar itu. Matanya menyisir setiap sudut, mencari keberadaan sosok yang baru saja membuatnya kehilangan akal sehat. Di lantai atas, Zaneta masih meringkuk

  • Rantai Cinta sang Taipan Arogan   Tenanglah

    Alden masih berdiri mematung, pandangannya terkunci pada pintu besi yang baru saja tertutup rapat. Seringai tipis di wajahnya tidak bisa menyembunyikan kilat obsesi yang berkobar di matanya. Setelah bertahun-tahun mengerahkan seluruh informan dan kekuasaannya tanpa hasil, takdir justru mengantarkannya ke tempat ini.​"Alden? Kau mendengarku?" Edric mengibaskan tangan di depan wajah sahabatnya, merasa ada yang tidak beres. "Kenapa reaksimu seperti itu? Dan Zayn... dia tidak pernah bersikap seperti itu sebelumnya. Dia profesional."​"Jangan panggil dia Zayn," potong Alden dengan nada rendah yang mengintimidasi. "Namanya adalah Zaneta. Dan mulai detik ini, Edric, urusan bisnis kita bisa menunggu. Tapi urusanku dengannya? Itu sudah tertunda terlalu lama."​Tanpa penjelasan lebih lanjut, Alden berbalik dan melangkah lebar meninggalkan bengkel, mengabaikan kerutan di dahi Edric. Di dalam kepalanya, Alden sudah menyusun ribuan skenario. Dia tidak akan membiarkan Zaneta menghilang lagi. Tidak

  • Rantai Cinta sang Taipan Arogan   Akhirnya

    Robert segera bergerak cepat. Sebagai tangan kanan Alden, dia tahu betul bahwa tuannya tidak pernah bermain-main jika sudah menyangkut angka dan inovasi. Desain mobil yang baru saja dipublikasikan oleh perusahaan Edric bukan sekadar kendaraan; itu adalah sebuah mahakarya teknis yang menggabungkan keamanan tingkat tinggi dengan estetika yang sangat personal. ​"Tuan, saya sudah menghubungi pihak Edric Dixton," lapor Robert beberapa jam kemudian. "Mereka menyambut baik ketertarikan kita. Edric sendiri yang mengangkat telepon dan dia tampak sangat bersemangat saat mendengar nama Anda." ​Alden menyandarkan punggungnya di kursi kulit ruang kerjanya yang mewah. Matanya masih tertuju pada sketsa mesin dan detail interior mobil tersebut di layar monitor. Sungguh menakjubkan, karya ini benar benar sebuah ide briliant. "Atur pertemuan secepatnya, Robert. Aku ingin melihat unit prototipenya secara langsung. Jika performanya sesuai dengan tampilannya, aku akan menanamkan modal besar di sana."

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status