Saat Istri Bodoh Itu Pergi

Saat Istri Bodoh Itu Pergi

last updateLast Updated : 2026-01-19
By:  YogaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
28Chapters
10views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Semua orang menyebut Nara bodoh karena bertahan dalam pernikahan tanpa cinta. Menikah dengan seorang pria dingin yang hanya menganggapnya sebagai kewajiban, Nara hidup dalam hinaan, pengabaian, dan luka yang tak pernah terlihat. Ia berusaha menjadi istri yang baik, berharap suatu hari cinta akan tumbuh. Namun yang ia dapatkan justru pengkhianatan dan kata-kata kejam. Hingga suatu hari, Nara memilih pergi tanpa membawa apa pun selain harga diri yang tersisa. Saat pria yang selalu meremehkannya sadar bahwa hidupnya hancur tanpa wanita yang ia sebut “istri bodoh”… Penyesalan itu datang terlambat.

View More

Chapter 1

Bab 1 – Istri yang Tak Pernah Dipilih

“Aku hanya menikahimu karena nenek.”

Kalimat itu terucap dingin, tanpa sedikit pun rasa bersalah, tepat setelah akad nikah kami selesai. Tidak ada senyum, tidak ada kebahagiaan di wajah pria yang kini resmi menjadi suamiku.

Aku menunduk, menatap cincin di jariku. Cincin emas sederhana itu terasa lebih berat daripada seluruh beban hidupku selama ini.

“Aku tahu,” jawabku pelan.

Sejak awal aku memang sudah tahu. Pernikahan ini bukan tentang cinta, bukan tentang kebahagiaan, apalagi tentang masa depan bersama. Ini hanya kesepakatan yang disamarkan sebagai ikatan suci.

Aku, Nara, menikah demi menyelamatkan keluargaku dari kehancuran.

Dan dia—pria itu—menikah karena tekanan dari seorang nenek yang sangat ia hormati.

Di hadapan tamu, kami tampak seperti pasangan sempurna. Pria itu tampan, berwibawa, dan dikenal sebagai seorang CEO muda yang dingin dan sulit didekati. Sementara aku berdiri di sisinya dengan gaun pengantin putih, tersenyum palsu, menyembunyikan gemetar di dalam dada.

Begitu pintu kamar pengantin tertutup, senyum itu lenyap.

Ia berdiri beberapa langkah dariku, melepaskan jasnya dengan gerakan kaku. Tatapannya kosong, seolah aku hanyalah perabot yang terpaksa ada di ruangan itu.

“Jangan salah paham,” katanya lagi. “Posisimu hanya istri di atas kertas. Jangan berharap apa pun dariku.”

Aku mengangguk. Lagi-lagi hanya mengangguk.

Malam itu berlalu tanpa sentuhan. Aku tidur di sisi ranjang dengan tubuh kaku, sementara ia membelakangiku, menjaga jarak seolah aku adalah sesuatu yang harus dihindari.

Tangisku tertahan di balik bantal.

Aku bertanya-tanya, apakah semua pernikahan terasa sesakit ini di malam pertamanya.

Hari-hari setelah itu berjalan seperti rutinitas tanpa makna. Kami tinggal di rumah besar yang megah, tapi rasanya lebih dingin daripada rumah kontrakan kecil tempatku dibesarkan.

Ia berangkat pagi, pulang larut. Jika kami bertemu, itu hanya untuk berbicara seperlunya.

“Jangan menyentuh barang-barangku.”

“Jangan ikut campur urusan kantorku.”

“Jangan berpikir kau punya hak apa pun di rumah ini.”

Setiap kalimatnya seperti pisau kecil yang perlahan mengikis hatiku.

Aku berusaha menjadi istri yang baik. Aku memasak, membersihkan rumah, dan memastikan semuanya rapi. Aku menunggu di meja makan meski sering kali makanan itu dingin tanpa pernah disentuh olehnya.

Kadang aku berharap, mungkin suatu hari ia akan melihatku.

Mungkin suatu hari, sikap dinginnya akan mencair.

Namun kenyataan selalu lebih kejam dari harapan.

Aku sering mendengar bisikan para pelayan.

“Istri muda itu… katanya hanya perempuan yang dikasihani.”

“CEO itu jelas tidak mencintainya.”

“Kasihan, tapi bodoh. Bertahan di pernikahan seperti itu.”

Aku pura-pura tidak mendengar, meski setiap kata menusuk telingaku.

Suatu malam, aku tanpa sengaja mendengar percakapan teleponnya dari balik pintu.

“Tenang saja,” katanya dengan nada datar. “Pernikahan itu hanya formalitas. Tidak ada artinya.”

Hatiku terasa diremas.

Saat itulah aku sadar, aku tidak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Aku hanya solusi sementara dalam hidupnya.

Hari demi hari, aku kehilangan diriku sendiri. Aku mulai bertanya-tanya, sampai kapan aku sanggup bertahan dalam hubungan yang hanya melukaiku.

Namun aku tetap bertahan.

Bukan karena aku bodoh.

Melainkan karena aku berharap.

Sampai suatu hari, harapan itu hancur berkeping-keping.

Saat aku berdiri di depan cermin, menatap wajahku sendiri yang terlihat lelah dan asing, aku akhirnya mengerti satu hal:

Aku tidak bisa terus menunggu seseorang yang tidak pernah memilihku.

Dan sejak hari itu, tanpa ia sadari, aku mulai mempersiapkan diriku untuk pergi.

Pergi tanpa membawa apa pun.

Kecuali harga diri yang hampir hilang.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
28 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status