Share

Kabar Menyebar

Author: Dara Karinda
last update Last Updated: 2026-01-15 14:32:55

“Aaaarrggghhh … baru juga satu hari. Besok-besok bagaimana ya aku harus menghadapi mereka? Ya … bukan hanya mereka bertiga itu, tapi juga orang-orang si kampus lainnya?

Matahari tertelan bumi dan gelap menyiram taman kota ketika Rawi melangkahkan kaki keluar dari tempat itu. Di depan gerbang, dia tersadar tidak ada angkot ke arah tempat tinggalnya lewat selepas pukul enam sore.

Terpaksa dia melangkah perlahan sambil mengkhayalkan kasur empuk di kamarnya dan semangkok mie rebus untuk mengisi perut yang sedari siang belum terisi lagi. Namun, sepertinya dia harus bersabar karena perjalanan pulang masih cukup panjang.

Keesokan paginya, Rawi berangkat ke kampus. Ketika turun dari angkot yang dinaikinya, berpasang-pasang mata melihatnya, tapi mereka diam. Ada juga mencuri pandang ke arahnya. 

Rawi menghela nafas panjang dan berjalan dengan mantap ke arah acara MABA hari kedua akan dilaksanakan. Teman-teman seangkatan segera memberi jalan ketika dia melewati mereka. Mereka merasa lebih baik tidak mencari masalah dengan Rawi.

“Kamu Rawi, kan?” Brama menyapa Rawi dengan ramah.

“Iya, Kak. Bagaimana?”

“Kamu baik-baik saja kan?”

“Aman, Kak!” Rawi tersenyum lebar. Senang sekali rasanya ada yang menyapa di masa-masa di mana semua mata melihatnya curiga dan takut.

“Syukur deh. Nanti kalau ada anak yang mau aneh-aneh sama kamu, langsung bilang ke aku saja ya. Pasti aku bantu, kok. Jadi, peristiwa seperti kemarin tidak perlu terulang lagi.” Brama menepuk pundak Rawi dengan mantap.

“Siap, Kak. Makasih banyak. Semoga hari ini lebih lancar dari kemarin.” Rawi berbesar hati ketika Brama menyampaikan hal itu.

“Bagus. Bagus. Eh … kamu sudah sarapan belum?” tanya Brama tiba-tiba.

“Belum, Kak. Hanya minum segelas air putih tadi.”

“Kalau begitu, ayo ikut ke ruang panitia. Di sana banyak makanan. Lumayan untuk cadangan energi kegiatan hari ini. Hari ini ada agenda latihan fisik, kan. Yuk,” ajak Brama.

“Wahh … takutnya nanti mengganggu panitia, Kak.”

“Kami semua sudah siap, kok. Tidak ada yang rahasia. Ruang panitia terbuka buat semua mahasiswa baru, dan itu termasuk kamu. Ayolah!” Brama sedikit memaksa.

Rawi pun dengan sedikit terpaksa mengikuti Brama. Sesampainya di sana, beberapa panitia masih sibuk menyiapkan alat dan bahan acara MABA. Langkah Rawi terhenti di depan pintu.

“Ayo, masuk.” Brama melambaikan tangannya ke arah Rawi.

Beberapa panitia melihat ke arah Bram dan Rawi. Mereka menganggukkan kepala dengan ramah. 

Rawi mengambil satu roti isi ayam dan satu gelas air mineral. Kemudian berpamitan kepada Brama dan orang-orang yang ada di situ.

Tanpa Rawi sadari, kakak-kakak panitia sudah menandainya untuk selalu diawasi dengan ketat. Tentu saja tanpa sepengetahuannya.  

Rawi melenggang dengan hati riang keluar dari ruang panitia. Dia melihat tempat kosong di bawah pohon dekat dengan lapangan, dan segera dia melangkah ke sana.

Rawi tak tahu kalau Pram dkk melihat dia keluar dari ruang panitia. Pram dkk duduk pas persis di dekat pintu ruang panitia. Mereka tidak tahu kapan Rawi masuk, dan ini membuat mereka curiga.

“Pram, kamu lihat tidak?” Damian bertanya setengah berbisik.

“Lihat apa?” Pram membalas tanpa melepaskan pandangan ke arah mana Rawi melangkah.

“Yang baru saja lewat. Kamu tidak sadar ya siapa dia?” Haris juga berbisik.

“Tahu lah. Anak yang kemarin, kan.”

“Apa yang dia lakukan di ruang panitia? Jangan-jangan dia melaporkan kita masalah kemarin?”

“Wah, pasti sih itu. anak sok jago biasanya suka main lapor juga,” desis Damian.

Halah! Mana mungkin dia punya nyali untuk melaporkan kita?’

“Kamu tidak melihat tingkah lakunya yang sepertinya tidak ada tekanan. Mana mungkin dia merasa begitu kalau tidak lapor ke panitia?“

“Biarkan saja dia. Kita tunggu waktu yang tepat,” sentak Pram dengan suara keras. Suara itu membuat orang-orang yang ada di sekitar mereka sepersekian detik melihat ke arah mereka bertiga.

Seakan tersadar dengan apa yang baru saja dia katakan dia segera mengklarifikasi, ”Aman, teman-teman. Kita tidak akan membuat masalah. Kami akan menjadi panitia yang profesional.”

Klarifikasi dadakan itu disambut tawa dari teman-temannya. Pram pun tersenyum. Dia merasa aman. Mereka bertiga merasa aman.

“Pram, Haris, Damian! Kalian ke kantor sebentar.”

Suara Brama yang khas mengagetkan mereka bertiga. Mereka saling berpandangan dan memberi kode seakan mengatakan apa yang mereka bicarakan ternyata sungguh terjadi.

Sambil berjalan ke arah kantor, Pram melihat Rawi yang sedang menikmati roti isi daging dengan nyaman.

“Rawi, awas kamu!” batin Pram dengan tangan mengepal.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Mak Kerti Kaget

    AAAAAAAAA!Sebuah teriakan dan sebuah suara terjatuh terdengar menggemparkan pagi ini. Tubuh Rawi menegang. Rawi segera bangkit dari duduknya dan melongok dari jendela kamarnya melihat ke sekitar. Rawi takut kalau suara itu membangunkan Bapak dan Ibunya sehingga akan makin banyak muncul pertanyaan. Rawi menghela nafas lega ketika tidak menemukan apapun yang mencurigakan di sekitarnya. Tiba-tiba wajah keriput Mak Kerti muncul kurang lebih 100 meter di depan jendelanya. Dia memegang dadanya yang terbalut kebaya kembang-kembang coklat yang terlihat menambah tua penampilannya. “Heh! Rawi … pagi-pagi begini jangan buat kaget orang tua. Kamu sedang apa tadi?” Mak Kerti membentak Rawi. Memang begitu perangainya. Selalu sinis dan kasar kepada orang lain. Terkadang juga main tuduh. Pokoknya dia selalu menjadi yang paling benar. "Hah!" Rawi terkesiap mendengarnya. Jantungnya terlonjak karena rasa kaget luar biasa. “Eh … Mak Kerti ya. Maaf … maaf ya Mak. Tapi, Mak Kerti juga membuatku kag

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Rawi Berselancar

    Pakkk!Tangan Bapak menepuk pundak Rawi. Rawi terkejut dan segera menyembunyikan gawainya. Dia menoleh ke arah Bapak dan mencoba tersenyum. "Ada apa, Pak?" "Kaget ya? Maaf ya. Bapak lihat dari tadi kamu seperti orang bingung. Ada apa sebenarnya?" Pak Bagaskara mulai bertanya.Rawi sedikit tersentak. Dia tidak menyangka Bapak memperhatikan dirinya. "Kamu tidak ada masalah di kampus, kan?" "Tidak ada, Pak." Rawi menggelengkan kepalanya. Dia berharap dengan begitu Bapak tidak ragu akan jawabannya. "Itu tadi ... sibuk apa?" "Ohh ... tadi mencari bahan untuk materi minggu pertama, Pak." "Hmmm ... yakin hanya itu?""Iya, pak. Ini coba Bapak lihat sendiri." Rawi menyodorkan gawainya ke arah bapak. Gawainya sedang terpampang google dan hasil pencariannya. Bapak melihatnya sekilas, dan mengangguk. Bapak terpaksa percaya dengan perkataan Rawi walaupun masih ada sedikit keraguan dalam hatinya. Setelah itu, Bapak meninggalkan Rawi. Sepeninggal bapak, Rawi kembali menatap gawainya dengan

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Rana Kena Getahnya

    “Kakak!!!”Sebuah suara manja memanggilnya ketika dia membuka pagar rumah. Rana namanya. Gadis dengan rambut sedikit berombak sepanjang bahu adalah adik kesayangannya. akhirnya Rawi kembali ke rumah setelah seminggu jauh dari keluarganya. Bapak dan Ibunya mendengar teriakan Rana segera keluar menyambut Rawi. Rawi mencium tangan bapak, kemudian ibu, tak lupa mengacak-acak rambut Rana. “Capek, Rawi?” tanya Ibu Rawi mengangguk sambil tersenyum. “Ya, sana. Istirahat dulu saja,” sambut Bapak. “Baik, Pak. Rawi istirahat dulu di kamar,” pamit Rawi. Rawi melangkah menuju kamarnya, mengaitkan tas di balik pintu kamarnya, setelah itu dia melepas jaketnya dan menggantungnya di dekat tas. Setelah itu, dia merebahkan badannya di kasur. Dia menutup mata. Nyaman, dan itu yang dia butuhkan. Perlahan Rawi mendengar langkah kaki ringan. Pasti Rana. “Kak, acara MABA kemarin menyenangkan?” Suara Rana

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Kabar Menyebar

    “Aaaarrggghhh … baru juga satu hari. Besok-besok bagaimana ya aku harus menghadapi mereka? Ya … bukan hanya mereka bertiga itu, tapi juga orang-orang si kampus lainnya?Matahari tertelan bumi dan gelap menyiram taman kota ketika Rawi melangkahkan kaki keluar dari tempat itu. Di depan gerbang, dia tersadar tidak ada angkot ke arah tempat tinggalnya lewat selepas pukul enam sore.Terpaksa dia melangkah perlahan sambil mengkhayalkan kasur empuk di kamarnya dan semangkok mie rebus untuk mengisi perut yang sedari siang belum terisi lagi. Namun, sepertinya dia harus bersabar karena perjalanan pulang masih cukup panjang.Keesokan paginya, Rawi berangkat ke kampus. Ketika turun dari angkot yang dinaikinya, berpasang-pasang mata melihatnya, tapi mereka diam. Ada juga mencuri pandang ke arahnya. Rawi menghela nafas panjang dan berjalan dengan mantap ke arah acara MABA hari kedua akan dilaksanakan. Teman-teman seangkatan segera memberi jalan ketika dia melewati mereka. Mereka merasa lebih baik

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Rawi Bingung

    Sudut mata Rawi merekam gerakan Pram, dan dia tidak habis pikir itu artinya apa. Sekali lagi dia mencoba menepis semua pikiran yang tidak perlu. Dia mencoba kembali fokus pada kegiatan yang tersisa hari ini.“Fiuuhhhh, akhirnya selesai juga hari ini,” bisik Rawi pelan penuh rasa syukur. Rawi memasukkan papan nama yang sedari tadi mengalung di lehernya, dan segera menjejalkan ke dalam tas ransel berwarna hitam yang dibawanya. Sesampai di gerbang, Rawi terdiam. Dia naik angkot yang lewat di depannya tanpa pikir panjang. Setelah beberapa menit berjalan, baru dia tersadar. Dia menoleh ke kanan dan kiri mencoba mencari petunjuk ke arah mana angkot ini membawanya. “Ternyata angkot ini melewati taman kota. Baiklah. Aku akan kesana sebentar. Pusing kepalaku kalau ingat kejadian hari ini,” pikir Rawi. Rawi berjalan menyusuri jalan setapak yang sudah berpaving menuju area taman kota. Dia menganggukkan kepala sebagai permintaan ijin kepada petugas yang ada di pos penjagaan. Masuk ke taman ko

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Salah Paham

    Rawi terkejut. Matanya terbelalak ketika melihat apa yang terjadi. Pram, Haris, dan Damian terlempar di atas paving. Rawi memperhatikan seluruh tubuhnya. Ada asap tipis mengepul muncul di sana. Dia bergidik tak percaya. Segera dia tepuk-tepuk perlahan permukaan kulitnya supaya asap itu segera memudar dan menghilang dari sana. Barisan sudah bubar menyisakan lingkaran besar tempat mereka berempat ada di tengah-tengahnya. Ketiga orang itu bangkit dari jatuhnya. Sambil meringis memegang punggung, mereka kembali mendekati Rawi. Mereka semakin tidak terima. “Heh! Kamu main ilmu hitam ya!” teriak Haris menambah keruh suasana. Rawi menggeleng. “Kalau tidak, kok kami bisa terlempar begitu saja. Hah?” tambah Pram. Tetap saja, Rawi menggeleng. “Jawab! Jangan hanya menggeleng dan mengangguk, kamu bisa omong gak?” Damian tersulut juga amarahnya. Rawi masih terdiam, walaupun juga timbul sedikit ketakutan dan kekhawatiran di dalam dirinya. “Ayo, jawab!” desak Pram. Rawi berdehem p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status