MasukSudut mata Rawi merekam gerakan Pram, dan dia tidak habis pikir itu artinya apa. Sekali lagi dia mencoba menepis semua pikiran yang tidak perlu. Dia mencoba kembali fokus pada kegiatan yang tersisa hari ini.
“Fiuuhhhh, akhirnya selesai juga hari ini,” bisik Rawi pelan penuh rasa syukur. Rawi memasukkan papan nama yang sedari tadi mengalung di lehernya, dan segera menjejalkan ke dalam tas ransel berwarna hitam yang dibawanya.
Sesampai di gerbang, Rawi terdiam. Dia naik angkot yang lewat di depannya tanpa pikir panjang. Setelah beberapa menit berjalan, baru dia tersadar. Dia menoleh ke kanan dan kiri mencoba mencari petunjuk ke arah mana angkot ini membawanya.
“Ternyata angkot ini melewati taman kota. Baiklah. Aku akan kesana sebentar. Pusing kepalaku kalau ingat kejadian hari ini,” pikir Rawi.
Rawi berjalan menyusuri jalan setapak yang sudah berpaving menuju area taman kota. Dia menganggukkan kepala sebagai permintaan ijin kepada petugas yang ada di pos penjagaan. Masuk ke taman kota itu tidak berbayar maka dia suka sekali ke sini.
Rawi meletakkan tubuhnya di sebuah bangku yang tersedia di taman kota. Kepalanya tersandar di bangku taman. Dilihatnya langit luas, walaupun sedikit tertutup daun-daun lebat dari pepohonan di sana tidak menutup keindahan langit siang menjelang sore itu.
“Apa yang terjadi tadi ya?”
“Mengapa mereka tadi tiba-tiba terpental? Bayangkan … dua kali mereka terpental. Aneh sekali! Padahal aku juga tidak melakukan apa-apa. Hanya mengedikkan bahu saja.”
“Apakah memang benar kata mereka? Apakah aku punya ilmu hitam yang terpendam dalam tubuhku ini?”
“Bukannya kalau ilmu hitam itu harus ada sesuatu yang dilakukan terlebih dahulu supaya mendapatkan kekuatan? Sedangkan aku selama ini tidak melakukan apa-apa, hanya melakuakn hal normal layaknya anak remaja biasa?”
“Atau ilmu hitam ini bisa juga diwariskan? Aahhh bisa juga sih. Tapi, … tidak mungkin dari bapak. Bapak orang biasa juga. Kalau punya ilmu, pasti bapak disegani di desa, juga tidak mungkin keluarga kami mengalami kekurangan ekonomi.”
“Atau warisan dari ibu? Itu tambah tidak mungkin. Ibu seorang yang lemah lembut. seingatku juga tidak pernah marah tidak jelas atau ngomel-ngomel seperti ibu-ibu lainnya. Tapi ini juga aneh sih kalau seorang ibu tidak pernah ngomel.”
“Heh! Gimana sih kamu Rawi. Punya orang tua yang baik hati kok malah dibilang aneh. Harus banyak-banyak bersyukur.”
Rawi menepuk dahinya sendiri tanda menyadari kebodohannya.
Angannya terbang melanglang buana. Angin bertiup perlahan membawa beberapa kenangan masa lalu memasuki kepalanya, Tiba-tiba dia teringat.
Waktu itu seperti biasa hari pertama masuk sekolah dasar. Seperti cerita-cerita yang tersebar melalui layar kaca, banyak ibu-ibu yang berebut bangku. Namun, ibunya Rawi tidak melakukannya. Mereka berdua datang ke sekolah sesuai jam masuk dan mendapatkan bangku kedua di sebelah kanan dekat jendela.
Tiba-tiba ada seorang anak menangis keras. Anak itu menginginkan tempat duduknya. Akhirnya, Rawi duduk di baris kedua bagian belakang sendiri.
Ketika acara perkenalan, tiba-tiba si anak terhuyung dan menangis keras. Ketika ditanya guru dia menjawab ada pukulan menghantam punggungnya. Gurupun memeriksa sesuai yang dirasakan si anak, dan di sana ada bekas warna merah sebesar kepalan tangan seperti ada yang memukul.
Gurupun bingung. Tidak ada anak yang berpindah tempat duduk. Bahkan tidak ada yang berdiri. Semua anak masih didampingi orang tua masing-masing. Bagaimana mungkin? Kejadian itu meninggalkan misteri yang sampai saat ini belum terpecahkan.
Ada juga kejadian ketika pelajaran olahraga, entah mengapa ketika materi pelajaran lari, maka Rawi akan berlari cukup cepat dari yang lain. Anehnya, dia melakukannya tanpa usaha sekeras teman-temannya.
Juga materi senam lantai, Rawi akan melakukan dengan sempurna. Orang-orang hanya berkesimpulan kalau Rawi anaknya cukup gesit.
“Apakah itu semua adalah kekuatanku? Ataukah muncul begitu saja? Tapi mengapa setelah kejadian di sekolah dasar, tidak pernah muncul lagi? Apakah karena aku merasa aman dan nyaman?”
"Atau jangan-jangan gara-gara peri itu ya? Peri cantik dan imut yang pernah datang ke mimpiku waktu itu? Yang membuat kasurku basah semua di pagi hari? Ihhh ..."
“Kenapa hari ini muncul lagi? Karena aku marah pada Pram dkk? Karena aku jengkel? Atau karena aku hanya ingin melindungi diriku sendiri? Atau karena memang pada dasarnya aku aneh?”
Rawi mengacak rambut hitamnya. Poninya segera kembali menutupi dahinya. Bunyi notifikasi gawai menyadarkannya.
Ting! Ting! Ting!
Beberapa kali notifikasi gawainya berbunyi. Awalnya Rawi mencoba mengabaikan bunyi-bunyi itu. Namun, lama-lama ternyata suara itu cukup mengganggu juga.
Dengan malas, Rawi mengambil gawai yang ada di kantong celananya dan melihat apa yang membuat gawainya seramai itu.
“BERITA MENARIK!
“KAKAK ANGKATAN TERLEMPAR HANYA DENGAN SATU SENTAKAN”
“SIAPA DIA?”
“Apaaa ini?” pikir Rawi kalut, “Kok bisa muncul berita seperti ini?”
Dia kembali terpekur melihat layar gawainya. Dia mencoba menekan salah satu grup dan membaca setiap kalimat dalam berita yang ada.
Inti beritanya menyebutkan seorang mahasiswa baru dengan kekuatan ajaib membuat kakak angkatan terpental sejauh satu meter dan membuat heboh acara MABA.
Rawi mengacak lagi rambutnya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Perutnya yang awalnya hanya terasa lapar, kini bahkan terasa mulas.
Suasana hingar bingar terlihat di aula kampus Universitas Manunggal. Enam orang berjejer dengan tas punggung berukuran raksasa berada di dekat kaki-kaki mereka. Selain itu, tas kecil mereka terselempang manis di pundak.Beberapa koper terbaring pasrah di sekitar mereka. Banyak mahasiswa memberi selamat, dan berjabat tangan dengan mereka. Beberapa dari teman mahasiswa juga memberi pesan juga meminta oleh-oleh saat mereka pulang.Rawi melihat ke segala arah untuk melihat apakah Kak Brama sudah datang atau belum. Hiruk pikuk membuatnya kadang-kadang kehilangan fokus untuk mencari Kak Brama.Bermenit-menit kemudian, Dia melihat Kak Brama berlari panik ke arah mereka.Dia terengah-engah ketika sampai, dan berusaha mengatur nafas sebelum berbicara denga
Keesokan harinya …Semua sudah berkumpul di tempat yang ditentukan. Dahayu sempat terlambat beberapa detik. Pram, Damian, dan Haris datang bersamaan sambil membawa perbekalan.“Kalian bawa apa itu?” teriak Kak Brama.“Cemilan, Bram,” jawab mereka sambil cengar-cengir.Kak Brama yang mendengar itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Pram, Damian, dan Haris segera meletakkan makanan yang dibawanya ke tempat yang aman.“Ayo! Semuanya berkumpul di sumber suara!”Kak Brama memberi instruksi.Rawi, Kinanthi, Dahayu, Pram, Damian, dan Haris segera berlari mendekat ke arah Kak Brama.“Kalian sudah membawa yang kemarin
Pesan dari Kak Brama.{Sebentar, Kinan. Ada pesan dari Kak Brama. Kita lanjutkan lagi nanti]Rawi membuka pesan dari Kak Brama.{Rawi, apa benar berita yang aku dapat?}{Berita apa, Kak?}{Katanya kamu mau mengundurkan diri dari program pertukaran mahasiswa}Rawi mengambil jeda untuk mengetik balasan pada Kak Brama. Dia merasa harus memberikan jawaban yang bijaksana sehingga Kak Brama tidak salah paham.{Sebenarnya iya, Kak}Kak Brama kini yang lama memberi pesan balasan. Rawi memandang gawainya sampai hampir bosan, tapi balasan itu tak kunjung datang. Dia sampai merebahka
Rawi terhenyak. Rawi masih menatap gawainya sambil membaca kembali pesan-pesan yang ada di grup. Dia tidak menyangka akan secepat itu dikeluarkan dari grup. Walaupun juga dia sadar, dia tidak ada kepentingan di grup tersebut. “Sudahlah. Mungkin mereka sudah memahami keadaanku saat ini. Biarkan saja mereka fokus untuk menyiapkan untuk keperluan pelatihan dan pemberangkatan.”Rawi kembali meletakkan gawainya, dan kembali merebahkan diri di atas kasur. Dia merasa lega karena teman-teman bisa menerima situasi dirinya yang memang berbeda dengan mereka. Dia berdehem. Tenggorokannya terasa kering. Dia bangkit dan berjalan menuju ruang tengah untuk mengambil segelas air minum. Dia menuangkan air dan meminumnya perlahan. Bu Krisan keluar juga dari kamarnya. Matanya terlihat lelah. Dia terlihat sedikit terkejut melihat Rawi ada di sana sedang memegang gelas. Hampir saja Rawi tersedak karena kaget. “Bu.” Bu Krisan duduk di kursi yang ada. “Maafkan kami, Rawi. Kami tidak bisa mewujudkan kei
[Lho! Kok mendadak batal begitu saja, Rawi. Harus ada penjelasan untuk hal ini!}{Ya, aku ada alasan tersendiri untuk hal ini. Maaf, memang semua serba mendadak jadi mungkin tidak ada keterangan tambahan}{Tidak bisa, Rawi. Kamu tidak bisa memutuskan sendiri. Kasihan teman-teman yang lain.}{Masih ada kamu, Kinan. Semua pasti teratasi}{Pokoknya keputusan ini belum final ya}{Maaf, dan terima kasih}Rawi masih membalas pesan Kinanthi beberapa kali sebelum dia mengacuhkannya. Matanya tertutup tapi pikirannya mengembara mencari jalan keluar terbaik untuk kondisinya saat ini.Walaupun hatinya tetap tidak rela melepaskan program yang
Rawi menutup mata sebentar, kemudian membuka matanya kembali. Ketika dia membuka mata, dia sudah berada di kamarnya sendiri. Sebuah kamar temapt dia biasanya melepas penat selama kuliah. Tempat tenyaman baginya.Bu Krisan dan Pak Bagaskara segera menuju kamarnya. Entah mengapa mereka melakukan hal itu.“Rawi!” teriak Bu Krisan memastikan keberadaan anaknya.“Ibu! Bapak!”“Kok tiba-tiba sekali pulang ke rumah. Ada apa? Kamu sehat, kan?” Bu Krisan kembali melihat Rawi dengan seksama.Rawi tersenyum.“Aku sehat, Bu.”“Lalu ada apa? tidak biasanya kamu pulang dengan cara yang tidak biasa ini.” Pak Bagaskara mu
“Kamu tidak percaya itu hak kamu. Yang penting kami akan berusaha jadi yang terbaik,” jawab Pram. “Jangan coba-coba menghalangi kami, ya. Kami sedang mencoba mengubah pandangan orang pada kami.”“Ooo … jadi itu alasanmu untuk ikut kegiatan ini? Mau memperbaiki nama diri, ya?” Rawi mengangguk mulai
“Hmmm … lalu apa sekarang? Sudah puas kalian menertawakanku?” sergah Dahayu dengan nada emosi. “Dan kamu tahu apa yang paling paling lucu?” Dahayu semakin murka. Dia hampir saja menyambit Kinanthi dengan map yang ada di tangannya. Namun, tangannya ditahan oleh Kinanthi dengan satu hentakan kuat.
“Kinanthi! Rawi!” Sebuah suara merdu melengking di udara memanggil nama mereka berdua. Mendengar teriakan itu, mereka berdua menoleh. Tampak oleh mereka sosok cantik yang sudah biasa mereka temui. Perlahan gurat senyum hilang dari wajah mereka. Mereka menghela napas dan saling memandang. Sorot ma
Melihat situasi sudah kondusif, Rawi memejamkan mata. Ketika dia membukanya kembali, yang terlihat adalah kamar tidurnya sendiri. Dia tersenyum, dan merebahkan diri di kasur. Dia puas. Satu per satu masalah dalam hidup dan keluarganya sudah terurai, serta berakhir dengan damai. Dia hanya perlu mel







