แชร์

Rawi Bingung

ผู้เขียน: Dara Karinda
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-15 14:32:45

Sudut mata Rawi merekam gerakan Pram, dan dia tidak habis pikir itu artinya apa. Sekali lagi dia mencoba menepis semua pikiran yang tidak perlu. Dia mencoba kembali fokus pada kegiatan yang tersisa hari ini.

“Fiuuhhhh, akhirnya selesai juga hari ini,” bisik Rawi pelan penuh rasa syukur. Rawi memasukkan papan nama yang sedari tadi mengalung di lehernya, dan segera menjejalkan ke dalam tas ransel berwarna hitam yang dibawanya. 

Sesampai di gerbang, Rawi terdiam. Dia naik angkot yang lewat di depannya tanpa pikir panjang. Setelah beberapa menit berjalan, baru dia  tersadar. Dia menoleh ke kanan dan kiri mencoba mencari petunjuk ke arah mana angkot ini membawanya. 

“Ternyata angkot ini melewati taman kota. Baiklah. Aku akan kesana sebentar. Pusing kepalaku kalau ingat kejadian hari ini,” pikir Rawi. 

Rawi berjalan menyusuri jalan setapak yang sudah berpaving menuju area taman kota. Dia menganggukkan kepala sebagai permintaan ijin kepada petugas yang ada di pos penjagaan. Masuk ke taman kota itu tidak berbayar maka dia suka sekali ke sini. 

Rawi meletakkan tubuhnya di sebuah bangku yang tersedia di taman kota. Kepalanya tersandar di bangku taman. Dilihatnya langit luas, walaupun sedikit tertutup daun-daun lebat dari pepohonan di sana tidak menutup keindahan langit siang menjelang sore itu. 

“Apa yang terjadi tadi ya?” 

“Mengapa mereka tadi tiba-tiba terpental? Bayangkan … dua kali mereka terpental. Aneh sekali! Padahal aku juga tidak melakukan apa-apa. Hanya mengedikkan bahu saja.” 

“Apakah memang benar kata mereka? Apakah aku punya ilmu hitam yang terpendam dalam tubuhku ini?” 

“Bukannya kalau ilmu hitam itu harus ada sesuatu yang dilakukan terlebih dahulu supaya mendapatkan kekuatan? Sedangkan aku selama ini tidak melakukan apa-apa, hanya melakuakn hal normal layaknya anak remaja biasa?”

“Atau ilmu hitam ini bisa juga diwariskan? Aahhh bisa juga sih. Tapi, … tidak mungkin dari bapak. Bapak orang biasa juga. Kalau punya ilmu, pasti bapak disegani di desa, juga tidak mungkin keluarga kami mengalami kekurangan ekonomi.” 

“Atau warisan dari ibu? Itu tambah tidak mungkin. Ibu seorang yang lemah lembut. seingatku juga tidak pernah marah tidak jelas atau ngomel-ngomel seperti ibu-ibu lainnya. Tapi ini juga aneh sih kalau seorang ibu tidak pernah ngomel.” 

“Heh! Gimana sih kamu Rawi. Punya orang tua yang baik hati kok malah dibilang aneh. Harus banyak-banyak bersyukur.” 

Rawi menepuk dahinya sendiri tanda menyadari kebodohannya. 

Angannya terbang melanglang buana. Angin bertiup perlahan membawa beberapa kenangan masa lalu memasuki kepalanya, Tiba-tiba dia teringat.  

Waktu itu seperti biasa hari pertama masuk sekolah dasar. Seperti cerita-cerita yang tersebar melalui layar kaca, banyak ibu-ibu yang berebut bangku. Namun, ibunya Rawi tidak melakukannya. Mereka berdua datang ke sekolah sesuai jam masuk dan mendapatkan bangku kedua di sebelah kanan dekat jendela. 

Tiba-tiba ada seorang anak menangis keras. Anak itu menginginkan tempat duduknya. Akhirnya, Rawi duduk di baris kedua bagian belakang sendiri. 

Ketika acara perkenalan, tiba-tiba si anak terhuyung dan menangis keras. Ketika ditanya guru dia menjawab ada pukulan menghantam punggungnya. Gurupun memeriksa sesuai yang dirasakan si anak, dan di sana ada bekas warna merah sebesar kepalan tangan seperti ada yang memukul. 

Gurupun bingung. Tidak ada anak yang berpindah tempat duduk. Bahkan tidak ada yang berdiri. Semua anak masih didampingi orang tua masing-masing. Bagaimana mungkin? Kejadian itu meninggalkan misteri yang sampai saat ini belum terpecahkan. 

Ada juga kejadian ketika pelajaran olahraga, entah mengapa ketika materi pelajaran lari, maka Rawi akan berlari cukup cepat dari yang lain. Anehnya, dia melakukannya tanpa usaha sekeras teman-temannya. 

Juga materi senam lantai, Rawi akan melakukan dengan sempurna. Orang-orang hanya berkesimpulan kalau Rawi anaknya cukup gesit. 

“Apakah itu semua adalah kekuatanku? Ataukah muncul begitu saja? Tapi mengapa setelah kejadian di sekolah dasar, tidak pernah muncul lagi? Apakah karena aku merasa aman dan nyaman?” 

“Kenapa hari ini muncul lagi? Karena aku marah pada Pram dkk? Karena aku jengkel? Atau karena aku hanya ingin melindungi diriku sendiri? Atau karena memang pada dasarnya aku aneh?” 

Rawi mengacak rambut hitamnya. Poninya segera kembali menutupi dahinya. Bunyi notifikasi gawai menyadarkannya. 

Ting! Ting! Ting!

Beberapa kali notifikasi gawainya berbunyi. Awalnya Rawi mencoba mengabaikan bunyi-bunyi itu. Namun, lama-lama ternyata suara itu cukup mengganggu juga.

Dengan malas, Rawi mengambil gawai yang ada di kantong celananya dan melihat apa yang membuat gawainya seramai itu.

“BERITA MENARIK!

“KAKAK ANGKATAN TERLEMPAR HANYA DENGAN SATU SENTAKAN”

“SIAPA DIA?”

“Apaaa ini?” pikir Rawi kalut, “Kok bisa muncul berita seperti ini?”  

Dia kembali terpekur melihat layar gawainya. Dia mencoba menekan salah satu grup dan membaca setiap kalimat dalam berita yang ada.

Inti beritanya menyebutkan seorang mahasiswa baru dengan kekuatan ajaib membuat kakak angkatan terpental sejauh satu meter dan membuat heboh acara MABA. 

Rawi mengacak lagi rambutnya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Perutnya yang awalnya hanya terasa lapar, kini bahkan terasa mulas.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Mak Kerti Kaget

    AAAAAAAAA!Sebuah teriakan dan sebuah suara terjatuh terdengar menggemparkan pagi ini. Tubuh Rawi menegang. Rawi segera bangkit dari duduknya dan melongok dari jendela kamarnya melihat ke sekitar. Rawi takut kalau suara itu membangunkan Bapak dan Ibunya sehingga akan makin banyak muncul pertanyaan. Rawi menghela nafas lega ketika tidak menemukan apapun yang mencurigakan di sekitarnya. Tiba-tiba wajah keriput Mak Kerti muncul kurang lebih 100 meter di depan jendelanya. Dia memegang dadanya yang terbalut kebaya kembang-kembang coklat yang terlihat menambah tua penampilannya. “Heh! Rawi … pagi-pagi begini jangan buat kaget orang tua. Kamu sedang apa tadi?” Mak Kerti membentak Rawi. Memang begitu perangainya. Selalu sinis dan kasar kepada orang lain. Terkadang juga main tuduh. Pokoknya dia selalu menjadi yang paling benar. "Hah!" Rawi terkesiap mendengarnya. Jantungnya terlonjak karena rasa kaget luar biasa. “Eh … Mak Kerti ya. Maaf … maaf ya Mak. Tapi, Mak Kerti juga membuatku kag

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Rawi Berselancar

    Pakkk!Tangan Bapak menepuk pundak Rawi. Rawi terkejut dan segera menyembunyikan gawainya. Dia menoleh ke arah Bapak dan mencoba tersenyum. "Ada apa, Pak?" "Kaget ya? Maaf ya. Bapak lihat dari tadi kamu seperti orang bingung. Ada apa sebenarnya?" Pak Bagaskara mulai bertanya.Rawi sedikit tersentak. Dia tidak menyangka Bapak memperhatikan dirinya. "Kamu tidak ada masalah di kampus, kan?" "Tidak ada, Pak." Rawi menggelengkan kepalanya. Dia berharap dengan begitu Bapak tidak ragu akan jawabannya. "Itu tadi ... sibuk apa?" "Ohh ... tadi mencari bahan untuk materi minggu pertama, Pak." "Hmmm ... yakin hanya itu?""Iya, pak. Ini coba Bapak lihat sendiri." Rawi menyodorkan gawainya ke arah bapak. Gawainya sedang terpampang google dan hasil pencariannya. Bapak melihatnya sekilas, dan mengangguk. Bapak terpaksa percaya dengan perkataan Rawi walaupun masih ada sedikit keraguan dalam hatinya. Setelah itu, Bapak meninggalkan Rawi. Sepeninggal bapak, Rawi kembali menatap gawainya dengan

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Rana Kena Getahnya

    “Kakak!!!”Sebuah suara manja memanggilnya ketika dia membuka pagar rumah. Rana namanya. Gadis dengan rambut sedikit berombak sepanjang bahu adalah adik kesayangannya. akhirnya Rawi kembali ke rumah setelah seminggu jauh dari keluarganya. Bapak dan Ibunya mendengar teriakan Rana segera keluar menyambut Rawi. Rawi mencium tangan bapak, kemudian ibu, tak lupa mengacak-acak rambut Rana. “Capek, Rawi?” tanya Ibu Rawi mengangguk sambil tersenyum. “Ya, sana. Istirahat dulu saja,” sambut Bapak. “Baik, Pak. Rawi istirahat dulu di kamar,” pamit Rawi. Rawi melangkah menuju kamarnya, mengaitkan tas di balik pintu kamarnya, setelah itu dia melepas jaketnya dan menggantungnya di dekat tas. Setelah itu, dia merebahkan badannya di kasur. Dia menutup mata. Nyaman, dan itu yang dia butuhkan. Perlahan Rawi mendengar langkah kaki ringan. Pasti Rana. “Kak, acara MABA kemarin menyenangkan?” Suara Rana

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Kabar Menyebar

    “Aaaarrggghhh … baru juga satu hari. Besok-besok bagaimana ya aku harus menghadapi mereka? Ya … bukan hanya mereka bertiga itu, tapi juga orang-orang si kampus lainnya?Matahari tertelan bumi dan gelap menyiram taman kota ketika Rawi melangkahkan kaki keluar dari tempat itu. Di depan gerbang, dia tersadar tidak ada angkot ke arah tempat tinggalnya lewat selepas pukul enam sore.Terpaksa dia melangkah perlahan sambil mengkhayalkan kasur empuk di kamarnya dan semangkok mie rebus untuk mengisi perut yang sedari siang belum terisi lagi. Namun, sepertinya dia harus bersabar karena perjalanan pulang masih cukup panjang.Keesokan paginya, Rawi berangkat ke kampus. Ketika turun dari angkot yang dinaikinya, berpasang-pasang mata melihatnya, tapi mereka diam. Ada juga mencuri pandang ke arahnya. Rawi menghela nafas panjang dan berjalan dengan mantap ke arah acara MABA hari kedua akan dilaksanakan. Teman-teman seangkatan segera memberi jalan ketika dia melewati mereka. Mereka merasa lebih baik

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Rawi Bingung

    Sudut mata Rawi merekam gerakan Pram, dan dia tidak habis pikir itu artinya apa. Sekali lagi dia mencoba menepis semua pikiran yang tidak perlu. Dia mencoba kembali fokus pada kegiatan yang tersisa hari ini.“Fiuuhhhh, akhirnya selesai juga hari ini,” bisik Rawi pelan penuh rasa syukur. Rawi memasukkan papan nama yang sedari tadi mengalung di lehernya, dan segera menjejalkan ke dalam tas ransel berwarna hitam yang dibawanya. Sesampai di gerbang, Rawi terdiam. Dia naik angkot yang lewat di depannya tanpa pikir panjang. Setelah beberapa menit berjalan, baru dia tersadar. Dia menoleh ke kanan dan kiri mencoba mencari petunjuk ke arah mana angkot ini membawanya. “Ternyata angkot ini melewati taman kota. Baiklah. Aku akan kesana sebentar. Pusing kepalaku kalau ingat kejadian hari ini,” pikir Rawi. Rawi berjalan menyusuri jalan setapak yang sudah berpaving menuju area taman kota. Dia menganggukkan kepala sebagai permintaan ijin kepada petugas yang ada di pos penjagaan. Masuk ke taman ko

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Salah Paham

    Rawi terkejut. Matanya terbelalak ketika melihat apa yang terjadi. Pram, Haris, dan Damian terlempar di atas paving. Rawi memperhatikan seluruh tubuhnya. Ada asap tipis mengepul muncul di sana. Dia bergidik tak percaya. Segera dia tepuk-tepuk perlahan permukaan kulitnya supaya asap itu segera memudar dan menghilang dari sana. Barisan sudah bubar menyisakan lingkaran besar tempat mereka berempat ada di tengah-tengahnya. Ketiga orang itu bangkit dari jatuhnya. Sambil meringis memegang punggung, mereka kembali mendekati Rawi. Mereka semakin tidak terima. “Heh! Kamu main ilmu hitam ya!” teriak Haris menambah keruh suasana. Rawi menggeleng. “Kalau tidak, kok kami bisa terlempar begitu saja. Hah?” tambah Pram. Tetap saja, Rawi menggeleng. “Jawab! Jangan hanya menggeleng dan mengangguk, kamu bisa omong gak?” Damian tersulut juga amarahnya. Rawi masih terdiam, walaupun juga timbul sedikit ketakutan dan kekhawatiran di dalam dirinya. “Ayo, jawab!” desak Pram. Rawi berdehem p

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status