Share

Rana Kena Getahnya

Penulis: Dara Karinda
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-15 14:33:09

“Kakak!!!”

Sebuah suara manja memanggilnya ketika dia membuka pagar rumah. Rana namanya. Gadis dengan rambut sedikit berombak sepanjang bahu adalah adik kesayangannya. akhirnya Rawi kembali ke rumah setelah seminggu jauh dari keluarganya. 

             Bapak dan Ibunya mendengar teriakan Rana segera keluar menyambut Rawi. Rawi mencium tangan bapak, kemudian ibu, tak lupa mengacak-acak rambut Rana.

             “Capek, Rawi?” tanya Ibu

             Rawi mengangguk sambil tersenyum.

             “Ya, sana. Istirahat dulu saja,” sambut Bapak.

             “Baik, Pak. Rawi istirahat dulu di kamar,” pamit Rawi.

             Rawi melangkah menuju kamarnya, mengaitkan tas di balik pintu kamarnya, setelah itu dia melepas jaketnya dan menggantungnya di dekat tas. Setelah itu, dia merebahkan badannya di kasur. Dia menutup mata. Nyaman, dan itu yang dia butuhkan.

             Perlahan Rawi mendengar langkah kaki ringan. Pasti Rana.

             “Kak, acara MABA kemarin menyenangkan?” Suara Rana memasuki telinganya.

             Rawi mengangguk.

             “Seru?”

             Rawi mengangguk lagi.

             “Ada cewek cantik tidak?”

             Kembali hanya anggukan sebagai jawaban.

             “Dari tadi hanya mengangguk-angguk,” sungut Rana, “Hmm tapi ada kejadian seru tidak kemarin?” dia masih lanjut bertanya.

             Kali ini Rawi hanya diam.

             “Ahhh … Kak Rawi. Jawab dong pertanyaanku. Aku penasaran,” Rana berusaha membuat Rawi bercerita. Dia menggoyang-goyangkan tangan Rawi. “Kak … Kakak … Kak!”

             Rana melakukannya berulang kali, dan akhirnya menyerah.

“Ahhh … Kakak menyebalkan!” katanya dengan suara keras. Dia melepaskan tangan Rawi dengan sedikit kasar, dan membalikkan tubuhnya menghadap ke arah pintu. Dia berjalan sedikit menghentakkan kaki.

Mendengar hal itu, Rawi membuka mata tiba-tiba dan melihat ke arah punggung adiknya. Seketika, Rana terhuyung ke depan. Melihat itu, Rawi terbangun dari posisinya.

“Kakak!” seru Rana. Dia berpaling ke Rawi. Dia melihat Rawi juga terduduk karena kaget.

“Kalau tidak mau cerita boleh-boleh saja! Jangan main dorong seenaknya!” suara Rana semakin keras.

             “Kamu lihat sendiri, kan! Aku masih di tempat tidur. Kapan aku mendorongmu?”

             “Alasan saja Kakak ini.”

             “Ya, sudah kalau kamu tidak percaya. Yang penting aku tidak mendorongmu.” Rawi masih bersikeras membela diri.

             “Ada apa ini?” Ibu datang mendekat.

             Rawi dan Rana memandang Ibu bersamaan.

             “Kakak mendorongku, Bu!” Rana mengadu sambil menunjuk ke arah Rawi.  

             “Tidak, Bu. Aku tidak mendorong dia. Mungkin dia sedikit tergelincir.”

             Ibu masih bingung sebenarnya, tapi ibu tidak ingin berlama-lama.

             “Sudah, tidak perlu diperpanjang. Kita makan siang dulu ya,” ajak Ibu.

             Mendengar itu, mau tidak mau Rana segera menuruti Ibu. Rawi perlahan bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju meja makan.

             Setibanya di sana, seperti biasa meja sudah ada makanan. Yang terhidang di meja tidak ada yang mewah. Semuanya sederhana. Nasi, sayur bayam, dan sambel panggang. Semua makanan itu kesukaan Rawi.

             Mereka mengambil tempat duduk. Satu per satu mengambil piring dan segera mengisi sesuai porsinya. Mereka semua makan dalam diam. Tidak seperti biasanya. Rana cemberut. Rawi diam. Ibu memberi kode, dan akhirnya Bapak berdehem.

             “Rana kok cemberut. Kemarin katanya kangen kakak, sekarang kakak sudah pulang kok cemberut,” goda Bapak.

             “Tanya Kakak saja!” sahut Rana sedikit ketus.

             Rawi melotot ke arah Rana.

             “Kok aku? Aku diam saja. Yang ditanya juga kamu, kan?” sahut Rawi pelan.

             “Kan Kakak yang buat masalah dulu. Kakak yang dorong aku jadi kakak yang seharusnya memberi penjelasan pada bapak dan ibu,” lanjut Rana.

             “Ini sebenarnya ada apa? Terus terang Bapak bingung kalau kalian hanya debat kusir tidak jelas seperti itu. Rana, coba kamu jelaskan.”

             “Awalnya Rana seperti biasa kan, Pak, bertanya tentang semua kegiatan Kakak. Nah, waktu Rana tanya, Kakak tidak menjawab. Hanya mengangguk-angguk saja. Rana pikir oh mungkin kakak sedang capek jadi tidak mau menjawab, maka Rana keluar kamar saja. Malah kakak dorong Rana, Pak.”

             “Benar begitu, Rawi?” selidik Bapak.

             “Awal ceritanya sudah benar, Pak. Tetapi, akhir ceritanya tidak seperti itu.”

             “Lalu kalau versi kamu bagaimana?”

             “Yaa waktu Rana mau keluar kamar, aku tidak berbuat apa-apa. Tapi Rana menuduhku mendorongnya.” Rawi menghela nafas panjang seakan sudah capek menjelaskan.

             “Sudah … sudah. Tidak perlu saling menyalahkan. Damai saja dulu. Tidak baik kalau makan bersama tapi tidak saling akur.” Bapak memandang Rawi, dan Rawi mengangguk. Setelah itu Bapak memandang Rana, mau tidak mau Rana pun mengangguk.

             Setelah itu suasana mulai mencair, Rana sudah kembali seperti biasa mengajak bapak dan ibu mengobrol. Sedangkan Rawi masih diam sambil tetap mengikuti perbincangan.   

“Rawi, bagaimana acara MABA di kampus? Lancar?” tanya Bapak tiba-tiba.

             “Lancar, pak,” jawab Rawi singkat.

             Kembali terdiam, bapak dan ibu saling pandang.

             “Hanya lancar? Tidak ada keterangan tambahan?” pancing Ibu.

             “Yaa … lancar saja. Semua berjalan baik-baik saja,” sahut Rawi sambil tersenyum tipis. “Rawi sudah selesai makan.” Rawi berjalan kembali ke kamarnya diiringi tiga pasang mata.

             Sebentar kemudian, Rawi keluar kamar dan duduk di teras. Lekuk wajahnya terlihat serius dari meja makan. Pak Bagaskara tercenung. Apa yang sedang dipikirkan Rawi sekarang? Apakah ada kejadian buruk kemarin?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Mak Kerti Kaget

    AAAAAAAAA!Sebuah teriakan dan sebuah suara terjatuh terdengar menggemparkan pagi ini. Tubuh Rawi menegang. Rawi segera bangkit dari duduknya dan melongok dari jendela kamarnya melihat ke sekitar. Rawi takut kalau suara itu membangunkan Bapak dan Ibunya sehingga akan makin banyak muncul pertanyaan. Rawi menghela nafas lega ketika tidak menemukan apapun yang mencurigakan di sekitarnya. Tiba-tiba wajah keriput Mak Kerti muncul kurang lebih 100 meter di depan jendelanya. Dia memegang dadanya yang terbalut kebaya kembang-kembang coklat yang terlihat menambah tua penampilannya. “Heh! Rawi … pagi-pagi begini jangan buat kaget orang tua. Kamu sedang apa tadi?” Mak Kerti membentak Rawi. Memang begitu perangainya. Selalu sinis dan kasar kepada orang lain. Terkadang juga main tuduh. Pokoknya dia selalu menjadi yang paling benar. "Hah!" Rawi terkesiap mendengarnya. Jantungnya terlonjak karena rasa kaget luar biasa. “Eh … Mak Kerti ya. Maaf … maaf ya Mak. Tapi, Mak Kerti juga membuatku kag

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Rawi Berselancar

    Pakkk!Tangan Bapak menepuk pundak Rawi. Rawi terkejut dan segera menyembunyikan gawainya. Dia menoleh ke arah Bapak dan mencoba tersenyum. "Ada apa, Pak?" "Kaget ya? Maaf ya. Bapak lihat dari tadi kamu seperti orang bingung. Ada apa sebenarnya?" Pak Bagaskara mulai bertanya.Rawi sedikit tersentak. Dia tidak menyangka Bapak memperhatikan dirinya. "Kamu tidak ada masalah di kampus, kan?" "Tidak ada, Pak." Rawi menggelengkan kepalanya. Dia berharap dengan begitu Bapak tidak ragu akan jawabannya. "Itu tadi ... sibuk apa?" "Ohh ... tadi mencari bahan untuk materi minggu pertama, Pak." "Hmmm ... yakin hanya itu?""Iya, pak. Ini coba Bapak lihat sendiri." Rawi menyodorkan gawainya ke arah bapak. Gawainya sedang terpampang google dan hasil pencariannya. Bapak melihatnya sekilas, dan mengangguk. Bapak terpaksa percaya dengan perkataan Rawi walaupun masih ada sedikit keraguan dalam hatinya. Setelah itu, Bapak meninggalkan Rawi. Sepeninggal bapak, Rawi kembali menatap gawainya dengan

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Rana Kena Getahnya

    “Kakak!!!”Sebuah suara manja memanggilnya ketika dia membuka pagar rumah. Rana namanya. Gadis dengan rambut sedikit berombak sepanjang bahu adalah adik kesayangannya. akhirnya Rawi kembali ke rumah setelah seminggu jauh dari keluarganya. Bapak dan Ibunya mendengar teriakan Rana segera keluar menyambut Rawi. Rawi mencium tangan bapak, kemudian ibu, tak lupa mengacak-acak rambut Rana. “Capek, Rawi?” tanya Ibu Rawi mengangguk sambil tersenyum. “Ya, sana. Istirahat dulu saja,” sambut Bapak. “Baik, Pak. Rawi istirahat dulu di kamar,” pamit Rawi. Rawi melangkah menuju kamarnya, mengaitkan tas di balik pintu kamarnya, setelah itu dia melepas jaketnya dan menggantungnya di dekat tas. Setelah itu, dia merebahkan badannya di kasur. Dia menutup mata. Nyaman, dan itu yang dia butuhkan. Perlahan Rawi mendengar langkah kaki ringan. Pasti Rana. “Kak, acara MABA kemarin menyenangkan?” Suara Rana

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Kabar Menyebar

    “Aaaarrggghhh … baru juga satu hari. Besok-besok bagaimana ya aku harus menghadapi mereka? Ya … bukan hanya mereka bertiga itu, tapi juga orang-orang si kampus lainnya?Matahari tertelan bumi dan gelap menyiram taman kota ketika Rawi melangkahkan kaki keluar dari tempat itu. Di depan gerbang, dia tersadar tidak ada angkot ke arah tempat tinggalnya lewat selepas pukul enam sore.Terpaksa dia melangkah perlahan sambil mengkhayalkan kasur empuk di kamarnya dan semangkok mie rebus untuk mengisi perut yang sedari siang belum terisi lagi. Namun, sepertinya dia harus bersabar karena perjalanan pulang masih cukup panjang.Keesokan paginya, Rawi berangkat ke kampus. Ketika turun dari angkot yang dinaikinya, berpasang-pasang mata melihatnya, tapi mereka diam. Ada juga mencuri pandang ke arahnya. Rawi menghela nafas panjang dan berjalan dengan mantap ke arah acara MABA hari kedua akan dilaksanakan. Teman-teman seangkatan segera memberi jalan ketika dia melewati mereka. Mereka merasa lebih baik

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Rawi Bingung

    Sudut mata Rawi merekam gerakan Pram, dan dia tidak habis pikir itu artinya apa. Sekali lagi dia mencoba menepis semua pikiran yang tidak perlu. Dia mencoba kembali fokus pada kegiatan yang tersisa hari ini.“Fiuuhhhh, akhirnya selesai juga hari ini,” bisik Rawi pelan penuh rasa syukur. Rawi memasukkan papan nama yang sedari tadi mengalung di lehernya, dan segera menjejalkan ke dalam tas ransel berwarna hitam yang dibawanya. Sesampai di gerbang, Rawi terdiam. Dia naik angkot yang lewat di depannya tanpa pikir panjang. Setelah beberapa menit berjalan, baru dia tersadar. Dia menoleh ke kanan dan kiri mencoba mencari petunjuk ke arah mana angkot ini membawanya. “Ternyata angkot ini melewati taman kota. Baiklah. Aku akan kesana sebentar. Pusing kepalaku kalau ingat kejadian hari ini,” pikir Rawi. Rawi berjalan menyusuri jalan setapak yang sudah berpaving menuju area taman kota. Dia menganggukkan kepala sebagai permintaan ijin kepada petugas yang ada di pos penjagaan. Masuk ke taman ko

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Salah Paham

    Rawi terkejut. Matanya terbelalak ketika melihat apa yang terjadi. Pram, Haris, dan Damian terlempar di atas paving. Rawi memperhatikan seluruh tubuhnya. Ada asap tipis mengepul muncul di sana. Dia bergidik tak percaya. Segera dia tepuk-tepuk perlahan permukaan kulitnya supaya asap itu segera memudar dan menghilang dari sana. Barisan sudah bubar menyisakan lingkaran besar tempat mereka berempat ada di tengah-tengahnya. Ketiga orang itu bangkit dari jatuhnya. Sambil meringis memegang punggung, mereka kembali mendekati Rawi. Mereka semakin tidak terima. “Heh! Kamu main ilmu hitam ya!” teriak Haris menambah keruh suasana. Rawi menggeleng. “Kalau tidak, kok kami bisa terlempar begitu saja. Hah?” tambah Pram. Tetap saja, Rawi menggeleng. “Jawab! Jangan hanya menggeleng dan mengangguk, kamu bisa omong gak?” Damian tersulut juga amarahnya. Rawi masih terdiam, walaupun juga timbul sedikit ketakutan dan kekhawatiran di dalam dirinya. “Ayo, jawab!” desak Pram. Rawi berdehem p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status