เข้าสู่ระบบ“Kakak!!!”
Sebuah suara manja memanggilnya ketika dia membuka pagar rumah. Rana namanya. Gadis dengan rambut sedikit berombak sepanjang bahu adalah adik kesayangannya. akhirnya Rawi kembali ke rumah setelah seminggu jauh dari keluarganya.
Bapak dan Ibunya mendengar teriakan Rana segera keluar menyambut Rawi. Rawi mencium tangan bapak, kemudian ibu, tak lupa mengacak-acak rambut Rana.
“Capek, Rawi?” tanya Ibu
Rawi mengangguk sambil tersenyum.
“Ya, sana. Istirahat dulu saja,” sambut Bapak.
“Baik, Pak. Rawi istirahat dulu di kamar,” pamit Rawi.
Rawi melangkah menuju kamarnya, mengaitkan tas di balik pintu kamarnya, setelah itu dia melepas jaketnya dan menggantungnya di dekat tas. Setelah itu, dia merebahkan badannya di kasur. Dia menutup mata. Nyaman, dan itu yang dia butuhkan.
Perlahan Rawi mendengar langkah kaki ringan. Pasti Rana.
“Kak, acara MABA kemarin menyenangkan?” Suara Rana memasuki telinganya.
Rawi mengangguk.
“Seru?”
Rawi mengangguk lagi.
“Ada cewek cantik tidak?”
Kembali hanya anggukan sebagai jawaban.
“Dari tadi hanya mengangguk-angguk,” sungut Rana, “Hmm tapi ada kejadian seru tidak kemarin?” dia masih lanjut bertanya.
Kali ini Rawi hanya diam.
“Ahhh … Kak Rawi. Jawab dong pertanyaanku. Aku penasaran,” Rana berusaha membuat Rawi bercerita. Dia menggoyang-goyangkan tangan Rawi. “Kak … Kakak … Kak!”
Rana melakukannya berulang kali, dan akhirnya menyerah.
“Ahhh … Kakak menyebalkan!” katanya dengan suara keras. Dia melepaskan tangan Rawi dengan sedikit kasar, dan membalikkan tubuhnya menghadap ke arah pintu. Dia berjalan sedikit menghentakkan kaki.
Mendengar hal itu, Rawi membuka mata tiba-tiba dan melihat ke arah punggung adiknya. Seketika, Rana terhuyung ke depan. Melihat itu, Rawi terbangun dari posisinya.
“Kakak!” seru Rana. Dia berpaling ke Rawi. Dia melihat Rawi juga terduduk karena kaget.
“Kalau tidak mau cerita boleh-boleh saja! Jangan main dorong seenaknya!” suara Rana semakin keras.
“Kamu lihat sendiri, kan! Aku masih di tempat tidur. Kapan aku mendorongmu?”
“Alasan saja Kakak ini.”
“Ya, sudah kalau kamu tidak percaya. Yang penting aku tidak mendorongmu.” Rawi masih bersikeras membela diri.
“Ada apa ini?” Ibu datang mendekat.
Rawi dan Rana memandang Ibu bersamaan.
“Kakak mendorongku, Bu!” Rana mengadu sambil menunjuk ke arah Rawi.
“Tidak, Bu. Aku tidak mendorong dia. Mungkin dia sedikit tergelincir.”
Ibu masih bingung sebenarnya, tapi ibu tidak ingin berlama-lama.
“Sudah, tidak perlu diperpanjang. Kita makan siang dulu ya,” ajak Ibu.
Mendengar itu, mau tidak mau Rana segera menuruti Ibu. Rawi perlahan bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju meja makan.
Setibanya di sana, seperti biasa meja sudah ada makanan. Yang terhidang di meja tidak ada yang mewah. Semuanya sederhana. Nasi, sayur bayam, dan sambel panggang. Semua makanan itu kesukaan Rawi.
Mereka mengambil tempat duduk. Satu per satu mengambil piring dan segera mengisi sesuai porsinya. Mereka semua makan dalam diam. Tidak seperti biasanya. Rana cemberut. Rawi diam. Ibu memberi kode, dan akhirnya Bapak berdehem.
“Rana kok cemberut. Kemarin katanya kangen kakak, sekarang kakak sudah pulang kok cemberut,” goda Bapak.
“Tanya Kakak saja!” sahut Rana sedikit ketus.
Rawi melotot ke arah Rana.
“Kok aku? Aku diam saja. Yang ditanya juga kamu, kan?” sahut Rawi pelan.
“Kan Kakak yang buat masalah dulu. Kakak yang dorong aku jadi kakak yang seharusnya memberi penjelasan pada bapak dan ibu,” lanjut Rana.
“Ini sebenarnya ada apa? Terus terang Bapak bingung kalau kalian hanya debat kusir tidak jelas seperti itu. Rana, coba kamu jelaskan.”
“Awalnya Rana seperti biasa kan, Pak, bertanya tentang semua kegiatan Kakak. Nah, waktu Rana tanya, Kakak tidak menjawab. Hanya mengangguk-angguk saja. Rana pikir oh mungkin kakak sedang capek jadi tidak mau menjawab, maka Rana keluar kamar saja. Malah kakak dorong Rana, Pak.”
“Benar begitu, Rawi?” selidik Bapak.
“Awal ceritanya sudah benar, Pak. Tetapi, akhir ceritanya tidak seperti itu.”
“Lalu kalau versi kamu bagaimana?”
“Yaa waktu Rana mau keluar kamar, aku tidak berbuat apa-apa. Tapi Rana menuduhku mendorongnya.” Rawi menghela nafas panjang seakan sudah capek menjelaskan.
“Sudah … sudah. Tidak perlu saling menyalahkan. Damai saja dulu. Tidak baik kalau makan bersama tapi tidak saling akur.” Bapak memandang Rawi, dan Rawi mengangguk. Setelah itu Bapak memandang Rana, mau tidak mau Rana pun mengangguk.
Setelah itu suasana mulai mencair, Rana sudah kembali seperti biasa mengajak bapak dan ibu mengobrol. Sedangkan Rawi masih diam sambil tetap mengikuti perbincangan.
“Rawi, bagaimana acara MABA di kampus? Lancar?” tanya Bapak tiba-tiba.
“Lancar, pak,” jawab Rawi singkat.
Kembali terdiam, bapak dan ibu saling pandang.
“Hanya lancar? Tidak ada keterangan tambahan?” pancing Ibu.
“Yaa … lancar saja. Semua berjalan baik-baik saja,” sahut Rawi sambil tersenyum tipis. “Rawi sudah selesai makan.” Rawi berjalan kembali ke kamarnya diiringi tiga pasang mata.
Sebentar kemudian, Rawi keluar kamar dan duduk di teras. Lekuk wajahnya terlihat serius dari meja makan. Pak Bagaskara tercenung. Apa yang sedang dipikirkan Rawi sekarang? Apakah ada kejadian buruk kemarin?
Pak Bagaskara. Bu Krisan, Rawi, Rana, dan Mak Kerti duduk mengelilingi meja makan. Pemandangan yang tidak biasa, tapi suasana seperti ini adalah yang paling nyaman selama Rawi tinggal di desa ini. Biasanya mereka merasa was-was tentang apa saja, bahkan akhir-akhir ini banyak suara-suara barang dilempar mengenai atap atau dinding rumah. Hal itu membuat mereka serumah tegang terus menerus. “Enak tidak masakan ibuku, Mak?” Rana memulai percakapan dengan Mak kerti. “Ha ha ha … dari dulu aku tahu kalau masakan ibumu itu enak, Rana. Selalu jempol!” jawab Mak Kerti terkekeh sambil menikmati setiap suapan yang masuk ke mulutnya. “Terima kasih ya, Bagaskara dan Krisan. Aku boleh menikmati makan bersama kalian. Selama ini aku kesepian.” Wajahnya tiba-tiba meredup. Senyum yang baru saja merekah pun menghilang dari wajah keriputnya. “Sama-sama, Mak. Kami juga senang karena Rawi dan Rana sekarang punya pengganti nenek mereka yang sudah meninggal,” jawab Bu Krisan. “Tapi ada syaratnya, Mak!”
“Mak! Mak, sadar! Kami berjanji tidak akan seperti itu!” bisik Bu Krisan pelan. Dia memeluk erat Mak Kerti supaya dia tidak melakukan hal-hal di luar nalar. Bu Krisan memberi tanda pada Pak Bagaskara, Rawi, dan Rana untuk ikut memberi motivasi pada Mak Kerti. Satu per satu keluarga Bagaskara mendekati dan ikut memeluk Mak Kerti. Merasakan kehangatan pelukan keluarga membuat Mak Kerti semakin histeris. Semua warga terhenyak melihat pemandangan itu. Mereka tidak menyangka keluarga Bagaskara akan memberi kehangatan pada orang yang sudah menganiaya mereka selama ini. Mereka hanya bisa geleng-geleng kepala. “Maafkan aku, Bagaskara! Maafkan aku yang selalu iri dengan keharmonisan dan kebahagiaan keluarga kalian. Sudah dari dulu perasaan ini kupendam, tapi ternyata tahun-tahun belakangan ini tidak bisa kutahan lagi … hiks hiks hiks!” Semua orang yang mendengar itu merasa kecut hatinya. “Wah kita benar-benar diperalat untuk menuntaskan rasa dendamnya sendiri.”“Menyesal aku selalu memba
Semua orang dikejutkan dengan teriakan histeris Mak Kerti. Mereka semua menoleh ke arahnya. Mak kerti jongkok dan menutupi kedua telinganya. Dia menjerit sekeras yang dia bisa untuk meluapkan perasaannya. Salah seorang dari mereka mendekat dan menenangkannya. Orang itu memegang pundaknya “Mak! Sadar, Mak! Sudah selesai semuanya!” Mak Kerti mendongak perlahan melihat pada orang yang menaruh tangan hangat di pundak. Matanya yang kecil penuh dengan air mata. Wajahnya merah padam menahan sesak yang dirasa. “Haaaa … haaaa … haaaaa .” Tangis kembali terdengar. Dia melihat ke sekelilingnya. Tatapan mata menuduh tersampaikan tanpa basa-basi di setiap sorot mata yang lekat kepadanya. “Tidak perlu menangis, Mak,” kata yang lain. “Sampaikan dengan besar hati. Mungkin keluarga Pak Bagaskara akan memaafkan dan tidak mengungkit masalah ini di masa depan,” sahut yang lain menambah. Mak Kerti melirik ke arah keluarga Bagaskara yang saat ini masih berdiri tegak di depan pintu, dan memandangnya
“Baiklah. Aku akan permudah semuanya. Dengarkan baik-baik perkataanku.”Rawi kembali berkata. “Mau mengatakan apa lagi?” Orang-orang bertambah tidak sabar. “Semua hal yang sudah kalian sampaikan tadi akan aku patahkan dengan pembelaanku. Aku juga akan memberi tahu siapa dalang dari semua ini.” “Omong kosong kamu! Langsung saja tidak perlu bertele-tele!” Banyak orang kembali bersorak-sorak menuntut jawaban. “Pertama, bapakku memang hanya buruh tani tetapi untuk biaya kuliahku beliau tidak mengeluarkan sepeserpun karena aku memperoleh beasiswa dari Universitas Manunggal selama aku kuliah di sana!” Penjelasan pertama Rawi direspon dengan sorak sorai. “Huuuuu … !”“Kedua, Universitas Manunggal lumayan jauh dari desa ini maka aku memutuskan untuk kos di sana sehingga perjalananku tidak memakan banyak waktu. Aku akan pulang seminggu sekali dan selama liburan aku mengunjungi pakdhe di desa lain. Apa itu salah?” Kali ini tidak ada respon. Mereka diam memikirkan jawaban Rawi selanjutny
“Nah, ini dia yang kita tunggu. Akhirnya dia muncul,” seru seseorang di antara keramaian. Baju mereka sudah mulai basah oleh keringat karena saling berdesakan. Terkadang juga tangan satu mengenai badan yang lain. “Baiklah. Aku sudah berdiri di sini.”Rawi berkata dengan tegas tanpa rasa takut sedikitpun. Dia berharap dengan melakukan ini masalah ini bisa teratasi dengan cepat. Dia sudah mempunyai bekal bagaimana mengatasi kericuhan ini. “Desa kami ini desa bersih. Bukan hanya lingkungannya, tetapi juga manusianya,” sorak yang lain.Rawi tersenyum melihat orang banyak mengangguk sepakat dengan kalimat yang baru saja terucap.“Bersih? Apa maksudmu dengan manusianya bersih?”“Yaaa … kami selalu taat beragama. Kami tidak mencari Allah lain selain yang kami sembah. Kami memperdalam ilmu sesuai dengan agama dan kepercayaan kami.”“Kami juga selalu memperhatikan lingkungan sekitar kami. Kami peduli terhadap orang-orang di desa ini,” tambah yang lain. “Hanya melakukan seperti itu lalu kali
“Bapak dan Ibu, aku akan menjelaskan semuanya, tapi tolong lepaskan dulu Rana. Kasihan dia!” pinta Bu Krisan.“Tidak bisa! Nanti kalau kami lepaskan, kalian bisa saja langsung masuk ke rumah dan tidak akan keluar lagi!” teriak mereka lagi. “Benar itu. Jangan sampai mereka memperdaya kita.” “Ya ya ya!” Mereka tetap saja tidak percaya. “Atau mungkin ada beberapa perwakilan dari Bapak dan Ibu sekalian bisa masuk ke rumah dan kita bicarakan secara baik-baik dan Rana bisa istirahat. Dia baru saja pulang sekolah. Apa kalian tidak kasihan pada Rana?” Pak Bagaskara membuat penawaran sekaligus memancing empati warga desa yang ada di depan rumah mereka. “Tidak sudi aku masuk rumah kalian. Jangan-jangan di dalamnya banyak barang pesugihan yang nantinya akan mencelakai kami,” ungkap salah satu dari mereka. “Iya, rumah sarang ilmu hitam. Pasti banyak ranjaunya.”“Rumah kami bersih. Tidak ada barang apapun berhubungan dengan ilmu hitam seperti yang kalian sangka!” Rana pun ikut memberi pembe







