FAZER LOGINSeorang pemuda bernama Rawi Indraloka tanpa disadari memiliki kekuatan supranatural warisan dari keluarganya yang terpendam. Berbagai rintangan dan halangan datang silih berganti dan dari berbagai arah. Semuanya bertujuan untuk menghancurkan psikis Rawi dan juga keharmonisan keluarganya. Pada akhirnya, dengan dukungan teman, keluarga, dan sosok spritual yang hadir dalam hidupnya, Rawi dapat mengolah semua dengan baik, dan dapat membawa keberkahan untuk keluarga, dan semua yang ada di sekitarnya.
Ver maisRawi berlari cepat-cepat ketika mendengar peluit pendek-pendek ditiup berulang kali. Itu tandanya semua mahasiswa baru diminta berkumpul.
Tanpa sadar Rawi menabrak salah satu kakak angkatan yang juga panitia penerimaan mahasiswa baru.
Mereka berdua sama-sama berhenti dan saling mengamati. Setelah Rawi menganggukkan kepala dan menangkupkan kedua tangannya sebagai tanda permintaan maaf, dia segera menuju tempat berkumpulnya mahasiswa baru. Sambil berlari dia merasa sudah pernah melihat wajah orang yang baru saja ditabraknya. Namun, segera dia hilangkan pikiran itu, dia ingin mengikuti kegiatan ini dengan baik.
Rawi merasa bangga akhirnya dia bisa melanjutkan kuliah di Universitas Manunggal. Walaupun dia harus bekerja keras memenangkan sayembara membuat logo dan menjadi juara utama untuk bisa berada di sini. Tak mengapa, kerja kerasnya terbayar sudah.
“Wohhhh!!! Ada anak petani masuk ke Universitas kita rupanya!” teriak Pram keras-keras sambil melihat kalung nama sebesar laptop yang ada di dada Rawi.
Pram memang sengaja mencari dan mendekati Rawi. Dia masih tidak terima dengan kejadian tadi pagi. Anggukan dan permintaan maaf saja tidak cukup baginya. Dia ingin lebih dari itu.
“Woi, teman-teman! Lihat ke sini!”
Pram kembali mencari perhatian dari teman-teman panitia, tapi hanya Haris dan Damian yang mendekat. Sedangkan panitia yang lain menyebar ke seluruh barisan untuk memberikan ujian mental pada mahasiswa baru.
Sesi ini memang sesi untuk panitia menguji ketahanan mental adik angkatan baru. Apakah mental mereka cukup kuat untuk menghadapi dunia ataukah hanya seperti kerupuk yang ketika kena sedikit air akan mengkerut dan tidak enak dimakan lagi.
Pram, Haris dan Damian mengerubungi mahasiswa baru itu. Rambutnya lurus hitam pekat. Poni rambutnya menutupi dahinya yang agak lebar. Hidungnya yang lumayan mancung menambah daya tarik mahasiswa itu.
“Rawi Indraloka! Kok bisa ya ketemu kamu di sini!” Pram memulai serangannya.
“Dia ini anak buruh tani itu kan? Yang rumahnya reyot itu kan?” sambung Haris, disambut gelak tawa mengiyakan dari Pram dan Damian.
“Apa katamu? Rumah? Kalau menurutku sih itu bukan rumah. Lebih tepatnya gubug yang sekali angin besar bertiup bisa rubuh.” Damian tak kalah dalam menyambung kata-kata teman-temannya. Ketiga orang itu masih saja tertawa, dan Rawi tetap diam walaupun tangannya sudah kebas karena mengepal terlalu keras.
“Siapa sih mereka ini? Kok mereka sepertinya sengaja menyerangku secara verbal?” pikir Rawi sambil menahan emosinya. “Ya ampun … kok bisa lupa. Kakak gondrong itu yang tadi pagi aku tabrak. Jangan-jangan dia mau cari gara-gara sama aku … hmmm.”
“Tenang, Rawi. Tenang. Ini hanya bagian dari acara MABA. Tidak mungkin mereka sengaja memojokkan dan mengolok-olok,” sambung Rawi dalam pikirannya mencoba untuk tetap positif dalam keadaan yang tidak mengenakkan baginya.
“Pram, sepertinya anak ini lupa!” Damian berbisik kepada Pram ketika dia menarik Pram agak menjauh dari Rawi.
“Masak, sih? Kita sudah ejek dia, lho. Kamu tahu dari mana kalau dia tidak ingat?”
“Lihat saja tatapan matanya!”
Pram memandang Rawi dari depan sehingga bisa menatap matanya yang masih fokus. Perlahan Pram kembali mendekati Rawi dan berbisik di dekat telinganya.
“Anak buruh tani saja sok-sokan kuliah di universitas mahal. Memang sanggup bayar?”
Kata-kata pelan menembus gendang telinga Rawi dan segera diproses di otaknya.
“Kata-kata ini sepertinya aku pernah dengar.”
Tiba-tiba rasa sakit menghunjam kepalanya, tapi Rawi tetap bertahan untuk berdiri. Di otaknya berkelebatan bayang-bayang dari masa lalunya saat kata-kata yang sama terucap dari mulut yang sama.
Saat itu Rawi masih bersekolah di Sekolah Menengah Pertama yang cukup populer di kota. Tentu saja sekolah itu membutuhkan biaya yang besar karena termasuk sekolah swasta mahal. Rawi bisa melanjutkan sekolah di situ karena beasiswa siswa pintar.
Tiga orang yang mengelilinginya itu adalah tiga orang kakak kelas di sekolahnya dulu. Tiga orang yang setiap hari menghujaninya dengan hujatan dan sindiran keras. Tiga orang yang juga selalu menunggunya di gerbang sekolah setiap dia datang di pagi hari dan pulang di sore hari. Untung saja mereka segera lulus, dan dia terlepas dari mereka bertiga. Rawi bisa menyelesaikan pendidikannya dengan nyaman tanpa gangguan lagi pada tahun kedua dan ketiga.
Rawi mulai ingat sekarang. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat daripada sebelum dia ingat semua itu. Tangannya mengepal lebih keras daripada sebelumnya.
“Heh! Bapakmu jual apa untuk bayar biaya masuk ke Universitas ini?” Bisikan Pram kembali memasuki gendang telinganya.
Tanpa aba-aba, Rawi menghadapkan badannya ke arah Pram. Gerakan yang tiba-tiba ini tentu saja mengejutkan Pram, Damian, dan Haris. Hal ini juga membuat mereka bertiga tiba-tiba terhuyung ke belakang sehingga menabrak mahasiswa baru yang lain.
Pram dkk kembali mendekati Rawi dengan lebih galak. Tangan mereka di pinggang. Mata mereka melotot. Wajahnya mereka penuh amarah.
“Apa yang sudah kamu lakukan?” Damian berteriak.
“Kau dorong kami ya!” Suara Haris tak kalah nyaring.
“Mau dipukul rupanya kamu ya!” Pram tambah dikuasai amarah.
Rawi diam. Bukan hanya karena ada peraturan mahasiswa dilarang menjawab ketika dibentak oleh kakak angkatan. Namun, dia sendiri tidak mengerti mengapa hal itu terjadi. Dia hanya menghadap ke arah mereka, dan mereka terhuyung. Orang banyak bisa menjadi saksi kalau dia tidak melakukan apapun.
“Diam saja kau!” bentak Haris.
“Kalau ditanya jawab! Pram takkalah galak.
Rawi tetap diam. Hanya matanya saja tetap waspada. Ya, walaupun tidak begitu ahli tapi dia sekarang sudah bisa sedikit ilmu bela diri. Itu yang dia siapkan untuk menghadapi tiga orang kakak angkatannya ini.
Mereka melangkah lebih dekat lagi ke arah Rawi. Namun, baru dua langkah, mereka terkejut. Ada halangan tak tembus pandang ada di antara mereka dan Rawi. Mereka melihat Rawi hanya mengerutkan dahi saja tanpa ada gerakan lainnya.
Mereka mundur dengan wajah bingung. Lalu dalam hitungan ketiga mereka bertiga bergerak maju dengan cepat. Namun, hal yang sama terulang. Ada sesuatu yang menghalangi mereka untuk mendekati Rawi.
“Ahhhh …,” erang Pram, Haris dan Damian ketika berusaha lebih keras mendekati Rawi.
Barisan yang lain sudah mulai berpencar, bahkan ada yang sudah bubar. Mereka semua melihat ada apa sebenarnya di antara mereka berempat. Namun, tidak ada yagn berniat untuk melerai mereka. Mereka ingin tahu apa yang akan terjadi kemudian.
“Haaaahhhhh ….,” teriakan demi teriakan Pram, Haris, dan Damian bergema di seluruh lapangan. Mereka tetap berusaha untuk mendekat tapi tidak bisa. Bahkan sekarang halangan itu diselimuti hawa panas yang membuat mereka melepaskan jas almamater.
Rawi masih berdiri. Sekarang matanya terpejam dan masih mengerutkan dahinya. Dia dapat merasakan amarahnya sampai ke ubun-ubun. Kalau saja orang dapat melihat amarahnya, pasti kepalanya sudah mengeluarkan kepulan asap yang luar biasa. Dia juga dapat merasakan ketiga orang itu masih ada di sekelilingnya berusaha untuk memberikan serangan fisik jarak dekat. Dan dia sudah siap akan hal itu.
Kepalang tanggung mereka bertiga enggan mundur. Apa jadinya nanti? Mereka tidak mau menangung malu hanya karena berhadapan dengan mahasiswa baru saja sudah kalah. Mereka sudah terkenal menjadi jagoan di Universitas Manunggal ini.
Wajah dan tubuh mereka bersimbah peluh. Suara mereka semakin serak. Badan mereka semakin terhuyung ke depan. Tangan mereka berusaha menggapai Rawi yang masih saja diam. Orang-orang yang memperhatikan mereka segera menjaga jarak. Mereka khawatir akan terjadi sesuatu. Entah itu ledakan atau baku hantam.
Tanpa disadarinya, hawa panas juga menyerang badan Rawi, tiba-tiba Rawi membuka mata dan menggelengkan kepala dengan sentakan yang kuat karena dia tidak kuasa menahan hawa panas yang muncul.
Dyaaaarrr!!!!
“Arrrgghhhhh!!!”
Pak Bagaskara. Bu Krisan, Rawi, Rana, dan Mak Kerti duduk mengelilingi meja makan. Pemandangan yang tidak biasa, tapi suasana seperti ini adalah yang paling nyaman selama Rawi tinggal di desa ini. Biasanya mereka merasa was-was tentang apa saja, bahkan akhir-akhir ini banyak suara-suara barang dilempar mengenai atap atau dinding rumah. Hal itu membuat mereka serumah tegang terus menerus. “Enak tidak masakan ibuku, Mak?” Rana memulai percakapan dengan Mak kerti. “Ha ha ha … dari dulu aku tahu kalau masakan ibumu itu enak, Rana. Selalu jempol!” jawab Mak Kerti terkekeh sambil menikmati setiap suapan yang masuk ke mulutnya. “Terima kasih ya, Bagaskara dan Krisan. Aku boleh menikmati makan bersama kalian. Selama ini aku kesepian.” Wajahnya tiba-tiba meredup. Senyum yang baru saja merekah pun menghilang dari wajah keriputnya. “Sama-sama, Mak. Kami juga senang karena Rawi dan Rana sekarang punya pengganti nenek mereka yang sudah meninggal,” jawab Bu Krisan. “Tapi ada syaratnya, Mak!”
“Mak! Mak, sadar! Kami berjanji tidak akan seperti itu!” bisik Bu Krisan pelan. Dia memeluk erat Mak Kerti supaya dia tidak melakukan hal-hal di luar nalar. Bu Krisan memberi tanda pada Pak Bagaskara, Rawi, dan Rana untuk ikut memberi motivasi pada Mak Kerti. Satu per satu keluarga Bagaskara mendekati dan ikut memeluk Mak Kerti. Merasakan kehangatan pelukan keluarga membuat Mak Kerti semakin histeris. Semua warga terhenyak melihat pemandangan itu. Mereka tidak menyangka keluarga Bagaskara akan memberi kehangatan pada orang yang sudah menganiaya mereka selama ini. Mereka hanya bisa geleng-geleng kepala. “Maafkan aku, Bagaskara! Maafkan aku yang selalu iri dengan keharmonisan dan kebahagiaan keluarga kalian. Sudah dari dulu perasaan ini kupendam, tapi ternyata tahun-tahun belakangan ini tidak bisa kutahan lagi … hiks hiks hiks!” Semua orang yang mendengar itu merasa kecut hatinya. “Wah kita benar-benar diperalat untuk menuntaskan rasa dendamnya sendiri.”“Menyesal aku selalu memba
Semua orang dikejutkan dengan teriakan histeris Mak Kerti. Mereka semua menoleh ke arahnya. Mak kerti jongkok dan menutupi kedua telinganya. Dia menjerit sekeras yang dia bisa untuk meluapkan perasaannya. Salah seorang dari mereka mendekat dan menenangkannya. Orang itu memegang pundaknya “Mak! Sadar, Mak! Sudah selesai semuanya!” Mak Kerti mendongak perlahan melihat pada orang yang menaruh tangan hangat di pundak. Matanya yang kecil penuh dengan air mata. Wajahnya merah padam menahan sesak yang dirasa. “Haaaa … haaaa … haaaaa .” Tangis kembali terdengar. Dia melihat ke sekelilingnya. Tatapan mata menuduh tersampaikan tanpa basa-basi di setiap sorot mata yang lekat kepadanya. “Tidak perlu menangis, Mak,” kata yang lain. “Sampaikan dengan besar hati. Mungkin keluarga Pak Bagaskara akan memaafkan dan tidak mengungkit masalah ini di masa depan,” sahut yang lain menambah. Mak Kerti melirik ke arah keluarga Bagaskara yang saat ini masih berdiri tegak di depan pintu, dan memandangnya
“Baiklah. Aku akan permudah semuanya. Dengarkan baik-baik perkataanku.”Rawi kembali berkata. “Mau mengatakan apa lagi?” Orang-orang bertambah tidak sabar. “Semua hal yang sudah kalian sampaikan tadi akan aku patahkan dengan pembelaanku. Aku juga akan memberi tahu siapa dalang dari semua ini.” “Omong kosong kamu! Langsung saja tidak perlu bertele-tele!” Banyak orang kembali bersorak-sorak menuntut jawaban. “Pertama, bapakku memang hanya buruh tani tetapi untuk biaya kuliahku beliau tidak mengeluarkan sepeserpun karena aku memperoleh beasiswa dari Universitas Manunggal selama aku kuliah di sana!” Penjelasan pertama Rawi direspon dengan sorak sorai. “Huuuuu … !”“Kedua, Universitas Manunggal lumayan jauh dari desa ini maka aku memutuskan untuk kos di sana sehingga perjalananku tidak memakan banyak waktu. Aku akan pulang seminggu sekali dan selama liburan aku mengunjungi pakdhe di desa lain. Apa itu salah?” Kali ini tidak ada respon. Mereka diam memikirkan jawaban Rawi selanjutny






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliações