LOGINAkhir bulan datang dengan cepat. Hari ini closingan alias hari terakhir bagi para sales untuk mendapat pesanan sebagai pencapaian bulan tersebut. Seperti bulan-bulan sebelumnya, persaingan paling utama adalah antara Lia dan Elvan.Capaian Lia dan Elvan hanya selisih sedikit dengan Elvan berada di posisi atas. Ternyata Elvan memang punya senjata rahasia yang membuat capaian Elvan melejit di hari terakhir padahal dua hari sebelumnya, Lia sudah percaya diri bisa mengalahkan Elvan bulan ini.Lia hanya bisa menghela napas melihat capaian penjualannya yang hanya kalah sedikit dari Elvan. Ini hari terakhir dan hampir mustahil untuk mengalahkan Elvan, apalagi Lia tidak punya rencana penjualan hari ini dan Elvan sepertinya masih punya penjualan lain yang sedang diproses.Satu pesan masuk ke whatsapp Lia, setelah membuka pesan itu Lia melihat harapan. Seorang klien lama ingin membuat pesanan hari ini. Jadi, ia bergegas mengambil tas dan meninggalkan kantor.Lia baru saja keluar gedung dan ingin
Senin pagi Lia berangkat kerja dengan perasaan waswas. Ia begitu gugup karena hari ini pasti harus berhadapan dengan Bu Elvira yang kemungkinan besar akan sangat marah padanya, karena masalah dengan Adeera.Saat memasuki kantor Lia sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Meskipun Elvan sudah berkata, “Tenang saja, semua akan baik-baik saja.”. Namun, Lia tetap merasa khawatir, gugup, dan agak takut.Lia merasakan tepukan di bahu saat berdiri di depan ruangan kantor. Ia menoleh dengan wajah kaget dan menemukan Bu Elvira.“Ngapain kamu bengong di depan kantor?”Lia menggeleng pelan. “A-anu, Bu …” Lia tidak bisa berbicara dengan benar karena terlalu gugup berhadapan dengan Bu Elvira yang tiba-tiba muncul.“Nanti ke ruangan saya,” kata Bu Elvira tanpa menunggu jawaban Lia. “Jam Sembilan.”“Ba-baik, Bu.” Akhirnya Lia menjawab setelah Elvira menjauh.Lia lemas. Sepertinya, pagi ini akan berat. Ia mendesah kemudian melangkah masuk ke kantor langsung ke meja kerja dan mengempaskan
Minggu pagi Lia dibangunkan Elvan pagi-pagi sekali. Dengan mata yang setengah mengantuk, Lia mengikuti Elvan ke ruang tengah yang akan mereka make over hari ini.Elvan sudah merapikan semua perabotan di ruangan itu. Sebagian dipindahkan ke ruang tamu dan sisanya diberi penutup kain.Melihat tembok yang masih putih bersih membuat Lia merasa sayang untuk mengubahnya. Rasanya, lebih baik jika dibiarkan seperti apa adanya.“Beneran harus dicat ulang nih?” tanya Lia yang tidak semangat mendekorasi ulang padahal hari sebelumnya ia cukup tertarik dengan ide mengubah dekorasi ruangan itu.“Kenapa, mau mundur sekarang?” Elvan malah balik bertanya. “Barangnya sudah dibeli, masa nggak jadi dipakai.”Lia menatap kaleng cat, pernis, juga wallpaper yang dipilihnya bersama Elvan kemarin. Semua benda itu dibeli dengan uang, meskipun uangnya Elvan, tapi tetap saja pakai uang dan kalau tidak jadi dipakai benar-benar sayang.“Ayolah, Lia,” bujuk Elvan. “Kamu nggak takut capek kan? Atau takut nggak bisa
“Farah!”Lia terkejut menemukan sahabat sekaligus rekan kerjanya berdiri di depannya.“Iya, aku Farah. Kamu nggak usah kaget gitu, kayak ngeliat hantu aja,” ujar Farah.Lia hanya bisa menyengir kaku menanggapi Farah. Karena ia sekarang panik karena bertemu Farah tiba-tiba.“Kok bisa ada di sini?” tanya Lia sambil mencari-cari keberadaan Elvan. Semoga saja, Elvan masih menunggu makanan sehingga tidak segera datang. Jadi, Lia sempat mengirim pesan pada pria itu agar menghindar sehingga mereka tidak ketahuan Farah.“Mau apa lagi di food court kalau nggak makan,” ujar Farah. “Kamu sendiri ngapain di sini?” Farah balas bertanya.“Ya mau makan lah, sama kayak kamu,” sahut Lia.“Pertanyaan bodoh, sorry … sorry. Maksudku, ngapain kamu di supermarket bahan bangunan?” Farah mengganti pertanyaan yang membuat Lia bingung bagaimana menjawab.Lia berusaha menemukan alasan yang terdengar masuk akal, setelah berpikir sesaat ia menjawab, “Jalan-jalan aja sih, sekalian lihat-lihat hiasan dinding. Ada s
Kencan di supermarket bahan bangunan memang bukan hal yang biasa Lia lakukan, bahkan belum pernah dilakukannya sebelumnya. Bersama Milan, Lia biasanya pergi ke tempat-tempat yang memang umum dituju orang untuk berkencan. Seperti mal, restoran, kafe, atau nonton film.Bersama Milan, Lia jarang sekali diajak kencan receh seperti makan di warung pinggir jalan atau sekadar naik motor berkeliling kota untuk melepas jenuh. Milan tidak pernah mengajak Lia naik motor karena pria itu tidak ingin Lia kepanasan atau kehujanan maupun sakit kena angin malam.Intinya, bersama Milan membuat Lia merasa sangat diperhatikan dan dimanjakan. Minusnya, tidak ada kepastian. Itulah yang membuat hubungan mereka kandas beberapa waktu lalu.Bersama Elvan, Lia selalu mendapatkan pengalaman berbeda. Seperti yang saat ini terjadi, berkencan di supermarket bahan bangunan yang ternyata tidak buruk juga.“Kamu mau warna apa untuk ruang santai?” tanya Elvan ketika mereka berdiri di bagian yang menjual berbagai wallpa
Lia terbangun keesokan harinya di atas kasur di kamar utama yang ia tempati. Namun, seingatnya tadi malam tidak kembali ke kamar dan jatuh tertidur di sofa depan televisi setelah mengobrol dengan Elvan. Lia jadi bertanya-tanya apakah Elvan yang membantunya pindah ke kamar atau ia berjalan sendiri dalam keadaan setengah sadar?Lia tidak bisa memikirkan lebih lanjut karena ketukan di pintu meminta perhatiannya. Lia sudah berjalan ke pintu ketika suara Elvan terdengar.“Lia, sudah bangun?”“Sudah,” jawab Lia sambil membuka pintu.“Kirain belum bangun,” ujar Elvan saat melihat Lia.“Baru bangun,” sahut Lia. “Semalam kamu yang mindahin aku ke kamar?”“Huum,” ujar Elvan sambil lalu sementara wajah Lia merona setelah mendengar jawaban itu. Karena jawaban itu berarti Elvan menggendong Lia ke kamar, artinya mereka sudah bersentuhan."Takutnya, kamu masuk angin kalau tidur di luar. Jadi aku pindahin ke kamar.” Elvan terlihat biasa saja saat menjelaskan. Seolah itu bantuan yang akan diberikan El







