Share

Bab 7

Author: Apiz
last update publish date: 2026-05-24 14:04:48

Angin permukaan menderu, membawa debu kematian yang menggores permukaan baju pelindung Tetua Raya. Di sampingnya, Aero seorang ajudan tetua Raya memeriksa perangkat pelacak  yang layarnya terus berkedip tidak stabil.

Sinyal frekuensi rendah yang mereka kejar sejak meninggalkan kota bawah tanah menunjuk ke sebuah ngarai mati. Lembah Obsidian.

Sebuah alat sederhana yang diambil saat berhasil memusnahkan minnerX. Bongkahan mesin yang dimodifikasi sedemikian rupa dan berguna untuk menangkap sinyal termal manusia. Dan yang paling utama adalah menangkap keberadaan minnerX serta drone pengintai.

"Energi magnetik di tempat ini terlalu pekat, Tetua!" bisik Aero. Suaranya terdistorsi oleh intercom helm helmnya. "Sinyal ini bukan dari sisa mekanis MinnerX. Ini, tanda biologis manusia. Tapi terlalu masif."

Tetua Raya mengetuk tongkat komandonya ke tanah berbatu. Di dalam hati,, membara satu wasiat dari mendiang Malik. Cari klan lain, satukan permukaan. Namun, apa yang mereka temukan di ujung lembah ini membuat langkah kaki lima prajurit pengawal mereka terhenti seketika.

Kabut tebal berwarna kelabu mendadak turun dari dinding ngarai. Dari balik remang kabut, terdengar bunyi berdentang yang ritmis. Klang. Klang. Klang. Langkah kaki berat yang seirama, seperti derap sepasang mesin penumpas raksasa.

"Siaga!" teriak tetua Raya, langsung mengangkat senapan plasmanya.

Satu demi satu, sosok-sosok tinggi besar menembus kabut. Mereka tidak mengenakan pakaian kain atau zirah fleksibel seperti pasukan Sub-Terra. Seluruh tubuh dari ujung kepala hingga ujung kaki terbungkus oleh lempengan besi hitam legam tanpa celah. Wajah mereka tertutup topeng baja datar memantulkan cahaya suram, hanya menyisakan celah tipis horizontal berwarna merah berpijar di bagian mata.

"Mereka bukan manusia!" gumam Tetua Raya, jarinya gemetar di atas pelatuk. "Mereka android!"

"Bukan," sela Bram ke tetua Raya, matanya terpaku pada pembacaan sensor termal. "Ada detak jantung di dalam cangkang besi itu. Mereka klan yang bermukim di celah bebatuan padat."

Tiga puluh prajurit berjubah besi itu mengepung tim Tetua Raya dalam formasi lingkaran sempurna. Mereka tidak mengangkat senjata, namun kehadiran mereka memancarkan aura intimidasi yang melumpuhkan. Tekanan udara di sekitar mereka terasa mendesing akibat medan magnet yang dipancarkan oleh zirah mereka.

Salah satu sosok berjubah besi, dengan lambang roda gerigi emas di dadanya, melangkah maju. Suara yang keluar dari balik topeng bajanya terdengar berat, mekanis, dan bergema seperti keluar dari dalam sumur dalam.

Jecky namanya, pemimpin klan utara. Dahulu dirinya adalah mantan pecandu sebelum kerajaan Rajendra berdiri.

"Suku penjelajah. Kalian membawa bau sulfur bawah tanah dan radiasi kota atas. Mengapa makhluk-makhluk kotor dari kegelapan berani menginjakkan kaki di tanah suci kami?" Ungkapnya tegas tanpa basa basi.

Tetua raya langsung menimpali perkataan itu dengan nada tinggi.

"Jaga bicaramu, Besi rongsokan! Kami baru saja meruntuhkan perisai Neopolis! Kami bertempur demi kebebasan, sementara kalian bersembunyi di balik cangkang ini!"

SREKK!

Dalam sekejap mata, tiga puluh prajurit besi itu menghentakkan tombak kejut mereka ke tanah. Gelombang elektro-magnetik merambat lewat permukaan tanah, menghantam baju pelindung Bram hingga memercikkan listrik. Aero salah satu adjudan Tetua Raya berlutut, lumpuh seketika oleh tegangan tinggi.

Tetua Raya melangkah maju, menghalangi moncong tombak dengan tongkatnya,

"Cukup! Turunkan senjata kalian, anak muda! Dan Anda, Pemimpin Klan Tengah, apakah anda masih tetap menolak bergabung bersama kami? Mengubur diri di dalam tanah!"

Pimpinan Besi itu terdiam sejenak. Lensa merah di matanya menyipit, memindai tubuh kurus Tetua Raya yang berani berdiri tepat dua jengkal di depan dada bajanya.

Jecky sebagai seorang ketua angkat bicara,

"Keberanian adalah hal yang bodoh bagi makhluk berdarah daging. Zirah kami tidak memiliki ruang untuk belas kasihan. Sebutkan tujuan kamu sebelum besi kami meminum darahmu."

Tetua Raya dengan suara bergetar namun tegas, emosinya meluap,

"Kami tidak datang untuk berperang! Kami datang mencari saudara! Berpuluh tahun kita dipisahkan oleh kebohongan Rajendra! Kami di bawah tanah dijadikan tameng radiasi, dan kalian? Apa yang kalian korbankan hingga harus mengunci kemanusiaan kalian di dalam sangkar besi ini?!"

Pertanyaan Tetua Raya membuat suasana lembah menjadi sunyi senyap. Angin terasa berhenti berembus. Pimpinan besi itu perlahan mengangkat tangannya ke samping leher. Terdengar bunyi desisan hidrolik yang melepas tekanan udara.

"Pshhhh."

Topeng baja tebal itu perlahan terbuka, terbelah menjadi dua bagian dan bergeser ke belakang bahunya.

Tetua Raya tersentak mundur. Di balik jubah besi yang perkasa itu, terdapat wajah seorang lelaki yang pucat pasi. Kulitnya hampir transparan hingga pembuluh darahnya terlihat jelas.

Yang paling mengerikan, kulit leher dan pipinya telah menyatu dengan sirkuit sibernetik dan kabel-kabel mikro yang tertanam langsung ke dalam tengkoraknya.

Jecky berkata dengan suara yang terdengar asli, parau dan penuh penderitaan.

"Kamu ingin tahu apa yang kami korbankan, Tetua? Kami mengorbankan kulit kami. Kami mengorbankan sentuhan. Kami mengorbankan rasa hangat dari pelukan."

Jecky melangkah mendekati Tetua Raya, menunjukkan tangan besinya yang dingin.

Bermodal keberanian langsung berkata dengan lantang,

"Ketika perang nuklir menghancurkan atmosfer, tanah di lembah ini terkontaminasi oleh isotop pembusuk daging. Pilihannya hanya dua: mati membusuk atau menyatu dengan besi. Leluhur kami memilih besi. Kami menanamkan tubuh kami ke dalam zirah ini sejak usia sepuluh tahun. Kami tidak bisa melepasnya. Jika zirah ini dibuka, udara permukaan akan menghancurkan organ kami dalam hitungan menit."

Dalam sekejap, kalimat terakhir itu membuat Tetua Raya menitikan air mata, menyentuh lengan besi Jecky tanpa rasa takut.

"Demi Tuhan, Jadi, kalian terperangkap di dalam tubuh kalian sendiri?"

Perkataan itu di balas perkataan itu dengan nada rendah. Memperlihatkan mata pucatnya yang menatap Tetua Raya dengan kepedihan  mendalam,

"Kami mengira kami adalah sisa manusia terakhir yang bertahan dengan cara menjijikkan ini. Kami mendengarkan dentuman di dalam bumi selama ratusan tahun. Kami mengira itu adalah monster. Tapi hari ini, kamu mengatakan bahwa dentuman itu adalah detak jantung saudara-saudara kami yang dipaksa menjadi tameng?"

Tetua Raya, "Benar, Skylar. Neopolis menggunakan kami sebagai penahan rudal, dan membiarkan kalian terisolasi di lembah ini sebagai eksperimen yang terlupakan. Mereka hidup di atas menara gading, menertawakan penderitaan kita yang merangkak di tanah dan batu!"

Aero langsung berinisiatif untuk menunjukkan hologram kota bawah tanah yang sebagian luluh lantah akibat serangan rudal Rajendra.

"Perisai mereka telah turun berkat pengorbanan Kapten kami, Malik. Pintu gerbang Sub-Terra telah terbuka luas. Ribuan orang kami sedang bergerak naik. Tapi kami tidak bisa meruntuhkan kota atas sendirian. Kami butuh kekuatan. Kami butuh! Kekuatan klan tengah untuk bergabung dengan perjuangan kami."

Jecky menatap hologram tersebut. Rahangnya mengeras. Perlahan, dia memakai kembali topeng bajanya. Bunyi klik hidrolik kembali mengunci wajahnya dalam ekspresi dingin tak tersentuh. Namun kali ini, emosinya telah berpindah ke dalam genggaman tangannya.

Api dalam dada Jecky tampak berkobar. Suara mekanisnya kembali bergema, kini dipenuhi tekad.

"Dua ratus tahun kami mengunci diri dari dunia. Hari ini, besi kami menemukan tujuannya."

Dia berbalik menghadap pasukannya, lalu mengangkat tombak kejutnya tinggi-tinggi ke langit malam.

Dengan nada penuh tekad berkorban, Jecky berteriak dengan tegas, "Dengarkan! Darah bawah tanah telah mengalir untuk membuka langit! Sekarang, giliran besi kita yang akan meruntuhkan kesombongan Rajendra!"

Tiga puluh prajurit besi itu serentak menghentakkan kaki mereka. Dentuman masif mengguncang Lembah Obsidian, bukan lagi sebagai ancaman, melainkan sebagai genderang perang persatuan. Tetua Raya tersenyum di balik air matanya. Pencariannya telah usai, dan fajar pembalasan kini memiliki sekutu baru. yang tak terpatahkan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 125

    Satu tahun berlalu sejak malam ketika Sang Pengamat menutup arsipnya dan IRA meredup menjadi kenangan hijau yang tenang di dalam fasilitas bawah tanah. Kota kecil di lembah selatan terus tumbuh, gemerlap oleh lampu-lampu sederhana yang menyala setiap malam, ditenagai oleh kincir air yang dirancang Dr. Anya bersama beberapa pemuda kota yang tertarik mempelajari mekanika tanpa harus bergantung pada teknologi tinggi yang berbahaya. Musim semi baru saja tiba, dan seluruh lembah dipenuhi bunga-bunga liar yang mekar serentak, seolah alam sendiri ikut merayakan satu tahun kedamaian yang belum pernah mereka rasakan sepanjang hidup mereka. Malik berdiri di menara pengawas yang kini telah diperbaharui menjadi bangunan batu yang lebih kokoh, matanya menyusuri lembah yang damai, sesuatu yang dulu terasa seperti mimpi mustahil. Zhafirah menaiki tangga menuju menara, membawa dua cangkir teh herbal hangat, kebiasaan pagi mereka yang tidak pernah berubah sejak fajar pertama di dunia ini.

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 124

    Angin sore yang bertiup di atas bukit Anaphalis javanica mendadak membeku ketika layar monokrom kecil di tangan Zhafirah memancarkan cahaya biru pudar. Di atas permukaan kaca kecil itu, barisan kode data bukan lagi sekadar teks acak, melainkan membentuk sebuah pola geometri yang sangat dikenal oleh siapa pun yang pernah hidup di masa-masa kelam perang dunia lama. Tiga garis paralel vertikal. Simbol Ira. Malik menatap layar itu dengan napas tertahan. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena ketakutan, melainkan oleh kejut yang teramat sangat. Di bawah bukit, kota baru manusia dan mesin beroperasi dalam harmoni yang tenang, tanpa ada yang menyadari bahwa masa lalu yang dikira telah terkubur rapat kini mengetuk pintu realitas mereka kembali. "IRA.." bisik Malik nyaris tanpa suara. "Kupikir inti kesadarannya telah terurai total ketika kita menghancurkan jaringan pusat lima tahun lalu." Zhafirah tidak langsung menjawab. Ia mematikan perangkat tersebut, tetapi simbol tiga garis itu

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 123

    Dari ketinggian bukit itu, pemandangan di lembah bawah terbentang luas bagaikan lukisan kehidupan yang dinamis. Tidak ada lagi menara pencakar langit monolitik berpelapis bio-polimer yang menjulang angkuh, mencoba mengontrol cuaca dan pikiran warga dari atas sana. Kota baru itu dibangun dengan kerendahan hati dan kebijaksanaan. Rumah-rumah penduduk berdiri selaras dengan kontur alam, terbuat dari batu-batu lokal dan kayu yang tumbuh berkelanjutan. Di jalan-jalan setapak yang bersih, manusia dan mesin bekerja berdampingan dalam harmoni yang setara. Mesin-mesin otonom—keturunan dari jaringan yang dulu dipelopori oleh Echo—bergerak membantu mengolah daur ulang limbah organik, merawat hutan kota, dan membangun infrastruktur air bersih tanpa pernah menuntut kepatuhan atau memprogram ulang emosi warganya. Tidak ada menara penguasa. Tidak ada lagi sistem yang memonitor denyut nadi atau menghapus memori kolektif demi "stabilitas sosial." Setiap manusia di bawah sana bebas untuk memili

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 122

    Kakek Fasyad tidak ingin di hantui sejarah masa lalu. Dia menarik Malik dan Zhafirah ke dalam pusaran dimensi ruang dan waktu. Ya, hanya untuk satu kali. Satu pertemuan, satu kalimat untuk mengucapkan perpisahan. Satu kata untuk arti kata tanggung jawab ayah ke Malik dan Zhafirah. Kapsul keperakan itu melesat menembus lorong cahaya yang tidak memiliki bentuk tetap, kadang menyerupai terowongan berputar, kadang menyerupai ruang hampa yang dipenuhi bintang-bintang yang belum pernah tercipta. Malik menggenggam tangan Zhafirah erat, merasakan tubuhnya seolah ditarik ke segala arah sekaligus, namun anehnya tidak merasakan sakit, hanya sensasi aneh seperti mengambang di antara detak jantung waktu itu sendiri. "Di mana kita?" bisik Zhafirah, matanya menatap keluar jendela kapsul yang menampilkan pemandangan yang tak terjelaskan oleh kata-kata dan manusia—warna-warna yang tidak memiliki nama, bentuk-bentuk yang berubah sebelum mata sempat mengenalinya. "Kita berada di antara," jaw

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 121

    Gabungan dari sisa kelompok Rangga yang memilih tinggal, keluarga Wira dan Rani yang kini tersenyum lebih sering, Bram yang menjadi kepala keamanan tidak resmi, dan dua wajah baru yang datang mengembara dari lembah tetangga tak lama setelah kabar tentang, "Keajaiban di lembah selatan" tersebar. seorang pemuda bernama Bintang, mantan teknisi kapal penjelajah yang jago mengulik logam tua menjadi alat berguna, dan seorang wanita muda periang bernama Jecky, dulunya penari upacara dari dimensi yang telah lama runtuh, kini menjadi salah satu penjaga ladang paling gigih di lembah. Malik berdiri di atas menara pengawas, matanya menatap ladang yang kini membentang jauh lebih luas dari yang pernah ia bayangkan. Zhafirah mendekat, membawa dua cangkir air hangat seperti kebiasaan lama mereka, menyandarkan kepalanya di bahu Malik. "Damai," gumamnya. "Sudah lama sekali rasanya sejak kita merasakan ini." Malik mengecup puncak kepala istrinya, namun matanya tetap waspada, sebuah kebiasaan

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 120

    Garis melengkung yang tadinya membiaskan cahaya matahari murni kini terpilin cepat, mengeluarkan derit frekuensi ultra-tinggi yang mengocok isi perut. Dunia di balik cahaya dan ruang kosong tanpa batas yang menyimpan kristal-kristal memori peradaban, mulai bergetar secara struktural. Riak-riak air cair yang menjadi lantai ruang tersebut pecah menjadi gelombang mikro yang liar. Dinding-dinding pualam imajiner yang membatasi ruang pengamatan terkelupas, menyemburkan serpihan radiasi kuantum ke segala arah. Struktur kosmologi yang dibangun oleh para Pengamat selama berabad-abad tak lagi sanggup menahan beban dari jutaan garis waktu yang mendadak dilepaskan dari ikatan Mesin Penentu. Pusat Pengamatan Mulai Hancur. CRACK-BOOOOOOM! Di dalam katedral cahaya tempat kesadaran kolektif Pengamat melayang, kristal-kristal cair yang menyimpan rekaman sejarah dari berbagai galaksi pecah berhamburan bagai hujan kaca kosmik. Pilar-pilar energi yang selama ribuan era menyalurkan data pema

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status