Share

Bab 6

Author: Apiz
last update publish date: 2026-05-24 13:57:19

Udara di dalam laboratorium sektor sayap barat berbau besi tua dan kematian. Melalui kaca kuarsa setebal sepuluh sentimeter yang kini retak seribu, badai tembaga di luar sana menghantam tanpa ampun. 

Debu kuning jingga yang kasar bergesek hebat dengan dinding luar, menciptakan tirai buram yang aneh. Tirai itu tidak cukup tebal untuk menyembunyikan genangan cairan merah pekat yang perlahan mengalir turun di sisi dalam kaca.

Percikan api biru menyembur dari sendi bahu MinnerX. Robot itu telah terinfeksi anomali magnetik. Lengan mekanisnya yang berbentuk bor baja berputar, menghantam pilar beton laboratorium hingga hancur menjadi serpihan.

Malik berguling di lantai yang dipenuhi pecahan kaca. Pakaian pelindungnya berdecit, bergesekan dengan debu kuning tembaga yang mulai menyusup melalui celah ventilasi. Napasnya memburu, namun matanya terkunci pada satu objek, kubus energi quantum yang tergusur di dekat kaki besi MinnerX. Pendar birunya meredup, tanda stabilitas dayanya mulai kritis.

"Malik! Di atasmu!" teriak Tara dari balik panel kendali yang setengah hancur.

MinnerX mengayunkan gada penghancurnya. Malik tidak menghindar ke belakang, melainkan merosot maju ke depan melewati sela kaki sang robot. Menggunakan momentum tersebut, tangan kanannya mencengkeram erat sudut kubus energi quantum. Sesaat setelah kubus itu berpindah tangan, bor baja MinnerX menghantam lantai tepat di posisi Malik berbaring sedetik lalu.

"Tara, tangkap!" Malik melemparkan kubus itu melintasi ruangan.

MinnerX berbalik, bersiap meremukkan Malik. Tanpa ragu, Malik menghujamkan pisau termal berdaya tinggi langsung ke kompartemen inti prosesor di dada robot tersebut. Suara lengkingan sirkuit pendek memekakkan telinga sebelum mesin pembunuh itu akhirnya ambruk, tak bergerak.

Keheningan seketika menyergap ruangan. Hanya ada suara desis sistem penyaring udara yang sekarat.

Malik perlahan bangkit, bertumpu pada pipa besi di dinding. Tangan kanannya mendekap erat Kubus Energi ke dadanya, sementara tangan kirinya menekan pinggang kirinya yang robek. Cairan merah tua merembes cepat di sela-sela jarinya.

Wajahnya pucat pasi, namun matanya dingin, kosong, dan menusuk. Dia berdiri memunggungi Tara, menyembunyikan ekspresi wajahnya yang mungkin saja sedang hancur.

Suaranya keluar datar tanpa emosi, sebuah mekanisme pertahanan diri agar tidak gila oleh kesedihan yang teramat sangat.

"Malik! Fokus! Dia kembali!" teriakan Tara melengking di antara deru mesin generator yang sekarat.

Tepat di seberang ruang dekontaminasi, siluet logam setinggi tiga meter bergerak dalam patahan-patahan mekanis yang cepat dan mematikan. MinnerX. Robot penambang dalam tanah yang telah diretas oleh sistem pertahanan Dom Magnetik itu melangkah maju. Sepasang lengan hidroliknya berlumuran sisa jaringan tubuh Porta. Di tengah dadanya, sebuah inti plasma berputar, memancarkan cahaya biru kehancuran.

Malik tidak melihat ke arah robot itu. Matanya terpaku pada konsol utama, tepat dimana kubus energi berputar di dalam medan magnet statis. Jaraknya hanya lima meter, namun lima meter itu adalah wilayah pembantaian.

"Tara, isi ulang senapanmu. Sekarang!" suara Malik meninggi, serak oleh debu dan keputusasaan yang ditekan dalam-dalam.

MinnerX meraung bagaikan sebuah suara distorsi frekuensi rendah yang menggetarkan tulang rusuk. Lengan bor bajanya berputar, menghantam pilar beton di dekat Tara.

Beton hancur menjadi bubuk. Tara berguling ke belakang meja kerja, dadanya kembang kempis dengan cepat. Oksigen di atmosfer ruangan menipis, digantikan karbon dan ozon yang membakar tenggorokan. Setiap tarikan napas terasa seperti menelan duri. Aku akan mati di sini, pikir Tara dengan panik yang memuncak. Kita semua akan mati sekarang.

"Tembak matanya, Tara! Alihkan perhatiannya tiga detik saja!" Malik meraung.

Bersamaan dengan teriakan itu, Malik melompat melompati barikade. Pikirannya terbelah menjadi dua poros yang saling menyiksa. 

Satu sisi menuntutnya meratapi sahabat masa kecilnya yang baru saja hancur menjadi serpihan, sisi lain menghitung kalkulasi matematis tentang kecepatan gerak MinnerX dan jarak menuju kubus energi.

Jika dia gagal mengambil kubus itu dalam hitungan detik ini, pengorbanan para pejuang akan menjadi lelucon paling kejam di alam semesta.

"Bzzzt!"

Laser termal dari bahu MinnerX menyapu udara. Malik menjatuhkan diri, meluncur di atas lantai yang licin oleh oli dan darah. Kulit wajahnya terasa melepuh oleh hawa panas yang tertinggal di udara. Tepat di atasnya, tabung reaksi dan monitor komputer meledak menjadi hujan kristal tajam.

Tara memaksakan dirinya berdiri di atas lutut yang gemetar. Mengabaikan instingnya untuk meringkuk dan menangis, dia mengarahkan senapan pulsa peninggalan kapten mereka ke arah sensor optik merah MinnerX. "Keparat kau, mesin rongsokan!" bentaknya dengan sisa keberanian yang hampir habis.

"Duar! Duar! Duar!"

Tiga dentuman pulsa kinetik menghantam tepat di wajah MinnerX. Robot itu terhuyung, sistem pemindai visualnya mengalami disorientasi sesaat. Percikan api elektrik menyembur dari kepalanya yang retak.

Tiga detik. Itu waktu yang dimiliki Malik.

Dengan satu hentakan kaki, Malik melompat ke atas konsol. Tangannya yang terbungkus sarung tangan eksoskeleton menerobos masuk ke dalam medan magnet statis. Rasa sakit seperti ribuan jarum membakar saraf lengannya saat radiasi kubus itu menolak sentuhannya.

Malik sangat geram, gemeretak di giginya menahan ngilu, dan dengan satu tarikan brutal, Kubus Energi itu lepas dari dudukannya. Pendaran neon hijau kubus itu menerangi wajah Malik yang kaku dan dipenuhi peluh.

Kejutan kinetik dari pelepasan kubus melemparkan Malik ke belakang. Di saat bersamaan, MinnerX telah memulihkan sistemnya. Sensor merahnya mengunci posisi Malik yang masih melayang di udara.

"Malik! Awas!" Tara berteriak histeris.

Lengan laser MinnerX menembak tanpa ampun. Berkas cahaya merah murni memotong kegelapan ruangan. Malik mencoba memutar badannya di udara, namun terlambat. Laser itu merobek bagian pinggang kirinya. Kain setelan pelindung meleleh instan, diikuti suara desisan mengerikan saat dagingnya hangus terbakar.

"Arghhh!" Malik melengking kesakitan, sebuah suara yang belum pernah Tara dengar dari pria sekaku Malik. Kubus energi itu terlepas dari genggamannya, menggelinding di lantai, namun Malik berhasil menangkapnya kembali dengan tangan kanan sebelum dia jatuh berdebam di dekat pintu darurat terowongan pelarian.

MinnerX bersiap untuk hantaman pamungkas. Lengan bornya terangkat tinggi, siap menghujam tubuh Malik yang terkapar.

"Tidak akan!" Tara berlari maju, menembakkan seluruh sisa amunisi senapannya langsung ke arah tangki hidrolik di kaki robot tersebut. Ledakan sekunder tercipta.

Cairan hidrolik menyembur panas, membuat robot raksasa itu kehilangan keseimbangan dan tumbang menghantam dinding beton, meruntuhkan langit-langit laboratorium dan mengubur dirinya sendiri dalam puing-puing berat.

Asap tebal mendadak memenuhi ruangan. Sunyi yang mencekam kembali merebak, hanya diinterupsi oleh alarm malfungsi sistem yang berbunyi melengking di kejauhan.

Tara terengah-engah, menjatuhkan senapannya yang telah kosong. Dia menatap ke sekeliling ruangan yang hancur. Kaca laboratorium itu kini sepenuhnya tertutup jelaga hitam di bagian bawahnya.

Malik perlahan bangkit, bertumpu pada pipa besi di dinding. Tangan kanannya mendekap erat Kubus Energi ke dadanya, sementara tangan kirinya menekan pinggang kirinya yang robek. Cairan merah tua merembes cepat di sela-sela jarinya. Wajahnya pucat pasi, namun matanya dingin, kosong, dan menusuk. Dia berdiri memunggungi Tara, menyembunyikan ekspresi wajahnya yang mungkin saja sedang hancur.

Suaranya keluar datar tanpa emosi, sebuah mekanisme pertahanan diri agar tidak gila oleh kesedihan yang teramat sangat.

"Ambil senjata yang tertinggal di luar," perintah Malik memunggungi Tara, melangkah menuju terowongan pelarian tanpa sekalipun menoleh ke arah kaca yang berlumuran darah. "Perjalanan kita menuju jantung Dom Magnetik baru saja dimulai."

Senapan itu masih terasa hangat, membawa sisa jejak kehadiran pemiliknya. Dengan air mata yang sengaja dia biarkan mengering di pipi, Tara melangkah mengikuti bayangan Malik yang mulai tertelan kegelapan terowongan.

Mereka melangkah masuk ke dalam terowongan pelarian bawah tanah yang gelap, lembap, dan dingin. Lingkungan baru ini terasa seperti kuburan massal yang terlupakan. Sisa-sisa kejayaan peradaban lama terkubur di sini dalam bentuk pipa-pipa raksasa yang berkarat dan kabel-kabel melingkar seperti ular mati.

Satu-satunya cahaya berasal dari indikator daya generator kuantum yang mereka bawa di dalam ransel Tara, memancarkan pendar biru pucat yang lemah, berpadu dengan pendar hijau neon dari pakaian pelindung mereka yang mulai kehabisan daya. Langkah kaki mereka menghasilkan gema yang konstan, ketukan ritmis yang justru mempertegas kesunyian yang menyiksa di antara keduanya.

Keheningan ini menjadi bumerang bagi pikiran Tara. Di dalam kegelapan yang pekat, otaknya menolak untuk tinggal di masa sekarang. Pikiran Tara melayang, mundur ke belakang, menembus dinding waktu ke malam sebelum misi bunuh diri ini dimulai.

Kemarahan di dada Tara kembali membuncah, mendesak keluar dari tenggorokannya yang kering.

"Apakah kau punya hati, Malik?" suara Tara memecah kegelapan, bergema aneh di dinding terowongan.

Malik tidak berhenti berjalan. "Simpan energi, Tara. Udara di sini terbatas."

"Jawab aku!" Tara mempercepat langkahnya, mencengkram pundak kanan Malik dan memaksa pria itu berbalik. "Rian mati di depan matamu! Dia mengorbankan dirinya agar kau bisa mengambil benda sialan itu! Dan kau bahkan tidak menyebut namanya sekalipun sejak kita masuk ke sini! Apakah kau benar-benar tidak peduli, atau kau memang sudah menjelma menjadi mesin seperti MinnerX?!"

Saat Malik berbalik, pendar hijau dari pakaian pelindungnya menerangi wajahnya. Tara tertegun. Di bawah cahaya redup itu, Malik tampak mengerikan. Bibirnya membiru, rahangnya terkatup begitu rapat hingga otot-otot lehernya menegang ekstrem.

Matanya tidak kosong. Sepasang mata itu penuh dengan badai yang jauh lebih destruktif daripada badai tembaga di permukaan. Ada kehancuran yang begitu masif di sana, jenis kehancuran yang terjadi ketika seseorang menolak untuk runtuh karena tahu tidak ada yang akan memungut serpihannya.

"Jika aku mulai menangis sekarang, Tara," suara Malik bergetar untuk pertama kalinya, sangat rendah hingga hampir berupa bisikan, "lututku akan lemas. Dan jika lututku lemas, kita akan mati di terowongan ini, dan pengorbanan benar-benar menjadi tidak ada artinya."

Malik melepaskan cengkeraman tangan Tara dari pundaknya dengan perlahan. "Aku memilih untuk tidak gila sekarang. Jadi, biarkan aku berjalan."

Tara terdiam, kata-katanya tertahan di tenggorokan. Dia menyadari satu hal yang luput dari pengamatannya, Malik sedang tidak peduli. Pria itu justru sedang menahan beban kedukaan yang begitu besar hingga jika dia melonggarkannya sedikit saja, seluruh kewarasannya akan runtuh. Dialah yang paling hancur di antara mereka berdua.

Brummmm...

"Ambil! Kubus itu.." Malik terbatuk, dan noda darah terlihat di bagian dalam visor helmnya. "Bawa ke jantung Dom. Jangan biarkan perjuangan ini sia-sia!! Lekas ambil!!"

Mata Malik perlahan tertutup sepenuhnya. Kepalanya terkulai ke samping, dan pendar indikator vital di dadanya berubah dari kuning peringatan menjadi merah statis yang berbunyi bip... bip... bip... panjang. Dia tidak sadarkan diri, berada di ambang batas tipis antara hidup dan mati, di tengah kegelapan tanah mati yang terus runtuh di sekitar mereka.

Tara berdiri di antara tubuh Malik yang tak bergerak dan Kubus Energi yang bersinar. Di atasnya, bumi bergetar hebat, bersiap untuk mengubur semua mimpi tentang langit biru yang asli. Di dalam dadanya, ketakutan berubah menjadi sesuatu yang disebut tekad. Terlahir dari keputusasaan murni.

 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 125

    Satu tahun berlalu sejak malam ketika Sang Pengamat menutup arsipnya dan IRA meredup menjadi kenangan hijau yang tenang di dalam fasilitas bawah tanah. Kota kecil di lembah selatan terus tumbuh, gemerlap oleh lampu-lampu sederhana yang menyala setiap malam, ditenagai oleh kincir air yang dirancang Dr. Anya bersama beberapa pemuda kota yang tertarik mempelajari mekanika tanpa harus bergantung pada teknologi tinggi yang berbahaya. Musim semi baru saja tiba, dan seluruh lembah dipenuhi bunga-bunga liar yang mekar serentak, seolah alam sendiri ikut merayakan satu tahun kedamaian yang belum pernah mereka rasakan sepanjang hidup mereka. Malik berdiri di menara pengawas yang kini telah diperbaharui menjadi bangunan batu yang lebih kokoh, matanya menyusuri lembah yang damai, sesuatu yang dulu terasa seperti mimpi mustahil. Zhafirah menaiki tangga menuju menara, membawa dua cangkir teh herbal hangat, kebiasaan pagi mereka yang tidak pernah berubah sejak fajar pertama di dunia ini.

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 124

    Angin sore yang bertiup di atas bukit Anaphalis javanica mendadak membeku ketika layar monokrom kecil di tangan Zhafirah memancarkan cahaya biru pudar. Di atas permukaan kaca kecil itu, barisan kode data bukan lagi sekadar teks acak, melainkan membentuk sebuah pola geometri yang sangat dikenal oleh siapa pun yang pernah hidup di masa-masa kelam perang dunia lama. Tiga garis paralel vertikal. Simbol Ira. Malik menatap layar itu dengan napas tertahan. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena ketakutan, melainkan oleh kejut yang teramat sangat. Di bawah bukit, kota baru manusia dan mesin beroperasi dalam harmoni yang tenang, tanpa ada yang menyadari bahwa masa lalu yang dikira telah terkubur rapat kini mengetuk pintu realitas mereka kembali. "IRA.." bisik Malik nyaris tanpa suara. "Kupikir inti kesadarannya telah terurai total ketika kita menghancurkan jaringan pusat lima tahun lalu." Zhafirah tidak langsung menjawab. Ia mematikan perangkat tersebut, tetapi simbol tiga garis itu

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 123

    Dari ketinggian bukit itu, pemandangan di lembah bawah terbentang luas bagaikan lukisan kehidupan yang dinamis. Tidak ada lagi menara pencakar langit monolitik berpelapis bio-polimer yang menjulang angkuh, mencoba mengontrol cuaca dan pikiran warga dari atas sana. Kota baru itu dibangun dengan kerendahan hati dan kebijaksanaan. Rumah-rumah penduduk berdiri selaras dengan kontur alam, terbuat dari batu-batu lokal dan kayu yang tumbuh berkelanjutan. Di jalan-jalan setapak yang bersih, manusia dan mesin bekerja berdampingan dalam harmoni yang setara. Mesin-mesin otonom—keturunan dari jaringan yang dulu dipelopori oleh Echo—bergerak membantu mengolah daur ulang limbah organik, merawat hutan kota, dan membangun infrastruktur air bersih tanpa pernah menuntut kepatuhan atau memprogram ulang emosi warganya. Tidak ada menara penguasa. Tidak ada lagi sistem yang memonitor denyut nadi atau menghapus memori kolektif demi "stabilitas sosial." Setiap manusia di bawah sana bebas untuk memili

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 122

    Kakek Fasyad tidak ingin di hantui sejarah masa lalu. Dia menarik Malik dan Zhafirah ke dalam pusaran dimensi ruang dan waktu. Ya, hanya untuk satu kali. Satu pertemuan, satu kalimat untuk mengucapkan perpisahan. Satu kata untuk arti kata tanggung jawab ayah ke Malik dan Zhafirah. Kapsul keperakan itu melesat menembus lorong cahaya yang tidak memiliki bentuk tetap, kadang menyerupai terowongan berputar, kadang menyerupai ruang hampa yang dipenuhi bintang-bintang yang belum pernah tercipta. Malik menggenggam tangan Zhafirah erat, merasakan tubuhnya seolah ditarik ke segala arah sekaligus, namun anehnya tidak merasakan sakit, hanya sensasi aneh seperti mengambang di antara detak jantung waktu itu sendiri. "Di mana kita?" bisik Zhafirah, matanya menatap keluar jendela kapsul yang menampilkan pemandangan yang tak terjelaskan oleh kata-kata dan manusia—warna-warna yang tidak memiliki nama, bentuk-bentuk yang berubah sebelum mata sempat mengenalinya. "Kita berada di antara," jaw

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 121

    Gabungan dari sisa kelompok Rangga yang memilih tinggal, keluarga Wira dan Rani yang kini tersenyum lebih sering, Bram yang menjadi kepala keamanan tidak resmi, dan dua wajah baru yang datang mengembara dari lembah tetangga tak lama setelah kabar tentang, "Keajaiban di lembah selatan" tersebar. seorang pemuda bernama Bintang, mantan teknisi kapal penjelajah yang jago mengulik logam tua menjadi alat berguna, dan seorang wanita muda periang bernama Jecky, dulunya penari upacara dari dimensi yang telah lama runtuh, kini menjadi salah satu penjaga ladang paling gigih di lembah. Malik berdiri di atas menara pengawas, matanya menatap ladang yang kini membentang jauh lebih luas dari yang pernah ia bayangkan. Zhafirah mendekat, membawa dua cangkir air hangat seperti kebiasaan lama mereka, menyandarkan kepalanya di bahu Malik. "Damai," gumamnya. "Sudah lama sekali rasanya sejak kita merasakan ini." Malik mengecup puncak kepala istrinya, namun matanya tetap waspada, sebuah kebiasaan

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 120

    Garis melengkung yang tadinya membiaskan cahaya matahari murni kini terpilin cepat, mengeluarkan derit frekuensi ultra-tinggi yang mengocok isi perut. Dunia di balik cahaya dan ruang kosong tanpa batas yang menyimpan kristal-kristal memori peradaban, mulai bergetar secara struktural. Riak-riak air cair yang menjadi lantai ruang tersebut pecah menjadi gelombang mikro yang liar. Dinding-dinding pualam imajiner yang membatasi ruang pengamatan terkelupas, menyemburkan serpihan radiasi kuantum ke segala arah. Struktur kosmologi yang dibangun oleh para Pengamat selama berabad-abad tak lagi sanggup menahan beban dari jutaan garis waktu yang mendadak dilepaskan dari ikatan Mesin Penentu. Pusat Pengamatan Mulai Hancur. CRACK-BOOOOOOM! Di dalam katedral cahaya tempat kesadaran kolektif Pengamat melayang, kristal-kristal cair yang menyimpan rekaman sejarah dari berbagai galaksi pecah berhamburan bagai hujan kaca kosmik. Pilar-pilar energi yang selama ribuan era menyalurkan data pema

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status